Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Ratapan di Tengah Kegelapan

Ghalib menemukan Farihah mendekap jasad Dayang Kidung di dalam kripta batu yang dingin. Tangis pelayan yang selama ini ia tahan pecah di dada sang inkuisitor. Di momen paling rapuh ini, Ghalib membasuh luka Farihah dan membakar dupa perpisahan bagi wanita tua yang telah mempertaruhkan segalanya. Dari abu duka itu, ketakutan Farihah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh tekad membaja untuk menyelesaikan perang ini dan merebut kembali takdir yang dirampok.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


### Bagian I: Dingin yang Menyergap dan Jasad di Ujung Pelarian

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di kedalaman tiga puluh depa di bawah kemegahan istana megah yang dinamakan Nurul Iman, udara terasa bagai racun yang mengendap lambat di dasar paru-paru. Tak ada seberkas pun sinar matahari yang mampu menembus selimut granit setebal benteng ini. Di sini, di dalam liang purba tempat tulang-belulang para pendahulu yang terlupakan terkubur dalam kebisuan, yang tersisa hanyalah kepedihan yang merajam sumsum tulang dan tetesan air asin yang jatuh berirama dari langit-langit berkubah melengkung.

Tetes. Tetes. Tetes.

Bunyi air yang membentur lantai batu itu beradu mengerikan dengan detak jantung yang berdegup liar di rongga dada Farihah. Setiap detakannya menggemakan kesunyian yang menindih, seolah waktu sendiri telah membusuk di sudut liang ini, menolak untuk beranjak maju. Di atas hamparan lempeng batu yang dipenuhi lumut kehitaman, putri bangsawan dari klan Malikiyya itu bersimpuh dengan lutut yang membiru kaku. Seluruh persendiannya menjerit oleh rasa nyeri yang membakar, namun rasa sakit pada raganya tak sebanding dengan kehancuran yang mencabik-cabik jiwanya.

Di dalam dekapannya yang gemetar hebat, Farihah memeluk seonggok tubuh ringkih yang telah kehilangan seluruh kehangatannya. Dayang Kidung.

Wanita tua itu tidak lagi bernapas. Kelopak matanya yang berkerut tertutup rapat, menyembunyikan sepasang mata cokelat teduh yang selama dua puluh tahun telah menjadi satu-satunya pelita bagi Farihah di tengah rimba serigala istana. Jemari Kidung yang kapalan—jemari yang dahulu dengan penuh kesabaran mengepang rambut Farihah dan mengoleskan minyak mawar di kala fajar—kini membeku kaku bagai dahan kayu mati. Ujung-ujung kuku wanita tua itu menghitam, sisa dari perlawanan putus asa saat mencengkeram jubah pengawal bertopeng emas beberapa menit yang lalu.

Darah merah kental merembes tanpa henti dari luka menganga di balik korset kumal Kidung, mengotori gaun satin hijau zamrud milik Farihah yang kini compang-camping tercoreng jelaga. Darah itu telah dingin, berbaur dengan air rembesan lantai dan lumpur pekat, menciptakan aroma anyir logam yang mencekik tenggorokan.

"Kidung... kumohon, demi langit yang menolak runtuh, bernapaslah sekali lagi..." bisik Farihah. Suaranya pecah menjadi serpihan parau yang tertahan di tenggorokan. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi pucat wanita tua itu, namun kehangatan air matanya sia-sia belaka di hadapan cengkeraman maut yang telah memungut nyawa sang pengasuh.

Di balik bayang yang merayap di sela-sela relung batu pemakaman, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk di balik tirai takdir yang kini koyak. Farihah memejamkan mata rapat-rapat, namun kegelapan di dalam kepalanya justru memproyeksikan kembali suara derap lima pasang sepatu bot besi di lorong atas, desingan belati beracun, dan jeritan parau Kidung saat mendorong tubuhnya masuk ke ambang pintu rahasia di balik patung singa tanpa mata: 'Lari, Tuan Putri! Jangan biarkan darah Malikiyya padam malam ini!'

Kidung telah menukar nyawanya dengan sepetak ruang dan waktu di bawah tanah ini. Dan kini, wanita tua itu terbujur tanpa kata, meninggalkan Farihah seorang diri di rahang kegelapan yang siap melumatnya bulat-bulat. Kegelapan itu kini menelan detak jantung, meninggalkan jejak ketakutan yang tak mampu lagi bersembunyi. Rasa cemas batin yang telah lama mengendap di dasar sanubarinya kini meledak menjadi teror yang menyesakkan: bagaimana mungkin sebuah istana yang menyandang nama 'Cahaya Iman' dapat menampung begitu banyak nanah pengkhianatan dan kebiadaban yang tak berkesudahan?

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Langkah Sang Inkuisitor di Ambang Lorong Kematian


Krak.

Bunyi patahan serpihan tulang kering atau batu kapur lapuk di ujung lorong barat menghentikan isak tangis Farihah seketika. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Udara di sekitarnya seolah mendadak membeku dua kali lipat lebih menusuk. Detak jantungnya melonjak panik hingga ke ubun-ubun, beradu cepat dengan desau angin lembap yang bertiup dari cerobong ventilasi kuno.

Dengan gerakan refleks yang digerakkan oleh naluri bertahan hidup hewani, Farihah meletakkan kepala Kidung dengan sangat hati-hati ke atas tumpukan kain jubahnya yang basah. Tangan kanannya yang berlumuran darah gemetar saat menyelinap ke balik korset, mencabut sebuah belati perak bermata dua—senjata terakhir yang diberikan almarhum ayahnya sebelum malam pembantaian Al-Qashr.

Ia bangkit berdiri, menyandarkan punggungnya ke pilar batu berlumut agar tidak limbung. Ujung bilah belati itu terarah lurus ke mulut terowongan berkubah lengkung. Napasnya memburu, keluar dari bibirnya yang membiru dalam bentuk gumpalan-gumpalan uap putih tebal yang melayang lambat di udara suram.

Dari mulut terowongan gelap itu, sebuah bayangan jangkung merayap di atas lantai granit basah. Bayangan itu diikuti oleh suara langkah kaki yang lambat, mantap, dan berbobot—bukan langkah pengintai yang sembunyi-sembunyi, melainkan ketukan sol sepatu tempur berlapis baja dari seseorang yang menguasai seni berburu manusia di lorong-lorong maut.

Klang. Klang. Klang.

Gemerincing rantai besi pengikat zirah beradu dengan desis gesekan mantel kulit tebal. Setiap ayunan langkahnya menyebarkan getaran halus ke genangan air di lantai kripta. Sosok itu akhirnya keluar dari kepekatan tirai bayang, berdiri tepat di bawah kerucut temaram cahaya lentera gantung yang bergoyang lesu ditiup angin.

Jubah panjang berpotongan kaku berwarna hitam jelaga menyelimuti tubuh tegapnya. Di pundak kirinya, tersulam benang perak berbentuk elang bercakar tiga yang meremukkan tengkorak kepala—lambang resmi Korps Inkuisisi Tertinggi Istana Nurul Iman. Tudung kepalanya telah tersingkap ke belakang bahu, memperlihatkan wajah seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan rahang persegi yang kokoh dan garis-garis muka yang dipahat oleh kekerasan puluhan pertempuran berdarah.

Ada bekas luka sayatan pedang horizontal yang memanjang dari bawah pelipis kanannya hingga ke batas tulang pipi, memberikan kesan dingin yang nyaris tanpa ampun. Namun yang paling menakutkan Farihah adalah sepasang mata kelabunya: mata yang biasanya menatap para pesakitan di ruang bawah tanah istana dengan ketidakpedulian mutlak.

Ghalib Al-Fathan. Sang Inkuisitor Tertinggi.

"Mundur!" jerit Farihah, suaranya parau bergetar oleh amarah bercampur teror yang tak tertahankan. Bilah belatinya berguncang liar di udara, membiaskan cahaya lentera redup. "Jangan melangkah satu depa pun lagi, Ghalib! Demi darah Malikiyya yang kau buru, jika kau mendekat, pisau ini akan merobek kerongkonganmu sebelum kau sempat memanggil anjing-anjing pengawalmu masuk ke dalam liang ini!"

Ghalib tidak bergerak mendekat, namun ia juga tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Tangannya tidak meraih gagang pedang panjang yang tergantung di pinggang kirinya. Pria itu berdiri tegak, terdiam dalam keheningan yang menakutkan, sementara tatapan matanya beralih perlahan dari ujung belati perak yang bergetar ke wajah Farihah yang pucat pasi berlumur jelaga.

Lalu, tatapan sang inkuisitor turun ke lantai.


Ketika pandangan Ghalib mendarat pada jasad Dayang Kidung yang terbaring kaku berlumuran darah di atas lempeng batu, terjadi sesuatu yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun di aula istana Nurul Iman. Otot rahang Ghalib yang biasanya sekeras lempeng besi mendadak berkedut hebat. Sepasang bibirnya mengatup rapat, dan kilatan dingin di matanya runtuh dalam sekejap mata, digantikan oleh gelombang kepedihan purba yang begitu kelam, begitu hancur, hingga pria bertubuh kekar itu tampak seolah baru saja dihantam gada raksasa tepat di ulu hatinya.


Napas Ghalib tertahan, lalu terhembus keluar perlahan bagai desau pasir kering yang terseret badai malam. "Kidung..." gumamnya pelan, sebuah bisikan yang nyaris tertelan oleh gemericik tetesan air kripta.

"Jangan berani-berani menyebut namanya dengan mulut berlumur dosamu!" sergah Farihah, dadanya naik turun dengan liar. "Kalian yang membunuhnya! Dewan wazil dan anjing-anjing bertopengmu yang memburunya hingga ke ambang kematian ini!"

Ghalib mengangkat tangan kanannya perlahan, telapak tangannya terbuka lebar menghadap Farihah—sebuah gestur non-agresi yang ganjil bagi seorang komandan inkuisisi yang paling ditakuti seantero kekaisaran. "Turunkan senjatamu, Putri Farihah. Jika aku datang ke sini untuk menyerahkan kepalamu ke meja emas Kaisar, seratus prajurit bertameng busur sudah mengepung lorong pembuangan ini sejak kau menuruni tangga pertama. Aku datang sendiri. Tanpa segel penangkapan, tanpa pengawal. Hanya membawa abu dan penyesalan yang terlambat."

°˖✧༺♕༻✧˖°


### Bagian III: Ritus Terakhir Isyraqiyya: Kemenyan, Debu Obsidian, dan Sumpah Darah


Mendengar kata-kata itu, benteng kepalsuan dan ketegaran Farihah runtuh seketika. Lututnya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya. Belati perak di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai batu kapur basah. Tubuh sang putri melorot ke bawah, jatuh berlutut di samping jasad Kidung. Bahunya berguncang tak terkendali saat ratapan yang selama ini tertahan di balik rongga dadanya meledak menjadi isakan pilu yang menyayat kesunyian liang purba.

Ratapan itu bukan tangisan seorang bangsawan yang meratapi takhta yang hilang, melainkan ratapan seorang anak manusia yang mendapati pelindung terakhirnya telah direnggut paksa oleh kegelapan dunia. Di tengah dingin yang membekukan ruang, setiap sedu sedan Farihah terasa bagai sayatan sembilu yang membelah kebisuan ruang bawah tanah Nurul Iman.

Ghalib melangkah maju. Gerakannya pelan dan penuh kehati-hatian, seolah setiap getaran langkahnya berpotensi meremukkan jiwa rapuh yang sedang terkoyak di hadapannya. Pria jangkung itu berlutut dengan satu kaki di atas lempeng batu yang kotor oleh genangan darah bercampur air lumut. Ia tidak menyentuh Farihah, menyadari batas luka yang memisahkan mereka.

Sebaliknya, jemari Ghalib yang berbalut sarung tangan kulit gelap merogoh ke dalam kantong pelana di pinggangnya. Dari sana, ia mengeluarkan tiga benda keramat: sebuah buli-buli tembaga berukir aksara runcing Isyraqiyya kuno berisi minyak damar mur, sebuah kantong beludru hitam berisi debu halus batu obsidian, dan sebuah pedupaan kuningan berkaki tiga bertatahkan batu akik merah.

Aroma damar mur yang kental dan berat segera merebak di udara begitu tutup tembaga buli-buli itu dibuka. Aroma itu harum, mistis, getir, dan suci—sebuah aroma yang secara ajaib mendesak mundur bau busuk darah kering dan kelembapan kubur yang pekat. Farihah mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, memandang benda-benda itu dengan tatapan tak percaya.

"Gamila bukan sekadar dayang istana," ucap Ghalib dengan suara bariton yang bergetar tertahan. Tangensial matanya terpaku pada wajah damai wanita tua itu. "Ia adalah putri seorang Penenun Doa di pedepokan Api Gunung Isyraqiyah. Jiwanya tidak boleh dibiarkan tersesat di dalam liang gelap yang lembap ini tanpa bekal minyak penuntun dan nyala api pembebas. Kaumnya percaya bahwa tanpa ritus penyeberangan, sukma para martir akan terperangkap abadi di antara reruntuhan duniawi."

"Kau... kau tahu syariat bangsaku?" tanya Farihah, suaranya terputus-putus di antara tarikan napasnya yang sesak. "Ayah tiriku dan seluruh penguasa Nurul Iman telah membakar kitab-kitab Isyraqiyya di alun-alun kota dua puluh tahun yang lalu. Menyimpan debu obsidian dan melantunkan kidung mereka adalah vonis hukuman gantung di tiang kota!"

Ghalib tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai jawabannya, ia menuangkan tiga tetes minyak mur ke dahi Kidung yang pucat. Cairan kental keemasan itu menyebar membentuk segitiga suci di atas kerutan kulit sang dayang. Kemudian, sang inkuisitor membuka kantong beludru dan menaburkan debu hitam obsidian tipis-tipis di atas kedua telapak tangan Kidung yang kini dirapatkan di atas dadanya yang diam.

"Sebelum aku disumpah menjadi algojo bertopeng di istana terkutuk ini," gumam Ghalib seraya menyalakan sebutir bara dupa kecil di dalam pedupaan kuningan dengan bantuan batu pemantik api, "klan Al-Fathi dan klan Malikiyya bernapas dari mata air pegunungan yang sama. Ayahku bersumpah di bawah panji Isyraqiyya yang sama dengan kakekmu. Api ini... api ini tidak pernah padam di dalam darahku, betapa pun pekatnya jelaga dosa yang kulumurkan pada jubahku."

Asap putih keperakan mengepul tebal dari pedupaan kecil itu, bergelung anggun di udara dingin laksana selendang sutra yang menari. Bersamaan dengan naiknya asap dupa, bibir Ghalib mulai melantunkan bait-bait kidung purba dalam bahasa Isyraqiyya kuno—bahasa rahasia yang mengalun rendah, berirama muram, namun dipenuhi kekuatan magis yang menyejukkan saraf-saraf yang tegang.

Lihat selengkapnya