Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Lonceng Kematian di Menara Barat

Fajar menyingsing diiringi dentang 108 kali lonceng perunggu di Menara Barat: Raja Qoifun Habibillah telah menghembuskan napas terakhirnya. Istana megah Nurul Iman seketika membeku menjadi sarang intrik dan ketakutan. Farihah, dayang kepercayaan yang membersihkan sisa linen di ranjang duka, mencium aroma bunga racun terlarang yang sama persis dengan serbuk tabib istana tempo hari. Di hadapan jasad beku sang raja, kedua faksi bangsawan menolak berlutut, melainkan langsung beradu cakar memperebutkan stempel kekuasaan dan kunci perbendaharaan. Ketika segel suci pelindung istana mulai merekah dan memuntahkan kabut hitam dari celah marmer, Farihah bertaruh nyawa menyelamatkan cincin stempel pribadi raja dan menyerahkannya kepada Ghalib, tepat saat deru kuku kuda pasukan Jenderal Zafran AlQutuz mengguncang gerbang ibu kota.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


## Bagian I: Dentang Seratus Delapan di Pucuk Kabut Menara Barat

*Gema Perunggu Kematian dan Fajar Berdarah di Atas Langit Antah Berantah*


**Lokasi:** Balkon Menara Barat & Halaman Atas Istana Nurul Iman | **Atmosfer:** Kabut kelabu tebal, dingin menusuk tulang, gema lonceng perunggu bergetar di dada


Langit di atas cakrawala Antah Berantah tidak pernah benar-benar menyingsing dengan kemilau keemasan pada pagi itu. Sebaliknya, fajar merangkak lambat bagai luka sayat yang membusuk di kulit langit—merah tembaga, kelabu pekat, dan tertutup oleh tirai kabut tebal yang turun dari Pegunungan Mayangkara. Tepat ketika garis tipis fajar merekah di ufuk timur, keheningan purba yang membungkam kubah-kubah marmer Istana Nurul Iman robek berkeping-keping oleh lolongan pertama dari puncak Menara Barat.


DONGGGGG...


Gema perunggu purba itu mengguncang rongga dada siapa pun yang masih bernapas di dalam benteng. Dentang pertama. Berat, dalam, dan sarat dengan getaran kutukan yang membuat burung-burung gagak hitam di atap balairung berhamburan panik menuju langit kelam. Di puncak menara berketinggian seratus depa itu, tali jerami berlumur jelaga ditarik oleh empat rahib bisu berpenutup kepala hitam, mengayunkan bandul tembaga raksasa yang telah tertidur selama empat puluh tahun masa takhta. Setiap kali bandul beradu dengan bibir perunggu, udara dingin yang berembun bergetar bagai riak air yang dilempar batu karang.


Dua. Tiga. Empat. Sepuluh...


Dentang demi dentang dihitung oleh seisi istana dengan bibir terkunci dan peluh dingin yang seketika membeku di pelipis. Angka seratus delapan bukanlah dentang perayaan panen raya ataupun lonceng penyambutan tamu agung dari seberang samudera. Seratus delapan adalah angka pamungkas tradisi wangsa; tanda bahwa seorang penguasa tertinggi telah terlepas dari cengkeraman napas kasarnya, meninggalkan singgasana yang kini menganga hampa bagai mulut jurang tak berdasar. Raja Jayasindhu telah mangkat.


Kabar itu sesungguhnya tidak memerlukan kata-kata. Istana Nurul Iman—yang selama ratusan warsa diagungkan sebagai mercusuar kedaulatan mutlak—seketika menjelma menjadi sarang keheningan yang menakutkan. Megahnya pilar-pilar granit berukir relief dewa perang dan lantai marmer putih gading yang biasa memantulkan kemilau lentera emas, kini tampak kusam dan mengerikan di bawah temaram fajar yang enggan menyala. Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas para prajurit jaga dan abdi dalem menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang-bayang pilar yang merayap panjang, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang telah lama membusuk di bawah permadani takhta.


Di serambi luar balairung, para pengawal bertombak panjang berdiri bagai arca batu, namun jemari mereka yang berbalut sarung tangan kulit gemetar tak terkendali di gagang senjata. Mereka tahu, ketika sang raja bernapas, titahnya adalah dinding benteng yang menahan amuk dua wangsa besar kerajaan. Namun kini, ketika dentang ke-108 akhirnya memudar menjadi desau angin pegunungan yang menusuk sumsum tulang, dinding pelindung itu telah runtuh. Udara seketika berbau karat, dupa basi, dan kecemasan yang mencekik leher.


> **Kutipan Kunci:**

> *"Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran."*

> *"Dentang lonceng itu bukan ratapan duka, melainkan lolongan lapar serigala yang menyambut bangkai kekuasaan."*


---


## Bagian II: Di Bawah Kelambu Duka dan Racun yang Bernyawa

*Aroma Terlarang Kaladupa pada Sisa Linen Ranjang Peraduan Raja Jayasindhu*


**Lokasi:** Kamar Peraduan Utama Baginda Raja Jayasindhu | **Atmosfer:** Bau anyir bercampur wangi vanila busuk, temaram lilin malam, dingin es yang merayap


Di dalam Kamar Peraduan Raja, hawa dingin terasa berkali-kali lipat lebih kejam daripada di pelataran terbuka. Api di perapian marmer hitam telah padam sejak sepertiga malam terakhir, hanya menyisakan tumpukan abu kelabu yang sesekali diterbangkan angin liar dari celah jendela kisi-kisi tinggi. Tirai beledu merah padam bersulam benang emas yang mengelilingi ranjang jati berkaki empat baginda tampak menjuntai berat, menyerap kepedihan dan misteri yang tertinggal.


Farihah berlutut di sisi ranjang duka. Kedua lututnya yang beralas kain katun kasar menempel langsung pada lantai marmer pualam putih yang sedingin lempengan es sungai beku. Tangannya yang ramping dan terlatih memegang sehelai linen putih gading yang baru saja ia lepaskan dari bantal peraduan mendiang raja. Sebagai dayang kepala peraduan pribadi yang melayani Raja Jayasindhu sejak usia belia, Farihah telah melihat puluhan malam ketika sang penguasa mengerang menahan sakit di dada, namun apa yang terjadi menjelang fajar ini bukanlah sakit biasa.


Ketika Farihah melipat ujung linen itu ke arah dadanya, sebuah sentakan tajam menghantam indra penciumannya. Matanya membelalak lebar dalam keheningan temaram. Bulu kuduk di tengkuknya meremang seketika.


Aroma itu.


Bukan aroma minyak cendana keraton, bukan pula dupa gaharu seribu malam yang biasa dibakar di anglo perak untuk menenangkan tidur sang raja. Ada jejak wangi manis yang samar, pekat, dan memabukkan—serupa vanila liar yang bercampur dengan kelembapan tanah kuburan sehabis hujan lebat. Bau bunga Renggut Sukma, atau yang dalam kitab racun terlarang Antah Berantah dinamai Kaladupa.


Ingatan Farihah melesat bagai anak panah beracun ke peristiwa tiga malam yang lalu di serambi apotek keraton. Saat itu, remang lentera minyak jarak menangkap bayangan Tabib Agung Mahesa yang tengah menumbuk sebongkah serbuk kehitaman di lumpang perak kecil. Farihah yang melintas untuk mengambil air rendaman mawar sempat berhenti karena aroma yang sama menusuk hidungnya. Saat ia bertanya ramah, Tabib Mahesa menatapnya dengan kelopak mata yang menyipit dingin, lalu terburu-buru menyembunyikan botol porselen bertutup lilin hijau ke balik jubah beludrunya. 'Hanya serbuk akar manis penyejuk dada baginda,' gumam Mahesa kala itu dengan suara serak yang tercekat di tenggorokan.


Kini, sisa serbuk itu menempel pada serat linen yang baru saja menyentuh bibir Raja Jayasindhu. Farihah menatap wajah jasad yang terbujur kaku di hadapannya. Kulit wajah sang raja yang biasanya tegas dan perkasa kini berwarna keabu-abuan pucat dengan semburat ungu kebiruan di sepanjang cuping hidung dan daun telinganya. Bibir baginda tidak terbuka secara wajar sebagaimana orang yang mangkat dalam lelap, melainkan terkatup rapat dengan rahang mengeras, mengisyaratkan siksaan kejang hebat yang merenggut nyawanya dalam senyap sebelum ia sempat memanggil pengawal.


Tiba-tiba, pandangan Farihah tertumbuk pada sambungan lantai pualam di samping ranjang. Dari celah rambut retakan batu marmer, tampak gumpalan kabut hitam tipis yang menggeliat naik bagai cacing asap. Bau belerang dingin tercium samar. Segel Suci Sang Hyang Agni—pelindung magis yang selama tiga generasi mengurung hawa laknat di perut bumi Istana Nurul Iman—telah retak bersama hembusan napas terakhir sang raja. Hati Farihah mencelos; ketakutan purba merayap di pembuluh darahnya.


> **Kutipan Kunci:**

> *"Aroma ini... wangi manis yang menyesatkan, seperti madu liar yang dituang di atas liang kubur."*

> *"Batu marmer di bawah tumitnya mulai berkeringat jelaga hitam; segel istana telah kehilangan tuannya."*


---


## Bagian III: Serigala-Serigala Singhasana di Hadapan Jasad Baginda

*Perebutan Kunci Perbendaharaan dan Mahkota di Depan Jenazah yang Masih Membisu*


**Lokasi:** Bilik Agung Peraduan & Ambang Pintu Bertatah Emas | **Atmosfer:** Gesekan pedang di sarung logam, tatapan membunuh, dinginnya kemunafikan darah biru


Pintu kayu jati berukir garuda yang membatasi kamar peraduan terbanting keras ke dinding marmer. Bunyi debuman itu memecah kesunyian bagai petir di siang bolong. Farihah tersentak, refleks menyembunyikan lipatan linen beraroma racun ke balik kain stagen pinggangnya, lalu menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga dahinya nyaris mencium lantai dingin.


Langkah-langkah sepatu bot kulit berladam besi menghentak masuk tanpa sebersit pun adab perkabungan. Dua kelompok bangsawan merangsek ke dalam ruangan, masing-masing dipimpin oleh sosok yang memancarkan hawa permusuhan sedingin salju gunung.


Di sayap kanan berdiri Pangeran Aryasuta, keponakan mendiang raja dari Wangsa Singhadhara. Tubuhnya tegap dibalut jubah perang berbulu serigala kelabu, dengan belati bertatah mirah delima terselip di sabuk emasnya. Wajahnya yang tampan terdistorsi oleh ketamakan yang tak lagi disembunyikan. Di sayap kiri melangkah Adipati Wiradharma, tetua Dewan Bangsawan dari Wangsa Mayurabrata, berjubah sutra hijau zamrud dengan selendang bersulam merak emas. Di belakang masing-masing tokoh itu, berdiri empat orang pengawal bertubuh kekar dengan tangan yang sudah diletakkan di gagang pedang sabit mereka.


Tak ada satu pun dari mereka yang bersimpuh. Tak ada air mata. Tak ada doa yang dipanjatkan untuk kedamaian arwah Raja Jayasindhu.


'Singkirkan dayang rendahan itu!' sergah Pangeran Aryasuta, suaranya menggelegar kasar di bawah langit-langit kamar yang tinggi. Matanya yang menyala liar langsung tertuju pada kalung rantai perak di leher jenazah raja—rantai yang menggantung kunci utama Perbendaharaan Bawah Tanah Nurul Iman. 'Kekosongan takhta ini tidak boleh membiarkan harta pusaka kerajaan dijarah oleh tikus-tikus selatan!'


'Tahan tangan lancangmu, Aryasuta!' bentak Adipati Wiradharma. Suara pria tua itu dingin bagai pisau bedah tabib, matanya menyipit penuh bisa. Langkahnya memotong laju pangeran muda itu. 'Berdasarkan piagam leluhur tahun empat puluh satu, kunci perbendaharaan dan mahkota sembilan intan harus diamankan oleh Dewan Tetua Mayurabrata hingga majelis agung menetapkan garis waris yang sah! Engkau hanyalah anak selir yang kebetulan mengenakan mantel sutra!'


Kata-kata itu menyulut api kemarahan. Rahang Aryasuta bergemeletuk kencang; otot-otot di pipinya berkedut hebat. 'Ulangi perkataanmu, bangkai tua! Darah Singhadhara tidak akan pernah tunduk pada musang-musang Mayurabrata yang gemar meracuni sumur!'

Lihat selengkapnya