Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Tari-Tarian Topeng di Atas Jurang

Wangsa Danadyaksa menggelar Pesta Topeng Musim Gugur yang boros untuk merayakan pengumuman wali takhta sepihak. Kontras dengan jeritan kelaparan di luar tembok, balairung dipenuhi sutra, anggur kristal, dan tawa munafik para elit. Ghalib hadir dengan seragam militer penuh, sementara Farihah menyamar di antara barisan pelayan nampan emas. Suasana semakin mencekam saat utusan Rajanegara tiba dengan membawa hadiah mengerikan: kepala salah satu penasihat Danadyaksa yang dieksekusi di perbatasan.



━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

# Tari-Tarian Topeng di Atas Jurang

### Bab VII — Balairung Cermin, Istana Nurul Iman

*Wangsa: Wangsa Danadyaksa | Skala Ketegangan: 4/5 Menuju 5/5*


---


## Bagian I: Kabut Dingin dan Ratapan yang Terbungkus Sutra

*Malam Jamuan Musim Gugur di Tengah Kepungan Kelaparan* (Tingkat Tensi: 3/5)

༻❖༺

Kabut musim gugur merayap turun dari lereng Pegunungan Mahameru laksana kafan kelabu yang tak bertuan. Di luar benteng lingkar luar, udara berbau jelaga basah, tanah liat yang membeku, dan bau busuk kemiskinan yang telah mengendap selama tiga purnama. Ribuan pasang mata cekung menatap gerbang besi bercat tembaga yang tertutup rapat. Tangan-tangan kurus tinggal tulang mencakar lumpur yang mengeras, memungut sisa bulir gandum yang tercecer dari roda kereta kencana kaum bangsawan. Jeritan kelaparan itu bukan lagi ratapan yang utuh, melainkan dengungan parau yang dipelintir angin malam—sebuah kidung kematian tak bertuan bagi anak-anak yang tertidur di atas tumpukan jerami basah.


Namun, di balik dinding granit setinggi sepuluh tombak, dunia berganti rupa menjadi surga palsu yang memuakkan. Istana Nurul Iman berdiri megah di puncak bukit karang, menantang langit gelap dengan kubah-kubah berlapis emas murni dan pilar-pilar pualam yang berkilau di bawah siraman ribuan lentera minyak nilam. 'Nurul Iman'—Cahaya Iman—sebuah nama suci yang diwariskan para leluhur pendiri kerajaan, kini menjelma menjadi ironi paling berdarah. Tak ada cahaya iman di balik gerbangnya; yang tersisa hanyalah kuburan bagi nurani yang telah lama membusuk di bawah tumpukan permadani Persia dan anggur berempah.


Malam itu, Wangsa Danadyaksa menggelar Pesta Topeng Musim Gugur. Sebuah perayaan yang konon diselenggarakan untuk 'menghormati berkah panen dan memohon ketenteraman negeri', namun sesungguhnya hanyalah dalih picik untuk merayakan pengumuman sepihak wali takhta kerajaan. Pangeran Walid, pemuda berwajah pias dengan selera busana yang kelewat mewah, hendak mengukuhkan kuasanya sebelum abu jenazah sang baginda raja sempat dingin di makam bawah tanah.


Dingin menyergap ruang, merayap lewat celah-celah ventilasi marmer berukir sulur teratai, mengubah sisa napas para pelayan menjadi embun tipis yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Sementara di luar tembok rakyat meregang nyawa menelan angin dan air comberan, di dalam balairung para aristokrat tertawa terbahak-bahak di balik topeng porselen bersepuh perak. Mereka menelan tiram segar berlumur sari delima dan meneguk anggur merah tua seharga seratus karung beras per botol. Kesunyian malam di luar istana terasa menyesakkan, seolah setiap sudut ruangan di balik kemegahan ini menyimpan dendam yang siap menerkam, menunggu detik ketika neraca keadilan roboh oleh timbunan dosanya sendiri.

°˖✧༺♕༻✧˖°

---


## Bagian II: Balairung Cermin dan Siluet Gadis Penjaga Nampan

*Farihah Menyusup di Antara Riuh Kebohongan Aristokrat* (Tingkat Tensi: 3/5)

༻❖༺

Balairung Cermin Istana Nurul Iman dirancang bukan sekadar untuk memamerkan kekayaan, melainkan untuk memperdaya pandangan manusia. Tiga ratus panel cermin setinggi langit-langit yang didatangkan dari seberang samudera dipasang berhadapan di sepanjang koridor aula agung. Setiap pantulan melipatgandakan bayangan lilin, gaun beludru kirmizi, dan lencana kehormatan palsu, menciptakan ilusi ruang tanpa batas—sebuah labirin visual yang membuat siapa pun merasa terperangkap dalam tatapan ratusan mata tak terlihat.


Di lantai dansa marmer hitam berpola bintang segi delapan, para bangsawan berputar mengikuti irama gesekan biola para musisi istana. Topeng-topeng mereka adalah karya seni yang mengerikan: wajah rubah berbulu emas, paruh burung gagak bertabur safir, dan senyuman malaikat yang kaku membeku. Di balik topeng itu, mata mereka saling mengintai, penuh racun kecurigaan dan nafsu menjilat kekuasaan.


Di antara barisan pelayan yang bergerak senyap di tepi dinding, seorang gadis melangkah dengan nampan tembaga berukir bunga kamboja di tangannya. Farihah mengenakan gaun pelayan berbahan kain linen kelabu kusam dan celemek hitam bertali sutra, seragam para abdi dalem kasta terbawah yang dilarang bersuara kecuali disapa. Wajahnya tertutup topeng beludru hitam pekat sederhana berbentuk sayap kelelawar, topeng standar bagi pelayan pesta agar keberadaan mereka tidak mengotori pandangan kaum bangsawan.


Nampan di tangan Farihah menyangga enam piala kristal berisi anggur anggrek merah. Berat logam tembaga itu menekan pergelangan tangannya, namun rasa ngilu di tulangnya tak sebanding dengan debar liar di rongga dadanya. Detak jantungnya beradu sengit dengan sunyi yang merambat di sela riuh alunan musik, membuka kembali luka lama yang terkubur abadi di relung jiwanya. Lima tahun silam, sebelum keluarganya dibantai dan nama klan ayahnya dihapus dari silsilah kerajaan, Farihah pernah berdansa di lantai marmer ini dengan gaun sutra berhias mutiara laut timur. Kini, ia kembali bukan sebagai putri bangsawan, melainkan sebagai bayangan pembalas dendam yang bernapas dalam dingin.


Farihah memusatkan pandangannya ke arah panggung kehormatan di ujung aula. Di sana, di bawah kanopi beludru ungu bertatahkan permata kecubung, duduk Pangeran Walid. Pangeran itu memegang cangkir emas dengan jemari yang dihiasi cincin zamrud sebesar telur puyuh, tersenyum pongah kepada para duta besar negeri sahabat. Di dekat mimbar marmer tempat ia akan berpidato, tergeletak sebuah tabung silinder perak berukir lambang rajawali Danadyaksa. Di dalam tabung itulah tersimpan naskah pidato penetapan wali takhta yang akan dibacakan oleh panitera istana tepat pada dentang lonceng tengah malam. Sebuah naskah yang menjadi target utama misi Farihah malam ini.

°˖✧༺♕༻✧˖°

---


## Bagian III: Mata Serigala Perak dan Luka yang Menolak Sembuh

*Konfrontasi Batin Ghalib di Balik Bayang-Bayang Pilar Marmer* (Tingkat Tensi: 4/5)


Di sisi barat balairung, berdiri seorang perwira tinggi militer dengan seragam zirah lempeng hitam bersepuh perak. Lambang kepala serigala melolong terpatri di pundak kirinya—tanda pengenal Panglima Komando Pengawal Pribadi Kerajaan. Ghalib tidak mengenakan topeng pesta. Matanya yang tajam dan dingin seperti bilah belati menyapu setiap jengkal ruangan. Wajahnya yang tegap dipahat oleh bekas luka pertempuran di pelipis kanan, rahangnya terkatup rapat, menahan kegelisahan yang membakar isi dadanya.


Sebagai seorang perwira yang bersumpah menjaga stabilitas wangsa, Ghalib tahu persis bahwa pesta ini adalah tontonan paling memalukan dalam sejarah Danadyaksa. Pasukannya telah dikerahkan tiga lapis di luar gerbang untuk memukul mundur para pengemis yang sekarat dengan pentungan dan perisai besi. Hati nuraninya menjerit, terkoyak antara kesetiaan militer warisan ayahnya dan rasa jijik yang mual terhadap kebobrokan para pangeran yang ia lindungi.


Tiba-tiba, pandangan mata Ghalib terpaku pada sosok pelayan yang membawa nampan anggur di pilar kedua belas. Cara gadis itu menjejakkan kaki—begitu ringan, nyaris tanpa suara, dengan keseimbangan tubuh seorang pemburu yang terbiasa melompati jurang batu karang—terlalu akrab bagi ingatannya. Saat gadis itu berbelok sedikit menghindari seorang adipati yang terhuyung mabuk, aroma samar menguar ke arahnya: wangi kayu cendana hutan berpadu dengan dinginnya abu dupa malam.


Napas Ghalib tertahan. Jantungnya berdegup seperti genderang perang. 'Mustahil...' bisiknya nyaris tak terdengar di balik kerah seragamnya.


Farihah merasakan sepasang mata menembus punggungnya. Ia tidak menoleh, tetapi bulu kuduknya meremang. Naluri bertahan hidupnya yang terasah di rimba pelarian segera memperingatkan: serigala pengawal telah mencium jejaknya. Dengan langkah terkendali, Farihah melipir ke balik tirai brokat tebal penutup lorong menuju sayap barat balairung, menjauh dari kerumunan tamu.


Suara gemerincing pelat zirah terdengar lembut di belakangnya. Sebuah tangan yang kokoh berlapis sarung tangan kulit rusa mendadak mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Cengkeraman itu tidak kasar, namun sedemikian kuat hingga nampan tembaga di tangannya bergetar pelan. Piala kristal berdentang lirih, memercikkan setetes cairan merah ke lantai marmer yang dingin.


'Jangan bergerak atau aku berseru pada regu pemanah,' suara berat dan parau berbisik tepat di samping telinganya. Ghalib.


Farihah menarik napas perlahan, menekan getaran di bahunya. Ia perlahan memutar tubuhnya di dalam relung bayangan tirai, mengangkat dagunya menatap lurus ke dalam bola mata pria yang lima tahun lalu bersumpah akan melindunginya hingga tetes darah penghabisan.


'Bicaralah lebih keras, Panglima,' desis Farihah, suaranya dingin bagai es sungai yang membeku. 'Panggil seluruh anjing penjagamu ke sini. Biarkan para tamu melihat bagaimana seorang pahlawan besar Danadyaksa meringkus pelayan pembawa anggur yang tak bersenjata.'


Lihat selengkapnya