Jenderal Zufran Al Qutuz yang haus darah menerobos barisan pertahanan rakyat dengan pedang raksasa berselimut api hitam rune darah. Ghalib melangkah maju menghadapinya dalam duel tunggal penentu. Pertarungan antara dua pendekar terhebat negeri itu berlangsung brutal di atas batu jalanan yang basah oleh hujan dan darah. Bhadrika mengejek integritas Ghalib yang memilih membela pelayan dan kaum melarat.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
### 01. Sunyi Mencekam di Bawah Bayang Nurul Iman
Ketika Dingin Membekukan Sisa Napas dan Kejujuran
༻❖༺
Malam di atas langit Rajanegara tak pernah benar-benar menjatuhkan kegelapan yang tenang; ia menumpahkan kesunyian yang mencekik, pekat seperti jelaga yang membakar paru-paru. Di hadapan gerbang raksasa Alun-Alun Tugu Penjaga Kuno, angin utara berhembus membawa kabut basah bercampur aroma anyir tembaga dan kayu terbakar. Dingin menyergap ruang tanpa ampun, menyusup lewat celah zirah besi yang berkarat, mengubah sisa napas para prajurit dan jelata menjadi embun keputihan yang membekukan harapan dan kejujuran.
Di kejauhan, menara-menara Istana Nurul Iman mencuat angkuh menembus tirai mendung. Bangunan raksasa itu tampak megah luar biasa di bawah temaram lentera gantung—kubah-kubah emasnya memantulkan kilatan petir yang tertahan di balik awan pekat. Nama 'Nurul Iman' terpahat pada pilar marmer pualam putih, sebuah janji palsu tentang cahaya dan iman yang tak pernah sampai ke gubuk-gubuk tanah di pinggiran kota. Bagi rakyat jelata yang meringkuk di balik barikade karung pasir dan roda gerobak patah, kemegahan itu hanyalah liang lahat bertabur emas.
Di balik bayang yang merayap di dinding-dinding benteng, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Di sanalah, di ruang-ruang bawah tanah berlantai granit hitam yang konon tak tersentuh cahaya fajar, ribuan rahasia dikuburkan bersama tulang belulang para pemberani yang menolak sujud pada keserakahan wangsa Rajanegara. Saat kegelapan perlahan menelan kesadaran akal sehat, kau akan menyadari dengan kengerian yang teramat dingin: pintu keluar telah lama terkunci dari dalam.
Panglima Ghalib berdiri tak bergerak di undakan batu terluar. Tangan kirinya memegang sarung pedang tuanya dengan cengkeraman mantap, sementara jemari kanannya meraba bekas luka sayatan panjang yang melintang di pergelangan tangannya. Di bawah zirah besinya yang kusam oleh debu dan darah kering pertempuran berminggu-minggu, detak jantungnya beradu sengit dengan sunyi yang ganjil. Setiap ketukan nadi di pelipisnya terasa berat, menuntut pertanggungjawaban atas ratusan nyawa anak buah yang gugur di jalan berbatu ini.
Ia bisa merasakan kecemasan batin yang merayap di dada anak-anak buahnya yang gemetar di belakang barisan. Mereka bukan ksatria berdarah biru; mereka adalah para penenun sutra yang tangannya melepuh, petani gandum yang tanahnya dirampas paksa, serta para pelayan istana yang lolos dari siksaan ruang bawah tanah. Ghalib menatap ke arah kubah utama istana. Ada sesuatu yang janggal malam ini—sesuatu yang berdenyut dari kedalaman perut bumi Nurul Iman, seperti detak jantung monster purba yang baru saja disuapi darah segar.
°˖✧༺♕༻✧˖°
### 02. Kedatangan Sang Jagad Penakluk & Hujan Bara
Rune Darah yang Menelan Udara Malam
༻❖༺
Suara gerendel besi raksasa yang patah mengoyak keheningan malam bagai raungan binatang buas. Dari arah lorong gerbang agung yang menghubungkan istana dengan alun-alun, derap langkah berat mengguncang tanah berbatu. Bukan derap tapak kuda, melainkan langkah tunggal yang memikul bobot ratusan pon baja tempa dan amarah yang tak tertampung.
Jenderal Zufran Al Qutuz muncul dari balik selimut kabut. Sosoknya menjulang laksana dinding benteng berjalan, berbalut zirah lempeng hitam bergerigi yang diukir dengan simbol-simbol runik berwarna merah darah. Di kedua belah tangannya, ia memegang pedang raksasa dua tangan—Bilah Jagad. Bilah pedang yang lebar itu tak memantulkan cahaya lentera; sebaliknya, pedang itu diselimuti lidah api hitam kemerahan yang mendesis, menjatuhkan butiran bara pijar ke atas genangan air hujan yang seketika berubah menjadi uap beracun berbau belerang.
Para prajurit barisan depan rakyat sontak terhuyung mundur. Suara ratap ketakutan tertahan di tenggorokan mereka. Mereka mengenali sosok itu: Sang Jagad Penakluk, algojo berdarah dingin yang telah meratakan tiga puluh benteng perbatasan utara tanpa menyisakan seorang pun anak balita hidup.
Bhadrika melangkah santai, namun setiap jejak kakinya meninggalkan bekas hangus pada lempengan batu granit kuno. Senyum sinis menyungging di wajahnya yang kasar dan berjanggut lebat, penuh bekas luka bakar perang saudara. Matanya merah menyala oleh pengaruh sihir rune darah yang telah menyatu dengan aliran nadinya.
"Malam yang teramat menyedihkan untuk sebuah kematian, wahai saudaraku," suara Bhadrika menggelegar, beresonansi dengan monolit Tugu Penjaga Kuno yang berdiri bisu di sekeliling mereka. Suaranya mengandung getaran gaib yang membuat beberapa pemuda pembawa tombak bambu terjatuh berlutut, memegangi dada mereka yang sesak.
Ghalib melangkah maju lima tindak, menempatkan dirinya tepat di antara Zufran Al Qutuz dan barisan rakyat yang ketakutan. Angin malam meniup jubah lusuhnya, menyingkap pelindung lengan besinya yang sederhana namun terawat. Matanya setenang danau beku di puncak Gunung Kaf.
"Kembalilah ke istana megahmu, Zufran Al Qutuz" sahut Ghalib perlahan, namun suaranya yang rendah membelah dengung api rune lawan. "Atau kau akan menemukan bahwa darah yang kau agungkan malam ini tak lagi mampu membeli pengampunan di hadapan rakyat yang kau injak."
°˖✧༺♕༻✧˖°
### 03. Benturan Dua Bilah Takdir
Kekuatan Kasar vs Presisi Dingin di Atas Genangan Darah
༻❖༺
Zufran Al Qutuz meledak dalam tawa yang mengerikan—tawa yang lebih menyerupai lolongan serigala di padang bangkai. "Rakyat? Kau menukar kehormatan ksatria istana demi sekumpulan kotoran tanah ini, Ghalib? Kau yang dulu bersumpah di sisiku di Lembah Qaf, kini menjadi gembala bagi anjing-anjing kurap!"
Tanpa aba-aba lebih lanjut, Zufran Al Qutuz melesat. Untuk pria sebesar banteng dengan baju zirah seberat itu, kecepatannya melanggar batas kewajaran manusia. Tanah di bawah tumitnya remuk berkeping saat ia melontarkan tubuhnya ke depan. Bilah Jagad terangkat tinggi, membelah udara dengan dengung melengking seperti jeritan jiwa-jiwa terkutuk. Tebasan diagonal pertamanya mengirimkan gelombang kejut angin panas berlumur api hitam yang menyapu pelataran batu.
Ghalib tidak berkedip. Dalam seperseribu detik sebelum logam mematikan itu mencabik lehernya, ia menggeser tumit kanannya dua inci ke samping. Gerakan minimalis, presisi dingin seorang maestro pedang yang telah menghitung setiap sudut kematian. Bilah raksasa Zufran Al Qutuz menghantam lempengan batu di samping kaki Ghalib, memecahkan granit menjadi serpihan tajam dan melontarkan kawah bara sedalam tiga jengkal.