Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Perangkap di Koridor Tapestri

Saat berusaha melarikan diri dari kekacauan balairung, Farihah dijebak di lorong sempit bertapestri oleh Garda Bayang Khusus—pasukan elit Danadyaksa yang mengenakan jimat safir penangkal sihir. Mereka mengetahui bahwa ada penyusup dengan kemampuan bayangan di antara para pelayan. Tanpa kehadiran Ghalib yang sedang menahan pasukan di luar, Farihah terpaksa bertarung sendirian melawan lima pendekar pedang terlatih.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

### Bagian I: Dingin di Urat Marmer Nurul Iman

Ketika kepalsuan takhta bernapas dalam sunyi yang mencekam

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap di sepanjang lantai marmer pualam, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk perlahan di dalam rongga-rongga kekuasaan.

Istana itu bernama Nurul Iman—sebuah nama yang dilafalkan para penyair kelana dengan nada takzim di kedai-kedai perbatasan, seolah-olah setiap kubah emasnya menampung curahan berkah langit dan kepasrahan suci para malaikat. Namun bagi Farihah, kemegahan tersebut tak lebih dari sangkar raksasa bersepuh racun. Nama 'Cahaya Keyakinan' hanyalah selembar kain kafan sutra putih yang dibentangkan di atas kuburan massal para pembangkang, menutupi anyir darah yang gagal dibasuh oleh ratusan tempayan air mawar pada setiap malam perayaan dinasti.

Langkah kakinya terseret cepat, beradu lirih dengan dinginnya ubin batu berurat kelabu yang tampak seperti jaringan pembuluh darah mayat yang membeku di kedalaman makam purba. Gaun pelayannya yang terbuat dari rami kasar basah kuyup oleh keringat dingin di bagian punggung, melekat erat pada kulitnya bagai peringatan bisu akan kerapuhan raga fana. Di sampingnya, Dayang Kidung terengah-engah. Napas wanita paruh baya itu berbunyi pendek-pendek, serak dan berat, menyerupai embusan puputan pandai besi yang telah rusak oleh karat dan usia uzur.

Dari arah balairung utama yang terletak jauh di punggung mereka, gaung denting pedang dan pekik kematian masih berdesing samar menembus pilar-pilar tebal berbalut tembaga. Dentuman genderang perang istana berpadu dengan jerit kesakitan para pengawal rendah yang terseret ke dalam kekacauan kudeta bayangan. Ghalib berada di sana. Gambaran pemuda bertubuh tegap itu—berdiri tegak di ambang pintu ganda kayu mahoni dengan pedang dua tangan yang berlumuran darah, menahan gelombang prajurit berperisai serigala seorang diri demi memberi mereka jeda waktu beberapa tarikan napas—mencengkeram hulu hati Farihah dengan rasa bersalah yang teramat pedih.

'Jangan menoleh, Nak... demi Yang Menguasai Kegelapan, jangan pernah menoleh sedikit pun!' bisik Dayang Kidung parau. Jemari tangan wanita tua itu yang bergetar hebat mencengkeram pergelangan tangan Farihah begitu erat, kuku-kukunya yang patah dan menghitam menancap menyakitkan ke kulit sang gadis muda. 'Langkah Ghalib telah dibeli oleh sumpahnya sendiri. Jika kau menoleh, nyawanya dan seluruh pengorbanan malam ini hanya akan menjadi abu sia-sia!'

Farihah menelan ludah yang terasa pahit laksana empedu ular. Udara di koridor utara terasa kian pekat dan membekukan sumsum tulang, bukan semata karena kabut malam musim dingin yang menyelinap liar dari celah jendela kisi-kisi tinggi, melainkan karena keheningan di sayap istana ini terlalu ganjil, terlalu rapi, dan sarat muslihat. Tak ada satu pun pelayan dapur yang melintas dengan baki tembaga. Tak ada dayang yang berbisik di sudut pilar membawa lentera damar. Bahkan lentera-lentera dinding yang dipasang pada sanggurdi perunggu berkepala garuda hanya menyisakan sumbu hitam yang mengepulkan asap kelabu tipis berbau lemak babi hutan dan minyak kemenyan murahan.

Detak jantung Farihah beradu liar dengan sunyi yang menindih dinding-dinding koridor. Setiap ketukan di rongga iganya terdengar seperti dentum genderang perang yang menuntut pelunasan utang darah masa silam. Di sinilah letak kengerian Nurul Iman yang sesungguhnya: istana ini jarang membunuh musuh-musuhnya di lapangan terbuka dengan keadilan mahkamah, melainkan menelan mereka di dalam kelokan sunyi yang tak berujung, membiarkan rasa takut menggerogoti kewarasan sebelum bilah baja dingin menjemput tanpa jejak.

Farihah dapat merasakan denyut sihir di ujung jemari tangannya yang beku. Sebuah getaran halus berwarna jelaga yang berusaha meronta keluar, menuntut kebebasan dari segel rapuh yang selama bertahun-tahun dipaksakan oleh ramuan pahit buatan Dayang Kidung. Namun Farihah tahu, mengeluarkan kekuatan itu di bawah atap istana ini sama saja dengan menyalakan obor di sarang binatang buas yang kelaparan.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Pintu-Pintu yang Mengunci Jiwa

Perangkap besi di balik kemegahan tapestri dinasti palsu

༻❖༺

Mereka berbelok tajam memasuki koridor terpanjang di Sayap Utara istana. Lorong itu sempit, beratap lengkung gotik setinggi tiga tombak, diapit oleh dinding batu granit utuh yang seluruh permukaannya ditutup oleh tapestri sutra raksasa warisan tiga generasi penguasa. Kain-kain tenun bersulam benang emas dan perak itu menggambarkan mitologi agung berdirinya wangsa penguasa saat ini: ksatria-ksatria berkuda putih yang digambarkan menerima berkah cahaya dari surga ke tujuh, penaklukan suku-suku penjaga tanah purba yang digambarkan sebagai karya suci pembebasan, serta wajah para raja terdahulu yang disulam dengan pandangan mata teduh nan penuh welas asih palsu.

Namun mata Farihah, yang terbiasa membaca lekuk bayang-bayang di malam gelap dan mengenali serat racun di setiap helai benang, melihat lebih dari sekadar keanggunan tirai istana. Di balik jahitan benang perak itu, ada bekas noda darah yang mengering cokelat kusam—noda pembantaian klan lama yang sengaja ditutupi oleh bordiran motif dedaunan palem agar sejarah lama terhapus dari ingatan peradaban.

'Tapestri ini...' Farihah bergumam pelan di sela napasnya yang memburu, jemarinya tak sengaja menyentuh tepi kain sutra yang kasar dan berdebu tebal. 'Kidung, apakah di balik kain ini dinding batu rahasia yang pernah kau ceritakan?'

Belum sempat Dayang Kidung menjawab, bunyi dentang logam berat meremukkan keheningan lorong dengan kedahsyatan yang memekakkan telinga.

*KRAAANGGG!*

Sebuah terali besi baja bergigi tajam meluncur jatuh dari ceruk kubah langit-langit setinggi sepuluh depa persis di belakang mereka. Besi tebal itu menghantam lantai marmer pualam hingga memercikkan bunga api pijar dan mengunci jalan kembali menuju sayap barat. Getaran benturan itu merambat cepat melalui sol sepatu tipis Farihah, menyengat tumitnya dan menggetarkan susunan tulang belakangnya hingga rasa ngilu menjalar ke tengkuk.

Farihah tersentak hebat, memutar tubuh secara naluriah seraya menahan tubuh Kidung yang nyaris terpelanting. 'Pintu kisi dijatuhkan!'

Belum sempat gema dentang pertama mereda di lorong sempit tersebut, di ujung depan koridor—tempat pintu jati berukir yang seharusnya mengarah ke teras pelarian taman bawah tanah berada—gerbang kisi besi kedua meluncur turun dengan kecepatan yang sama mematikannya. *DUMMM!* Udara di dalam lorong tertekan seketika seperti terperangkap di dalam bejana kedap udara. Debu kapur purba berhamburan dari sela-sela sambungan batu dinding, menari-nari bagai salju kelabu dalam sorot cahaya bulan pucat yang jatuh miring menembus celah kisi-kisi sempit.

Mereka kini terkurung sepenuhnya di tengah koridor tertutup sepanjang empat puluh langkah. Tak ada jendela samping yang cukup lebar untuk dilalui tubuh manusia; hanya ada celah ventilasi sempit setinggi jangkauan tombak yang mengalirkan embusan angin beku pegunungan.

Dayang Gamila Al Humaira jatuh berlutut di atas ubin dingin yang menusuk tulang, kedua tangannya yang kurus meraba dada yang kembang-kempis tak karuan. Wajahnya yang pucat pasi kini bermandikan keringat dingin yang mengilat kelabu di bawah temaram sinar rembulan. 'Ini perangkap... Danadyaksa telah membaca langkah kita sejak awal mula. Dia sengaja membiarkan kita lolos dari pintu balairung agar kita berlari ke sini...'

'Bangun, Bibi Kidung! Jangan menyerah di sini!' Farihah menarik lengan wanita itu dengan segenap sisa tenaganya, matanya menyapu sekeliling dengan kepanikan yang bergolak bagai lahar mendidih. 'Pasti ada engsel rahasia di balik kain-kain terkutuk ini! Ibu pernah berbisik dalam mimpiku bahwa istana ini memiliki seribu celah pelarian bagi mereka yang tertindas!'

Kidung menatap wajah Farihah. Untuk sesaat, raut ketakutan di mata wanita pengasuh itu luruh, digantikan oleh kepedihan purba yang teramat mendalam dan menusuk kalbu. Kerut-kerut di sudut bibirnya bergetar hebat, memperlihatkan rahasia berdarah yang telah ia simpan selama delapan belas tahun di dalam sunyi yang menyiksa sukma.

'Bukan ibumu yang mengatakannya, Farihah...' suara Gamila bergetar lirih, nyaris tenggelam oleh desau angin malam yang melolong dari kisi-kisi besi. 'Ratu Kencana sendiri yang memetakan lorong ini sebelum kamarnya dibakar hidup-hidup oleh para pengkhianat. Dan Danadyaksa telah memerintahkan agar setiap rongga batu di sayap ini disumbat dengan timah mendidih sejak musim gugur yang lalu. Kita tidak pernah diberi jalan keluar, Farihah... kita hanya digiring ke meja jagal.'

°˖✧༺♕༻✧˖°


### Bagian III: Kilau Racun Safir Biru

Rasa sakit yang membakar nadi dan lima algojo tanpa wajah

༻❖༺

Lihat selengkapnya