Terdesak oleh kemajuan kaum pemberontak, Pangeran Walid mengambil langkah paling biadab: mengirim agen alkemis untuk menuangkan racun 'Bile of Basilisk' ke hulu bendungan air bersih kota. Jika air itu mengalir ke bawah, seluruh penduduk kota akan tewas dalam hitungan jam. Ghalib memimpin regu komando kavaleri ringan menerobos badai salju ke hulu gunung untuk mencegah bencana genosida.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
### 01. Bayang-Bayang Nurul Iman dan Tebing Air Mata
Mendaki lereng es di bawah bayang-bayang kebusukan takhta
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di tebing karang Pegunungan Hulu yang membubung congkak laksana tulang rusuk raksasa purba, angin melolong tanpa belas kasihan. Setiap helaan udara terasa seperti serpihan kaca yang menyayat kerongkongan, menusuk jauh hingga ke rongga dada yang gemetar. Butiran salju beku beterbangan miring, dihantam badai yang turun dari puncak gletser, menampar pelindung muka dari baja tempa yang dikenakan regu kavaleri ringan Garda Sumpah. Di bawah sana, ribuan hasta ke arah lembah yang terlelap di balik kabut malam, terbentang Kota Mahasumber—kota yang sama sekali tidak menyadari bahwa sebelum fajar merekah, maut paling durjana telah disiapkan untuk mengalir ke dalam kendi-kendi tembikar di setiap dapur rakyat jelata.
Ghalib menarik kekang kuda gunungnya yang berbulu tebal dan berleher kokoh. Binatang perkasa itu mendengus gusar, uap putih mengepul pekat dari kedua lubang hidungnya, sementara tapak-tapak besinya mencengkeram celah batu gamping yang licin berlapis es bening. Dari ketinggian tebing terjal ini, jika seseorang menoleh ke arah timur melintasi hamparan hutan cemara hitam, ia dapat melihat puncak-puncak menara Istana Nurul Iman. Nama yang begitu suci—Cahaya Iman—namun bertahun-tahun telah menjadi sarang belatung pengkhianatan dan kemewahan yang dibangun di atas ratap tangis kaum tertindas.
Istana itu tampak seperti monster batu kelabu yang meringkuk angkuh di atas bukit karang kapur. Di balik dinding pualamnya yang megah dan kubah-kubah bersalut emas yang kini dingin berselimut salju, kegilaan sedang berpesta dalam kesunyian yang mencekam. Ghalib mengenal setiap jengkal lorong berliku di istana itu; ia pernah bersumpah setia di aula singgasana berpilar zamrud, bersujud di hadapan takhta emas yang kini diduduki oleh Pangeran Walid. Namun kemegahan Nurul Iman hanyalah selubung tipis untuk menutupi bau anyir darah para penentang yang lenyap tanpa jejak di ruang bawah tanah. Bau dupa gaharu dan minyak mawar mahal di aula istana tak pernah sanggup menutupi aroma kebusukan moral yang merembes dari sela-sela ubin marmernya.
Di benak Ghalib, bayangan pertemuan rahasianya dengan Walid tiga tahun silam kembali terlintas bagai hantu yang tak sudi mati. Di paviliun kaca yang temaram oleh temaram lilin malam itu, Walid duduk dengan jubah sutra kirmizi, jemarinya yang lentik memilin cawan arak emas. 'Kekuasaan, Kapten,' bisik sang pangeran kala itu dengan senyum dingin yang tak pernah menyentuh matanya, 'bukan dipertahankan dengan cinta rakyat, melainkan dengan kepastian bahwa mereka lebih takut pada bayang-bayang kematian daripada pada rasa lapar.' Kini, saat panji-panji kaum pemberontak telah mengepung gerbang lingkar luar kota dan pasokan gandum istana menipis, tiran muda itu telah membuktikan ucapannya hingga ke batas paling biadab.
"Kapten... apakah kita terlambat?" Suara itu bergetar, terputus-putus di sela gemeretak gigi yang beradu. Taufiq, prajurit termuda dalam komando mereka yang baru genap delapan belas musim dingin, merapatkan mantel kulit serigalanya ke dada. Tangannya yang berbalut sarung kulit tebal menggenggam tali kekang dengan buku-buku jari yang memutih kaku.
Ghalib menoleh. Mata sang kapten, yang kelabu dan tajam laksana mata elang pengintai, memindai wajah pemuda itu. Di bawah tudung bulu yang bertabur salju, wajah Taufiq pucat pasi bukan sekadar oleh terpaan hawa beku yang membunuh, melainkan oleh kengerian batin yang melumpuhkan akal waras. Pemuda itu memiliki seorang ibu renta dan dua adik perempuan yang tinggal di pemukiman hilir dekat kanal Mahasumber. Jika bendungan itu tercemar, dalam hitungan tiga tarikan jam setelah air dialirkan pada fajar subuh, seluruh keluarganya akan tewas berkelojotan dengan darah hitam menyembur dari hidung dan mata.
"Simpan rasa takutmu, Taufiq," bisik Ghalib datar, namun suaranya memiliki ketegasan yang membelah lolongan badai salju. "Ketakutan hanya mempercepat detak jantungmu, memompa darahmu lebih deras, dan membuat dingin menusuk lebih dalam ke sumsum tulang. Kuda-kuda kita masih bernapas, dan kaki-kaki mereka belum tergelincir dari igir karang ini. Kita belum terlambat—kecuali jika kau menyerah di tebing ini dan membiarkan ketakutanmu menang."
"Aku tidak berniat menyerah, Kapten," sahut Taufiq serak, menelan ludah yang terasa kering dan pahit bagai abu arang. "Hanya saja... memikirkan Pangeran Walid tega melakukan kekejian ini... bukankah dia selalu menyebut dirinya sebagai 'Bapa Pengasih Seluruh Jiwa'? Bagaimana seorang manusia bisa meracuni mata air yang diminum oleh bayi-bayi dan orang tua yang tak berdosa?"
Ghalib terdiam sesaat. Tatapannya kembali terlempar ke arah siluet Istana Nurul Iman yang remang dan bisu di kejauhan. Bibirnya melengkung dalam senyum getir yang kepahitannya melebihi getah tuba rimba. Detak demi detik terasa seperti belati yang mengiris kesunyian, menuntut bayaran atas dosa masa lalu. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk.
"Bagi orang-orang seperti Walid, takhta bukanlah amanah ketuhanan, Taufiq," ujar Ghalib dengan kepahitan yang purba. "Bagi keluarga bangsawan Danadyaksa, kekuasaan adalah candu terkutuk yang mengalir deras dalam sumsum darah mereka. Mereka lebih rela melihat seluruh negeri ini menjadi kuburan massal yang sunyi daripada harus menyerahkan mahkota kepada mereka yang mereka anggap kawula jelata. Saat seorang tiran menyadari bahwa singgasananya akan runtuh, dia tidak akan mundur dengan kesatria. Dia akan membakar lumbung makanan, meruntuhkan jembatan, dan menenggelamkan dunianya ke dalam lautan racun agar tidak ada orang lain yang bisa mewarisi apa yang telah ia rampas."
Kuda-kuda mereka melompat melintasi patahan jurang sempit yang menganga di antara tebing es. Batu-batu kerikil berjatuhan ke jurang tanpa dasar, suaranya lenyap seketika ditelan deru badai yang kian menggila. Di depan mereka, dinding raksasa Bendungan Mahasumber mulai menampakkan sosoknya yang menggetarkan jiwa. Dibangun ratusan tahun silam dari balok-balok granit hitam sebesar gajah purba, bendungan itu menjulang seperti benteng titan yang menahan murka danau gletser di baliknya. Air yang tenang namun mematikan terkunci di balik pintu-pintu besi tempa raksasa, menunggu perintah tuas untuk dialirkan menghidupi jutaan ladang dan tenggorokan manusia di dataran rendah.
Namun di puncak bendungan, di atas jembatan penghubung yang lebarnya tak lebih dari lima bentangan tombak, kelap-kelip cahaya hijau berpendar di antara deru salju. Bau belerang yang busuk, berpadu dengan aroma anyir seperti bangkai ular yang membusuk di rawa-rawa asin, terbawa angin gunung menusuk indra penciuman mereka. Racun 'Bile of Basilisk'—Empedu Basilisk—telah tiba di bibir pusaran air suci, siap menjemput ribuan nyawa ke alam maut.
°˖✧༺♕༻✧˖°
### 02. Menara Air dan Bau Empedu Basilisk
Pertarungan di jembatan sempit melawan para alkemis berkarat
༻❖༺
Detak jantung yang beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi. Di atas jembatan batu yang menghubungkan kedua bibir tebing bendungan, keheningan purba gunung telah dirobek oleh derak roda gerobak besi dan desis cairan yang mendidih di udara terbuka. Es yang menempel pada susuran jembatan meleleh bukan karena kehangatan api unggun, melainkan karena uap asam pekat yang menggerogoti batu granit hitam hingga mengeluarkan desis kehijauan yang mengerikan. Setiap retakan batu mengeluarkan buih kapur yang berasap, seakan-akan fondasi bendungan itu sendiri merintih kesakitan menahan cairan laknat tersebut.
Empat sosok berjubah kelabu tebal berdiri mengelilingi sebuah tong tembaga berkaki tiga di dekat bibir pintu air utama. Mereka mengenakan topeng perunggu berbentuk paruh burung bangkai—ciri khas Alkemis Bayangan Danadyaksa, kelompok ilmuwan sesat yang selama puluhan tahun disembunyikan di laboratorium bawah tanah Istana Nurul Iman. Di bawah pimpinan Mahaguru Malyan, mereka telah mengekstraksi racun purba dari sarang ular basilisk di dasar gua belerang pegunungan selatan. Tetesan empedu itu begitu korosif dan mematikan; setetes kecil di danau luas mampu mematikan seribu ikan dalam sekejap, dan satu tong penuh yang ditumpahkan ke hulu Mahasumber akan menyulap air minum seluruh kota menjadi cairan kusta hitam yang melelehkan organ dalam manusia hanya dalam beberapa tarikan napas.
"Buka katup pengunci kedua! Cepat, sebelum badai mereda!" perintah sebuah suara berderit dari balik topeng berparuh perunggu. Mahaguru Malyan menunjuk ke arah roda pengerek pintu air dengan tongkat besi bercabang tiga. Matanya yang merah menyala dari balik kaca bundar topeng menatap ke bawah ke arah pusaran air gletser yang membiru kelam di balik jeruji besi. "Pangeran Walid telah bersabda dengan darah: jika wangsa Danadyaksa harus tumbang malam ini, maka biarlah kaum pemberontak hanya mewarisi kota mayat yang membusuk! Biarkan mereka meminum air kemenangan mereka bersama nanah dan kematian!"
Dua pengikutnya menyandarkan tuas pengungkit ke roda besi bergerigi. Rantai raksasa berderak, berkarat dan tertimbun kerak es, bergerak perlahan dengan suara geraman logam yang memilukan. Di atas gerobak, tong tembaga itu telah dimiringkan pada sudut kritis. Segel lilin hitam berlogo burung gagak istana telah dipecahkan dengan pahat baja, menampakkan cairan pekat kehijauan yang bergolak bagai nanah iblis, mengeluarkan uap asam yang menyalakan percikan api hijau samar di udara dingin.