Farihah memanfaatkan kemampuan berbaur dalam bayangan untuk memanjat dinding luar paviliun dan menyelinap ke langit-langit kubah kaca. Di bawah sana, Pangeran Walid tengah menjamu duta besar dari Kekaisaran Seberang Laut. Walid bersedia menyerahkan hak monopoli seluruh tambang perak Antah Berantah dan membiarkan armada asing mendarat di pelabuhan, asalkan mereka mengirimkan armada tentara bayaran untuk menghancurkan Wangsa Rajanegara.
# Pakta Emas dan Racun Salju
Aliansi Rahasia Wangsa Danadyaksa dengan Penguasa Asing
"Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk."
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
---
### 01. Napas yang Membeku di Sayap Menara
Lokasi: Dinding Luar Paviliun Kubah Kaca, Sayap Atas Danadyaksa | Waktu: Pukul Tiga Dini Hari, Musim Dingin Pertama | Skala Ketegangan: 3/5
Dingin menyergap ruang hampa malam itu dengan keganasan yang tak mengenal belas kasihan. Hembusan angin utara melolong rendah di antara ceruk-ceruk pualam hitam Istana Nurul Iman, mengubah sisa napas Farihah menjadi butiran embun beku yang menempel di tepian cadar sutranya. Setiap kali ia menghela napas, dadanya serasa digores bilah kaca tipis. Namun, bagi seorang penyusup yang bertaruh nyawa di ketinggian delapan puluh depa dari pelataran batu, rasa sakit adalah kemewahan yang harus segera ia bunuh.
Istana Nurul Iman bukanlah sekadar kediaman para raja. Di mata rakyat jelata Kerajaan Antah Berantah, kubah-kubah megah berlapis emas dan menara-menara pualam yang mencakar langit kelabu itu adalah taring raksasa—lambang kekuasaan yang dibangun di atas keringat, darah, dan ribuan makam para penambang perak Lembah Hening yang tewas tertimbun reruntuhan batu. Di balik kemilau lentera minyak paus yang temaram, istana ini menyimpan aroma bangkai kemunafikan yang pekat. Dan malam ini, kebusukan itu tengah merajut sarangnya di puncak tertinggi Sayap Atas Danadyaksa.
Jari-jemari Farihah yang dibalut sarung kulit domba tanpa kelim mencengkeram lekuk ukiran batu gargoyle yang licin berselimut lapisan es tipis. Otot-otot lengannya menegang kaku, menahan beban tubuhnya yang melayang di atas jurang gelap. Di bawah sana, pelataran istana tampak seperti dasar sumur tak berdasar, dipatroli oleh barisan prajurit bersenjatakan tombak bermata ganda yang bayangannya memanjang di bawah obor damar. Satu kerikil saja jatuh, hidupnya akan berakhir diremukkan oleh desing panah beracun.
Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan konsentrasi ke rongga dadanya. 'Tenunan Senyap,' bisiknya dalam batin—sebuah mantra terlarang warisan kaum penenun bayangan yang telah lama dibakar habis oleh Wangsa Danadyaksa. Serebak hawa dingin yang jauh lebih pekat daripada salju malam itu merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Bayangan hitam yang pekat, serupa sulur kabut malam yang liat, perlahan merayap dari pergelangan tangannya, menyelimuti tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Farihah teredam menjadi kehampaan yang mencekam. Suara lolongan angin musim dingin lenyap. Gemeretak es di bawah telapak kakinya membisu. Bahkan detak jantungnya sendiri—yang beberapa detik lalu berdentum keras menghantam dinding rusuknya seperti genderang perang—kini mereda, diredam oleh selubung bayangan kedap suara hingga menjadi getaran hampa yang nyaris tak teraba. Sihir ini menuntut harga yang mahal: setiap detik yang ia habiskan di dalam selubung ini menyedot kehangatan darahnya, mengancam akan membekukan jantungnya sendiri jika dipertahankan terlalu lama. Namun malam ini, taruhannya jauh melampaui seonggok nyawanya.
Dengan keheningan seekor burung hantu pemburu, Farihah menggeser kakinya menapaki tepian kisi-kisi tembaga. Tubuhnya meluncur ringan, merayap menembus celah ventilasi sempit dan akhirnya mendarat di atas kerangka besi melengkung yang menopang kubah kaca raksasa Sayap Atas. Dari sarang persembunyiannya di puncak langit-langit kubah, Farihah menunduk. Pandangannya menembus kaca berkabut, menatap tepat ke dasar ruangan di bawahnya: Kamar Kubah Kaca, tempat di mana takdir seluruh kerajaan sedang diperjualbelikan seperti sekeranjang ikan asin di pasar kumuh.
°˖✧༺♕༻✧˖°
---
### 02. Kamar Kubah Kaca dan Cangkir Berbisa
Lokasi: Kamar Kubah Kaca, Sayap Atas Danadyaksa | Waktu: Tengah Malam Menjelang Subuh | Skala Ketegangan: 3/5
༻❖༺
Kamar Kubah Kaca adalah mahakarya kesombongan arsitektur Wangsa Danadyaksa. Dindingnya terbuat dari lempengan pualam hijau zamrud yang diimpor dari seberang samudra, dipoles sedemikian rupa hingga memantulkan bayangan lilin seperti danau air raksa yang tenang. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari kayu mahoni berusia tiga ratus tahun berdiri kokoh, diukir dengan relief serigala bertanduk yang tengah memangsa burung merak—lambang kejayaan purba yang kini terasa bagai ejekan bagi kehormatan negeri ini.
Di sekeliling ruangan, hawa dingin merayap masuk melalui celah-celah paku tembaga. Tungku perapian marmer di sudut ruangan menyala muram dengan bara arang ek hitam, namun apinya seolah enggan memberi kehangatan. Asap tipis beraroma kemenyan dan lemak paus menggantung di udara, menciptakan atmosfer pekat yang membuat tenggorokan tercekat. Di dalam ruangan seluas itu, hanya ada dua sosok yang duduk berhadapan, dipisahkan oleh selembar perkamen kulit domba tua dan sepasang cawan perak bertatahkan permata kecubung.
Sosok pertama adalah Pangeran Walid. Sang pewaris Danadyaksa itu mengenakan mantel panjang dari beledu ungu gelap yang disulam benang emas murni. Namun, kemewahan busananya gagal menyembunyikan kerapuhan jiwanya. Wajah Walid pucat pasi, tulang pipinya menonjol tajam di bawah cahaya lilin, dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya memperlihatkan malam-malam panjang yang diracuni oleh paranoia. Jari-jemari tangannya yang kurus tak henti-hentinya mengetuk bibir meja, menimbulkan bunyi ritmis yang gelisah: *tok... tok... tok...*
Di seberangnya, duduk Lord Morvath, Duta Besar Berkuasa Penuh dari Kekaisaran Seberang Laut. Kontras dengan kegelisahan Walid, Morvath duduk dengan ketenangan seekor ular sanca yang telah mengepung mangsanya. Tubuhnya yang tambun dibungkus mantel tebal dari bulu rubah perak es. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan minyak wangi yang menusuk hidung, dan matanya—sepasang kelereng kelabu yang tanpa riak emosi—menatap Walid dengan pandangan menghakimi yang dibungkus senyum kepalsuan diplomatik.
Dua orang pengawal berzirah besi hitam berdiri kaku laksana patung kuburan di dekat pintu ganda berlapis perunggu, tangan mereka menggenggam hulu pedang bertangkai panjang. Tak ada pelayan yang diizinkan melangkah melewati ambang pintu. Bahkan para pelayan pencicip anggur yang biasanya setia mendampingi pangeran telah diusir jauh ke lantai dasar. Sunyi di ruangan itu begitu pekat hingga desah napas berat Walid terdengar bagai tarikan gergaji pada balok kayu lapuk.
Farihah, yang meringkuk di atas balok penopang besi di langit-langit kubah tepat sepuluh meter di atas kepala mereka, menahan gerak tubuhnya seolah-olah ia telah menjelma menjadi bagian dari besi tempa itu sendiri. Dari celah ornamen kaca berdebu, ia bisa melihat butiran keringat dingin berkilau di kening Walid. Sang pangeran sedang ketakutan. Ketakutan bukan pada musuh di hadapannya, melainkan pada bayangan dosa yang sebentar lagi akan ia ukir abadi dengan darahnya sendiri.
---
### 03. Dialog Racun dan Pengkhianatan Tanah Air
Lokasi: Kamar Kubah Kaca, Sayap Atas Danadyaksa | Waktu: Pukul Tiga Tiga Puluh Menit Dini Hari | Skala Ketegangan: 4/5
༻❖༺
Lord Morvath memecah keheningan dengan suara serak yang bergetar rendah, laksana gemerisik pasir yang terseret arus ombak. 'Waktu terus berjalan, Yang Mulia Walid. Salju di Teluk Karang Gelap akan membeku menjadi daratan es dalam waktu dua pekan. Jika Yang Mulia masih ragu untuk menandatangani pakta ini, armada Elang Besi kami akan memutar kemudi dan membuang sauh di pelabuhan selatan. Kudengar... utusan Wangsa Rajanegara kemarin mengirimkan surat penawaran damai kepada kaisar kami dengan nilai upeti yang tidak kalah menggiurkan.'
Mendengar nama Wangsa Rajanegara disebut, rahang Walid mengeras seketika. Urat-urat hijau di lehernya mencuat tegang. Matanya yang merah menyipit, memancarkan kebencian liar yang selama bertahun-tahun membakar kewarasannya dari dalam. 'Jangan pernah menyebut nama anjing-anjing gurun itu di hadapanku, Morvath!' desis Walid dengan suara tertahan, seakan takut suaranya sendiri akan merambat keluar menembus dinding tebal.
'Rajanegara tidak memiliki apa-apa selain kebanggaan usang dan prajurit berkuda yang lapar,' lanjut Walid, tangannya terkepal di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. 'Mereka menguasai perbatasan utara hanya karena mendiang ayahku terlalu lembek untuk memenggal kepala adipati mereka! Dan lihat apa yang terjadi padanya? Ayahku mati membusuk di ranjang sutranya sendiri, memuntahkan empedu hitam selama tujuh hari tujuh malam. Tabib istana menyebutnya penyakit dada, tapi kau dan aku sama-sama tahu: ada racun 'Srigunting Hitam' dalam anggur persembahan Rajanegara!'
Morvath mengangkat cawan peraknya perlahan, menghirup aroma anggur berempah tanpa sedikit pun berkedip. Senyum sinis tersungging di sudut bibirnya yang tipis. 'Tentu saja, Yang Mulia. Kematian Paduka Raja yang agung adalah tragedi yang memilukan. Namun, dendam keluarga tidak bisa memenangkan perang saudara tanpa emas dan legiun bersenjata. Kekaisaran kami menawarkan penyelesaian tuntas. Empat puluh kapal perang lapis tembaga kami membawa dua belas ribu tentara bayaran veteran dari Perang Selat Hitam. Mereka tidak mengenal belas kasihan. Mereka tidak memiliki ikatan darah dengan tanah Antah Berantah. Mereka akan membakar setiap benteng Rajanegara hingga rata dengan tanah, memenggal setiap anak lelaki mereka, dan menyerahkan kepalanya di nampan perak ke hadapan Yang Mulia.'
Walid terdiam. Dadanya kembang kempis. Matanya tertuju pada lembaran perkamen di atas meja. Di sana tertulis jelas harga yang diminta oleh sang duta besar: seluruh hak monopoli tambang perak di Lembah Hening, pembebasan bea cukai abadi, dan izin penempatan garnisun asing di seluruh pelabuhan strategis kerajaan. Itu bukan sekadar persekutuan militer; itu adalah penyerahan kedaulatan tanah air secara sukarela ke tangan bangsa penakluk.
'Jika kuberikan seluruh tambang perak itu kepadamu,' ujar Walid dengan suara tercekat, 'dengan apa aku akan membayar gaji para bangsawan dan memberi makan rakyatku saat musim paceklik tiba?'
Morvath tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Farihah di langit-langit meremang. 'Rakyat jelata memakan rumput dan akar pohon, Yang Mulia. Mereka tidak pernah membutuhkan perak. Perak hanya dibutuhkan oleh mereka yang duduk di atas takhta untuk membeli pedang pelindung. Setelah Rajanegara musnah dan Yang Mulia dinobatkan sebagai Raja Diraja Antah Berantah, siapa di antara rakyat yang berani membuka mulut? Kekaisaran kami menjamin takhta Yang Mulia dari segala pemberontakan internal. Bukankah keselamatan takhta lebih berharga daripada beberapa bukit batu berpasir perak?'
Perubahan ekspresi di wajah Walid terjadi perlahan, namun begitu mengerikan untuk disaksikan. Keraguan moral yang sempat terpancar sekilas di matanya lenyap, digantikan oleh keputusasaan dingin seorang pria yang telah menjual jiwanya kepada kegelapan. 'Kehormatan,' bisik Walid getir, 'adalah dongeng yang dikarang para pengecut sebelum mereka mati kelaparan. Takhta ini membutuhkan darah dan besi, bukan puisi moral para leluhur yang telah menjadi debu!'