Demi meredakan paranoia mereka terhadap 'Sihir Bayangan', Wangsa Danadyaksa membentuk regu pemburu bidah yang dipimpin oleh alkemis fanatik. Puluhan pelayan dan rakyat miskin ditangkap atas tuduhan palsu menjadi praktisi ilmu hitam. Ghalib dipaksa menandatangani surat perintah eksekusi, namun ia secara diam-diam membelokkan rute pemindahan tahanan ke penjara luar yang ia kendalikan sendiri.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
BAGIAN I: KUBAH PUALAM DAN EMBUN YANG MEMBEKU
Paranoia Wangsa Danadyaksa dan Kebusukan di Balik Kemegahan Istana Nurul Iman
Lokasi: Aula Senat Atas, Istana Nurul Iman
༻❖༺
Malam di Istana Nurul Iman tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya berbaring menahan dengki, mengintai seperti predator tua yang sekarat namun masih berbisa. Dari kejauhan lembah, kubah-kubah raksasa berlapis lempengan emas murni itu tampak memantulkan temaram rembulan dengan keagungan yang menyilaukan mata para peziarah. Pilar-pilar pualam setinggi tiga puluh depa berdiri kokoh menopang langit-langit berukir teratai emas, seolah-olah menegaskan kepada seisi bumi bahwa dinasti ini diberkati oleh keabadian yang suci.
Namun siapa pun yang menjejakkan kaki melewati gerbang jeruji perunggu tahu: kemegahan itu hanyalah kain kafan mewah yang membungkus bangkai pembusukan moral. Nurul Iman—Cahaya Keimanan—telah lama menjelma menjadi sangkar besi raksasa yang dicekik oleh ketakutan yang tak kasat mata.
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di aula agung sayap barat, hawa malam merayap masuk melalui celah kisi-kisi jendela kaca patri yang retak akibat gempa politik berbulan-bulan silam. Setiap embusan angin membawa desau tajam menyerupai desis ular, menyapu karpet beledu merah marun yang tepiannya mulai ternoda oleh tetesan lilin hitam.
Di ujung aula, di atas takhta berundak tujuh, para sesepuh Wangsa Danadyaksa duduk berkeliling dengan mantel bulu cerpelai yang membungkus tubuh ringkih mereka. Bau kemenyan arab bercampur dengan sengatan tajam minyak kamper gagal menutupi aroma kecemasan yang menguar dari pori-pori kulit mereka. Mereka tidak sedang merayakan panen raya ataupun kemenangan perang; mereka sedang menggigil ketakutan di hadapan bayang-bayang mereka sendiri.
"Sihir Bayangan itu telah merayap ke dapur permaisuri!" sergah Pangeran Arya Danadyaksa, suaranya parau dan bergetar seperti dawai harpa yang hendak putus. Jari-jarinya yang dipenuhi cincin batu akik giok gemetar hebat saat mengetukkan tongkat berkepala elang ke lantai pualam. "Kemarin malam, dayang peraduan melihat lilin-lilin kamar mati serentak tanpa ada embusan angin! Bayangan di balik tirai bergerak berlawanan dengan arah cahaya! Apakah kalian menunggu sampai kerongkongan kita digorok di atas ranjang sutra sebelum bertindak?!"
Bisik-bisik panik segera menjalar di antara para tetua senat. Paranoia bangsawan adalah racun yang paling cepat bermetastasis. Sejak kematian mendadak Mahapatih dua pekan lalu—yang dadanya ditemukan membiru tanpa ada bekas luka senjata luar—Wangsa Danadyaksa kehilangan akal sehat. Mereka yakin sebuah sekte pemuja kegelapan purba, para 'Praktisi Sihir Bayangan', telah menyusup ke seluruh sendi kerajaan untuk mencabut kekuasaan darah biru mereka.
Dan seperti lazimnya para tiran yang dicekam ketakutan, mangsa pertama yang mereka pilih bukanlah musuh yang perkasa, melainkan mereka yang paling tak berdaya untuk melawan.
"Bersihkan seluruh pelayan rendahan! Tangkap setiap budak yang kedapatan berbisik di lorong selepas magrib! Siapa pun yang berani menatap mata bangsawan lebih dari tiga detik adalah agen telik sandi iblis!" pekik seorang menteri sepuh dengan liur memercik dari bibirnya yang keriput.
Di balik barisan pilar pualam nomor sembilan, berdiri seorang perwira tinggi garda dalam dengan pakaian zirah baja kelam bertatah lambang matahari kembar. Ghalib. Lengannya bertumpu pada hulu pedang berhias perak yang dingin, namun di balik lempengan baja pelindung dadanya, detak jantungnya beradu liar dengan sunyi. Setiap kata yang dimuntahkan oleh para bangsawan itu bagaikan paku berkarat yang dihantamkan ke dalam batok kepalanya.
Ghalib menatap wajah-wajah aristokrat itu satu per satu. Matanya yang tajam dan lelah menangkap kilatan teror yang dibungkus topeng kesombongan. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Mereka menamai perburuan liar ini sebagai 'Inkuisisi Suci Pemurnian Nurul Iman', tetapi Ghalib tahu persis: ini hanyalah pembantaian massal yang dilegalkan demi meredakan histeria orang-orang kaya yang takut kehilangan takhta.
°˖✧༺♕༻✧˖°
============================================================
BAGIAN II: RUANG BAWAH TANAH DAN RAKSA PERAK YANG MENJERIT
Instrumen Siksa Alkemis Fanatik dan Luka Masa Lalu yang Terkubur
Lokasi: Bilik Bawah Tanah 'Tartarus Merah', Kedalaman Tiga Puluh Depa
༻❖༺
Turun tiga puluh depa ke perut bumi di bawah lantai pualam Istana Nurul Iman berarti melangkah langsung ke gerbang neraka buatan manusia. Suhu udara di penjara bawah tanah ini anjlok drastis, namun kelembapannya begitu pekat hingga membuat paru-paru serasa diisi oleh air rawa yang membusuk. Dinding-dinding lorong terbuat dari bongkahan batu kali kasar yang terus meneteskan air asin berlumut.
Namun yang paling menyengat dan menusuk pangkal tenggorokan bukanlah bau kotoran atau darah anyir; melainkan aroma manis menusuk hidung dari uap merkuri cair yang dipanaskan di atas anglo perunggu raksasa.
"Tengadahkan wajahmu, anak babi! Akui di hadapan sang Alkemis bahwa kau menyembunyikan rajah bayangan di balik lidahmu!" suara bentakan melengking bergema di ruang interogasi Tartarus Merah, disusul suara desisan uap logam panas yang mengerikan.
Seorang gadis pelayan muda, berusia tak lebih dari enam belas musim, tergantung dengan rantai besi pada kedua pergelangan tangannya. Gaun linen pelayan istana yang semula berwarna abu-abu kini telah koyak-moyak, berubah kecokelatan oleh darah mengering dan lelehan minyak belerang. Wajahnya pucat pasi bagaikan lilin kuburan, bibirnya bergetar membiru, dan air mata telah lama mengering menjadi kerak garam di pipinya.
Di depannya berdiri Mahisa Braja, alkemis fanatik yang ditunjuk langsung oleh dewan Danadyaksa untuk mengepalai regu inkuisisi. Sosok Braja kurus tinggi menyerupai burung bangkai pemakan bangkai. Jubah sutra putihnya yang dulu anggun kini dipenuhi noda-noda gosong dan bercak keperakan raksa. Matanya merah menyala akibat bertahun-tahun terpapar uap racun mineral, pupilnya mengecil bagai jarum.
Di tangan Braja tergenggam sebuah instrumen siksa terkutuk: sebuah corong tembaga tipis yang terhubung dengan tabung kaca berisi cairan perak kental yang bergolak pelan di atas bara spiritus. Merkuri. Logam cair pembawa maut yang sanggup merusak jaringan saraf dan melumpuhkan sendi dalam hitungan tarikan napas.
"Demi Gusti Pangeran... hamba hanya mencuci seprai di bilik tamu... hamba bersumpah demi arwah mendiang ibu hamba... tidak ada sihir... tidak ada bayangan..." rintih gadis itu, suaranya parau dan terputus-putus seperti burung pipit yang sayapnya remuk terinjak sepatu lars.
"Sumpah kaum cacing tanah tidak bernilai sebutir pasir di hadapan sains pemurnian!" raung Braja dengan tawa histeris yang melengking sumbang. "Penyihir Bayangan selalu bersembunyi di balik kepolosan pelayan! Jika kau suci, raksa murni ini hanya akan menghangatkan darahmu. Namun jika kau berdusta, cairan ini akan mengalir di bawah kulitmu dan mendidihkan dagingmu menjadi bubur!"
Braja mengangkat corong tembaga itu, mengarahkannya ke tengkuk sang pelayan muda. Tetesan merkuri perak yang mendidih mulai menggantung di ujung pipa.
"Cukup, Braja!"
Sebuah suara berat dan berwibawa memecah dengung siksaan itu bagaikan tebasan pedang. Langkah sepatu lars berderap mantap di lantai batu basah. Ghalib melangkah keluar dari bayang-bayang pintu lengkung besi. Mantel hitamnya berkibar pelan, membelah kabut uap beracun dengan tatapan mata yang membekukan darah siapa pun yang memandangnya.
Braja menoleh perlahan, menyunggingkan seringai miring yang memperlihatkan gusi-gusinya yang menghitam akibat keracunan raksa menahun. "Ah, Komandan Ghalib. Sang penjaga pedang istana yang agung. Mengapa kau menghentikan kidung pemurnian ini? Gadis kecil ini hampir saja membuka rahasia tentang di mana para begundal bayangan itu menyembunyikan jimat-jimat kutukan mereka."
Ghalib mendekat hingga jarak mereka hanya terpisah sebilah belati. Di dekat api anglo, perubahan ekspresi Ghalib terlihat sangat tipis namun mematikan; rahangnya mengeras, urat di pelipisnya berdenyut kencang, dan kedua kelopak matanya menyipit menahan amarah yang hampir meledakkan kewarasannya. Di kedalaman hatinya, ingatan kelam masa lalu mencuat seperti hantu kubur: sepuluh tahun lalu, adik kandungnya sendiri tewas di ruangan yang sama, dengan leher melepuh akibat instrumen keji alkemis pendahulu Braja.
Luka lama yang terkubur abadi itu kini berdenyut perih, memompa darah panas ke seluruh pembuluh nadinya.
"Gadis ini adalah pelayan pribadi Bendahara Istana," kata Ghalib dengan nada suara yang begitu dingin, datar, dan terkendali. "Jika kau mematikan urat lidahnya dengan uap raksamu malam ini, siapa yang akan memverifikasi catatan inventaris perak yang hilang dari gudang kas? Apakah kau ingin Senat Danadyaksa menuduhmu sengaja melenyapkan saksi kunci penggelapan dana perang?"
Mendengar kata 'penggelapan dana perang', seringai di wajah Braja seketika lenyap. Pupil matanya melebar sesaat, menangkap ancaman implisit dalam kata-kata sang komandan. Korupsi para tetua senat adalah rahasia umum yang paling tabu disentuh, bahkan oleh seorang inkuisitor fanatik sekalipun.
Braja mendengus kasar, perlahan menurunkan instrumen tembaganya. "Kau selalu punya alasan logis untuk melindungi sampah-sampah ini, Ghalib. Berhati-hatilah. Api kecurigaan Senat tidak membedakan antara pelayan dapur dan komandan garda jika bau bidah mulai tercium di jubahmu."
"Tugasku adalah menegakkan ketertiban sesuai hukum tertulis, bukan memuaskan nafsu gilamu terhadap logam cair," balas Ghalib tanpa berkedip. Tangannya mencengkeram rantai besi yang mengikat sang pelayan dan dengan sentakan kuat melepaskan pasaknya. Tubuh gadis itu terkulai lemas ke dalam pelukan salah satu prajurit kepercayaan Ghalib.
"Bawa dia ke sel karantina sayap luar," perintah Ghalib kepada prajuritnya. "Biarkan tabib memeriksa apakah dia terinfeksi racun pikiran sebelum dia dibawa ke hadapan Senat fajar nanti."
Braja hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan mata yang menyipit curiga, lidahnya menjilat bibir keperakannya yang kering seperti reptil lapar.
°˖✧༺♕༻✧˖°
============================================================
BAGIAN III: PENA BERLUMUR DUSTA DAN SABOTASE SENAT
Ghalib Memalsukan Berkas Eksekusi di Tengah Konfrontasi Politik
Lokasi: Kamar Administrasi Militer, Sayap Barat Istana
༻❖༺
Di dalam bilik kerjanya yang hanya diterangi oleh sebatang lilin lebah temaram, Ghalib duduk sendirian. Pintu kayu jati berlapis plat baja telah dikunci rapat dari dalam. Di atas meja kerja mahoni tua yang penuh goresan pisau, terbentang belasan lembar perkamen kulit kambing berstempel segel lilin merah darah lambang Wangsa Danadyaksa: Surat Perintah Eksekusi Tanpa Pengadilan.