Di dalam kabin kecil di tengah badai salju, Farihah berpacu dengan waktu menyelamatkan nyawa Ghalib. Racun alkemis telah menghitamkan urat darah pria itu. Tanpa tabib istana, Farihah menggunakan ritual terlarang Isyraqiyya yang paling berisiko: memasukkan sulur bayangan mikroskopis ke dalam aliran darah Ghalib untuk mengikat dan membakar racun menggunakan api arang dingin, menanggung sebagian rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
=== BABAK 01: DI AMBANG DINGIN YANG MEMBEKUKAN KEJUJURAN ===
Pintu Air Hilir Sungai Muram dan Menara Monolitik Nurul Iman
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di luar, badai salju menghantam dinding papan kabin kayu penjaga pintu air dengan keganasan serigala lapar, melolong melalui celah-celah renggang dan menaburkan serpihan kristal es ke atas lantai kayu cemara yang sudah lama membusuk.
Kabin itu terpencil di tubir jeram hilir Sungai Muram—sebuah tempat di mana air sungai yang biasanya bergemuruh deras kini tercekik oleh bongkahan es keabu-abuan. Bau lumut basah, getah damar basi, dan karat besi pintu air yang membeku mengendap pekat di udara, bercampur dengan uap dingin yang membuat setiap helaan napas terasa seperti sayatan belati tipis di tenggorokan. Namun bukan lolongan badai atau gemeretak kayu lapuk yang membuat bulu kuduk meremang.
Dari jendela kaca berdebu yang retak di sudut timur laut, siluet raksasa Istana Nurul Iman menjulang di kejauhan, membelah langit malam bagaikan belati obsidian raksasa yang berlumuran darah beku. Menara-menaranya mencakar angkasa, dibungkus marmer hitam pekat yang dipoles kilap dan kubah-kubah emas tua yang telah menghitam oleh jelaga pembakaran masa lalu.
Nurul Iman. Nama yang diikrarkan para pendeta istana sebagai 'Cahaya Keimanan', lambang kesucian tak bernoda bagi kerajaan antah-berantah ini. Namun bagi siapa pun yang pernah menghirup udara koridor bawah tanahnya, nama itu adalah sinonim dari kuburan massal yang disamarkan oleh kemewahan pualam dan permata delima palsu. Setiap pilar megahnya ditopang oleh tulang belulang kaum papa yang menolak tunduk. Di balik bayang yang merayap dari puncak menara kastel itu, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk.
Farihah menarik napas tersengal, merapatkan mantel wol kasarnya yang basah kuyup oleh salju mencair. Tangannya gemetar hebat, bukan semata karena embun es yang membekukan persendian jemarinya, melainkan karena pemandangan di atas dipan kayu reot di sudut ruangan. Di sana, terbujur sosok Ghalib—sang panglima perlawanan, pilar terakhir yang menahan keruntuhan moral kaum jelata di hadapan tiran mahkota.
Ghalib sedang sekarat. Pria yang biasanya berdiri tegak laksana dinding benteng itu kini tak berdaya, terbaring kaku di antara tumpukan kain goni berdebu. Baju zirah kulitnya telah disobek kasar, menyingkap dada bidang yang kini dilintasi sulur-sulur hitam legam. Itu bukan lebam akibat hantaman gada atau sayatan pedang biasa, melainkan racun Qathran al-Aswad—bisa terkutuk ciptaan para alkemis pribadi kaisar di laboratorium bawah tanah Nurul Iman.
Urat-urat darah di leher Ghalib menonjol kaku, menghitam bagai jaring laba-laba jelaga yang merayap naik menuju pelipis, tulang pipi, dan rahangnya yang kokoh. Napas pria itu tersengal berat, berderak di dalam rongga tenggorokan seperti kerikil yang beradu di dasar sungai kering. Setiap hembusan napasnya mengeluarkan bau anyir logam berkarat bercampur belerang busuk—tanda bahwa cairan hitam itu telah mulai mengkristalkan paru-parunya.
“Ghalib, dengar suaraku... demi langit, bertahanlah,” bisik Farihah dengan nada parau yang nyaris tertelan deru angin malam. Jarinya menyentuh kening sang panglima. Kulit pria itu luar biasa dingin bagai batu nisan di musim salju, tetapi di bawah lapisan epidermis yang membeku itu, darahnya mendidih membakar dirinya sendiri dari dalam.
Farihah tahu persis bahwa tabib kerajaan mana pun akan mengibarkan bendera putih atau memerintahkan leher pria ini digorok demi menghentikan penderitaannya yang sia-sia. Tidak ada ramuan herbal di muka bumi ini yang mampu mengurai ikatan racun alkemis istana. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah jalan yang telah dikutuk oleh Dewan Tetua dan fatwa para pendeta: ritual terlarang Isyraqiyya—penyembuhan terlarang yang menuntut pertukaran jiwa dan pembakaran darah melalui arang dingin.
°˖✧༺♕༻✧˖°
=== BABAK 02: API ARANG DINGIN DAN SUMPAH TERLARANG ISYRAQIYYA ===
Sulur Bayangan Mikro Menembus Jaringan Darah yang Menghitam
༻❖༺
Di atas meja kayu bundar yang dipenuhi toples ramuan pecah dan lumut kering, Farihah meletakkan sebuah mangkuk perunggu berkaki tiga bertorehkan huruf-huruf kuno yang telah kabur. Dari kantong beludru berjahit benang perak di balik ikat pinggangnya, ia mengeluarkan sebongkah arang Barzakh az-Zhill. Arang itu tidak memancarkan bara merah menyala layaknya kayu bakar perapian biasa, melainkan berpendar dengan cahaya biru keperakan yang aneh—api dingin yang menyerap kalor dan membekukan udara di sekitarnya.
Teror itu kini merayap, menelan sisa keberanian yang perlahan padam di dalam kegelapan pekat kabin. Ajaran Isyraqiyya bukanlah sihir penyembuhan suci kaum sufi, melainkan manipulasi esoteris atas benang-benang bayang jiwa yang tersembunyi di balik daging fana. Untuk mencabut racun yang telah berakar hingga ke sumsum tulang, seorang tabib tidak boleh menggunakan pisau bedah biasa. Ia harus mengirimkan sulur bayangannya sendiri ke dalam relung pembuluh darah sang korban, mengikat partikel racun itu satu per satu, lalu membakarnya dengan api arang dingin.
Namun harga yang harus dibayar tidak pernah murah. Doktrin kuno itu menuntut pertukaran mutlak: apa yang dibakar di dalam tubuh pasien akan memercikkan rasa sakit yang sama ke dalam raga sang penyembuh. Jika ikatan jiwa itu putus sebelum racun tuntas dilenyapkan, kedua jiwa akan terperosok ke dalam kegilaan abadi.
“Jika kau gagal, Farihah... jiwamu akan terseret ke dalam kehampaan, dan racun itu akan mengklaim kalian berdua,” gumamnya lirih, mengulang peringatan mendiang gurunya yang tewas digantung di tiang gantungan besi alun-alun Nurul Iman tujuh musim dingin silam.
Namun saat tatapannya jatuh kembali ke wajah Ghalib—pada bibir pria itu yang mulai pecah-pecah kebiruan, pada kelopak matanya yang berkedut menahan derita yang tak terkatakan—semua keraguan musnah terbakar oleh tekad liar yang tak terbendung. Farihah mengambil sebilah belati perak bermata tipis. Tanpa ragu, ia menorehkan ujung belati itu ke telapak tangan kirinya sendiri, lalu menorehkan sayatan serupa di pergelangan tangan kiri Ghalib yang terkulai lemas.
Darah merah segar miliknya menetes ke dalam mangkuk arang dingin, memicu desisan nyaring yang meliuk menjadi kepulan asap tipis berbau dupa gaharu dan embun beku. Farihah menempelkan telapak tangannya yang terluka rapat-rapat ke atas luka pergelangan tangan Ghalib. Daging bertemu daging; basah, lengket oleh darah yang hangat dan dingin sekaligus. Seketika itu juga, dunia di sekitar mereka seolah tersedot ke dalam ruang hampa udara.
“Bismillah al-Khafi... bangkitlah wahai bayang,” bisik Farihah dengan nada magis, menutup matanya rapat-rapat.
Dari sela-sela jari mereka yang bertaut erat, sulur-sulur hitam mikroskopis mulai bermunculan bagai kabut hidup. Sulur itu bukan benang sutra atau cairan fisik, melainkan proyeksi bayangan murni yang bergerak mematuhi kehendak batin Farihah. Dengan kendali napas yang teramat lambat dan penuh konsentrasi, Farihah menuntun sulur-sulur bayangan itu menyelusup masuk menembus sayatan kulit Ghalib, melintasi dinding pembuluh kapiler, dan berenang melawan arus darah sang panglima.
Rasa sakit pertama menghantam Farihah bagai hantaman palu godam tepat di ulu hati. Tubuhnya tersentak hebat, punggungnya melengkung kaku, dan erangan tertahan lolos dari sela giginya yang gemeletuk keras. Di dalam aliran darah Ghalib, sulur bayangannya bersentuhan langsung dengan partikel hitam racun Qathran al-Aswad.
Racun itu ternyata bukan sekadar zat mati; itu adalah senyawa alkemis istana yang dirancang untuk memangsa nyawa dengan kebuasan iblis. Begitu sulur Isyraqiyya menyentuhnya, racun itu membalas menyerang, merayap balik melalui jembatan darah dan merasuki tubuh Farihah sendiri. Urat di pergelangan tangan Farihah seketika membiru lebam, denyut nadinya berdentum liar melawan sunyi malam.
°˖✧༺♕༻✧˖°