Untuk memahami mengapa sihir kuno bangkit dengan dendam yang begitu membara, Ghalib menyelinap ke Menara Astronomi Kuno yang ditinggalkan. Di sana, ia menemukan *Buku Hitam Dinasti*—arsip yang disembunyikan oleh kakek Pangeran Walid. Arsip tersebut mencatat bahwa seratus tahun lalu, para pendiri Danadyaksa dan Rajanegara melakukan ritual pengorbanan darah budak tambang untuk menyegel kekuatan Isyraqiyah dan roh dendam para budak itulah yang kini menginfeksi sihir bayangan.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
### Bagian I: Langkah di Atas Kuburan Marmer
Penyusupan ke Menara Astronomi Kuno di balik Kemegahan Palsu Istana Nurul Iman
༻❖༺
Malam di Istana Nurul Iman tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menahan napas dalam ketakutan yang terselubung. Di bawah kubah-kubah marmer putih pualam yang melengkung angkuh membelah langit malam, kemegahan berdiri tegak laksana berhala kesucian. Pilar-pilar gading yang dilapisi lempengan emas murni memantulkan temaram lentera minyak kenanga, menebarkan wangi manis yang memuakkan—sebuah aroma yang sengaja disemprotkan siang dan malam demi menutupi bau busuk tak kasat mata yang merembes dari bawah fondasi.
Istana itu dinamakan Nurul Iman, Cahaya Keimanan, sebuah ironi paling menjijikkan yang pernah diukir oleh lidah para tiran.
Ghalib merapatkan punggungnya ke ceruk dinding berelief teratai batu. Kain mantel hitamnya yang basah oleh embun malam melekat dingin di balik zirah ringannya. Di udara terbuka, angin lembap bertiup kencang dari arah pegunungan kapur, membawa lolongan lirih yang meliuk di antara celah menara-menara pengawas. Setiap detik terasa bagai bilah pisau tumpul yang mengikis kewarasannya. Detak jantung yang beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi di dalam rongga dadanya.
Ghalib memejamkan mata sejenak, mengatur ritme tarikan napasnya. Tiga belas detik sekali, sepasang prajurit garda bertombak perak melintasi pelataran marmer di bawah sana. Langkah sepatu besi mereka berdentang teratur, kering dan mekanis, tanpa jiwa. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk.
Namun malam ini, ada keganjilan yang merayap di wajah para penjaga. Ketika dua prajurit itu berpapasan di bawah patung singa bersayap lambang wangsa Danadyaksa, tak ada tegur sapa biasa. Ghalib melihat melalui celah bayang-bayang dedaunan cemara: wajah kedua prajurit itu pasi seperti mayat yang baru digali dari liang tanah. Mata mereka merah menyala di tepi kelopaknya, cekung dan basah oleh keringat dingin.
"Kau mendengarnya lagi tadi sore, Raden?" bisik salah seorang prajurit, suaranya parau dan bergetar hebat hingga ujung tombaknya beradu gemeretak dengan baju besi dadanya.
"Diamlah, demi Dewa Langit," desis rekannya seraya menoleh liar ke arah koridor gelap. Tangannya yang terkepal gemetar di gagang senjata. "Jangan sebut suara itu di luar barak. Tiga perwira tinggi sudah dikurung di ruang isolasi karena menjerit-jerit histeris tentang suara denting beliung tambang. Para tetua istana... mereka bersumpah mimpi buruk itu akan membakar kita semua jika kabar ini bocor ke rakyat jelata."
"Tapi tanah ini merintih, Wirya! Setiap kali aku menutup mata di pos jaga, aku mencium debu belerang dan melihat anak-anak berlumur lumpur memanggil namaku dari balik lantai marmer..."
"Kukatakan diam! Lanjutkan patroli sebelum mata-mata wazir memenggal leher kita berdua!"
Kedua prajurit itu bergegas menjauh, langkah mereka kini terseret-seret oleh beban teror batin yang tak terkatakan. Ghalib menghela napas perlahan. Desas-desus itu ternyata bukan sekadar igauan orang gila di pasar kota bawah. Paranoia telah merangsek naik menembus tembok-tembok benteng lapis tujuh, mencengkeram para petinggi wangsa Danadyaksa dan Rajanegara dalam jeratan mimpi buruk massal yang sama: jeritan ratapan para budak tambang yang menuntut balas.
Pandangan Ghalib beralih ke struktur raksasa yang menjulang terisolasi di sudut barat laut kompleks istana. Menara Astronomi Kuno.
Menara itu dibangun dari batu basal hitam kelabu yang kasar, kontras tajam dengan kemewahan marmer putih Nurul Iman yang mengelilinginya bagai penjara kemurnian palsu. Bangunan itu telah disegel resmi hampir enam puluh tahun silam oleh titah kakek Pangeran Walid, Sri Maharaja Danadyaksa IV, dengan dalih bahwa instrumen bintang di dalamnya telah dikutuk oleh perbintangan jahat. Tak seorang pun diizinkan mendekat, bahkan burung gagak pun seolah enggan bertengger di atas kubah tembaganya yang telah menghitam berkarat.
Namun Ghalib tahu kebenarannya. Menara itu bukan tempat mengamati rasi bintang, melainkan sebuah peti mati arsitektural—sebuah brankas rahasia tempat para penguasa masa lalu menyembunyikan dosa paling terkutuk dari peradaban ini.
Dengan keheningan seekor macan kumbang, Ghalib meluncur menyeberangi lis genting berlumut. Kakinya mendarat nyaris tanpa suara di atas balkon sempit lantai tiga menara tua itu. Kayu pintu jati yang melapuk di hadapannya dirantai dengan tiga lilitan rantai besi meteorit, lengkap dengan segel malam kerajaan yang telah retak-retak oleh usia.
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran.
Ghalib menarik belati perak bersimpul kulit dari pinggangnya. Bukan untuk memotong rantai tebal itu, melainkan menggores sedikit bantalan ibu jari kirinya. Setetes darah kental berwarna merah marun merembes keluar. Begitu tetesan darah itu menyentuh lempengan segel kuno, ukiran lambang rajawali di atasnya mendesis pelan. Rantai-rantai itu menggeliat layaknya ular tidur yang tiba-tiba melonggar, lalu terlepas dengan bunyi desau tembaga yang tertelan oleh desau angin malam.
Darah ksatria sumpah. Darah para pengawal purba yang dahulunya diikat oleh janji suci sebelum janji itu dirobek-robek oleh ketamakan para pendiri takhta.
Ghalib mendorong daun pintu yang berat. Pintu itu berderit lirih, membuka kegelapan pekat yang membeku di dalamnya. Bau kertas tua yang membusuk, minyak raksa yang menguap, dan aroma tanah kuburan basah langsung menerpa indra penciumannya. Ghalib melangkah masuk ke dalam perut menara, membiarkan kegelapan menelan tubuhnya bulat-bulat.
°˖✧༺♕༻✧˖°
### Bagian II: Debu dan Pengkhianatan Seratus Tahun
Menemukan Kubah Rahasia dan Arsip Terlarang Kakek Pangeran Walid
༻❖༺
Di dalam menara, udara begitu dingin hingga setiap tarikan napas menggores tenggorokan Ghalib bagai pecahan kaca. Kegelapan di sini memiliki bobot fisik tersendiri; ia tidak sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah substansi pekat yang menekan dada dan menyumbat pendengaran. Sunyi merajai setiap sudut, namun itu bukan sunyi yang menenangkan. Itu adalah sunyi di mana detak jantung beradu dengan kehampaan, seolah menghitung mundur sisa waktu sebelum bencana besar menumpahkan lahar dendamnya.
Ghalib mengeluarkan sebongkah batu pendar lumut dari kantong kulit di pinggangnya. Cahaya kehijauan yang pucat menyembur lembut, membelah selimut debu setebal telapak tangan yang menutupi lantai batu.
Di tengah aula bundar, berdiri sebuah armillary sphere raksasa dari kuningan tempaan kuno. Cincin-cincin orbitnya yang rumit telah macet, diselimuti jaring laba-laba tebal yang menyerupai kain kafan. Lensa-lensa teleskop raksasa yang mengarah ke celah kubah telah pecah berkeping-keping, merefleksikan bayangan wajah Ghalib yang terfragmentasi—pucat, tegang, dengan rahang yang mengeras kaku.
Pikirannya melayang kembali ke kota bawah, ke sebuah ruang bawah tanah lembap di celah gang pengrajin besi tiga malam yang lalu. Wajah Farihah terbayang jelas di pelupuk matanya.
Malam itu, Farihah duduk bersandar di dinding bata merah yang berlumut, kedua tangannya yang kurus gemetar tak terkendali. Ujung-ujung jemarinya menghitam, bukan karena arang tungku, melainkan karena jelaga sihir bayangan yang gagal ia kendalikan. Ketika gadis itu menatap Ghalib, sepasang mata kelabunya yang biasanya tenang memancarkan kengerian yang membuat bulu kuduk ksatria itu meremang.
"Ghalib... bisikan itu tidak lagi berhenti ketika fajar menyingsing," bisik Farihah malam itu, suaranya parau dan terputus-putus oleh senggukan yang ia tahan sekuat tenaga. "Mereka menuntut darah. Mereka tidak peduli bahwa aku bukan keturunan bangsawan Danadyaksa. Mereka hanya tahu bahwa jiwaku terhubung dengan sihir Isyraqiyya... dan setiap kali aku memanggil bayangan untuk melindungi anak-anak di kota bawah, ratusan suara berteriak di kepalaku: 'Bakarlah istana itu! Telan anak cucu mereka hidup-hidup!'"
Ghalib mengingat bagaimana ia meraih jemari Farihah yang dingin membeku, merasakan denyut nadi gadis itu melompat liar tak beraturan. "Aku akan menemukan penawarnya, Farihah. Demi sumpah darahku, aku tidak akan membiarkan bayangan itu menelan siapa dirimu sebenarnya."
Farihah hanya tersenyum getir, sebuah senyuman putus asa yang menusuk ulu hati Ghalib lebih dalam daripada sebilah pedang beracun. "Bagaimana kau bisa mengobati racun yang ramuannya sendiri tidak kau ketahui, Ksatria? Sejarah yang diajarkan kepadamu di barak prajurit adalah dongeng pengantar tidur yang ditulis dengan tinta kepalsuan. Carilah Buku Hitam itu jika kau berani... tapi bersiaplah untuk melihat dewamu runtuh menjadi monster."
Kata-kata itu kini terngiang nyaring di telinga Ghalib, memecah kesunyian menara astronomi.
Ghalib melangkah melewati susunan rak buku raksasa yang melingkari dinding batu. Ribuan gulungan perkamen telah membusuk dimakan rayap dan kelembapan, hancur menjadi serbuk cokelat saat tersenggol hembusan mantelnya. Peta-peta konstelasi bintang karya cendekiawan zaman dahulu robek bergantungan bagai bendera kekalahan.
Namun tujuannya bukan di aula utama ini.
Ghalib menatap ke langit-langit kubah. Di puncak tertinggi menara, tergantung sebuah platform observasi tersembunyi yang hanya dapat diakses melalui tangga spiral sempit yang menempel di dinding basal luar. Tangga batu itu tidak memiliki pegangan pengaman, meliuk tipis di atas jurang gelap setinggi delapan puluh depa.
Setiap langkah yang diambil Ghalib di atas anak tangga batu yang rapuh itu menimbulkan dengung getaran halus. Di bawah kakinya, kegelapan menganga seperti mulut monster purba yang lapar. Angin dingin menyusup dari celah ventilasi batu, membuat jubahnya berkibar liar dan meniupkan butiran es halus ke wajahnya. Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran.