Menyadari bahwa posisi mereka sama-sama terancam oleh kebangkitan Farihah dan kaum jelata, dua musuh bebuyutan—Pangeran Walid dan Jenderal Zafran Al Qutuz—menggelar pertemuan darurat rahasia. Dengan rasa benci yang tertahan, mereka sepakat membentuk 'Pakta Besi Emas': menggabungkan sisa emas Danadyaksa dengan legiun zirah Rajanegara untuk melancarkan serangan gabungan pemusnahan massal ke kota bawah sebelum Farihah dinobatkan.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
Bagian I: Kabut Beracun dan Bayangan Nurul Iman
༻❖༺
Malam itu, langit di atas kerajaan Antah Berantah menggantung rendah laksana kafan kelabu yang basah kuyup oleh kutukan. Dari bukit karang kapur yang mencakar angkasa, Istana Nurul Iman tegak berdiri dalam kemegahan yang ganjil dan mengerikan. Dinamai dengan kata-kata suci yang menjanjikan cahaya dan kedamaian abadi, istana raksasa itu pada kenyataannya hanyalah sangkar marmer yang membusuk dari dalam. Menara-menara runcingnya menusuk kabut malam seperti taring binatang purba yang lapar, sementara dinding-dinding pualamnya—yang konon disemen menggunakan abu tulang para budak zaman leluhur—tampak berkeringat dingin di bawah terpaan angin lembab.
Di dalam lorong-lorong terdalam Istana Nurul Iman, gemerlap lampu gantung kristal dan permadani sutra tebal tak lagi sanggup mengusir aroma anyir keputusasaan. Rumor kebangkitan rakyat jelata yang dipimpin oleh Farihah telah merayap menembus celah ventilasi emas, mengendap di balik tirai beludru kamar peraduan, dan membisikkan vonis mati bagi mereka yang terbiasa meminum darah dari cawan permata. Ketakutan telah melucuti wibawa para ningrat. Kejayaan wangsa Danadyaksa yang telah bertahan tujuh generasi kini berderak di ujung tanduk, rapuh bagai ranting kering yang menunggu injakan kaki jelata yang bersenjatakan cangkul dan obor.
Pangeran Walid melangkah menuruni undakan batu terjal yang menghubungkan parit rahasia istana dengan lembah terlarang. Jubah beludru tengah malamnya yang disulam benang emas murni Danadyaksa menyapu lumut basah, menyerap kelembapan busuk tanah pemakaman purba. Setiap embusan napasnya terlepas sebagai kepulan uap putih yang pekat, seolah paru-parunya menolak udara beracun yang mengendap di jurang antara istana megah dan kota bawah yang bergolak.
Jantung Walid berdegup dengan irama ganjil—cepat, dangkal, dan menyakitkan. Di balik dada bidangnya yang terbungkus korset sutra, ada kecemasan purba yang tak pernah dia akui bahkan kepada cermin riasnya sendiri: rasa gentar seorang pemangsa yang tiba-tiba mendapati dirinya terkepung oleh ribuan mangsa yang telah berubah menjadi serigala lapar. Farihah—gadis buruh penenun yang tiga purnama lalu tak berharga lebih dari sekadar sebutir debu di pelataran istana—kini berdiri di ambang penobatan sebagai pemimpin dewan rakyat. Bayangan gadis itu mengenakan mahkota compang-camping di atas puing singgasana Nurul Iman membuat empedu Walid terasa naik ke tenggorokan.
"Sialan kaum jelata itu..." desis Walid tertahan. Suaranya pecah, ditelan lolongan angin yang menelusup di sela-sela dinding tebing. "Mereka berani menatap mata kami tanpa bersujud. Mereka berani menuntut gandum yang ditanam di tanah kami. Jika Nurul Iman harus runtuh, aku bersumpah reruntuhannya akan mengubur mereka semua hidup-hidup."
Langkah kakinya membawanya semakin jauh dari peradaban yang dikenalnya, memasuki wilayah abu-abu yang dihindari oleh para pendeta dan penyamun sekalipun: Pedepokan Kuno Tengah yang Netral. Dibangun ribuan tahun silam sebelum dinasti Danadyaksa menancapkan panji perdananya, kuil runtuh ini berdiri di perbatasan tak bertuan antara dataran tinggi istana dan jaringan terowongan kota bawah. Pilar-pilar granit hitamnya telah terbelah oleh akar pohon beringin liar yang menghitam, menyerupai rangka dada monster raksasa yang mati telentang menghadap langit kosong.
Dingin di pedepokan itu terasa berbeda. Bukan sekadar penurunan suhu yang wajar, melainkan dingin yang menyergap ruang dengan kebuasan gaib, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di lantai batu yang licin oleh lendir lumut dan tetesan air asam, aroma belerang purba mulai menusuk hidung. Di sanalah dua kutub kekuasaan yang saling membenci terpaksa bertemu, bukan atas nama kehormatan, melainkan atas nama keputusasaan yang sama-sama busuk.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian II: Derak Zirah dan Mata Sang Pemangsa
༻❖༺
Suara dentang baja beradu dengan batu membakar keheningan kuil. Dari arah ceruk barat yang gelap gulita, langkah kaki berat berderap ritmis. Derak pelat baja hitam berukir duri dan desis gesekan rantai zirah mengumumkan kedatangan Jenderal Bhadrika. Panglima perang Legiun Rajanegara itu muncul dari balik selubung kabut tebal laksana iblis perang yang dipanggil dari neraka paling beku. Mantel bulu serigala kelabu melingkari bahunya yang kekar, sementara helm besinya telah dilepas, memamerkan wajah yang dipenuhi rajutan parut luka sayat pedang dan luka bakar asam belerang.
Sepasang mata Bhadrika berwarna kuning kuning keruh—mata burung pemangsa yang tak pernah berkedip. Saat pandangannya bertumbukan dengan mata Walid, udara di dalam kuil terasa memadat seketika, begitu berat hingga menyulitkan dada untuk mengembang. Keduanya berhenti pada jarak lima langkah dari meja bundar batu obsidian yang terletak persis di tengah aula kuil yang tak beratap.
"Kau terlambat tiga belas detak jam air, Walid," suara Bhadrika menggelegar parau, bagai dua bilah batu asah yang saling bergesekan. Senyum tipis yang dingin terbit di bibirnya yang pecah-pecah. "Kukira pangeran pesolek dari Nurul Iman telah mati tercekik oleh asap bakar para penjahit baju di gerbang selatan."
Rahang Walid mengencang. Kilatan amarah membakar pupil matanya, namun kesadaran akan kerapuhan posisinya memaksanya menelan kembali caci maki yang telah sampai di ujung lidah. Jemari Walid yang lentik dan dipenuhi cincin batu permata meraba tepi jubahnya tanpa sadar—sebuah gestur kegelisahan yang tak luput dari pengamatan tajam sang jenderal.
"Jalanan dipenuhi anjing-anjing liar yang mengendus setiap kereta berkuda, Jenderal," jawab Walid dengan nada datar yang dibuat-buat tenang. "Dan aku tidak datang ke sini untuk mendengar ceramah tentang ketepatan waktu dari seorang serdadu upahan yang tangannya masih berbau darah para penggembala di Lembah Asoka."
Mendengar nama Lembah Asoka disebut, otot leher Bhadrika menegang seketika. Sorot matanya menggelap. Di balik bayang-bayang pilar kuil, bunyi klik halus terdengar hampir tak kasatmata: para penembak jitu Legiun Rajanegara yang bersembunyi di balik reruntuhan patung berkepala banteng baru saja mengokang busur silang bermata baja. Di saat yang sama, dua pengawal bayangan Walid yang menyatu dengan kegelapan tirai lumut mengangkat tabung tiup beracun mereka. Nyawa kedua tokoh itu bertumpu pada seutas benang laba-laba yang siap putus oleh hembusan angin malam.
Keduanya saling tatap dalam keheningan yang mencekik. Detak jantung mereka seolah beradu dalam senyap, mengisi kekosongan ruang yang ditinggalkan oleh sirnanya rasa percaya di antara dua manusia. Tak ada persahabatan di kuil ini. Tak ada ikatan darah atau sumpah ksatria. Yang ada hanyalah kalkulasi dingin dari dua binatang buas yang menyadari bahwa pemburu mereka yang sesungguhnya tengah mengepung gua persembunyian dengan obor dan tombak.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian III: Dosa-Dosa yang Membusuk di Bawah Kubah
༻❖༺
Bhadrika melangkah mendekati meja obsidian dan menghantamkan kepalan tangannya yang berzirah ke atas permukaan batu yang dingin. Dentumannya menggema di seantero langit-langit runtuh, meruntuhkan segenggam debu purba dan butiran kapur ke atas meja. Tiga batang lilin yang terbuat dari lemak bangkai kuda dinyalakan dengan batu api, memancarkan lidah api kekuningan yang gemetar ditiup angin lembab, menyinari guratan wajah kedua penguasa tersebut dengan kontras chiaroscuro yang menyeramkan.
"Mari kita tanggalkan omong kosong ini," ujar Bhadrika seraya menarik sebuah kursi batu dan duduk dengan pongah. "Farihah dan dewan kaum papa telah menguasai bengkel senjata di distrik hilir. Mereka merebut cetakan meriam dan mengurung garnisun keduapuluh empatku di benteng barat. Besok malam, mereka berniat memproklamasikan pembebasan tanah dan menghapuskan hak upeti bagi kaum berdarah biru. Kau tahu apa artinya itu bagi keluargamu di Nurul Iman, Walid?"