Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Kebangkitan Tirani Masa Lalu

Dalam keputusasaan mutlaknya, Pangeran Walid membongkar segel bejana terlarang di bawah singgasana emas, melepaskan Roh Pembalas Dendam Gerhana—entitas bayangan raksasa yang tertidur ratusan tahun. Entitas itu menolak tunduk pada Walid dan langsung meremukkan sang pangeran sebelum melayang meneror seluruh ibu kota dengan badai kehancuran. Farihah melangkah maju, melepaskan seluruh kendali elemen alam terlarang di hadapan puluhan ribu pasang mata untuk menyelamatkan negeri.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


### Bagian I: Ruang yang Menelan Cahaya

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun kelabu yang membekukan harapan dan kejujuran.

Di aula utama yang menghubungkan Gerbang Takhta Emas dengan pelataran dalam Istana Nurul Iman, hawa beku itu tidak berakar dari musim ataupun angin kutub; ia merembes dari sela-sela lantai pualam hitam berurat emas—batu purba yang dipahat di atas pekuburan massal para pemberontak tiga abad silam. Nama Nurul Iman, Cahaya Keyakinan, sejak lama menjadi ironi paling kejam yang dipelihara dinasti ini. Istana itu tidak pernah memancarkan cahaya iman; ia hanyalah sebuah monumen kepura-puraan setinggi sembilan puluh hasta, tempat doa-doa kaum tertindas dibungkam oleh dentang cawan anggur dan bisikan konspirasi para ningrat yang membusuk dalam kemewahan.

Langkah kaki semakin berat, menyeret kebenaran yang tak lagi sanggup bersembunyi dari kegelapan.

Farihah menghentikan derap langkahnya di undakan marmer ke-tiga puluh tiga. Gaun tempurnya yang dilapisi anyaman baja tipis bergemerisik pelan, beradu dengan sunyi yang menindih gendang telinga. Udara berbau tembaga karat, anyir darah segar, dan minyak dupa gaharu yang hangus sia-sia. Jantungnya berdegup dalam ketukan liar tak beraturan—sebuah genderang sunyi yang menghantam rongga dadanya, membangkitkan ingatan tentang malam ketika garis keturunannya dipenggal di depan pilar yang kini berdiri congkak di sisi kirinya. Setiap inci dari istana ini adalah sangkar pembantaian yang dicat dengan sepuhan emas.

Di belakang Farihah, sepuluh depa dari bayang-bayang barisan pilar bergaya arkaik, Ghalib melangkah dengan pedang terhunus rendah di sisi pinggang. Wajah perwira muda itu kaku bagai pahatan granit, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut tegang. Tatapannya tak sedetik pun lepas dari punggung Farihah—ada kecemasan purba yang terpancar dari mata kelam Ghalib, kecemasan seorang pria yang tahu bahwa perempuan di hadapannya bukan hanya memegang nasib pertempuran malam ini, melainkan sedang membawa belati yang siap menusuk jantungnya sendiri demi menuntaskan dendam berdarah.

'Farihah,' bisik Ghalib. Suaranya serak, rendah, namun sanggup menggetarkan kabut tipis yang melayang di antara mereka. 'Jarak dari sini menuju lingkar takhta adalah seratus depa. Jika kau melangkah melewati ambang gerbang itu, kau bukan lagi sekadar penuntut balas. Kau sedang membuka kuburan yang dikutuk leluhurmu sendiri.'

Farihah tidak menoleh. Bibirnya yang pucat tampak membeku oleh hawa dingin yang merayap naik dari dasar tanah. 'Kutukan itu sudah hidup dalam darahku sejak hari pertama Walid membakar lumbung dan memenggal ayahku di hadapan rakyat jelata, Ghalib. Jangan bicarakan tentang kuburan kepada seseorang yang telah lama menjadi mayat berjalan.'

Darma Setya, panglima pengawal bayangan yang berdiri di sisi kanan Ghalib, mendengus pelan sambil mengelap darah kental dari bilah belatinya ke lipatan mantel sutra seorang prajurit pengawal istana yang baru saja roboh. Matanya yang tajam menyapu bayang-bayang koridor tinggi di sekeliling pelataran.

'Prajurit penjaga takhta telah tercerai-berai, Tuan Putri,' lapor Darma Setya dengan nada datar tanpa emosi, sebuah ketenangan seorang algojo yang terbiasa membedah kematian. 'Namun ada keheningan ganjil di balik pintu takhta emas. Walid tidak melarikan diri ke terowongan rahasia barat. Dia masih di sana. Dan keputusasaan seorang penguasa tiran yang tersudut selalu lebih mematikan daripada racun kalajengking gurun.'

Farihah menarik napas panjang. Udara yang terhirup terasa bagai pecahan kaca yang mengiris paru-parunya. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Dia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar barisan pemberontak dan sisa garnisun setia menahan posisi di pelataran luar. Lalu, dengan langkah yang dingin dan tak goyah, ia mendorong sepasang pintu tembaga raksasa bergambar singa matahari yang telah reyot terhantam mantera penembus dinding.

Pintu berderit panjang, sebuah jeritan logam yang merobek sunyi malam.

Di dalam ruangan mahaluas itu, di bawah kubah berkilau yang meniru konstelasi bintang purba, Pangeran Walid berdiri tegak di undakan tertinggi takhta emas. Mahkota zamrudnya miring, compang-camping tergores benturan, dan jubah kebesarannya yang bersulam benang perak ternoda percikan jelaga dan darah hitam. Namun yang membuat udara di ruangan itu terasa mencekik bukanlah bau mesiu ataupun darah, melainkan hawa kegilaan yang memancar dari sepasang bola mata Walid.

Di tangannya tergenggam sebilah belati melengkung bermata obsidian, dan di bawah kakinya—tepat di alas singgasana yang marmernya telah dibongkar paksa—terbujur sebuah bejana kuno berbahan perunggu hitam berukirkan aksara terlarang yang berpendar ungu kehitaman.

Segel Bejana Gerhana. Wadah penutup aib terbesar wangsa berkuasa.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Retak pada Topeng Sang Penguasa

༻❖༺

'Kau terlambat, Farihah,' suara Walid bergema, melantun di dinding-dinding pualam dengan nada yang berayun antara tawa histeris dan ratapan putus asa. Senyumnya menyeringai miring, memperlihatkan gigi-giginya yang bernoda darah akibat bibirnya yang digigit sendiri karena panik yang tak tertahankan.

'Kalian kira kalian telah memenangkan perang ini?' lanjut Walid seraya mengacungkan belatinya ke arah mereka. Tangannya gemetar hebat, tremor tak terkendali yang berusaha disembunyikan di balik postur angkuh seorang pewaris takhta. 'Kalian mengira kalian bisa menyeretku ke alun-alun kota, menelanjangi gelarku, dan mempertontonkan kepalaku kepada para jelata berkutu itu?'

Farihah melangkah maju sepuluh tapak. Hawa dingin di sekitarnya semakin pekat, membentuk partikel-partikel es mikroskopis yang bergemerlap di udara seperti debu intan. 'Lepaskan belati itu, Walid. Jangan sentuh bejana di bawah kakimu.'

'Kenapa? Kau takut?' Walid meludah ke lantai marmer. Ludahnya merah pekat. 'Atau kau takut rakyat jelatamu tahu, bahwa kemegahan yang kau banggakan dari darah leluhurmu sebenarnya bertumpu pada dusta yang sama? Kau tahu apa yang ada di dalam bejana ini, Farihah! Kakekmu yang menyegelnya! Ayahmu yang memberinya makan dengan darah para budak agar dinasti kita tetap mencengkeram takhta ini selama satu abad penuh!'

Kata-kata itu menghantam aula laksana petir tanpa suara. Di ambang pintu, para bangsawan tua yang tertawan dan meringkuk dalam perlindungan prajurit Ghalib tersentak. Wajah-wajah mereka yang pucat pasi berubah menjadi kelabu membiru. Bisik-bisik ketakutan menjalar bagai api di atas jerami kering.

'Dusta!' seru Ghalib, melangkah maju menyamai posisi Farihah. Ujung pedangnya terarah lurus ke dada Walid. 'Ayah Farihah menolak persembahan darah itu, dan itulah alasan klanmu membantainya di malam ekuinoks! Kau memutarbalikkan sejarah untuk membenarkan kebusukan keluargamu sendiri!'

'Apakah itu dusta, Farihah?' Walid tertawa melengking, tawa seorang anak manja yang mendapati seluruh mainannya dihancurkan. Namun sorot matanya yang liar mendadak meredup, menyisakan kekosongan hampa yang mengerikan—ekspresi seseorang yang telah melihat tepi jurang maut dan memilih untuk melompat ke dalamnya. 'Tatap mataku, pewaris terakhir Wangsa Rembulan! Katakan pada perwiramu yang suci ini, dari mana asal kekuatan elemen terkutuk yang mengalir di urat nadimu? Apakah itu anugerah langit? Ataukah sisa racun dari Roh Gerhana yang diminumkan ibumu ke dalam air susumu ketika kau masih bayi?'

Farihah terdiam. Otot wajahnya mengeras bagai batu nisan. Di balik dadanya, rahasia masa lalu yang terkubur puluhan tahun serasa mencakar dinding kesadarannya. Bayangan masa kecil—ruang bawah tanah yang lembap, bau anyir bejana hitam, dan jeritan ibunya saat merapal mantra pemutus sumpah—berkelebat bagai kilat yang membakar batinnya. Ghalib menoleh sedikit ke arah Farihah, matanya memancarkan keterkejutan yang tulus, sebuah luka baru yang menganga di antara mereka berdua: luka ketidaktahuan.

'Farihah... apa yang dia bicarakan?' gumam Ghalib, nada suaranya bergetar dengan kerapuhan yang langka.

'Dia sedang mengulur waktu, Ghalib,' ucap Farihah dingin, meski di dasar matanya, lautan kepedihan yang tak terukur sedang bergolak. 'Dan dia tahu dia tidak punya jalan keluar.'

Walid melihat keraguan itu, dan seringai kemenangannya yang gila kembali merekah. 'Kalian telah merenggut mahkotaku! Kalian membunuh saudaraku! Kalian meruntuhkan benteng-bentengku! Jika aku tidak bisa memerintah negeri ini di bawah matahari, maka tidak seorang pun dari kalian yang boleh bernapas di bawah langit malam!'

Sebelum Ghalib atau Darma Setya sempat melompat maju, Walid menghunjamkan belati obsidian itu lurus ke pusat segel bejana purba.

---

KRAAAK!

---

Bunyi pecahan logam itu tidak keras, namun getarannya membuat fondasi Istana Nurul Iman bergidik. Pilar-pilar marmer setebal empat depa berderak retak. Lampu gantung raksasa berbahan kristal Venesia yang bergelantungan setinggi tiga puluh depa berdenting liar sebelum terhempas ke lantai, hancur menjadi jutaan serpihan berkilau.

Detak jantung Farihah serasa berhenti seketika. Sunyi yang mematikan menyapu seluruh ruangan, meremukkan sisa-sisa kesadaran fana.

Lalu, kegelapan meledak.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian III: Pembalasan yang Meremukkan Sang Tiran

༻❖༺

Dari celah bejana perunggu yang terbelah, cairan hitam pekat yang mendidih tanpa panas menyembur ke udara, melawan hukum gravitasi bumi. Cairan itu tidak jatuh menyentuh marmer, melainkan menguap menjadi sulur-sulur asap pekat yang berbau seperti bangkai zaman purba dan bara belerang yang membusuk.

Udara mendadak menjadi begitu berat hingga puluhan prajurit di ambang pintu tersungkur berlutut, mencengkeram tenggorokan mereka sendiri yang seolah tercekik kawat berduri tak kasat mata.

---

ROH PEMBALAS DENDAM GERHANA.

---

Lihat selengkapnya