Farihah Nashihah dan Ghalib Al Fathan memimpin langsung pembongkaran gudang emas dan gandum rahasia milik Danadyaksa di perbukitan tengah. Berkarung-karung beras, gandum, dan obat-obatan yang ditimbun selama bertahun-tahun dikeluarkan dengan gerobak-gerobak besar. Ratusan keluarga petani yang tanahnya dirampas oleh tuan tanah menerima kembali sertifikat kepemilikan tanah mereka yang sah.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
Bagian I: Kabut Nurul Iman dan Gema Besi Dingin
༻❖༺
Malam itu, dingin menyergap ruang tanpa permisi, mengubah sisa napas yang lolos dari celah bibir menjadi kepulan embun pucat yang membekukan harapan dan kejujuran. Di kejauhan, menjulang angkuh di atas bukit batu kapur yang gundul, Istana Nurul Iman tegak laksana raksasa purba yang sedang mengawasi mangsanya dalam tidur semu. Marmer kelabu dindingnya memantulkan sinar rembulan yang keruh, terpotong oleh sulur-sulur menara lancip yang menusuk langit malam tanpa bintang. Nama itu—Nurul Iman, Cahaya Keyakinan—selalu terdengar seperti kutukan yang diludahi ke muka orang-orang lapar. Betapa megahnya gerbang berkubah timah hitam itu, betapa anggunnya pelataran bertingkat sembilan tempat para bangsawan biasa menyiramkan wewangian mawar ke lantai marmer agar hidung mereka tak terganggu oleh bau busuk jelata yang mati kelaparan di kaki benteng.
Di balik bayang yang merayap di lembah, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Angin gunung yang meluncur turun dari lereng utara membawa desau yang ganjil: bukan hanya gesekan daun pinus yang meranggas, melainkan semacam erangan tertahan yang telah meresap ke dalam pori-pori tanah sejak bertahun-tahun silam. Tanah ini tidak pernah benar-benar sunyi; ia menyimpan ratapan anak-anak pengungsi yang kerongkongannya kering tercekik debu, menanti segenggam jelai yang tak kunjung tiba sementara lumbung-lumbung penguasa dikunci dengan rantai bertuah.
Farihah merapatkan mantel bulu serigala tua yang tepiannya sudah robek compang-camping. Jemarinya yang ramping namun kasar oleh kapalan mencengkeram gagang obor damar yang masih padam. Sepasang matanya yang cokelat gelap menatap tajam ke arah ceruk tebing Lembah Emas, tempat sebuah pintu besi berkepala garuda tertimbun longsoran batu dan semak berduri. Di sampingnya, Ghalib berdiri kaku laksana patung kuburan. Mantel kavaleri hitam milik sang mantan komandan garnisun masih menyisakan bekas jahitan kasar tempat lambang kekaisaran pernah disobek paksa dengan belati.
"Kau yakin ini pintunya, Ghalib?" bisik Farihah. Suaranya serak, bergetar bukan oleh gigilan hawa sedingin belati es, melainkan oleh amarah yang menggelegak di dasar dadanya. "Brankas yang disumpah Danadyaksa tidak pernah ada di hadapan Dewan Kota?"
Ghalib tidak langsung menjawab. Rahang pria itu mengeras, urat-urat di pelipisnya berdenyut lambat di bawah temaram lentera badai yang ia jinjing. Tangannya yang mengenakan sarung kulit rusa meraba sebuah anak kunci besi berlumur minyak hitam—kunci sepanjang lengan bawah manusia yang berukirkan tiga mata rantai terputus. "Danadyaksa tidak pernah bersumpah demi kebenaran, Farihah. Dia bersumpah demi kepatuhan perut yang lapar. Istana Nurul Iman berdiri kokoh di atas bukit itu bukan karena berkah langit, melainkan karena brankas di bawah kaki kita ini menelan seluruh darah dan keringat negeri."
Ghalib melangkah maju. Sepatu lars besinya menekan kerikil beku dengan suara gemeretak yang ngilu. Sunyi seketika menjadi begitu pekat, seolah malam sendiri sedang menahan napasnya untuk menyaksikan dosa terbesar kekaisaran dirobek dari perut bumi.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian II: Rongga Brankas dan Bau Gandum Busuk
༻❖༺
Ghalib memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang selongsong besi yang tersembunyi di balik tumpukan batu lumut. Logam berkarat berderit pedih saat diputar, memekakkan telinga seperti lolongan anjing liar yang terjepit pintu jebakan. Dari dalam rongga, sebuah mekanisme roda gigi raksasa bergerak lambat; getarannya merambat naik melalui sol sepatu mereka, mengguncang bebatuan kapur di dinding tebing. Engsel pintu terlarang itu akhirnya menyerah, membuka celah selebar tiga depa yang langsung memuntahkan embusan udara purba: aroma campuran antara gabah kering berdebu, kapur tohor, kemenyan pengawet, dan bau dingin yang anyir seperti ruang bedah yang lama ditinggalkan.
Detak jantung Farihah beradu liar dengan sunyi yang menindih, mengungkap luka lama yang terkubur abadi di relung batinnya. Tujuh tahun silam, di malam panen raya yang berlumur darah di Lembah Merah, ayahnya mati terikat di tiang lumbung desa karena dituduh menyembunyikan dua gantang gandum dari petugas pajak Danadyaksa. Malam itu, aroma yang sama mengapung di udara—aroma gandum yang disimpan rapat di balik punggung orang-orang yang mati memohon sekerat kerak roti. Farihah memejamkan mata sesaat; di balik kelopak matanya yang berkedut, jeritan ibunya kembali membelah malam, menuntut tebusan yang tak pernah mampu dibayar oleh air mata.
"Nyalakan apinya," bisik Farihah seraya mengusap tengkuknya yang meremang.
Dua lusin pemuda desa dan mantan buruh tambang yang mengekor di belakang mereka serempak mengayunkan pemantik batu. Lidah-lidah api menyala, menari-nari di ujung obor damar dan seketika menerangi kemegahan yang mengerikan di dalam perut bukit. Puluhan pasang mata terbelalak, tak sedikit yang terkesiap hingga lutut mereka mencium lantai granit yang berdebu tebal.
Di hadapan mereka, membentang lorong kubah sepanjang ratusan langkah yang dipadati oleh karung-karung gandum setinggi atap katedral. Karung-karung jerami dan rami itu terikat rapi dengan segel timah merah berlambang Danadyaksa. Di samping dinding batu, tersusun ratusan peti kayu jati berpaku kuningan yang terbuka sebagian, memuntahkan timbunan koin perak tua, batangan emas cetak kekaisaran, guci-guci minyak zaitun murni, serta botol-botol kristal berisi ekstrak akar kina dan balsam penyembuh luka yang selama musim wabah lalu dijual seharga tanah pusaka keluarga.
"Lihatlah ini..." bisik Jarot, seorang pemuda desa bertubuh kurus kering yang pergelangan tangannya masih membiru bekas rantai kerja paksa. Tangannya yang gemetar menyentuh salah satu karung gandum terluar. Ketika ujung kuku Jarot mengoyak serat kain rami itu, butiran-butiran gandum kuning keemasan yang padat dan wangi mengucur deras ke lantai, berkilau di bawah jilatan api obor. "Tiga musim tanam kami memakan bubur batang pisang dan kulit pohon... sementara bajingan-bajingan istana menimbun ini di sini sampai berjamur di sudut belakang!"
"Bukan hanya berjamur, Jarot," potong Ghalib dengan suara dingin yang menusuk tulang. Pria itu melangkah menuju deretan karung di sudut terjauh, di mana sebagian tumpukan tampak menghitam dan mengeluarkan bau apak yang menyengat. "Danadyaksa memerintahkan agar sepertiga pasokan dibakar setiap musim semi jika harga gandum di pasar ibu kota mulai turun. Kelaparan buatan adalah senjata yang lebih murah daripada seribu laskar pemanah. Orang yang lapar tidak punya waktu untuk memikirkan kebebasan; mereka hanya memikirkan siapa yang melempar sisa kulit roti ke comberan."
Farihah menatap Ghalib lekat-lekat. Dalam temaram cahaya obor, bayang-bayang di lekuk pipi pria itu tampak begitu suram, menyiratkan rahasia yang jauh lebih busuk daripada timbunan gandum yang membusuk itu. "Dan kau tahu tentang semua ini sejak dulu, bukan, Komandan? Kau tahu pintu ini, kau tahu kuncinya, dan kau tahu jadwal pembakaran itu saat kau masih berseragam beludru emas di istana."
Ghalib membeku. Tangannya yang masih memegang anak kunci perlahan terkulai lemas di sisi pinggangnya, seolah besi itu mendadak memiliki bobot seribu batu nisan.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian III: Abu Riba dan Garis Tanah