Ghalib Al Fathan memimpin jalannya sidang pengadilan terbuka bagi para bangsawan yang tersisa dan jenderal perang yang ditawan. Alih-alih pengadilan tertutup yang sarat suap seperti era Danadyaksa, setiap terdakwa diadili di hadapan perwakilan buruh, petani, dan prajurit. Harta rampasan yang ditimbun di brankas istana dibuka dan didata secara transparan untuk dikembalikan sebagai dana pembangunan pemukiman rakyat.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Babak I: Embun Beku di Kaki Nurul Iman
Alun-Alun Agung Pengadilan Rakyat · Subuh Remang Menjelang Fajar. Kabut beracun merayap dari kubah Istana Nurul Iman saat ribuan jelata berdiri membisu menyaksikan panggung pengadilan terbuka pertama dalam sejarah Kerajaan Antah Berantah.
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk di jantung kekuasaan. Dari pelataran Alun-Alun Agung Pengadilan Rakyat, menara-menara Istana Nurul Iman tampak seperti tombak-tombak raksasa yang menusuk langit kelabu tanpa belas kasihan. Istana itu megah, berdinding pualam hitam yang konon diimpor dari pegunungan terjauh dan direkatkan dengan keringat ratusan budak yang tak sempat melihat anak-cucu mereka tumbuh. Namun kemegahan itu kini menyerupai makam raksasa; bayang-bayang kubahnya yang tajam menaungi ribuan kepala jelata yang berdiri rapat dalam keheningan yang mencekam, seolah satu helaan napas yang terlampau keras dapat meruntuhkan sisa martabat kerajaan yang sedang sekarat.
Ghalib berdiri di belakang meja kayu jati purba yang sengaja diseret keluar dari balairung istana ke lantai batu alun-alun. Meja itu berat, berurat kasar, dengan torehan lambang timbangan keadilan kuno yang separuh terkikis jelaga. Jari-jemari Ghalib meraba permukaan kayu yang lembap oleh embun pagi. Dinginnya menusuk ke balik lipatan jubah kelabu kasarnya, namun rasa dingin itu tiada artinya dibanding kekosongan yang merayap di dadanya. Dadanya bergemuruh pelan; detak jantung yang beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi di relung jiwanya. Sepuluh tahun silam, di bawah gerbang yang sama, ayahnya diseret dengan leher terjerat rantai tembaga hanya karena menolak menyetor gandum terakhir ke lumbung dinasti Danadyaksa. Kini, takdir memutar rodanya dengan kepatuhan yang dingin: Ghalib tidak berdiri sebagai pemohon belas kasihan, melainkan sebagai penegak titah rakyat yang selama berabad-abad hanya mengenal hukuman tanpa pernah mencicipi keadilan.
Di sekeliling panggung kayu bertingkat tiga itu, ribuan pasang mata menatap lurus ke arahnya. Mereka adalah para penenun bertangan kasar, pandai besi berleher kaku, petani dengan telapak kaki pecah-pecah, dan janda-janda prajurit yang suaminya membusuk di perbatasan utara tanpa nama di nisan. Tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada genderang perang yang ditabuh liar. Udara dipenuhi keheningan yang begitu pekat sampai-sampai derit gesekan engsel besi dari jeruji tahanan di bawah tanah terdengar menyayat telinga, merambat naik melalui celah-celah bebatuan alun-alun laksana rintihan arwah yang belum sempat disembahyangkan.
"Hari ini bukan hari pemenggalan kepala demi memuaskan dahaga dendam," bisik Ghalib kepada dirinya sendiri, kata-kata yang ia bisikkan berulang kali layaknya mantra pengusir setan di dalam kepalanya. Tangannya yang sedikit gemetar menyentuh gulungan perkamen baru yang bertinta jelaga pekat—Kitab Hukum Rakyat yang lembarannya belum lagi kering. Di samping perkamen itu, bersemayam sebuah benda pusaka yang membuat bulu kuduk setiap orang yang mendekat meremang: Batu Kejujuran Isyraqiyya.
Batu itu sebesar kepala manusia, bersudut-sudut tajam seperti bongkahan kuarsa hitam pekat yang ditemukan di palung terdalam danau kawah terlarang. Ketika diletakkan di atas meja, batu itu membiaskan cahaya remang fajar dengan pendaran biru safir yang dingin, tenang, dan menusuk kalbu. Namun semua orang di alun-alun itu tahu legenda kelamnya: jika ada lidah yang mengucap kepalsuan di hadapannya, urat-urat gaib di dalam kristal itu akan berdenyut merah menyala laksana darah segar yang mendidih di atas bara api, memanggang kebohongan hingga telanjang di hadapan semesta.
Di sisi kanan meja hakim, duduk Darma Setya. Tubuh pandai besi itu gempal dan berotot, mengenakan celemek kulit sapi yang masih berbekas noda api tempaan. Janggutnya kelabu dipotong pendek, dan sepasang matanya yang cokelat gelap tidak berkedip menatap barisan bangsawan yang meringkuk di bawah penjagaan ketat. Di pangkuan Darma, bertengger martil pandai besi berbobot sepuluh kati—bukan sebagai senjata pembunuh, melainkan sebagai simbol palu juri rakyat. Sesekali jempolnya yang kapalan mengusap gagang kayu yang licin oleh keringat dinginnya sendiri. Ketegangan menggantung di udara seperti seutas benang sutra tipis yang menahan sebilah pedang berkarat.
"Lihatlah mereka, Ghalib," gumam Darma dengan suara rendah dan parau yang hanya dapat didengar oleh mereka yang berdiri di atas panggung. Nafasnya mengembus uap putih ke udara pagi yang beku. "Bulu-bulu musang di jubah sutra mereka basah oleh kabut. Mereka terbiasa mencium bau wewangian kayu cendana dan safron di kamar tidur beludru Nurul Iman. Sekarang mereka harus menghirup bau kotoran kuda dan napas orang lapar. Jika kau membiarkan salah satu dari mereka lolos dengan lidah emasnya, rakyat tidak akan menghancurkan istana itu—mereka akan merobek meja ini dan kita bersama mereka."
"Keadilan bukan tontonan pembantaian serigala di kandang domba, Darma," jawab Ghalib tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun sarat keteguhan yang membaja. Tatapannya terpaku pada gerbang bawah tanah istana yang perlahan berderit terbuka. "Jika kita membunuh mereka hanya karena kita membenci wajah mereka, maka kita tidak sedang menegakkan hukum baru. Kita hanya memindahkan mahkota tiran Danadyaksa ke atas kepala kita sendiri. Dan demi Tuhan yang menguasai langit Antah Berantah, aku tidak akan membiarkan fajar ini dinodai oleh kebiadaban yang sama."
Darma mendengus pelan, rahangnya mengeras. "Mudah bagimu berkata demikian dengan pena di tanganmu, Sahabatku. Namun di dadaku, ada jeritan anak-anak perbengkelan yang mati kedinginan saat bengkel mereka disegel pemungut pajak. Kita lihat saja apakah batu terkutuk itu sanggup membedakan antara darah dan tinta."
Suara derap langkah kaki bersandal besi memecah keheningan alun-alun. Dari lorong batu yang gelap di bawah bayang-bayang lengkungan gerbang utama Istana Nurul Iman, dua baris prajurit pengawal rakyat berbaris keluar. Di tengah-tengah mereka, dikawal dengan rantai besi berat yang menyeret tanah basah, melangkah sosok yang pernah membuat separuh negeri bergetar hanya dengan denting sarung pedangnya: Jenderal Bhadrika.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Babak II: Nyala Merah Batu Isyraqiyah
Mimbar Sidang Utama · Pagi Hari · Cahaya Dingin Menyusup Kabut. Jenderal Bhadrika berdiri di hadapan meja sidang rakyat. Interogasi memuncak ketika Batu Isyraqiyah membongkar rahasia pembantaian tambang utara dan surat perintah tersembunyi.
༻❖༺
Jenderal Zafran Al Quruz telah kehilangan segala atribut kemegahannya. Baju zirah lempeng perak berlapis lambang rajawali emas yang dahulu disanjung oleh para penyair istana telah dilucuti, digantikan oleh tunik lena usang berwarna abu-abu yang compang-camping di bagian kelimnya. Kedua pergelangan tangannya dipasung gelang besi tebal yang dihubungkan rantai kasar ke pinggangnya. Rambutnya yang mulai beruban tampak kusam dan basah oleh keringat dingin, menempel di pelipisnya yang dipenuhi guratan luka sayat pedang dari masa-masa perang saudara.
Namun yang paling mengerikan bukanlah kerapuhan fisiknya, melainkan sepasang matanya. Mata sang jenderal adalah sepasang sumur mati: cekung, gelap, dan menyimpan keletihan purba dari seorang prajurit yang telah terlalu sering melihat darah tertumpah sia-sia. Ketika ia menjejakkan kakinya ke atas lantai kayu tempat terdakwa berdiri, pandangannya bersirobok dengan Ghalib. Ada keterkejutan sesaat yang melintas di pupil Bhadrika—sebuah getaran halus yang membuat bibirnya yang pecah-pecah sedikit berkedut—sebelum kemudian ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap papan kayu di bawah kakinya dengan kepasrahan yang membekukan darah.
"Zafran Al Quruz dari Wangsa Jayantaka," suara Ghalib bergema di seluruh penjuru alun-alun, jernih dan berwibawa, dipantulkan oleh dinding-dinding batu istana yang dingin. "Kau berdiri di hadapan perwakilan rakyat Kerajaan Antah Berantah. Bukan di hadapan majelis bangsawan tertutup yang bisa disumpal keping emas, bukan pula di hadapan algojo yang haus penggalan leher. Kau didakwa atas kejahatan perang, pembakaran pemukiman di Lembah Salju, dan penindasan berdarah terhadap serikat penambang di Tambang Utara tujuh tahun silam."
Sunyi kembali menelan kerumunan. Angin pagi berembus membawa aroma belerang dari cerobong pandai besi kota bawah dan bau lumut basah dari parit istana. Di atas meja, Batu Kejujuran Isyraqiyya memancarkan denyutan biru muda yang tenang, bagai riak air di danau yang membeku.
Ghalib mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua matanya menatap tajam ke kedalaman jiwa Bhadrika. "Sebelum kau menjawab dakwaan ini, sentuhkan kedua telapak tanganmu pada lingkaran tembaga di hadapanmu, yang terhubung langsung ke urat kristal Isyraqiyah. Ketahuilah, batu ini tidak mengenal pangkat, tidak mengenal sanjungan, dan tidak dapat dibeli dengan janji surga. Jika kata-katamu menyembunyikan dusta, apinya akan membakar nuranimu dan menyala merah di hadapan sepuluh ribu saksi."
Zafran Al Quruz mengangkat tangannya yang terbelenggu. Gemerincing rantai terdengar bagai dentang lonceng kematian. Dengan gerakan lambat yang menandakan kepasrahan total, ia meletakkan kedua telapak tangannya yang kapalan dan penuh parut luka bakar ke atas pelat tembaga. Seketika itu juga, permukaan batu kristal Isyraqiyah bergetar halus. Pendaran biru safirnya beriak, lalu stabil kembali dalam ketenangan yang menipu.
"Jenderal Zafran Al Quruz," Ghalib memulai dengan napas yang diatur perlahan agar gejolak amarah pribadinya tidak merembes keluar. "Apakah kau mengakui bahwa pada malam purnama musim dingin tahun ketujuh belas pemerintahan Danadyaksa, kau secara sadar memerintahkan Pasukan Sayap Hitam untuk membakar barak-barak buruh di Tambang Utara dan menutup lorong ventilasi tambang selagi ratusan pekerja masih terjebak di dalamnya?"
Pertanyaan itu jatuh laksana batu besar ke dalam telaga sunyi. Di barisan juri rakyat, Darma Setya mencengkeram martilnya begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Di kerumunan jelata, beberapa perempuan terdengar terisak tertahan, mengingat sanak saudara mereka yang tak pernah kembali dari perut bumi Tambang Utara.
Bhadrika mengangkat kepalanya perlahan. Ekspresi wajahnya yang semula kaku bagai topeng batu mulai retak. Kerutan di dahinya bergetar hebat, dan otot rahangnya mengetat seakan ia sedang menelan duri berbisa. "Aku..." suaranya serak dan pecah, seperti suara gesekan dua batu asah di tengah padang pasir. "Aku bertindak atas sumpah setia militer kepada takhta. Aku tidak berniat membakar manusia hidup-hidup. Laporan intelijen menyatakan ada pemberontakan bersenjata yang berniat meracuni pasokan air istana dari lorong tambang itu. Aku hanya menjalankan protokol pengamanan perbatasan."
---
DZZZZZZT!
---
Belum sempat napas sang jenderal selesai dihembuskan, Batu Isyraqiyah berdenyut liar! Pendaran biru safirnya seketika sirna, digantikan oleh kobaran merah menyala yang pekat dan bergolak seperti lava gunung berapi. Sinar merah darah itu menerpa wajah Bhadrika, menyingkapkan peluh dingin yang mengalir deras dari dahinya dan memantul di mata ribuan jelata yang serentak menahan napas.
"Batu itu mendidih!" teriak seorang petani dari barisan depan dengan suara tercekat. "Dia berbohong! Algojo, seret dia ke tiang gantungan!"
"Tenang!" gertak Ghalib seraya mengangkat tangan kirinya ke udara, sementara tangan kanannya tetap menekan Kitab Hukum Baru. Aura ketegasan hakim agung terpancar dari tubuhnya, menundukkan riak kerusuhan yang hendak meledak. Matanya menyipit, menatap lurus ke dalam pupil Bhadrika yang membesar dalam ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan. "Batu Isyraqiyya tidak pernah salah, Jenderal. Kau berbohong tentang alasanmu. Bicaralah yang sebenarnya, atau biarkan api kristal ini memanggang urat nadimu hingga kau kehilangan akal budi!"
Rasa panas yang menjalar dari pelat tembaga membuat napas Zafran Al Quruz memburu. Tubuhnya tersentak ke depan, punggungnya melengkung menahan siksaan metafisik dari kejujuran yang dipaksakan. Air mata yang telah ia tahan selama bertahun-tahun akhirnya jebol membasahi pipinya yang kotor.
"Cukup... lepaskan aku dari rasa terbakar ini..." rintih Zafran Al Quruz, suaranya kini terdengar begitu rapuh, kehilangan segala sisa keangkuhan seorang panglima tertinggi. "Aku tahu... aku tahu tidak ada pemberontakan di sana! Demi para bangsawan yang telah meninggalkan negeri ini, aku tahu!"