Ghalib diundang ke markas Wangsa Rajanegara dengan dalih inspeksi pertahanan benteng. Di sana, Jenderal Bhadrika secara terang-terangan mengajaknya bergabung dalam kudeta militer. Bhadrika memperlihatkan ratusan ketapel pengepung yang telah diisi proyektil minyak hitam, siap membakar istana pusat dan meratakan seluruh birokrat Danadyaksa, tanpa memedulikan ribuan warga sipil yang tinggal di pemukiman lingkar istana.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
# Bab VII: Besi yang Menempa Kudeta
## Rencana Berdarah Jenderal Bhadrika dan Mobilisasi Mesin Perang
> Lokasi: Garnisun Benteng Taring & Lapangan Amunisi | Skala Ketegangan: 4 / 5
> Perspektif: Ghalib (Inkuisitor Tertinggi Ordo Pengadil) | Batas Waktu: 48 Jam Sebelum Invasi Ibu Kota
------------------------------------------------------------
### Bagian I: Menembus Kabut Benteng Taring
*Kengerian di Bawah Bayang-Bayang Jurang Besi*
༻❖༺
*Kutipan Utama: "Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran."*
Kabut kelabu merangkak turun dari lereng pegunungan padas, menjilat dinding-dinding Benteng Taring laksana lidah raksasa purba yang kehausan darah. Di ketinggian ini, udara teramat tipis, menusuk paru-paru dengan kepedihan dingin yang membakar, dan beracun oleh uap belerang dari kawah mati di punggung bukit. Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Setiap tarikan napas terasa bagai menelan serpihan kaca tajam yang merobek tenggorokan, namun rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibanding cengkeraman dingin yang meremukkan dada Ghalib sejak fajar menyingsing di tapal batas wilayah kekuasaan Wangsa Rajanegara.
Ghalib menarik jubah wol kelabunya lebih rapat ke dada. Di bawah lapisan kain tebal yang dibordir lambang timbangan keadilan Ordo Pengadil, sarung pedang lurus miliknya beradu pelan dengan pelat zirah baja bersepuh timah. Denting logam tipis itu tenggelam seketika oleh gemuruh yang jauh lebih pekak dan mengerikan: derap ribuan sepatu lars bertatah paku besi di atas jalan setapak berbatu cadas, diiringi derit roda-roda kayu raksasa yang kekurangan minyak pelumas. Wangsa Rajanegara tidak sedang bersiap menghadapi serangan musuh dari luar perbatasan; mereka sedang membangun sarang monster pemakan takhta yang siap menelan ibu kota bulat-bulat.
"Berapa lama lagi kita harus menatap parade kepongahan ini, Tuanku Inkuisitor?" bisik Kapten Mahesa di sampingnya. Nada suara perwira muda itu bergetar halus, tertahan di balik syal kulit domba yang basah oleh embun beku. Lima perwira inkuisisi pilihan yang menyertai Ghalib berkuda dengan postur kaku bagai patung batu, tangan kanan mereka tak pernah berjarak lebih dari satu jemari dari hulu pedang. Kuda-kuda tunggangan mereka mendengus gelisah, mencium aroma yang tak lazim bagi kubu militer biasa—aroma besi berkarat bercampur ter dan keputusasaan manusia.
Di hadapan mereka, saat kelambu kabut terbelah oleh embusan angin jurang yang menderu, panorama yang terhampar meremukkan nyali siapa pun yang masih menyimpan asa akan perdamaian. Pelataran luar Benteng Taring adalah dataran berpasir hitam seluas lapangan pacuan kuda, yang dikeruk paksa dari lereng padas bukit kapur. Di sana, berjejer lebih dari dua ratus ketapel pengepung jenis trebuchet dan mangonel berkaki delapan, menjulang laksana legiun monster prasejarah yang membatu.
Rangka-rangka kayunya terbuat dari batang pohon besi gelondongan yang ditebang dari hutan belantara selatan, disirat dengan sabuk kulit banteng liar berlapis ter hitam mendidih. Balok-balok penyeimbangnya diisi dengan bongkahan batu basal sebesar kepala banteng. Setiap mesin pembunuh itu telah diarahkan dengan presisi mengerikan ke arah lembah selatan—arah lembah tempat kubah-kubah emas ibu kota bersemayam dalam damai yang menipu.
Namun bukan ukuran mesin-mesin kayu itu yang membuat darah Ghalib berdesir dingin. Di sekeliling ketapel-ketapel raksasa itu, pemandangan kebiadaban militer Rajanegara dipertontonkan tanpa secuil pun rasa malu. Ratusan prajurit rendahan—sebagian besar petani miskin, penenun kain, dan pemuda desa yang diculik paksa melalui maklumat wajib militer darurat—bekerja layaknya budak belian bertelanjang dada di bawah sengatan angin es yang membekukan darah.
Kulit punggung mereka yang legam dan kurus kering koyak-moyak oleh bilur cambuk kulit berduri. Mereka merayap di atas tanah berlumpur jelaga hitam, menyeret rantai-rantai kapal sebesar paha manusia untuk menggeser landasan trebuchet seberat belasan ton.
"Tarik, anjing-anjing pemalas!" raung seorang perwira pengawas Rajanegara berbadan gempal seraya melayangkan cambuk berujung timah. Suara lecutan kulit membelah sunyi dengan bunyi basah yang memuakkan saat ujung cambuk merobek bahu seorang remaja belia. Bocah itu tersungkur ke lumpur es dengan pekik tertahan, lengan kanannya tergilas di bawah roda besi pedati amunisi seberat lima kuintal.
Tak ada prajurit yang berani menoleh. Barisan di sampingnya terus melangkah dengan tatapan nanar dan kosong, mati rasa oleh siksaan berulang yang telah melucuti sisa-sisa martabat kemanusiaan mereka. Bagi Wangsa Rajanegara, manusia hanyalah pelumas murah untuk memastikan gerigi roda perang mereka tidak macet.
Rahang Ghalib mengeras hingga giginya bergemeretak. Urat-urat di pelipisnya berdenyut bagai tali busur yang ditarik maksimal. Tangannya tanpa sadar mengepal di atas kekang kuda hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Sebagai Inkuisitor Tertinggi, ia telah bersumpah untuk menimbang segala perkara dengan ketenangan telaga malam, mematikan riak amarah demi objektivitas hukum kanon. Namun di balik rongga dadanya, bara murka membakar sanubari.
Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Benteng Taring bukan lagi benteng perisai kerajaan. Benteng ini adalah paron pembantaian tempat kebiadaban ditempa menjadi kekuasaan mutlak.
"Tetap di formasi, Mahesa," bisik Ghalib, suaranya kembali datar dan dingin bagai salju abadi, tanpa sedikit pun menoleh pada perwiranya. "Tundukkan pandanganmu, tapi tajamkan ingatanmu. Hitung setiap tiang derek, letak depot amunisi, dan celah lereng tebing. Jika kecurigaanku benar, hanya ketelitian ingatan kita yang mampu mencegah ibu kota berubah menjadi abu dalam hitungan hari."
[Catatan Taktis Ghalib: Pintu gerbang selatan dibangun dari kayu ulin berlapis besi tempa setebal empat jengkal. Jalur masuk hanya selebar satu kereta kencana; setiap gerak-gerik terbidik oleh celah panah di menara kembar.]
°˖✧༺♕༻✧˖°
------------------------------------------------------------
### Bagian II: Panas Belerang dan Rune Darah Gelap
*Dosa Terlarang di Balik Lapangan Amunisi*
༻❖༺
*Kutipan Utama: "Besi dingin itu mendesis, memancarkan hawa busuk yang membuat kulit meremang—sebuah persekutuan terlarang dengan kegelapan demi mahkota yang fana."*
Iring-iringan inkuisisi dipandu menuruni tanjakan berbatu terjal menuju terowongan bawah tanah di Sektor Utara Benteng Taring. Semakin dalam mereka melangkah, hawa udara berubah drastis dari dingin menusuk menjadi panas lembap yang mencekik leher. Bau menyengat belerang mentah, minyak ter bumi, dan uap lemak bangkai binatang mengendap tebal di udara, menempel pada lidah dan pakaian bagai lapisan jelaga beracun.
Di tempat inilah, tersembunyi dari pandangan mata mata-mata kerajaan, gudang amunisi utama Rajanegara ditimbun. Ratusan guci tembikar berukuran setinggi dada orang dewasa ditumpuk bertingkat tiga di bawah terpal kulit samak kedap udara. Di dalam wadah-wadah itu tersimpan 'Darah Naga'—cairan minyak bumi hitam yang digali dari celah kawah mati pegunungan utara. Minyak ini memiliki sifat laknat: begitu disulut api, ia akan menempel pada kulit, batu, dan kayu, menyala dengan nyala api ungu membakar tanpa bisa dipadamkan oleh siraman air sumur maupun timbunan salju padat.
Ghalib melangkah dengan langkah terukur di samping pemandu jalan bertopeng perunggu. Matanya yang tajam merekam setiap rincian arsitektur ruang penyimpanan itu dengan ketelitian seorang insinyur pengepungan. Gudang amunisi sektor utara ini bertengger tepat di atas tebing curam, ditopang oleh tiang-tiang kayu cedar purba berdiameter dua depa.
Tepat di bawah lantai papan tebal tempat drum-drum minyak berbaris, Ghalib melihat jeruji besi saluran pembuangan air belerang yang langsung bermuara ke jurang maut di luar benteng. Saluran itu berfungsi mengalirkan rembesan air asam tanah agar kayu pondasi tidak lapuk.
'Sebuah celah maut yang tak dijaga ketat,' batin Ghalib mencatat dalam benaknya. Jika sebuah regu penyusup kecil berhasil mencapai mulut saluran pembuangan itu dari lereng tebing luar dan menyulutnya dengan bubuk mesiu inkuisisi, aliran udara kencang dari jurang akan menyedot lidah api langsung ke dasar gudang amunisi. Dalam tempo kurang dari sepuluh menit, seluruh pasokan minyak hitam Rajanegara akan meledak, meruntuhkan separuh sayap utara benteng ke dasar ngarai.
Namun, kepuasan taktis dalam pikiran Ghalib musnah seketika saat pandangannya beralih ke bangsal pandai besi di sisi timur lorong. Hawa dingin yang ganjil dan mengerikan mendadak menyapu kulit wajahnya—bukan dinginnya es alam, melainkan hawa dingin yang membawa keputusasaan batin, bau anyir darah beku, dan dengung gaib yang membuat lambung bergejolak mual.
Ghalib berhenti melangkah. Di atas rak-rak besi bercabang, ribuan tombak perang, kapak penyerbu, dan anak panah berhulu tembaga tidak memancarkan kilau baja biasa. Pada ujung-ujung mata senjata yang runcing itu, guratan-guratan lekukan halus berpendar dalam rona merah saga temaram. Pola-pola berpilin yang menyerupai pembuluh darah manusia yang melepuh: Rune Darah Gelap.
Napas Ghalib tertahan di kerongkongan. Jantungnya berdentang keras menabrak tulang rusuk. Sebagai penegak hukum kanon, ia mengenal betul tulisan kutukan itu. Itu adalah sihir nekrotik terlarang yang telah dimusnahkan dan diharamkan oleh Dekrit Sinode Pertama tiga abad silam. Mantra darah yang hanya dapat dihidupkan dengan mencelupkan mata tombak membara ke dalam darah manusia hidup yang dikorbankan di atas altar tanpa cahaya.