Fajar menyinari Antah Berantah yang sunyi. Asap tipis masih membubung dari bekas pertempuran, namun tidak ada lagi suara pedang atau dentuman artileri. Farihah Nashiha terbangun di kamar perawatan dengan Ghalib Al Fathan setia di sisinya. Ketika melangkah ke balkon, ia melihat ribuan rakyat jelata berdiri di pelataran dengan kepala tertunduk penuh hormat, menunggu kabar dari sosok yang telah menyelamatkan mereka dari kutukan kuno.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
Bagian I: Dingin yang Membekukan Ingatan
Kamar Perawatan Menara Sayap Barat
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di kamar perawatan sayap barat Istana Nurul Iman, keheningan bukanlah jeda yang menenangkan, melainkan pemangsa tak kasat mata yang merayap di sepanjang lantai pualam hitam. Farihah membuka matanya perlahan. Setiap kedipan kelopak matanya terasa seperti serpihan kaca yang bergesekan dengan kornea yang kering. Langit-langit ruangan itu melengkung tinggi dalam lengkung gotik khas arsitektur antah berantah—sebuah kemegahan angkuh yang selama ratusan tahun dipahat oleh jerit para budak tambang belerang, kini hanya diterangi oleh sebatang lilin lebah yang sekarat di atas meja kayu ek lapuk.
Detak jantungnya beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi. Di dalam rongga dadanya, degup itu terdengar begitu ganjil: lambat, berat, dan berongga, seolah organ itu berdenyut bukan lagi untuk memompa darah, melainkan untuk menghitung detik-detik pelunasan kutukan yang baru saja dihancurkannya. Seluruh sendi tubuhnya remuk redam. Di balik linen kelabu yang membalut torso hingga pundaknya, urat-urat nadi kebiruan merayap bagai sulur pohon mati—bekas luka bakar sihir kataklismik yang menjalar dari telapak tangannya hingga mendekati katup jantung. Namun anehnya, di balik kepedihan fisik yang menyiksa itu, Farihah merasakan sesuatu yang belum pernah ia cicipi seumur hidupnya: sebuah kedamaian mutlak yang mengerikan, semacam ketenangan sunyi di dasar palung laut setelah badai purba melumatkan seluruh kapal.
Di sudut ruangan yang ditelan bayang-bayang pilar obsidian, sebuah siluet logam berdiri tanpa gerak. Ghalib berada di sana. Pria itu tidak duduk, tidak pula bersandar. Ia berdiri tegak dengan satu tangan bertumpu pada hulu pedang komandonya, bagai gargoyle batu yang dikutuk untuk mengawasi mayat. Zirah lempeng perak yang membalut tubuh sang komandan telah kehilangan kilau bangsawannya; permukaannya penuh torehan kapak, jelaga mesiu, dan retakan memanjang di bagian pelindung dada yang merefleksikan sisa-sisa pertempuran semalam suntuk. Napas Ghalib berhembus teratur namun berat, melahirkan kepulan uap putih yang lekas buyar disapu hawa dingin yang merembes lewat celah jendela tanpa kaca.
Istana Nurul Iman. Nama yang begitu suci dan luhur, mengumandangkan janji "Cahaya Keimanan" bagi seantero kerajaan antah berantah, namun kini tercium seperti makam keluarga yang baru digali. Di balik wangi dupa cendana murahan yang sengaja dibakar para tabib untuk menyamarkan bau busuk, Farihah dapat menghirup aroma aslinya: bau anyir tembaga dari darah ribuan orang yang meresap ke dalam semen pualam, bercampur abu vulkanik Mahameru yang terbawa angin malam. Istana ini tidak pernah suci; kemegahannya hanyalah sarkofagus raksasa yang dilapisi lembaran emas tipis untuk menutupi kebusukan para tiran yang meminum air mata jelata.
"Kau sudah terjaga, Tuanku," suara Ghalib memecah keheningan. Nadanya serak, rendah, dan bergetar di ujung-ujung kata, seperti gesekan bilah berkarat pada sarung kulit tua. Pria itu tidak melangkah maju, seakan ada batas tak kasat mata di antara mereka yang menahannya tetap berpijak di batas bayang-bayang kelam.
Farihah mencoba menegakkan punggungnya. Rasa sakit menusuk rusuk kirinya bagai hunjaman belati es, memaksanya menahan ringisan tertahan di tenggorokan. "Jangan panggil aku dengan sebutan terkutuk itu, Ghalib. Tidak ada tuan di kamar ini. Dan tidak akan pernah ada lagi tuan di atas tanah Mahameru yang telah hangus."
Ghalib menundukkan kepalanya sedikit, namun sorot matanya yang cokelat gelap dan cekung tetap terpaku pada wanita muda itu. Di pelipis sang komandan, sebuah luka sayat baru masih mengeluarkan rembesan darah merah kehitaman yang membeku oleh dingin malam. "Rakyat di pelataran tidak akan setuju denganmu, Farihah. Mereka telah berdiri di sana sejak lonceng tengah malam berhenti berdentang. Mereka tidak menginginkan kesetaraan yang hampa; mereka menginginkan penyelamat. Dan kau telah membunuh kutukan yang memangsa anak-anak mereka."
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian II: Gema Pengkhianatan di Balik Dinding Pualam
Konfrontasi Rahasia Masa Lalu & Laporan Militer
༻❖༺
Farihah memandangi jemari tangannya sendiri. Di ujung kuku-kukunya yang patah, partikel hijau berpendar redup—residu dari elemen kehidupan terlarang yang ia tarik dari rahim bumi Mahameru untuk menyegel celah abyssal semalam. Kekuatan itu telah merenggut hampir separuh usianya, mengeringkan sumsum tulang dan meninggalkannya seperti dahan rapuh di musim gugur. "Katakan padaku apa yang terjadi di luar dinding ini, Ghalib. Jangan sembunyikan kebenaran di balik retorika prajuritmu."
Ghalib menghela napas panjang. Langkah kakinya yang berat berderap pelan mendekati sisi ranjang batu. Suara lempeng besi zirahnya beradu ritmis dengan keheningan ruangan yang mencekam. Dari balik jubah perangnya, ia mengeluarkan secarik perkamen berkancing lilin merah yang telah pecah. "Kedua faksi bangsawan telah meletakkan senjata mereka. Keluarga Mahisa yang menguasai lumbung timur dan Dinasti Tirta yang mengendalikan kanal air bawah tanah telah menandatangani kapitulasi tanpa syarat. Sisa batalion mereka telah dilucuti oleh komando garda transisi. Tidak ada perlawanan lagi di benteng dalam."
"Dan harga yang mereka bayar untuk keselamatan leher mereka?" bisik Farihah, suaranya sedingin embun yang menempel pada kisi-kisi jendela.
"Ketakutan," jawab Ghalib pendek. Matanya melirik ke arah pintu kayu jati berukir yang tertutup rapat, seolah menduga ada telinga tersembunyi di balik dinding marmer itu. "Para bangsawan itu kini mengurung diri di ruang bawah tanah istana sayap timur bersama keluarga dan peti-peti perhiasan mereka. Mereka dicekam histeria massal. Mereka yakin begitu matahari terbit, rakyat jelata yang bersenjatakan cangkul dan obor akan mendobrak jeruji besi dan memenggal kepala setiap anak bangsawan sebagai pembalasan atas seratus tahun kerja paksa. Mereka memohon jaminan suaka darimu, Farihah. Mereka menawarkan seluruh emas perbendaharaan Nurul Iman sebagai tebusan darah."
Farihah tersenyum getir, sebuah senyuman tipis tanpa kehangatan yang membuat parasnya yang pucat tampak semakin mengerikan di bawah temaram lilin. "Emas yang digali dari punggung anak-anak yatim piatu di lembah abu? Betapa murahnya harga nyawa bagi mereka yang terbiasa tidur di atas kasur bulu angsa." Matanya kemudian beralih menatap lurus ke dalam pupil mata Ghalib, tatapan tajam yang menembus lapisan zirah besi dan menusuk langsung ke relung terdalam sanubari pria itu. "Tapi kau belum memberitahuku alasan sebenarnya mengapa kau begitu gemetar pagi ini, Komandan. Ini bukan sekadar tentang para bangsawan pengecut itu, bukan?"
Udara di ruangan itu mendadak mengental. Dingin yang menyergap terasa semakin menusuk tulang, meredam desah angin di luar. Rahang Ghalib mengeras; otot-otot di lehernya menegang seperti tali busur yang ditarik melampaui batas elastisitasnya. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit berlapis rantai besi mencengkeram hulu pedangnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sepuluh tahun yang lalu," Farihah berbisik lagi, kali ini dengan nada yang begitu tenang hingga terdengar lebih mengerikan daripada guntur perang. "Malam ketika gerhana darah menutup langit Mahameru, dan ayahku—satu-satunya raja yang menolak menumbalkan rakyatnya kepada dewa abu—dibantai di atas meja perjamuan istana ini. Dinding-dinding Nurul Iman ini basah oleh darah keluargaku. Dan di Gerbang Selatan, seseorang memutar kunci gembok tembaga seberat dua ratus kati untuk membiarkan para pembunuh berdarah dingin dari Dinasti Tirta masuk tanpa suara."
Keheningan yang mengikuti ucapan Farihah begitu pekat, hingga suara lelehan lilin lebah yang menetes ke atas kayu meja terdengar seperti dentuman palu godam. Perubahan ekspresi Ghalib berlangsung perlahan namun dahsyat: ketegaran militernya runtuh lapis demi lapis. Kelopak matanya bergetar hebat, dan kilatan kepedihan yang telah membeku selama satu dekade tiba-tiba mencair menjadi tatapan pria yang terkoyak oleh dosa abadi.
"Farihah..." nama itu meluncur dari bibir Ghalib seperti kutukan yang akhirnya terucap.
"Kau adalah kapten jaga malam itu, Ghalib," lanjut Farihah, suaranya tak bergetar sedikit pun, membedah luka lama tanpa belas kasihan. "Kunci tembaga itu tergantung di sabuk kulitmu. Selama bertahun-tahun aku mengira kau hanya seorang pengecut yang terlambat tiba di ruang takhta. Namun semalam, ketika jiwaku ditarik ke dalam pusaran residu abu saat menyegel kutukan, aku melihat serpihan ingatan tanah ini. Tanah Mahameru mengingat segalanya, Ghalib. Tanah ini mengingat langkah kakimu yang membimbing para algojo menuju kamar tidur adik laki-lakiku."
Lutut Ghalib bergetar. Sang komandan perkasa yang tak gentar menghadapi serbuan seribu tombak semalam itu perlahan berlutut dengan satu kaki di atas lantai batu yang beku. Kepalanya tertunduk begitu dalam hingga dagunya menyentuh lempeng bajanya. Napasnya terengah-engah, memuntahkan kabut uap yang terputus-putus. "Mereka telah menyandera ibuku dan seluruh penduduk desaku di kaki gunung, Farihah! Dewan tetua Mahisa mengancam akan membakar hidup-hidup seratus bayi di perapian belerang jika gerbang itu tidak terbuka sebelum bulan mencapai puncak langit! Aku... aku adalah binatang hina yang memilih menyelamatkan darahku sendiri dengan mengorbankan wangsamu."