Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Ancaman Dari Seberang Laut

Kedamaian rapuh yang baru dirintis diuji oleh kedatangan armada kapal perang Kekaisaran Seberang Laut di Pelabuhan Teluk Mutiara. Komandan armada menunjukkan dokumen pakta berlumur racun rahasia yang diteken mendiang Pangeran Walid, menuntut penyerahan tambang perak dan konsesi pelabuhan bebas pajak, atau benteng pesisir akan dilumatkan oleh meriam tembaga. Di antara marmer dingin Nurul Iman dan amukan gelombang karang purba, Ghalib Al Fathan dan Farihah Nashiha harus menghadapi bayang-bayang pengkhianatan masa lalu yang terkubur abadi.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

Bagian I: BAYANG-BAYANG NURUL IMAN

Dingin yang Menyergap Ruang dan Rahasia Lilin Merah. Lokasi: Ruang Sidang Khusus, Istana Nurul Iman

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik pilar-pilar marmer hitam Istana Nurul Iman, bayang-bayang merayap laksana sulur jelatang beracun, seolah setiap jengkal dinding batu adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk perlahan di bawah karpet beledu merah pualam.

Malam baru saja merangkak melewati puncaknya, namun di dalam Ruang Sidang Rahasia, kegelapan terasa jauh lebih pekat daripada pekatnya langit di luar kubah tembaga. Lentera-lentera minyak ikan paus berderak lirih, menjilat udara yang pengap oleh aroma lilin lebah, tinta basi, dan ketakutan para lelaki tua yang tak lagi memiliki keberanian untuk menatap jendela.

Di atas meja bundar dari kayu cendana hitam berukir naga laut, sebuah perkamen terbentang kaku. Segel lilin merah darah di sudut kanannya telah retak, memperlihatkan cap lambang rajawali berkepala dua—lambang takhta Kekaisaran Seberang Laut—bersanding dengan goresan cincin meterai milik mendiang Pangeran Walid.

Ghalib berdiri tegak di sisi barat meja, jubah perangnya yang berwarna abu-abu arang berbau logam dingin dan asap mesiu lama. Kedua tangannya bertumpu pada hulu pedang berpamor perak yang tersarung rapat di pinggang kirinya. Rahangnya terkatup rapat hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut bagai tali busur yang direntangkan melampaui batas.

"Dua belas ribu keping emas batangan, hak monopoli atas seluruh urat perak di Bukit Singa Putih selama tiga dasawarsa, serta pembebasan bea masuk tanpa batas bagi armada kapal dagang Seberang Laut di Teluk Mutiara," suara Ghalib mengalir rendah, serak, menusuk keheningan laksana ujung belati yang diseretkan di atas kaca es. "Inilah harga yang dipatok oleh seorang pangeran pengkhianat untuk menjual tanah airnya sendiri. Dan kalian... kalian para tetua istana, mengetahui aib ini sejak tiga purnama lalu?"

Di seberang meja, Mahapatih Kertanadi menggigil. Tangannya yang berbintik-bintik cokelat karena usia tua meremas tasbih giok dengan kepanikan yang tak sanggup lagi ia tutupi. Bibirnya yang pucat bergetar, membiarkan embun napasnya melayang tipis di udara dingin yang menusuk tulang rusuk.

"Panglima Ghalib... dengarkan nalar," bisik Kertanadi, suaranya tercekat di kerongkongan. "Rezim mendiang Walid kala itu sedang terdesak di ambang keruntuhan. Pasukannya kekurangan amunisi, perbendaharaan kosong melompong. Ia membutuhkan sekutu militer untuk menahan pemberontakan para petani di lembah selatan. Kami tidak pernah menyangka... kami bersumpah demi makam leluhur, kami tidak pernah menyangka bahwa utusan kekaisaran itu benar-benar akan datang dengan membawa armada perang bersenjata lengkap ke Teluk Mutiara!"

"Kalian tidak menyangka, atau kalian sengaja menutup mata karena separuh dari pinjaman emas itu mengalir ke peti-peti pribadi bangsawan di sayap timur istana ini?" tuding Ghalib tanpa berkedip. Tatapannya menghunjam tepat ke pupil mata sang Mahapatih yang membesar oleh teror.

Detak jantung di dalam ruangan itu beradu dengan sunyi, membuka kembali luka lama yang terkubur abadi di bawah fondasi Nurul Iman. Setiap tarikan napas terasa getir. Istana megah ini, yang dinamai sebagai lambang cahaya keimanan dan perlindungan bagi rakyat Antah Berantah, ternyata tak lebih dari sebuah monumen megah yang menutupi kuburan kepalsuan para aristokratnya.

Di sudut terjauh ruangan, di mana bayang-bayang pilar obsidian bertaut paling pekat, seorang wanita melangkah maju tanpa suara. Gaun sutra kelabunya meluncur di atas lantai marmer tanpa menimbulkan desau sedikit pun. Farihah.

Rambut hitam panjangnya terikat longgar dengan seutas tali anyaman rumput laut kering. Wajahnya pualam, tanpa riasan, namun di sepasang matanya yang berwarna biru jelaga terpancar sesuatu yang lebih purba daripada dinding-dinding batu istana. Tangannya yang ramping tersembunyi di balik lengan baju yang lebar, namun Ghalib dapat melihat jemari lentik itu gemetar halus—bukan karena dingin, melainkan karena getaran magis yang mulai bergejolak di dalam sirkulasi darahnya.

"Mendiang Walid tidak pernah bertindak sendirian, Ghalib," kata Farihah perlahan. Suaranya jernih, bagai tetesan air yang jatuh ke dalam sumur tua tak berdasar. "Ketika ia menorehkan darahnya pada lilin merah ini, ia tidak hanya menandatangani perjanjian dagang fana. Ia menjual sesuatu yang bukan miliknya. Ia menjanjikan karang laut dalam yang selama seribu tahun telah menjadi penjaga perairan kita."

Kertanadi tersentak mundur, lututnya membentur pinggiran kursi bertatahkan gading. "Putri Farihah... jangan sebut-sebut kutukan itu di ruangan ini! Dewan telah sepakat untuk mengubur takhayul masa lalu!"

"Takhayul?" Farihah tersenyum dingin, senyum getir yang menyayat hati siapa pun yang memandangnya. Sepasang matanya menatap tajam sang Mahapatih hingga orang tua itu menundukkan kepala dengan rasa malu bercampur ngeri. "Kalian menyebut perlindungan para leluhur sebagai takhayul saat kalian membutuhkan uang mereka, dan kalian menyebutnya kutukan saat kalian harus membayar tagihannya. Di bawah benteng Teluk Mutiara, karang-karang purba telah mencium aroma belerang dan besi asing sejak mentari terbenam petang tadi. Mereka resah, Kertanadi. Dan jika mereka bangun dalam kemarahan yang buta, bukan hanya kapal-kapal asing itu yang akan ditenggelamkan, tetapi seluruh pesisir Antah Berantah akan diseret ke palung terdalam."

Ghalib menghela napas panjang. Dingin yang menusuk kini merayap naik ke dadanya, mempertemukan kemarahan seorang prajurit dengan kecemasan batin yang nyaris tak tertahankan. Sebagai pemimpin pemerintahan transisi yang baru berusia hitungan pekan, pundaknya dibebani oleh jutaan nyawa rakyat jelata yang baru saja mulai mengecap aroma roti tanpa ketakutan diperas pajak zalim. Jika perang pecah malam ini, tanah yang baru dibasuh kemerdekaan itu akan kembali bersimbah darah.

Ia meraih gulungan pakta palsu itu dengan gerakan mantap, melipatnya, lalu menyematkannya ke dalam lipatan rompi pelindungnya. Logam cap lilin terasa sedingin es di balik kain dadanya.

"Siapkan kereta kuda tanpa lentera di gerbang barat," perintah Ghalib kepada pengawal di ambang pintu. "Kita berangkat ke Teluk Mutiara sekarang juga."

"Tapi Panglima!" ratap Kertanadi panik, berusaha meraih ujung jubah Ghalib dengan tangan gemetar. "Armada asing itu membawa tiga ratus laras meriam tembaga berdaya hancur tinggi! Komandan mereka telah mengultimatum: jika fajar menyingsing tanpa ada penyerahan kunci tambang dan pelabuhan, mereka akan meratakan Benteng Pesisir dan membombardir mercusuar hingga luluh lantak! Kau tidak bisa pergi hanya dengan selusin pengawal! Ini adalah bunuh diri politik!"

Ghalib berhenti di depan pintu besar berukir sulur teratai. Tanpa membalikkan badan, suaranya terdengar dingin, menggempar ke seluruh sudut kubah marmer:

"Kerajaan ini pernah dipimpin oleh para pengecut yang menandatangani perbudakan rakyatnya di atas meja makan mewah ini, Mahapatih. Malam ini, biar seorang jenderal dan penjaga karang yang menunjukkan kepada mereka bagaimana orang merdeka menyambut perompak bertopeng laksamana."

°˖✧༺♕༻✧˖°

Bagian II: DERAK KERETA MENUJU TELUK MUTIARA

Menembus Kabut Racun dan Gemuruh Benteng Pesisir. Lokasi: Jalan Tebing Curam Menuju Pelabuhan Teluk Mutiara.

༻❖༺

Derak roda kereta kuda berkeretak parau saat membentur batu-batu karang yang licin oleh lumut dan embun asin. Kabut pesisir merayap turun dari tebing-tebing terjal laksana kafan raksasa yang menyelimuti punggung bukit, menelan pepohonan bakau dan jurang-jurang menganga di sisi jalan setapak.

Di dalam kabin sempit kereta yang berayun keras, keheningan terasa begitu pekat hingga detak jantung Ghalib dan Farihah seakan beradu dengan deru ombak yang menghantam kaki-kaki tebing di kejauhan. Tak ada kata yang terucap selama satu jam perjalanan. Hanya ada bau garam busuk yang bercampur dengan anyir lumut laut yang terbawa angin malam.

Ghalib menatap wajah Farihah yang diterangi remang-remang lampu badai di luar jendela kereta. Kulit wanita itu tampak semakin pias, nyaris tembus pandang di bawah sapuan cahaya redup. Bibirnya yang biasanya merah delima kini membiru pucat. Urat-urat halus berwarna keperakan mulai tampak menonjol di pergelangan tangannya, merambat laksana jaring laba-laba magis menuju pangkal jemarinya.

"Kekuatan itu... ia mulai menuntut bayarannya lagi, bukan?" tanya Ghalib pelan. Kekasaran suaranya melembut, menyiratkan kegetiran pribadi yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun di dewan istana.

Farihah menarik tangannya ke dalam lipatan selendang sutra kelabu, berusaha menyembunyikan getaran yang tak terkendali. "Laut purba tidak pernah memberi cuma-cuma, Ghalib. Nenek moyangku mengikat perjanjian darah di palung Tapak Iblis agar negeri ini selamat dari gelombang tsunami seratus tahun lalu. Sebagai gantinya, setiap generasi dari garis keturunanku harus menyerahkan denyut nadinya saat karang memanggil."

Ia menatap ke luar jendela yang berembun, matanya menerawang menembus tirai kabut tebal. "Aku bisa merasakan mereka, Ghalib. Kapal-kapal perang seberang laut itu... lambung mereka terbuat dari kayu pasak besi dan tembaga berat yang meracuni air tenang teluk kita. Tembaga itu menindih karang pelindung laksana sepatu bot berduri yang menginjak dada seorang anak kecil. Karang itu menangis dalam kegelapan. Dan jika aku melepaskan kendali batinku sedikit saja, lolongan mereka akan meretakkan batok kepalaku."

Ghalib mengepalkan tangannya di atas lutut. "Kau tidak perlu mengorbankan dirimu malam ini, Farihah. Aku yang akan menaiki geladak kapal mereka. Aku yang akan berbicara bahasa mesiu dan diplomasi baja dengan Komandan Balthazar. Simpan kekuatanmu untuk melindungi rakyat jelata di benteng jika perundingan ini gagal."

Farihah menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya berkilat tajam dengan intensitas yang mengerikan. "Kau terlalu naif jika berpikir seorang jenderal merdeka bisa menundukkan nafsu serakah kekaisaran kolonial hanya dengan kata-kata indah di atas perkamen, Ghalib! Mereka datang bukan untuk berunding. Mereka datang dengan keyakinan penuh bahwa kita adalah bangsa budak yang kehilangan tuannya setelah Walid mati. Mereka membawa tiga belas kapal tempur bertingkat tiga. Setiap meriam tembaga mereka mampu melontarkan bola besi membara sejauh dua mil laut. Tanpa bukti bahwa kita memiliki sesuatu yang melampaui logika meriam mereka, kau hanya akan pulang sebagai mayat yang dibuang ke laut dalam karung goni."

Kereta tiba-tiba mengerem mendadak dengan suara pekikan kuda yang melengking di udara basah. Roda tergelincir beberapa hasta di atas kerikil basah sebelum akhirnya berhenti total di bibir pelataran Benteng Pesisir.

Pintu kereta dibuka dari luar oleh Kapten Rustam, perwira penjaga pos teluk. Wajah perwira muda itu basah oleh keringat dingin dan air laut, helm bajanya miring, dan tangannya gemetar saat memegang obor minyak damar.

"Panglima! Syukurlah kau tiba tepat waktu!" seru Rustam terengah-engah, napasnya memburu di tengah desau angin laut yang semakin menderu kencang. "Situasi di teluk sudah berada di ujung tanduk! Kapal bendera mereka, *Leviathan Tembaga*, telah menjatuhkan sauh hanya lima ratus depa dari mulut dermaga utama. Dua kapal pengawal mereka telah mengarahkan moncong meriam lambung ke arah mercusuar api! Duta mereka telah mengirim sekoci lima belas menit lalu dengan pesan terakhir: jika perwakilan resmi istana tidak naik ke geladak mereka sebelum lonceng jam empat pagi berdentang, tembakan peringatan pertama akan meruntuhkan kubah mercusuar!"

Ghalib melangkah turun dari kereta. Begitu sol sepatu larsnya menyentuh tanah benteng, terpaan angin samudra yang dingin dan berbau garam menusuk pori-pori kulitnya tanpa ampun. Di hadapannya, panorama Teluk Mutiara terbentang dalam kemegahan yang mengerikan.

Di atas permukaan air laut yang sehitam tinta, lentera-lentera kapal perang asing berjejer laksana sepasukan raksasa bermata kuning yang sedang mengepung mangsanya. Tiga belas siluet kapal layar bertingkat tiga bergoyang lambat mengikuti irama ombak ganas. Di tengah-tengah formasi itu, menjulang kapal bendera *Leviathan Tembaga*—sebuah monster maritim dengan lambung berlapis pelat tembaga yang memantulkan kilau suram obor-obor perang. Tiga deret moncong meriam tembaga menyembul dari lubang-lubang palka yang terbuka lebar, menghadap lurus ke arah pemukiman nelayan dan benteng batu yang rapuh.

Lihat selengkapnya