Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Pertemuan di Bengkel Besi

Farihah meyakinkan Ghalib untuk mengantarnya menemui Darma Setya secara rahasia. Di lorong bengkel yang dipenuhi bau belerang dan tempaan besi, Farihah membuka cadarnya di hadapan para pemimpin Serikat Bara Jelata. Awalnya para buruh curiga dan mengejeknya sebagai pelayan manja istana, hingga Farihah menunjukkan tangannya yang kapalan karena mencuci lantai dan bekas luka penindasan bangsawan, lalu menawarkan aliansi sejati: pangan dan keadilan, bukan janji kosong.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


=== Bagian I: Napas Beku dan Bayang-Bayang Nurul Iman ===

Turun Menembus Kerongkongan Parit Hitam

༻❖༺═

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun kelabu yang membekukan harapan dan kejujuran di ujung bibir. Di balik bayang-bayang pualam yang merayap turun dari dinding raksasa Istana Nurul Iman, setiap detik yang berdetak adalah saksi bisu dari sebuah pengkhianatan yang membusuk perlahan di bawah alas kaki para bangsawan. Kegelapan kota bawah menelan sisa akal sehat, menyeret setiap pikiran waras ke dalam jeratan ketakutan yang tak berujung.


Dari kejauhan bukit karang, Istana Nurul Iman tampak seperti mahkota malaikat yang tersesat di bumi—menara-menara putihnya menjulang runcing menembus langit malam, berkilau dingin di bawah rembulan pucat yang terselubung kabut belerang. Namun siapa pun yang pernah menghirup udara di balik gerbang besinya tahu: nama itu adalah dusta paling suci yang pernah dipahat manusia. Di sanalah nurani dikurung dalam sangkar sepuhan emas, dan jerit kelaparan rakyat jelata diredam oleh gema kidung para rahib yang dibayar mahal.


Farihah menarik rapat tudung mantel wol kasarnya yang berbau apak. Kain rami itu kasar, menggesek kulit pipinya yang pucat, tetapi aroma jelaga dan lapuk kain itu jauh lebih menenangkan ketimbang bau minyak mawar istana yang selalu mengingatkannya pada aroma bangkai yang ditutup wewangian. Di sampingnya, langkah sepatu bot laras panjang berpelat baja melangkah dengan kehati-hatian yang nyaris tak wajar bagi seorang perwira.


"Kau terlalu lambat, Ghalib," bisik Farihah. Suaranya serak dan tipis, nyaris tersapu deru angin malam yang merayap di lorong parit. "Setiap dentang jam dari menara lonceng Nurul Iman mempersempit jarak antara leher kita dan tiang gantungan algojo Danadyaksa."


Ghalib tidak langsung menjawab. Telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam bertengger kaku di hulu pedang berhias lambang garuda bermata satu—tanda kehormatan resimen inkuisisi istana yang malam ini telah ia coreng dengan lumpur parit demi menyembunyikan kilaunya. Matanya yang cekung menyapu reruntuhan batu bata berlumut di mulut terowongan air.


"Aku tidak memperlambat langkah karena takut pada kematian, Farihah," geram Ghalib, suaranya berat dan bergetar tertahan di balik kerah mantel tingginya. "Aku memperlambat langkah karena aku tahu siapa yang sedang kita tuju. Darma Setya bukan orang bijak yang membedah kebenaran dengan puisi. Dia pandai besi yang terbiasa memukul kepala pengkhianat menggunakan martil dua puluh pon. Jika dia mencium aroma minyak zaitun pengawal istana pada mantelku, dia akan menghancurkan tengkorak kita berdua sebelum kau sempat menyebut nama leluhurmu."


Farihah menoleh. Di keremangan, sepasang matanya menyala dengan keteguhan yang aneh—bukan kilau keberanian seorang prajurit, melainkan keputusasaan dingin dari seseorang yang telah menyaksikan seluruh dunianya musnah dibakar tirani. "Maka pastikan mulutmu tertutup rapat dan biarkan aku yang bicara. Martil Darma Setya membenci istana, tetapi martilnya lebih membenci rasa lapar yang mencekik anak-anak Parit Hitam. Rasa lapar adalah bahasa yang bahkan seorang pembangkang batu karang pun pahami."


Mereka melangkah menuruni anak tangga batu yang licin oleh lumut hitam dan rembesan air limbah kota. Detak jantung Farihah beradu kencang dengan kesunyian lorong bawah tanah yang mencekam. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan beling masa lalu: ingatan saat ia diseret dari bilik permaisuri, suara cambuk penjaga istana yang mengoyak punggungnya di pelataran batu es, dan dinginnya lantai marmer Nurul Iman tempat darah ibunya mengering tanpa pernah dibersihkan secara terhormat.


Semakin dalam mereka turun, udara musim gugur yang menusuk tulang berganti dengan hawa hangat yang pekat dan beracun. Aroma belerang, arang gambut, dan besi mendidih mulai mengaburkan bau kotoran selokan. Di kejauhan, sebuah ritme purba berdenyut perlahan—dentang logam menghantam logam, berulang-ulang, teratur laksana denyut nadi raksasa yang tertidur di perut bumi.

°˖✧༺♕༻✧˖°

────────────────────────────────────────


=== Bagian II: Rongga Parit Hitam dan Nyanyian Belerang ===

Ujung Belati di Antara Percikan Bara

༻❖༺═

Lorong sempit itu mendadak terbuka ke sebuah gua kubah batu alam yang luas. Pemandangan di hadapan mereka membuat dada Farihah berdesir ngeri sekaligus takjub. Asap hitam mengepul tebal, tertahan di langit-langit gua sebelum terhisap perlahan oleh celah-celah ventilasi rahasia yang terhubung ke cerobong pabrik-pabrik tembikar terbengkalai di permukaan tanah.


Di sekeliling ruangan raksasa itu, puluhan tungku pembakaran menyala merah membara, menyemburkan lidah-lidah api yang menari liar di atas tumpukan batu bara. Ratusan batang besi tempa, mata bajak, linggis runcing, dan pelat rantai berserakan di atas meja-meja kayu kasar. Sekitar tiga puluh orang lelaki dan perempuan dengan otot-otot legam terbakar api bekerja tanpa bicara. Punggung mereka mengkilap oleh peluh yang bercampur jelaga pekat.


Namun kedatangan dua sosok berjubah asing itu seketika memutus irama kerja.


Dentang martil terakhir padam dengan gema pendek yang mengerikan. Keheningan jatuh seperti bilah kapak pemenggal. Tiga puluh pasang mata yang merah karena asap belerang menoleh serempak ke arah mulut lorong.


"Tahan langkahmu, tikus got!" sebuah seruan parau memecah sunyi.


Dari balik bayangan pilar batu kapur, lima orang lelaki melangkah maju dengan gerakan terlatih. Bukan senjata tajam rapi buatan pabrik persenjataan kerajaan yang mereka genggam, melainkan alat-alat kerja buruh yang telah dimodifikasi menjadi mesin pembunuh: sabit bergerigi panjang, cangkul runcing berpaku tembaga, dan batang besi membara yang dijepit dengan tang tempa berukuran raksasa.


Ghalib secara naluriah menarik selongsong pedangnya setengah jengkal. Bunyi desing baja yang terhunus bergema tajam di ruangan berdinding batu itu—sebuah kesalahan fatal bagi siapa pun yang mencoba bersikap ramah.


"Pengawal Inkuisisi!" desis seorang buruh bertubuh bongkok dengan luka bakar di separuh wajahnya. Matanya terpancang pada ukiran hulu pedang Ghalib yang kini tersingkap di bawah cahaya bara api. "Lihat garuda buta itu! Anjing-anjing pemburu Danadyaksa telah menemukan sarang kita! Bunuh mereka sebelum mereka membunyikan peluit patroli!"


"Ghalib, masukkan pedangmu!" bisik Farihah tajam, menahan lengan pria itu dengan cengkeraman tangannya yang kurus namun keras.


"Jika aku menyarungkannya, lehermu akan putus oleh sabit mereka dalam dua tarikan napas!" balas Ghalib kaku, urat-urat di lehernya menegang saat para gerilyawan mulai membentuk formasi setengah lingkaran yang mengepung mereka berdua. Keringat dingin menetes dari pelipis sang perwira, membasahi kain pelapis zirahnya.


"Cukup!" suara berat dan berwibawa menggelegar dari ujung bengkel, menenggelamkan gemerisik langkah kaki para buruh.


Langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah tungku utama. Sosok seorang pria raksasa bertelanjang dada melangkah keluar dari kabut asap. Kulit dadanya yang tebal dipenuhi parut luka bakar dan bekas sabetan cambuk hukuman kerja paksa. Apron kulit banteng yang dipakainya kehitaman oleh arang, dan di tangan kanannya, ia menyeret sebuah martil baja berkepala ganda seolah benda seberat batu nisan itu hanyalah sebatang ranting kayu kering.


Itulah Darma Setya. Matanya yang cokelat kelam menatap Farihah dan Ghalib tanpa secuil pun rasa gentar, hanya ada kebencian dingin yang telah mengendap selama puluhan musim kelaparan.


"Seorang perwira inkuisisi yang gemetar ketakutan, dan seorang pelacur istana yang membawa harum lavender ke dalam neraka belerang," gumam Darma Setya, meludah ke lantai tanah liat hingga menghasilkan suara mendesis saat mengenai remah arang panas. "Katakan, wahai cecunguk mahkota, mengapa aku tidak boleh melemparkan kalian berdua hidup-hidup ke dalam tungku peleburan baja sekarang juga?"


Lihat selengkapnya