Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Abu di Antara Reruntuhan

Pasca bentrokan gerbang, ibu kota Antah Berantah terbelah menjadi tiga zona: istana tinggi yang dikuasai Danadyaksa, benteng utara yang diduduki Rajanegara, dan kota bawah yang sepenuhnya dikontrol oleh Serikat Bara Jelata bersama Farihah dan Ghalib. Di tempat ini, Farihah mendirikan dapur umum dan rumah sakit darurat, membagikan gandum sitaan kepada ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


Bagian I: Kabut Jelaga dan Denyut Perut Bumi

Ketika harapan terperangkap di antara stalaktit basah dan jelaga arang. Lokasi: Sektor Barat Terowongan Tambang Kedalaman Ketujuh

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap di sepanjang dinding batu cadas, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk perlahan di kedalaman Kota Bawah. Bau belerang basah, anyir karat dari rel lori tambang yang terbengkalai, serta aroma tepung gandum lapuk berpadu menjadi udara berat yang harus dihirup oleh puluhan ribu jiwa yang terbuang. Mereka adalah manusia-manusia tanpa nama—kaum paria yang dipaksa menelan kenyataan bahwa dunia di atas kepala mereka telah retak tanpa kemungkinan untuk direkatkan kembali.

Ibu kota Antah Berantah kini tak ubahnya bangkai binatang purba yang dikoyak tiga kawanan pemangsa. Di puncak bukit tertinggi, menjulang kubah-kubah pualam putih Istana Nurul Iman—sebuah monumen kesombongan bertingkat tujuh yang memantulkan sinar matahari senja bagai taring emas berlumur racun. Istana itu dikuasai sepenuhnya oleh faksi Danadyaksa, para bangsawan darah murni yang mengurung diri di balik dinding bertatahkan permata sementara gudang-gudang mereka mulai mengeriput. Di belahan utara, benteng berbatu hitam dikangkangi oleh legiun tempur Rajanegara, klan panglima perang yang bersumpah menumpahkan darah siapa pun yang melintasi parit api mereka. Dan di sini, jauh di dalam lambung bumi yang gulita, membentang Kota Bawah dan jejaring terowongan tambang yang kini menjadi jantung baru kaum tertindas: kedaulatan rapuh milik Serikat Bara Jelata.

Farihah berdiri di ambang ceruk batu yang disulap menjadi serambi darurat. Jemarinya yang ramping namun kasar oleh sayatan belati dan lumpur tambang menyentuh permukaan dinding gua yang berkeringat dingin. Di kejauhan, denting palu besi yang menghantam rel beradu dengan gemericik air selokan hitam, menciptakan irama monoton yang ganjil—seperti detak jantung yang beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi. Dadanya berdenyut perih setiap kali ia memejamkan mata. Ingatan tentang kobaran api di Gerbang Tembaga tiga malam silam belum sepenuhnya padam dari benaknya; jeritan anak-anak yang diinjak kavaleri istana masih terngiang, berkelindan dengan derit engsel gerbang raksasa yang roboh menimpa tumpukan mayat.

"Berapa karung gandum yang berhasil diamankan dari depot transit Danadyaksa di sektor timur?" tanya Farihah tanpa menoleh. Suaranya rendah, serak oleh kelelahan yang menimbun selama empat puluh delapan jam tanpa tidur.

Di belakangnya, bayangan sosok jangkung berpostur tegap melangkah keluar dari keremangan obor minyak jarak. Ghalib melipat kedua tangannya di depan dada zirah kulit yang penuh bekas goresan kapak perang. Bekas luka memanjang dari pelipis kiri hingga rahang bawahnya berkedut samar ketika cahaya temaram menjilat wajahnya yang kaku. Tatapannya sedingin mata pisau yang baru diasah.

"Tiga ratus karung gandum kasar dan lima puluh tong minyak zaitun hitam," jawab Ghalib datar, namun ada getar geram yang tertahan di balik kerongkongannya. "Cukup untuk memberi bubur cair bagi empat ribu pengungsi selama lima hari ke depan. Tidak lebih. Jika Danadyaksa menuntaskan pemblokiran saluran air limbah atas, kita tidak akan mati karena lapar, Farihah. Kita akan mati kehausan seperti tikus tanah yang dibakar belerang di liangnya sendiri."

Farihah membalikkan tubuh perlahan. Kain selendang lusuh berwarna abu arang yang melingkar di kepalanya tersibak sedikit, menampakkan sepasang mata cokelat kelam yang menyimpan kilau zamrud aneh—tanda tak terhapuskan dari garis darah yang selama belasan tahun ia sembunyikan dari para algojo istana. Saat manik mata mereka bertemu, sebuah keheningan yang menyesakkan menggantung di antara mereka. Dingin yang berhembus dari lorong ventilasi terasa kian menusuk tulang, membawa partikel debu kapur yang melayang lambat bagai salju kelabu di atas reruntuhan asa.

"Air tawar tidak akan menjadi alasan kita berlutut kembali kepada mereka, Ghalib," bisik Farihah dengan nada yang sarat kepedihan purba. "Tanah ini belum mati. Batu-batu di kedalaman ketujuh ini masih mendengar rintihan mereka yang tertindas, bahkan ketika langit Antah Berantah telah lama memalingkan wajahnya dari kita."

Ghalib mendengus sinis, meski urat-urat di lehernya menegang. "Batu tidak bisa memberi minum bayi-bayi yang demam, gadis keras kepala. Dan sihir tanahmu itu... setiap kali kau memanggilnya, bau kubur tercium semakin pekat di sekujur tubuhmu. Apakah kau berniat membunuh dirimu sendiri sebelum prajurit Rajanegara sempat menancapkan tombak ke jantungmu?"

°˖✧༺♕༻✧˖°

Bagian II: Darah Tanpa Wangsa di Balik Teralis Lembap

Di bangsal darurat, erangan rasa sakit menghapus batas antara kawan dan musuh. Lokasi: Bangsal Rumah Sakit Bawah Tanah Sektor Barak Tiga

༻❖༺

Langkah kaki mereka membawa keduanya menyusuri lorong landai menuju bekas gudang mesiu yang kini disulap menjadi rumah sakit darurat. Pemandangan di dalamnya adalah gambaran neraka yang terlempar ke bawah tanah. Beratus-ratus kasur jerami basah terbentang rapat, dipenuhi oleh raga-raga yang terkoyak: buruh tambang dengan tulang iga remuk akibat reruntuhan batu, wanita-wanita tua yang batuk berdarah karena menghirup gas beracun gerbang, serta puluhan prajurit berpakaian zirah compang-camping.

Namun yang paling menyulut api kemarahan di mata para penjaga Serikat Bara Jelata bukanlah luka-luka itu, melainkan lambang-lambang yang masih melekat pada sisa-sisa kain perban. Di sudut barat, terbaring belasan serdadu berseragam merah delima berlambang rajawali emas—pasukan kavaleri Danadyaksa. Hanya berjarak beberapa jengkal dari mereka, terkapar para infanteri Rajanegara yang masih mengenakan pelindung dada besi hitam bergambar serigala bertanduk.

Dua kubu yang di atas permukaan tanah saling membantai demi memperebutkan takhta Nurul Iman, kini berbaring berdampingan di atas jerami busuk, merintih dalam bahasa penderitaan yang persis sama. Dan di tengah-tengah mereka, bergeraklah Farihah dengan sebuah mangkuk gerabah berisi getah obat dan perban linen cuci.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh lukaku dengan tangan kotormu, anak haram pelacur bawah tanah!" sergah seorang perwira muda Danadyaksa. Wajahnya yang rupawan kini pucat pasi bagai kapur, terlumuri darah kering dan nanah dari luka tusuk menganga di pangkal pahanya. Meskipun nyawanya tinggal seutas benang, tatapan matanya masih menyala dengan keangkuhan darah biru yang diwariskan dari aula-aula marmer istana.

Farihah tidak mundur setapak pun. Ia berlutut di atas lantai tanah yang dingin, meletakkan mangkuknya, lalu menatap langsung ke dalam pupil mata pemuda itu. Tidak ada amarah di wajah gadis itu; yang tersisa hanyalah jurang kesedihan yang teramat dalam dan hampa. "Bicaralah sesukamu, Tuan Muda dari Wangsa Danadyaksa. Caci maki aku dengan seluruh perbendaharaan kata mulia yang kau pelajari di istana megahmu. Namun racun gangren pada lukamu tidak peduli pada seberapa murni darah leluhurmu. Dalam tiga jam lagi, jika urat pahamu tidak dibersihkan dengan getah akar randu, darahmu akan menghitam dan membusuk dari dalam, persis seperti janji-janji kaisarmu."

Dengan gerakan mantap dan tanpa ragu, Farihah menekan titik simpul nadi di paha pemuda itu. Si perwira menjerit melengking, tubuhnya melengkung kejang menahan sengatan rasa sakit yang luar biasa. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya saat Farihah menuangkan ramuan herbal dan mulai menjahit sobekan daging menggunakan jarum tulang bertulang benang rami.

Ghalib mengawasi adegan itu dari balik bayang tiang penopang tambang, kedua tangannya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Rahangnya mengeras. Kenangan pahit membakar benaknya: sepuluh tahun lalu, batalion Danadyaksa yang mengenakan lambang rajawali persis seperti pemuda itu telah membakar lumbung desanya, membantai ibunya, dan menggantung adik bungsunya di tiang gantungan Gerbang Selatan hanya karena ayahnya terlambat menyetor upeti garam. Dan kini, wanita yang ia cintai dalam diam—wanita yang menjadi mercusuar bagi seluruh perlawanan jelata—sedang berlutut membasuh darah para pembantai itu dengan kelembutan seorang ibu.

"Mengapa kau lakukan ini, Farihah?" desis Ghalib ketika Farihah akhirnya berdiri dan menyeka peluh bercampur darah di dahinya. Nada suaranya bergetar antara amarah yang tertahan dan kerapuhan yang jarang ia tampakkan. "Mereka tidak memandang kita sebagai manusia. Bagi mereka di atas sana, di balik benteng Nurul Iman, kita hanyalah serangga tambang yang pantas diinjak sampai mati. Mengapa kau membuang-buang obat langka dan tenagamu untuk menyelamatkan anjing-anjing pembunuh ini?"

Farihah menatap tangannya yang berlumuran darah kental. Matanya bergetar sejenak, menembus lapisan kepedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat. "Karena jika kita membiarkan mereka membusuk di sudut-sudut gua ini hanya karena lambang di baju mereka, lalu apa bedanya kita dengan monster-monster yang bertakhta di Istana Nurul Iman?" bisik Farihah dengan nada yang menusuk sukma. "Ghalib, darah yang mengalir dari robekan daging manusia warnanya selalu sama: merah pekat, hangat, dan fana. Bau anyirnya sama. Jeritan rasa sakitnya sama. Jika Serikat Bara Jelata didirikan hanya untuk membalas dendam dengan kekejaman yang setara, maka perjuangan ini sudah kalah bahkan sebelum kita menyentuh tangga gerbang istana."

Ghalib membuang muka, menatap ke arah kegelapan lorong tambang yang tak berujung. Napasnya terengah berat. "Dunia tidak seindah dongeng tentang pengampunan yang kau bisikkan di telinga orang sekarat, Farihah. Besok atau lusa, ketika perwira ini sembuh, ia tidak akan ragu memenggal kepalamu demi mendapatkan satu keping koin emas tambahan dari majikannya di puncak menara."

°˖✧༺♕༻✧˖°

Lihat selengkapnya