Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Badai di Gerbang Pualam

Pasukan zirah berat Jenderal Zafran AlQuruz menghantam Gerbang Pualam dengan palu pendobrak raksasa. Di atas tembok, serdadu Danadyaksa membalas dengan panah api dan minyak mendidih. Warga kota terjebak di tengah medan pembantaian. Ghalib mengerahkan sisa pasukannya bukan untuk membela salah satu wangsa, melainkan membuka barikade evakuasi bagi rakyat sipil. Ketika gerbang runtuh dan pembantaian massal di ambang mata, sosok Farihah melangkah ke atas puing gerbang yang hancur.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


## Bagian I: Embun Beku di Kaki Mahameru

Paranoia Menyelubungi Puncak Baluarti Nurul Iman

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di pelataran tertinggi baluarti Istana Nurul Iman, udara malam tidak lagi sekadar menusuk kulit dan daging; ia merayap masuk ke celah sumsum bagai jemari mayat yang menuntut tebusan janji. Dari ketinggian tiga puluh depa di atas puncak Gerbang Utama Mahameru, deretan pualam putih yang dipuja-puja oleh para penyair istana tampak tak ubahnya tumpukan tulang belulang raksasa yang membeku di bawah kubah langit kelam tanpa bintang. Tidak ada rembulan yang sudi menyinari tanah itu malam ini. Yang tersisa hanyalah kabut tebal berbau belerang yang bergulung lambat dari jurang lembah luar, berbaur pekat dengan uap keringat dan aroma anyir jelang ajal yang menguap dari ribuan tubuh manusia di bawah sana.

Pangeran Walid mencengkeram birai pagar pualam hingga sarung tangan kulit bersulam benang kencana miliknya berderit kencang. Mantel sutra birunya yang dihiasi bulu musang kutub berkibar liar dihantam angin lembah yang membawa serpihan jelaga dingin. Matanya, yang berhari-hari tak tersentuh lelap karena teror yang tak kasatmata, berputar liar mengawasi barisan obor yang berderet di kaki bukit. Wajahnya yang biasa dipoles bedak cendana kini pucat pasi bagai kapur tohor, dihiasi lingkaran hitam di bawah kelopak mata yang membengkak. Di balik bayang yang merayap di sudut dinding, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk.

"Tuanku Pangeran, legiun besi Rajanegara telah melewati perimeter parit pertama," lapor Kapten Mahesa, perwira pengawal Danadyaksa, seraya berlutut di atas ubin marmer yang licin oleh tetesan embun beku. Suara prajurit itu bergetar hebat, tertindih oleh denting zirah tipisnya yang saling beradu tanpa kendali. "Palu pendobrak Rahwana... mereka telah menariknya hingga ke jalan poros. Tiga ratus lembu perang dan seribu prajurit berperisai kura-kura mengawalnya dari sayap kiri dan kanan. Jika kita tidak melepaskan tembakan ketapel sekarang, mereka akan tiba di pelataran pintu gerbang dalam hitungan menit!"

Walid tidak segera menjawab. Kerongkongannya tercekat oleh rasa pahit yang asing, rasa logam karat yang seolah menetes dari langit-langit mulutnya. Di dada kirinya, detak jantung yang beradu dengan sunyi seakan memompa racun kecemasan ke seluruh urat nadinya. Di balik dinding megah Nurul Iman yang diagungkan sebagai lambang kesucian para dewa, Walid tahu rahasia yang teramat kelam: fondasi gerbang ini tidak berdiri di atas berkah surga, melainkan di atas ratapan tujuh ratus penambang yang dikorbankan tiga puluh tahun silam ketika kakeknya merebut bukit Mahameru. Dan kini, setiap getaran tanah di bawah sana terasa seperti kutukan yang menuntut tebusan tunai.

"Berapa banyak jelata yang berkerumun di pelataran luar gerbang?" desis Walid, suaranya serak dan pecah, nyaris tenggelam oleh deru angin yang meratap di sela celah panah.

"Lebih dari empat ribu jiwa, Tuanku," jawab Mahesa dengan napas memburu. Keringat dingin menetes dari dagunya, membeku di udara malam sebelum menyentuh ubin. "Mereka adalah penduduk distrik pengrajin, buruh tambang batu bara, dan para pembakar kapur bersama anak-istri mereka. Mereka memohon agar gerbang pualam dibuka barang sehasta saja untuk memberi mereka perlindungan. Mereka terjebak di zona pembantaian di antara moncong mesin pengepung Bhadrika dan dinding benteng kita!"

Bibir Walid bergetar. Kilatan kebencian dan ketakutan primitif berkelindan liar di matanya yang membelalak. Rasa takut bahwa di antara ribuan pengungsi itu terselip para pembunuh gelap yang disewa untuk menggorok lehernya telah melumpuhkan akal sehat sang pangeran. Setiap wajah jelata yang memelas di bawah sana tampak baginya seperti algojo bertopeng. Paranoia istana telah membusuk hingga ke akarnya.

"Buka gerbang? Kau gila, Mahesa!" bentak Walid dengan desisan beracun. Ludahnya memercik ke pelindung bahu perwiranya. "Begitu pasak gerbang diangkat, serdadu Rajanegara akan merangsek masuk berbaur bersama para pengemis itu! Mereka akan membanjiri lorong-lorong pualam dan menyembelih kita semua di atas ranjang peraduan kita! Kau ingin kepalaku dipenggal dan ditancapkan di ujung tombak Bhadrika, hah?!"

"Namun Tuanku, jika gerbang tetap terkunci, palu pendobrak itu akan meremukkan mereka bersama puing pualam... Mereka adalah rakyat Wangsa Danadyaksa, pembayar upeti yang setia selama dua generasi—"

"Mereka hanyalah tanah liat yang menempel di terompahku!" Walid berteriak kalap, mencabut belati bertatahkan zamrud dari pinggangnya dan mengacungkan ujung bilahnya tepat ke bawah jakun Mahesa. Logam dingin itu gemetar di udara, mencerminkan ketakutan sang pangeran yang lebih mematikan daripada racun apa pun. "Biarkan mereka menjadi perisai daging di depan gerbang! Dengarkan perintahku: siapkan kuali-kuali tembaga di sepanjang balkon atas! Panaskan minyak terpentin hitam hingga mendidih dan mengepulkan uap belerang!"

Mata Mahesa membelalak ngeri. "Tuanku... minyak terpentin hitam tidak bisa dipadamkan dengan air... jika ditumpahkan dari ketinggian ini, api itu akan menghanguskan anak-anak dan wanita di bawah balkon..."

"Laksanakan!" lolong Walid, urat-urat di lehernya menegang bagai kawat tembaga. "Tumpahkan ke bawah begitu legiun Bhadrika mendekat! Jika kau ragu barang sedetik, kepalamu yang akan kucelupkan ke dalam kuali itu dan kulempar ke bawah sebagai martil pembakar pertama!"

Kengerian yang semakin nyata di setiap langkahnya merayap menuruni tangga spiral benteng. Mahesa melangkah mundur dengan pandangan hampa, menyadari bahwa monster paling buas di bukit Mahameru malam ini tidak sedang mengenakan zirah besi Rajanegara di luar gerbang, melainkan sedang bertahta di dalam jubah sutra biru di puncak menara Nurul Iman. Di kejauhan, dentum genderang perang pertama bergema membelah malam, menandai bermulanya pesta darah.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian II: Dentum Palu Rahwana dan Hujan Terpentin

Ketika Logam Berat Menghantam Kesucian Semu

༻❖༺

Bumi Mahameru bergetar hebat bagai dada raksasa yang batuk darah. Dari arah barisan bukit gersang, legiun zirah berat Wangsa Rajanegara bergerak maju bagai longsoran batu karang hitam yang tak terhentikan. Di barisan terdepan, ditarik oleh puluhan rantai kapal dan roda-roda kayu ulin berbalut baja tempa, bergeraklah palu pendobrak raksasa yang diberi nama keramat: Rahwana. Balok kayu purba berkepala harimau perunggu sebesar rumah panggung itu diayunkan oleh sistem katrol berlapis ganda. Setiap derap langkah kaki para prajurit zirah berat diiringi hentakan perisai baja ke dada mereka, menciptakan simfoni kematian yang membungkam desau angin malam.

Jenderal Zufran Al Qutuz duduk tegak laksana tugu batu di atas kuda perangnya yang berbalut lempengan baja berukir rajawali. Tubuh sang jenderal tinggi kekar, terbungkus zirah pelat hitam setebal dua jari yang telah menorehkan ratusan goresan tombak dan pedang. Pelindung wajah bertanduk dua miliknya hanya menyisakan celah sempit bagi sepasang mata kelabu yang dingin dan tanpa belas kasihan. Bagi Bhadrika, perang bukanlah panggung kepahlawanan yang dinyanyikan para pujangga; perang adalah kalkulasi matematis tentang daya hancur, bobot impak, dan titik patah urat saraf musuh.

Namun malam ini, ada sesuatu yang ganjil menggerayangi rongga dada sang jenderal kawakan. Saat kudanya melangkah melintasi batas parit terluar, hawa dingin yang tak lazim merayap naik menembus sol sepatu besinya. Rasa dingin itu bukan berasal dari embun pegunungan, melainkan dingin hampa yang meremukkan kehangatan darah. Telapak tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan besi mendadak berdenyut ngilu. Bekas luka bakar berbentuk lingkaran di pangkal jempolnya—tanda sumpah terkutuk ketika ia menyegel para pekerja tambang di lubang fondasi Mahameru tiga puluh tahun lalu—terasa panas membakar, seolah batu-batu di bawah telapak kudanya mulai berbisik memanggil namanya.

"Jenderal!" seru Senopati Ranu yang berkuda di sisi kirinya, memegang panji rajawali emas yang robek oleh desingan angin beku. "Dinding pualam Danadyaksa mematikan seluruh obor dinding. Mereka tidak mengirim utusan. Mereka memilih bertahan hingga batu terakhir!"

Zufran Al Qutuz menatap Gerbang Mahameru yang menjulang di hadapannya. Pualam putihnya berkilau pucat di bawah pantulan obor pasukannya, tampak angkuh dan suci laksana pintu surga. Namun sang jenderal tahu di mana kebusukan itu bersembunyi. Tiga puluh tahun silam, ia sendiri yang mengawasi peletakan pasak gerbang itu ketika ia masih menjadi letnan muda yang haus darah. Ia tahu persis di mana titik terlemahnya: tepat di bawah relief matahari kembar yang dipahat oleh para budak yang kemudian dibantai agar rahasia konstruksi itu terkubur selamanya.

"Arahkan Rahwana tepat ke poros pasak bawah!" perintah Bhadrika. Suaranya berat dan parau, bergema dari balik kisi-kisi baja pelindung wajahnya bagai geraman harimau purba. "Kunci rantai pengayun! Tarik hingga titik batas! Biarkan pualam Danadyaksa tahu bahwa kemegahan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan mampu menahan kepalan besi Rajanegara!"

"Namun Jenderal... perhatikan parit kering di depan pintu gerbang," Ranu menunjuk dengan mata membelalak cemas. "Ribuan rakyat jelata berdesakan di sana! Mereka terjepit di antara moncong harimau perunggu kita dan daun pintu pualam! Mereka menjerit memohon ampun, mengacungkan anak-anak mereka ke udara!"

Zufran Al Qutuz memandang lautan manusia berbaju compang-camping itu. Suara tangis bayi, jeritan wanita yang terinjak-injak, dan ratapan para lelaki tua yang menengadahkan tangan ke arah langit. Sebersit denyut kemanusiaan menyengat hatinya—sebuah ingatan samar tentang putrinya sendiri yang tewas dalam wabah kelaparan puluhan tahun lalu. Namun dengan cepat, sang jenderal mengeraskan rahangnya. Di atas medan laga, keraguan adalah pintu gerbang menuju kuburan massal.

"Mereka memilih bernaung di bawah naungan Walid," ucap Bhadrika dingin tanpa berkedip. "Maka mereka harus membayar harga dari pilihan itu. Ayunkan Rahwana!"

DUMMMMMM!

Hantaman pertama palu harimau perunggu menghantam Gerbang Mahameru dengan kekuatan gempa bumi lokal. Gelombang kejut yang dahsyat merontokkan plester pualam berukir bidadari, menyebarkan serpihan batu tajam yang menyayat siapa saja di sekitarnya. Jeritan ribuan pengungsi meledak menjadi histeria massal saat pintu gerbang setebal empat jengkal itu berderak mengerikan, menekan engsel-engsel perunggu kuno hingga memuntahkan baut-baut penahan.

Dari atas balkon benteng, histeria Pangeran Walid pecah menjadi kegilaan yang tak terkendali. "TUMPAHKAN SEKARANG! HUJANI MEREKA DENGAN API NERAKA!"

Tiga puluh kuali tembaga berukuran raksasa dimiringkan serentak oleh para pengawal Danadyaksa. Cairan hitam pekat yang bergolak dengan gelembung sulfur tumpah menyembur dari ketinggian tiga puluh depa. Uap menyengat dari minyak terpentin hitam langsung meracuni udara, mencekik paru-paru ribuan manusia di bawahnya. Sedetik kemudian, ratusan anak panah berpucuk kain terbakar melesat menghujam curahan cairan tersebut.

BLAAAARRRRRR!

Lembah di depan Gerbang Mahameru meledak menjadi neraka jahanam. Api hitam yang berkobar buas melahap apa saja tanpa pandang bulu. Minyak terpentin yang mendidih merembes ke celah-celah zirah serdadu Rajanegara, memanggang daging mereka hidup-hidup di dalam sangkar besi. Namun nasib yang jauh lebih memilukan menimpa ribuan pengungsi tanpa perlindungan: tubuh mereka diselimuti kobaran api yang tak bisa padam, berlarian ke sana kemari bagai obor bernyawa sebelum roboh ke atas tanah lumpur beku.

Bau daging hangus dan rambut terbakar menyengat hidung Bhadrika hingga ke balik pelindung wajahnya. Kudanya meringkik panik, memundurkan langkah dari tepi kubangan api. Untuk sesaat, sang jenderal menatap pembantaian itu dengan napas tertahan di tenggorokan. Istana Nurul Iman yang konon berarti Cahaya Iman kini menyala terang benderang—bukan oleh cahaya surgawi, melainkan oleh kobaran api kebiadaban para penguasa yang rela membakar rakyatnya sendiri demi sepetak singgasana.

Lihat selengkapnya