Konflik memanas ketika pasukan bayaran Danadyaksa membakar lumbung pangan di pinggiran kota untuk menuduh gerilyawan Rajanegara, sekaligus menciptakan kepanikan agar harga beras melambung. Farihah dan Ghalib bergerak cepat di tengah kobaran api malam. Sementara Ghalib mengoordinasikan evakuasi ratusan keluarga buruh, Farihah menggunakan sihir bayangan dan tanah untuk membendung kobaran api agar tidak merambat ke pemukiman kayu rakyat.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
[Adegan 01: Bayangan di Balik Menara Pualam]
Dingin menyergap ruang, membekukan sisa napas dan menyulut konspirasi busuk
Lokasi: Kamar Tinggi Paviliun Utara, Istana Nurul Iman
༻❖༺═
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di puncak tertinggi kerajaan antah berantah itu, Istana Nurul Iman berdiri bagai raksasa pualam yang angkuh dan dingin, menembus selimut kabut malam yang pekat lagi menyesakkan. Dari kejauhan, kubah-kubah berlapis lempengan emas murni dan menara rampingnya tampak menyerupai lentera kesucian yang menjanjikan ketentraman abadi bagi siapa pun yang memandangnya dari kejauhan lembah. Namun di balik gerbang besi tempa berkepala singa dan dinding marmer setinggi tiga puluh depa yang diukir kaligrafi suci tentang keadilan, kebenaran hanyalah bangkai busuk yang disamarkan dengan percikan minyak wangi mawar kering. Di balik bayang yang merayap lambat di lorong-lorong pualam yang sunyi, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk secara perlahan di bawah jemari kurus para bangsawan bertangan besi.
Malam itu, angin utara berembus dengan kebiadaban yang tak lazim. Hawa dingin merayap masuk melalui celah-celah pilar marmer, membuat api lentera minyak zaitun bergetar gelisah bagai jiwa-jiwa tersiksa yang memohon ampun. Udara menusuk hingga ke rongga dada, membekukan tetesan air di kolam air mancur istana menjadi lempengan kaca buram. Di ruang paviliun utara, tirai beledu merah marun yang menjuntai dari langit-langit kubah bergoyang lesu ditiup celah jendela kaca timah. Tuan Bendahara Mahkota, Danadyaksa, berdiri memunggungi perapian batu granit yang membakar kayu gaharu wangi. Nyala api yang berderak enggan melemparkan bayangan tubuhnya yang kurus panjang ke lantai marmer hitam—menyerupai siluet laba-laba raksasa yang tengah menenun perangkap di tengah kegelapan.
Di hadapan meja kayu cendana bertatahkan gading, tiga sosok pria bertopeng besi tempa bersimpuh dengan satu lutut menyentuh lantai. Tak ada suara napas yang terdengar dari mereka; hanya dengus dingin yang keluar dari celah sempit topeng yang menutupi wajah. Mereka bukan prajurit pengawal mahkota yang mengenakan selempang sutra biru, melainkan serigala sewaan dari lembah tandus yang digaji dengan kepingan emas tanpa cap resmi kerajaan. Udara di ruangan itu seketika menjadi pekat, tercemar oleh bau minyak terak mentah, bubuk belerang gunung, dan sisa minuman keras murahan yang merembes dari kantung-kantung kulit di sabuk senjata mereka. Sunyi menggantung begitu berat, sampai-sampai suara detak jantung mereka yang lambat terdengar bagai tabuhan genderang kematian yang terkunci di dalam rongga dada besi.
"Kalian tahu nilai dari tugas ini?" suara Danadyaksa meluncur pelan, datar, namun sarat racun yang mampu melumpuhkan nyali. Jemarinya yang pucat memainkan cangkir anggur perak, mengamati cairan merah darah yang berputar pelan di dalamnya. Ia bahkan tidak memandang ketiga pembunuh di hadapannya. "Lumbung pangan di Distrik Timur bukan hanya tempat menimbun karung-karung jelai dan gandum kering. Lumbung itu adalah sumbu kehidupan terakhir bagi ribuan cacing tanah di pemukiman bawah. Saat musim dingin tiba dalam tiga pekan ke depan, siapapun yang menguasai butir gandum akan memegang kendali atas leher seluruh penduduk kota ini."
Pemimpin pembunuh bayaran itu mendongak perlahan. Matanya yang merah oleh kurang tidur berkilat di balik celah sempit topeng bajanya. "Semua persiapan telah rampung, Tuanku. Minyak terak telah kami selundupkan di antara roda-roda gerobak jerami. Namun... bagaimana dengan para buruh pikul dan keluarga penjaga yang tinggal di barak lantai bawah gudang? Jika api belerang tersulut di pintu utama, mereka akan terperangkap di dalam tanur."
Danadyaksa menghentikan putaran cangkir anggurnya. Ia menoleh perlahan, dan seulas senyuman dingin terbit di bibirnya yang tipis—senyuman yang membuat suhu di paviliun itu serasa anjlok hingga titik beku. "Apakah kau mengkhawatirkan nyawa kawanan semut, Serigala Besi? Kematian beberapa puluh kuli panggul adalah tumbal kecil yang sangat murah demi terciptanya sebuah kepanikan massal yang sempurna. Biarkan mereka berteriak. Biarkan jeritan mereka terdengar hingga ke gerbang istana. Ketika fajar menyingsing dan abu gandum beterbangan menutupi matahari pagi, tinggalkan potongan panji Gerilyawan Rajanegara di pintu pagar yang hangus. Seluruh rakyat kota akan mengutuk para pemberontak itu sebagai monster perampas rezeki mereka."
Sang bendahara melangkah mendekat, aroma minyak gaharu di jubahnya beradu dengan bau anyir belerang dari para pembunuh. "Dan ketika keputusasaan mencekik tenggorokan rakyat hingga mereka tak sanggup lagi berpikir, lumbung-lumbung pribadi milik keluargaku di bukit barat akan dibuka. Beras dan gandum itu akan kami jual dengan harga tujuh kali lipat dari harga biasanya. Mereka akan merangkak, menangis, dan mencium ujung sepatu bot kita hanya demi semangkuk bubur encer. Pergilah. Bakar sampai tanahnya pun menolak untuk menumbuhkan rumput."
Ketiga sosok berbaju hitam itu membungkuk dalam-dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata bantahan pun, lalu melangkah mundur dan melenyap ke dalam kegelapan koridor rahasia di balik dinding pualam. Pintu rahasia tertutup dengan dentang halus yang segera ditelan sunyi malam. Danadyaksa berdiri sendirian menatap kaca jendela besar yang menghadap langsung ke jurang pemisah antara istana dan pemukiman bawah. Di bawah sana, kota tampak tertidur dalam kegelapan yang ringkih, dengan kerlip lentera jalanan yang redup seperti kunang-kunang sekarat.
Sebuah getaran halus mendadak merayapi tengkuk sang bendahara istana. Itu bukan rasa dingin biasa; melainkan firasat purba yang samar, sebuah kecemasan batin yang menolak untuk dibungkam. Di kedalaman hatinya, ia tahu bahwa istana Nurul Iman yang mereka agung-agungkan sesungguhnya berdiri di atas fondasi kuburan massal dinasti sebelumnya—luka lama yang terkubur abadi namun belum pernah benar-benar membusuk. Namun Danadyaksa segera menepis pikiran itu dengan tegukan anggur yang membakar kerongkongannya. Baginya, takhta ini abadi, dan rakyat di bawah sana hanyalah debu yang ditakdirkan untuk diinjak.
> "Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk." - Narasi Takhta yang Membusuk
----------------------------------------------------
[Adegan 02: Neraka di Lumbung Kayu Mahoni]
Ghalib Al-Farisi dan pertarungan berdarah demi nyawa yang terperangkap
Lokasi: Gudang Utama Distrik Timur & Lorong Pekerja Bawah
༻❖༺═
Bau belerang yang menyengat hidung mendahului kepulan asap pertama. Di gang sempit berbatu lumpur di antara deretan lumbung pangan nomor tiga dan gubuk-gubuk kayu pemukiman buruh panggul, udara mendadak memadat menjadi gelombang panas yang mencekik tenggorokan. Beberapa detik kemudian, keheningan malam terkoyak oleh suara ledakan teredam yang menggetarkan bumi. Tong-tong berisi minyak terak hitam yang digulingkan ke dasar tiang pancang lumbung menyala serempak, melepaskan kobaran api raksasa berwarna jingga kemerahan yang menjilat atap jerami dengan gelegar buas.
Suara jeritan panik pecah dalam sekejap dari pemukiman yang terlelap. Para wanita berlarian ke jalanan sempit sambil mendekap bayi-bayi mereka yang menangis ketakutan, sementara para pria buruh tua berhamburan membawa ember-ember kayu berisi air keruh dari sumur umum. Namun air dingin yang disiramkan tak berdaya melawan keganasan minyak terak buatan militer istana. Bukannya mereda, cairan membara itu justru memercik liar ke segala arah, menjilati dinding-dinding papan mahoni tua yang telah mengering selama puluhan musim panas, menyulut deretan rumah kayu di sekitarnya menjadi dinding api yang mengurung jalanan.
Di tengah hujan abu panas dan kepulan asap hitam yang membutakan mata, Ghalib Al-Farisi berlari kencang membelah kepanikan massa. Mantel wool kelabu yang membungkus tubuh tegapnya berkibar liar diterpa pusaran angin yang tersedot oleh hawa panas api. Di balik mantelnya, baju zirah pelindung dada yang sudah usang memantulkan kilatan kobaran api. Pelindung besi itu tak lagi memiliki lambang singa mahkota; ia telah mengikis lambang kehormatan itu dengan batu asah sampai tinggal goresan-goresan kasar penuh karat—sebuah upaya sia-sia untuk menghapus kenyataan bahwa tubuhnya pernah menjadi bagian dari korps inkuisisi istana yang paling ditakuti.
Langkah kakinya tersentak berhenti di pelataran depan lumbung gandum utama. Matanya yang tajam menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih: gerbang ganda lumbung setinggi empat depa telah dipalang dengan balok besi besar dan dirantai gembok dari luar. Di depan pintu itu, seorang pria berbadan kekar berselubung kain hitam dan bertopeng serigala besi berdiri tegak dengan pedang bergerigi berlumuran darah segar. Di kakinya, dua penjaga lumbung tua terbaring tak bernyawa dalam genangan darah pekat yang mulai mengering terpanggang panas.
Dari celah jendela loteng lantai dua lumbung yang mulai terjilat api, terdengar suara jerit tangis puluhan anak-anak buruh yang terperangkap bersama ibu-ibu mereka yang batuk tersedak. Asap hitam mulai membubung keluar dari sela genteng, menandakan lantai dasar di balik pintu telah berubah menjadi kubangan bara api.
"Buka kuncinya, keparat istana!" teriak Ghalib menggelegar, menenggelamkan gemeretak kayu yang patah terbakar. Tangannya bergerak secepat kilat, mencabut pedang karang bermata dua miliknya dari sarung di punggung. Desing logam beradu dengan panas udara, memantulkan cahaya jingga yang liar.
Sosok bertopeng serigala itu menoleh pelan. Alih-alih gentar, tawa parau yang penuh cemooh terdengar dari balik kisi-kisi besi penutup mulutnya. "Ghalib Al-Farisi... Kapten Pembantai dari Lembah Selatan. Berani sekali kau memanggil orang lain 'keparat istana'. Apakah kau lupa siapa yang memimpin pasukan pembakar saat Lembah Rajanegara diratakan dengan tanah sepuluh tahun yang lalu? Berapa ratus anak petani yang menjerit di dalam rumah mereka saat kau mengunci pintu dari luar atas nama titah suci kaisar Nurul Iman?"
Kata-kata itu menghantam dada Ghalib lebih telak daripada hantaman gada perang. Detak jantungnya beradu keras dengan sunyi batinnya sendiri, memompa rasa bersalah yang telah mengering menjadi nanah beracun selama bertahun-tahun pengasingannya. Bekas luka bakar mengerut yang melingkar di pergelangan tangan kanannya mendadak berdenyut hebat dengan rasa sakit membakar yang teramat nyata—seolah api sepuluh tahun lalu kembali menyala menuntut penebusan atas dosa darah yang tak terampuni. Rasa dingin yang menusuk kalbunya di tengah neraka api ini membekukan kejujuran dan harapan yang selama ini coba ia rawat.
"Justru karena aku tahu racun apa yang mengalir di balik dinding Nurul Iman... aku bersumpah takkan membiarkan satu nyawa pun mati malam ini!" raung Ghalib. Dengan amarah yang meledak dari dasar keputusasaannya, ia menerjang maju. Bilah pedang karangnya berayun dengan kekuatan dahsyat, membelah udara panas menuju pundak sang pembunuh bayaran.
TRANGGG!
Dua bilah pedang baja keras beradu di udara, memercikkan kilatan bunga api yang membutakan. Kekuatan hantaman Ghalib memaksa komandan bertopeng itu mundur dua langkah di atas tanah yang berlumpur jelaga. Sang pembunuh membalas dengan tusukan cepat belati beracun dari tangan kirinya, mengincar celah di bawah pelindung ketiak Ghalib. Ghalib memiringkan tubuhnya tepat pada waktunya; ujung belati hanya sempat merobek jubah wool dan menggores rusuk kirinya, menorehkan luka pedih yang langsung dibakar oleh hawa panas di sekitar mereka.
Mengabaikan rasa sakit yang menyengat, Ghalib memutar tubuhnya rapat, menghantamkan siku kirinya yang berbalut besi langsung ke hidung topeng serigala sang musuh. Terdengar bunyi retakan tulang rahang di balik topeng besi, disusul erangan tertahan saat tubuh sang komandan terhuyung hilang keseimbangan. Ghalib tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; dengan tendangan keras dari sepatu lars besinya, ia menghantam dada musuh hingga pria bertopeng itu terlempar menabrak tiang penyangga yang terbakar dan pingsan tak berkutik.
Ghalib berlutut di sebelah tubuh musuh, menyambar anak kunci besi berlumur darah dari sabuknya, lalu menerjang ke arah rantai pintu lumbung. Besi gembok itu telah begitu panas hingga mendesis membakar kulit telapak tangannya saat disentuh. Bau daging terbakar tercium dari tangannya sendiri, namun Ghalib mengatupkan rahangnya rapat-rapat tanpa melepaskan cengkeramannya. Dengan satu sentakan kuat memanfaatkan berat pedangnya sebagai tuas pengungkit, rantai besi pengikat pintu terkoyak lepas.