Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

di Lorong Bawah Tanah

Perjalanan ke relik bawah istana dan pengenalan Elemen Alam Terlarang. Dipandu oleh Dayang Kidung dan ditemani Ghalib, Farihah menuruni tangga spiral yang terkubur ratusan tahun di bawah fondasi istana Mahameru. Di sanalah terbaring Masjid Mahkota Sunyi, tempat para raja pendiri mengikat sumpah dengan elemen alam. Ketika telapak tangan Farihah menyentuh batu monolith hitam, tanah bergetar hebat. Bukan hanya bayangan yang meresponsnya, tetapi urat-urat bumi dan batu bara purba mulai bernapas di bawah komandonya.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


Bagian I: TITIAN MENUJU KEGELAPAN YANG TERLUPAKAN

Tangga Spiral, Dingin yang Mengkristal, dan Detak Jantung yang Beradu Sunyi

༻❖༺═

Langkah pertama menuruni bibir lantai bawah tanah Istana Nurul Iman selalu terasa seperti menelan serpihan kaca es. Udara di luar paviliun raja mungkin masih menyisakan kehangatan dupa gaharu dan dengung serunai istana yang memabukkan para bangsawan penjilat, tetapi di sini—di mulut tangga spiral yang tersembunyi di balik altar persembahan ruang bawah tanah sayap barat—hanya ada keheningan purba yang membekukan darah.

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun kelabu yang membekukan harapan dan kejujuran. Setiap tarikan napas Farihah terasa perih di pangkal tenggorokannya, bagai menusukkan jarum-jarum embun beku ke dalam paru-paru yang telah terlalu lama menahan ketakutan.

Gaun sutra beludru hitam yang dikenakannya berdesir pelan menyapu lumut kelabu yang tumbuh di undakan batu basal. Tangga itu berputar turun ke kedalaman yang tak berdasar, melingkar bagai tulang belakang monster purba yang tertidur di perut bukit Mahameru. Tidak ada obor dinding. Cahaya satu-satunya berasal dari lentera minyak tembaga yang digenggam gemetar oleh Dayang Kidung.

“Tegakkan pandanganmu, Tuan Putri,” bisik Dayang Kidung. Suaranya serak, bergetar di sela giginya yang bergemeletuk menahan gigil. Api minyak kasturi di lenteranya meliuk-liuk gelisah, seolah udara mati di lorong ini berusaha meniupnya padam. “Batu-batu di bawah sini memiliki ingatan yang lebih tajam daripada lidah para algojo. Jika engkau memperlihatkan ketakutanmu, mereka akan menganggapmu sebagai penyusup, bukan darah dari sang pemilik.”

Di belakang Farihah, dentang halus lempeng baja memecah kesunyian. Ghalib melangkah dengan kewaspadaan seekor serigala pemburu yang terluka. Tangannya yang berbalut sarung kulit tebal tak pernah meninggalkan hulu pedang berpamor elang. Matanya yang tajam dan dinaungi parut luka di alis kiri menyapu setiap ceruk kubah batu di atas kepala mereka.

“Ghalib,” panggil Farihah pelan tanpa menoleh. Suara gadis itu bergetar tipis, namun di dalam gema lorong sempit ini, ia terdengar seperti guntur yang terpendam. “Apakah kau mendengar detak itu?”

Panglima itu menghentikan langkahnya sejenak. Sepatu lars berlaput besi miliknya menjejak undakan batu dengan bobot yang kokoh. Napasnya teratur, namun otot-otot di rahangnya mengencang hingga urat-urat birunya menyembul di leher. “Hamba hanya mendengar gemericik air kapur yang menetes dan desah napas Tuan Putri yang terlalu cepat. Tenangkan dada Anda. Detak jantung yang memburu hanya akan memancing gaung yang tidak kita inginkan.”

“Bukan detak jantungku, Ghalib,” potong Farihah tajam. Ia menoleh perlahan. Kulit wajahnya yang seputih pualam tampak pucat berpendar dalam temaram cahaya lentera. Manik matanya yang hitam pekat beradu dengan sorot mata sang prajurit. “Bumi ini... tanah di bawah telapak kaki kita... ia berdenyut. Berat. Lambat. Seperti jantung seekor raksasa yang sedang sekarat karena duri beracun.”

Ghalib terdiam. Sorot matanya berubah. Ketegasan yang biasanya membentengi wajah ksatria itu retak sesaat, menampakkan sekelebat rasa gentar yang jarang ia biarkan tampak di hadapan siapapun. Selama dua puluh tahun mengabdi di istana yang penuh konspirasi berdarah ini, Ghalib telah membunuh puluhan pendekar dan mata-mata, namun berdiri di lorong terkutuk ini membangkitkan kengerian yang berakar pada masa kanak-kanaknya.

“Istana Nurul Iman dinamakan ‘Cahaya Iman’ oleh mereka yang merampas takhta ayahandamu,” bisik Ghalib dengan kepahitan yang mengendap bagai cuka busuk. “Tetapi fondasi megah yang menopang sembilan kubah emas itu ditancapkan di atas bangkai sejarah. Jika bumi ini berdenyut, Tuan Putri, itu adalah jeritan para martir yang darahnya dijadikan perekat semen purba ini.”

Mereka terus melangkah turun. Tiga puluh undakan, seratus undakan, dua ratus undakan. Hawa dingin kian mencengkeram. Uap napas ketiga orang itu kini bergumpal di udara, membentuk hantu-hantu kabut kecil yang berkejaran sebelum buyar disapu angin lembap dari celah-celah stalaktit. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk.


Kutipan Inti: "Tangga spiral itu seolah tidak dipahat oleh jemari manusia, melainkan dirobek paksa oleh kemarahan bumi yang tercekik oleh keangkuhan manusia di atasnya."

°˖✧༺♕༻✧˖°

------------------------------------------------------------


[ Bagian II: ABU KUDETA DAN PETI SEGEL DINASTI ISYRAQIYYA ]

Penemuan Ruang Arsip Rahasia yang Lolos dari Pembumihangusan

༻❖༺

Undakan spiral itu akhirnya berakhir di sebuah pelataran melengkung yang diapit dua pilar granit setinggi tombak. Di dinding sebelah kiri, tertutup oleh tirai lumut kering dan sarang laba-laba purba, terpahat sebuah pintu lengkung tanpa engsel logam. Di ambangnya, relief matahari dengan dua belas lidah api tersamar di bawah kerak debu hitam.

Dayang Kidung melangkah maju dengan tangan gemetar. Ia merogoh kantung beludru usang di balik selempang pinggangnya, mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berisi minyak mawar yang telah dicampur garam laut utara. Dengan gerakan khidmat penuh kepedihan, wanita tua itu memercikkan cairan itu ke ambang pintu.

Krak. Suara berderak pelan terdengar ketika mekanisme pemberat batu bergeser di dalam dinding. Debu tebal berhamburan, menebarkan bau kayu cendana lapuk, kertas hangus, dan aroma darah kering yang tak pernah benar-benar lenyap.

“Inilah Ruang Arsip Mahkota yang lolos dari malam jahanam itu,” gumam Dayang Kidung seraya mengangkat lenteranya tinggi-tinggi. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang keriput, memantulkan nyala api kecil. “Malam ketika api melahap perpustakaan atas dan para algojo Danadyaksa membantai setiap juru tulis yang menolak memalsukan silsilah raja. Mereka mengira seluruh catatan darah Isyraqiyya telah musnah menjadi abu. Mereka tidak tahu bahwa kakek buyutmu membangun tempat persembunyian ini dengan sumpah batu karang.”

Farihah melangkah masuk ke dalam ruangan berkubah rendah itu. Lantainya dilapisi ubin terakota merah yang retak-retak. Di sepanjang dinding, berderet puluhan peti kayu cendana hitam berukir naga bersayap dan matahari. Beberapa peti telah pecah karena tekanan tanah yang bergeser selama dua dasawarsa, memperlihatkan tumpukan gulungan perkamen kulit domba yang diikat benang sutra emas.

Farihah berlutut di depan peti terbesar yang berada di tengah ruangan. Telapak tangannya yang terbungkus hawa dingin menyentuh segel lilin merah di atas peti itu. Lambang dua belas lidah api tercetak utuh di atasnya—lambang yang sama dengan tanda lahir yang membakar pundak kirinya setiap kali bulan purnama tiba.

“Apakah ayahandaku... pernah berada di ruangan ini?” bisik Farihah. Matanya menatap segel itu dengan campuran rindu dan dendam yang mencabik-cabik ketenangannya.

“Tepat tiga jam sebelum pedang Danadyaksa menembus dadanya di aula agung,” jawab Dayang Kidung dengan suara tercekat. “Gusti Prabu turun ke sini bersama hamba yang saat itu masih menggendongmu yang masih merah. Beliau meneteskan darahnya di atas gulungan Kitab Sumpah Bumi, lalu menyerahkanmu kepada hamba seraya berkata: *‘Biarkan mereka mengambil kepalaku, Kidung. Tetapi simpanlah anak ini di dalam kegelapan sampai bumi memanggilnya kembali.’*”

Ghalib berdiri di ambang pintu, punggungnya menghadap ke dalam ruangan, mengawasi lorong gelap di belakang mereka. Namun pundaknya yang kokoh tampak bergetar pelan mendengar penuturan itu. Pedang di tangannya terhunus satu jengkal dari sarungnya, membiarkan baja berpamor kelabu memantulkan cahaya redup.

“Dan selama dua puluh tahun itu,” ucap Ghalib dengan suara tertahan yang dipenuhi amarah terpendam, “aku mengenakan baju zirah pengawal dan memberi hormat kepada babi-babi yang menduduki takhta itu. Aku bersumpah melindungi gerbang istana, sementara setiap malam aku tahu bahwa pembunuh sebenarnya sedang tidur di ranjang raja.”

Farihah memecahkan segel lilin itu dengan ujung kukunya. Bunyi retakan lilin terasa begitu nyaring di kesunyian katakombe. Ia membuka tutup peti kayu cendana itu. Di dalamnya, terbaring sebilah belati bertatah batu kecubung hitam dan sebuah gulungan naskah perkamen berkulit tebal yang pinggirannya telah menghitam oleh waktu.

Ketika Farihah mengangkat gulungan itu, debu emas berkilau halus di udara. Di atas naskah itu tertulis maklumat purba dengan aksara Kawi Isyraqiyya:

“*Bumi Antah Berantah bukan milik mahkota emas yang dibeli dengan kelicikan. Bumi ini bernapas bersama darah yang sanggup menahan bara tanpa membakar, dan sanggup membelah batu tanpa menghancurkan kehidupan.*”

Jantung Farihah berdegup kencang, dentumannya seolah beresonansi langsung dengan dinding batu di sekelilingnya. Rahasia masa lalunya kini terbuka tanpa tabir lagi: ia bukan sekadar putri pelarian yang bersembunyi di balik nama samaran seorang dayang rendahan. Ia adalah wadah terakhir dari janji purba yang telah dikhianati oleh seisi istana Nurul Iman.


Kutipan Inti: "Tinta emas di atas perkamen ini tidak luntur oleh jelaga. Darah yang tertumpah dua puluh tahun lalu menolak untuk menjadi bisu di hadapan sejarah yang dipalsukan."

°˖✧༺♕༻✧˖°

------------------------------------------------------------


[ Bagian III: KUIL MAHKOTA SUNYI DAN MONOLITH HITAM ABADI ]

Arsitektur Megalitikum yang Terkubur Ratusan Tahun di Bawah Mahameru

Lihat selengkapnya