Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Hujan Panah Minyak di Lembah Sempit

Pasukan gabungan Pakta Besi Emas bergerak maju dengan ribuan tombak dan kereta perang lapis baja. Tepat seperti perhitungan Ghalib Al Fathan, mereka terjepit di jalanan sempit yang diapit tebing batu terjal. Ketika panah minyak musuh mulai menghujani barisan depan rakyat, Ghalib memimpin serangan balik dengan formasi perisai besi rampasan, menahan gempuran kavaleri dengan kedisiplinan prajurit sejati.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

### Bagian I: Dingin Menyergap Lembah Kencana

Napas Beku Sebelum Gemuruh Besi. (Sudut Pandang: Ghalib)

༻❖༺

Dingin menyergap ruang sempit di antara dua dinding tebing karang hitam, mengubah sisa napas menjadi embun pucat yang membekukan harapan dan kejujuran. Di lembah berbatu yang dikenal dengan nama Jalan Kencana itu, fajar belum lagi genap menumpahkan warna emasnya; hanya ada bias kelabu muram yang merayap lambat di atas permukaan batu basah, seolah langit purba sendiri enggan menjadi saksi atas apa yang sebentar lagi akan dibantai di sini. Setiap embusan angin yang menyelinap melalui rekahan tebing membawa bau tanah liat basah, lumut busuk, dan kecemasan pekat yang membuat bulu kuduk berdiri kaku.

Ghalib berdiri tanpa gerak. Punggungnya menempel pada dinding tebing kapur yang kasar dan dingin bagai es kuburan. Di tangannya, sebuah perisai besi rampasan—penuh goresan mata tombak dan bekas hantaman kapak dari pertempuran gerbang luar tiga pekan lalu—terasa begitu berat, mengalirkan gigil logam langsung ke sumsum lengannya. Di balik lempeng besi itu, detak jantungnya beradu liar dengan kesunyian yang ganjil dan mencekam. Setiap dentuman di balik rongga dadanya adalah gema dari luka-luka lama yang terkubur abadi di bawah seragam kehormatan lamanya, mengoyak kembali ingatan tentang malam berdarah ketika sumpah setianya ditukar dengan segenggam abu.

Ia bisa merasakan jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit usang mulai mati rasa. Dingin di Lembah Kencana bukan sekadar penurunan suhu alamiah menjelang terbit matahari; ada hawa magis yang ganjil, sisa-sisa kutukan kuno yang merembes keluar dari celah-celah bebatuan tempat para pekerja paksa menghembuskan napas terakhir mereka selama berabad-abad pembukaan tambang. Di balik bayang-bayang tebing yang merayap pelan, setiap detik terasa seperti saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk, menunggu untuk menagih hutang nyawa.

"Mereka sudah melewati kelokan pohon ara mati, Ghalib," bisik sebuah suara di sampingnya.

Suara itu parau, sarat akan bau arang dan belerang yang tak pernah benar-benar hilang dari kulit seorang penambang. Ghalib menoleh perlahan tanpa menggeser ujung pedang lengkungnya dari celah perisai. Darma Setya berjongkok di balik karung-karung pasir dan tumpukan batu kali yang disusun tergesa. Wajah sahabatnya itu coreng-moreng oleh jelaga hitam pekat, namun sepasang matanya menyala dengan binar kegelisahan yang ganjil—bukan semata ketakutan hewani menghadapi ribuan prajurit berkuda, melainkan sesuatu yang lebih beracun, lebih purba, yang sejak semalam tertahan di ujung lidahnya laksana duri berkarat.

"Berapa banyak kereta perang pelopor?" tanya Ghalib datar, mencoba sekuat tenaga menjaga suaranya tetap sedingin bebatuan di sekeliling mereka agar prajurit buruh di sampingnya tidak menangkap getaran di tenggorokannya.

"Dua belas di baris depan. Masing-masing ditarik empat kuda tempur lapis baja tebal," sahut Darma seraya meremas tali pemicu sumbu jelaga di tangannya. Jemari kasarnya bergetar halus, mengetuk gagang kayu pemicu dalam ketukan tak teratur. "Dan di belakang mereka... ribuan tombak Pakta Besi Emas. Lembah ini selebar sembilan depa saja, Ghalib. Jika perhitunganmu meleset satu jengkal saja, kuda-kuda itu akan menggilas kita seperti gandum di penggilingan batu. Kita akan lumat menjadi bubur daging di bawah roda mereka."

Ghalib menatap jauh ke ujung celah, tempat kabut perlahan terkoyak oleh getaran tak kasat mata yang menjalar dari perut bumi. Jauh di atas tebing karang yang menjulang di sisi timur, puncak-puncak menara Istana Nurul Iman tegak mencakar langit fajar laksana gigi taring raksasa yang dilapisi lembaran emas murni. Dari bawah sini, istana agung itu tampak seperti mahkota pualam suci bertatahkan permata yakut dan pirus, berkilau anggun di bawah lindungan awan putih yang terselubung kemuliaan semu. Namun Ghalib tahu persis apa yang bersemayam di balik dinding-dinding marmer seputih susu itu.

Di balik kemegahan Nurul Iman, fondasi istana itu disemen dengan air mata dan darah ribuan kuli tambang yang mati lemas di terowongan belerang tanpa pernah melihat cahaya matahari lagi. Setiap tiang keemasannya berdiri di atas kerangka para pembangkang yang dikubur hidup-hidup pada malam-malam tanpa rembulan. Ruang-ruang bawah tanahnya menyimpan ruang penyiksaan di mana jeritan minta tolong diredam oleh lantunan musik kecapi kaum bangsawan. Dan kini, dari balkon-balkon gading istana yang menjulang congkak itu, para pangeran dan bangsawan darah biru tengah bersiap menyaksikan pembantaian anak-anak tambang dengan segelas anggur delima di tangan kanan mereka, menganggap pertumpahan darah ini tak lebih dari sekadar tontonan hiburan fajar.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Gema Trompet Pakta Besi Emas

Mitos Zirah Berat dan Sumpah yang Ternoda. (Sudut Pandang: Ghalib & Darma Setya)

༻❖༺

Bumi tiba-tiba menggeletar. Kerikil-kerikil tajam di bawah sol sepatu lars kulit para penambang melompat-lompat liar. Suara trompet tanduk lembu hutan meraung dari mulut ngarai, melengking tinggi menabrak dinding-dinding batu terjal, melahirkan gaung parau yang memekakkan telinga. Pakta Besi Emas telah memasuki perangkap.

Dua ratus buruh tambang yang membentuk barisan perisai di samping Ghalib menahan napas bersamaan. Mereka bukan prajurit terlatih kerajaan yang dibesarkan di barak-barak megah. Mereka adalah para penggali bijih besi, pemecah batu karang, dan pemikul kayu arang yang tangannya kapalan, kuku-kukunya pecah, dan punggungnya bungkuk oleh beban kerja paksa puluhan tahun. Namun di mata mereka, di balik ketakutan hewani yang alami, menyala kobaran dendam yang telah mendidih selama tiga generasi. Mereka memegang tombak kayu berujung linggis runcing dengan cengkeraman mati yang tak akan lepas bahkan bila nyawa mereka direnggut.

"Lihat mereka," desis Darma, matanya menyipit memandang kilatan zirah di ujung kelokan jalan sempit. "Kavaleri zirah berat Rajanegara. Mereka mengenakan pelat perak di dada kuda-kuda mereka seolah hendak menghadiri pesta dansa di ruang perjamuan agung Nurul Iman. Mereka bahkan memasang lonceng emas di kekang kuda, seakan darah kita hanyalah debu jalanan yang pantas disapu dengan kemewahan."

"Kesombongan adalah racun yang paling lambat mereka sadari," sahut Ghalib lirih. Matanya terpaku pada sosok penunggang kuda di baris terdepan: seorang kesatria bertubuh raksasa dengan helm baja berjambul bulu merak biru kencana, membawa perisai besar berlogo rajawali emas mencengkeram rantai perak. Lord Varis, tangan kanan Pangeran Walid yang termasyhur bengis dalam menumpas aksi mogok tambang.

Darma mendadak bergeser mendekat, bahunya membentur bahu Ghalib di celah sempit barikade batu. Tatapannya menukik tajam, menembus bayang-bayang pelindung dahi besi yang menutupi separuh paras sang mantan kapten. Ada kepedihan mendalam yang terselubung kemarahan di balik sorot mata pria pemegang peledak itu.

"Kau mengenali zirah itu, bukan, Ghalib?" tanya Darma, suaranya kini bergetar oleh nada getir yang menyayat hati. "Kau pernah berdiri di barisan depan paviliun istana, mengenakan jubah sutra yang sama wanginya dengan jubah orang-orang keparat itu. Kau pernah meminum arak dari piala emas mereka saat kami meminum air rembesan tanah tambang yang bercampur kotoran kuda. Setiap kali kau memerintahkan kami menahan diri, aku selalu bertanya-tanya dalam sunyiku... apakah kau memimpin kami ke lembah ini untuk menebus darah saudara-saudara kami, ataukah kau hanya sedang memainkan bidak catur lama demi menghapus noda hitam dosamu sendiri?"

Otot rahang Ghalib mengetat sekeras batu pualam tebing. Di bawah pelindung lehernya yang koyak, bekas luka bakar stempel pengawal kehormatan Nurul Iman berdenyut nyeri laksana ditusuk jarum membara. Kenangan sepuluh tahun silam berkelebat seperti kilat pedang: bau dupa cendana di koridor istana, bisikan janji keselamatan palsu dari mulut Pangeran Walid, dan kepulan asap dari tambang timur tempat ratusan buruh dikunci mati. Udara dingin yang dihirup Ghalib terasa perih menggores saluran pernapasannya.

"Jika aku menginginkan pengampunan dari istana itu, Darma," ujar Ghalib dengan suara yang turun menjadi bisikan serak penuh ancaman yang menggetarkan dada, "aku tidak akan berdiri di kubangan lumpur ini bersama kalian menghirup bau belerang. Aku tidak akan membuang jubah emasku ke comberan. Tarik pemicumu saat waktunya tiba, atau kita berdua akan mati menjadi bangkai tanpa sempat saling mengutuk!"

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian III: Hujan Panah Minyak di Lembah Sempit

Langit Terbakar dan Perisai Rampasan. (Sudut Pandang: Ghalib)

༻❖༺

Belum sempat Darma membalas, jeritan parau membelah langit dari punggung tebing karang di atas kepala mereka. Pemanah-pemanah istana yang bersembunyi di ceruk-ceruk tinggi melepaskan busur mereka. Bukan sekadar anak panah berhulu tembaga biasa, melainkan ribuan busur berujung gulungan kain rami yang direndam dalam minyak tar mendidih.

Wuuussshh!

Udara fajar yang membeku terkoyak seketika oleh gelombang panas yang mendadak. Garis-garis api melengkung di udara kelabu, menyerupai komet-komet hitam yang menghujam jatuh ke dasar celah sempit. Baunya—bau minyak mentah yang terbakar bercampur bau anyir rambut dan kain terbakar—menyergap indra penciuman dengan kebrutalan yang memuakkan.

"PERISAI ATAS! KUNCI KURA-KURA!" teriak Ghalib sekuat tenaganya hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.

Dentang besi beruntun menggema di seantero lembah saat ratusan perisai besi rampasan diangkat ke atas kepala, saling mengunci tepiannya dengan presisi yang ditempa oleh latihan rahasia berbulan-bulan di dasar tambang. Anak-anak panah berapi menghantam lempeng logam dengan bunyi ledakan kecil berkali-kali. Minyak yang membara memercik ke segala arah, menetes laksana hujan lahar mini melalui celah-celah kecil.

Seorang pemuda di samping Darma, buruh tambang yang belum genap berusia delapan belas tahun, menjerit histeris ketika tetesan minyak menyala mengenai bahu kirinya, menembus baju goni kasarnya dan membakar kulitnya seketika. Pemuda itu terhuyung, formasi terancam bolong.

Dengan gerakan kilat tanpa ragu, Ghalib menyambar tepi perisai pemuda itu dengan tangan kirinya, menarik tubuh anak itu ke belakang tumpukan karung pasir sementara pundaknya sendiri menahan dua anak panah minyak yang menghantam perisainya berturut-turut. Panas logam menjalar membakar telapak tangannya bahkan melalui sarung tangan kulit tebal. Matanya berkilat menatap langit yang kini dipenuhi selimut asap hitam pekat.

Lihat selengkapnya