Tantangan tersulit dalam rekonsiliasi nasional adalah menyatukan mantan prajurit Rajanegara dengan buruh Serikat Bara Jelata yang pernah saling bunuh. Ghalib merancang kurikulum militer baru: Garda Kedaulatan Rakyat. Di lapangan latihan, mantan pandai besi melatih prajurit zirah taktik perangkap, sementara mantan serdadu melatih buruh disiplin formasi perisai. Farihah hadir setiap sore untuk mendengarkan keluh kesah kedua belah pihak.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
### Bagian I: Dingin di Koridor Pualam Nurul Iman
Misteri Dosa Masa Lalu dan Paranoia Para Penguasa. **Lokasi:** Balkon Selatan & Koridor Dalam Istana Nurul Iman
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di balik pilar-pilar pualam putih yang menjulang pongah, Istana Nurul Iman berdiri bagaikan monolit es yang enggan membusuk, meski aroma darah kering dari dekade-dekade penindasan telah lama terserap ke dalam setiap celah nat semennya. Nama yang terdengar suci—Cahaya Keyakinan—sesungguhnya hanyalah cadar sutra tipis yang ditenun untuk menutupi borok kemunafikan wangsa Rajanegara. Di sini, cahaya tidak pernah benar-benar memberi kehangatan; ia hanya memantulkan silau permukaan marmer yang menusuk retina, menyingkap bayang-bayang kelabu yang merayap di sepanjang tirai beludru berdebu kapur barus.
Ghalib berdiri terpaku di ambang balkon selatan sayap barat istana. Kedua belah tangannya yang kasar, penuh rajutan parut akibat gesekan sarung pedang dan tali kekang kuda perang, bersandar pada langkan batu yang sedingin gletser. Di bawah sana, terbentang kabut tebal yang menyelimuti ngarai menuju Barak Agung Garuda. Detak jantungnya beradu dengan sunyi, ketukan demi ketukan yang menghantam rongga dadanya bagaikan genderang perang yang ditabuh dari dasar liang lahat. Setiap kali ia menarik napas, udara beku terasa seperti serpihan kaca yang menyayat paru-parunya, membangkitkan ingatan tentang tanah becek di Lembah Kelabu bertahun-tahun silam.
Ia masih mengingatnya dengan kejernihan yang menyiksa. Kala itu, ia adalah seorang kapten muda yang buta oleh sumpah setia kepada mahkota bertabur permata. Perintah yang turun dari aula dewan bangsawan Nurul Iman terdengar begitu anggun di atas perkamen berikat pita kirmizi: 'Tumpas para perusuh demi ketenteraman takhta.' Namun ketika pasukannya menghunus pedang tempaan istana ke leher para petani dan penambang yang hanya bersenjatakan sabit tumpul dan cangkul berkarat, tidak ada ketenteraman yang lahir. Yang tertinggal hanyalah bau amis anyir yang menempel pada baju zirahnya selama berbulan-bulan, bau yang tak pernah hilang meski telah dibasuh dengan air mawar termahal dari taman permaisuri.
"Kau masih memandangi kabut itu seolah-olah ia berutang penjelasan padamu, Panglima." Suara itu terdengar dingin, mengapung dari bayang-bayang koridor melengkung di belakang Ghalib.
Ghalib tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang melangkah keluar dari kegelapan. Aroma dupa cendana bercampur anyir samar ramuan herba terlarang adalah penanda kehadiran Farihah. Sosok perempuan itu terbungkus jubah panjang berwarna nila tua, warna malam yang kehilangan bintang. Wajahnya separuh terlindung oleh tudung sutra kasar, menyisakan sepasang mata kelabu yang tidak memancarkan rasa takut maupun belas kasihan palsu. Di balik lengan bajunya yang longgar, jari-jemari Farihah terjalin tenang, namun udara di sekitarnya bergetar halus—sebuah pertanda bahwa sihir bayangan yang bersemayam dalam darahnya senantiasa terjaga.
"Dewan Bangsawan tidak bisa tidur semalam suntuk, Farihah," sahut Ghalib dengan suara parau yang tertahan di kerongkongan. Pandangannya tetap terpancang pada lembah berkabut di kejauhan. "Lilin-lilin di menara tinggi tak pernah dipadamkan. Mereka mengintai ke arah barak bawah seolah-olah seribu hantu jelata akan merayap memanjat tebing pualam ini malam ini juga. Paranoia mereka telah menjadi wabah yang lebih mematikan daripada racun belerang."
Farihah melangkah mendekat, berhenti tepat tiga jengkal di samping Ghalib tanpa menimbulkan bunyi gesekan sol sepatu sedikit pun di atas lantai marmer. Kabut tipis yang mengambang di udara tampak membelah dengan patuh di sekeliling tubuhnya. "Mereka ketakutan bukan karena para buruh membawa senjata, Ghalib. Bangsawan Rajanegara tidak pernah takut pada senjata kasar; mereka memiliki zirah lempeng baja terbaik dan benteng berlapis tiga. Yang membuat darah para ningrat itu membeku adalah kenyataan bahwa pedang terbaikmu kini menolak menjadi anjing penjaga gerbang mereka. Ketika mantan algojo istana dan korbannya mulai duduk melingkar di atas jerami yang sama, fondasi takhta ini telah retak hingga ke akar-akarnya."
Kata-kata itu menghunjam tepat ke ulu hati Ghalib. Urat-urat di lehernya menegang, rahangnya terkatup begitu rapat hingga gerahamnya bergemeletuk. Rasa bersalah adalah belati tumpul yang terus berputar di dadanya tanpa pernah mencabut nyawanya. "Apakah mereka tahu?" bisik Ghalib pelan, hampir tak terdengar dihempas angin ngarai.
"Tentang apa?" Farihah menoleh perlahan. Sudut bibirnya tidak terangkat, namun matanya menatap tajam ke kedalaman pupil Ghalib. "Tentang dokumen rahasia di brankas bawah tanah Nurul Iman? Tentang perintah pemusnahan buruh tambang yang ditandatangani dengan stempel lilin perak keluarga perdana menteri, bukan atas nama musuh perbatasan? Ataukah tentang keterlibatanmu sendiri dalam menutup gerbang Parit Tengkorak sepuluh musim dingin yang lalu?"
Dada Ghalib tersentak hebat. Napasnya tercekat, dan untuk sesaat, dunia di sekitarnya seolah kehilangan gravitasi. Bayangan kepulan asap hitam di Parit Tengkorak mendadak membakar pelupuk matanya: tangisan anak-anak buruh, jeritan para penempa besi yang terperangkap dalam kepungan api, dan gemerincing zirah pasukannya yang berdiri tegak membisu di luar gerbang kayu yang sengaja digembok dari luar. 'Perintah dari atas,' begitulah ia menghibur nuraninya kala itu. Alibi paling pengecut yang pernah dirumuskan oleh seorang prajurit.
"Darma Setya belum mengetahuinya secara utuh," kata Ghalib, suaranya bergetar dengan kepedihan yang nyaris tak tertahankan. "Ia hanya tahu adiknya tewas dalam serbuan Garnisun Utara. Jika ia tahu bahwa pembantaian itu bukan sekadar bentrokan buta, melainkan eksekusi terencana yang dirancang di aula ini... kain yang sedang kita rajut ini tidak akan pernah selesai, Farihah. Ia akan robek berkeping-keping, dan bara jelata akan membakar seluruh negeri ini hingga menjadi debu."
Farihah mengulurkan tangannya yang pucat ke udara terbuka. Dari ujung jemarinya, helai-helai asap kehitaman meliuk halus, menari di tengah embun pagi bagaikan benang sutra gaib. "Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk, Ghalib. Kau tidak bisa menenun perdamaian di atas tumpukan bangkai kebohongan. Cepat atau lambat, tanah akan memuntahkan tulang-belulang yang terkubur, dan ketika saat itu tiba, kau harus memilih: membiarkan dirimu hancur oleh kebenaran, atau membiarkan sumpah barumu menjadi lelucon berdarah berikutnya."
Ghalib memejamkan mata. Di dalam kegelapan pandangannya, ia melihat wajah-wajah para serdadu muda di barak bawah—pemuda-pemuda yang lahir dari rahim gubuk jerami maupun dari rumah-rumah batu garnisun. Mereka tidak bersalah atas kerakusan para bangsawan. Tangannya mencengkeram hulu pedang di pinggangnya, merasakan dinginnya baja yang telah kehilangan nafsu membunuh. "Hari ini kurikulum Garda Kedaulatan Rakyat harus diuji di Lapangan Garuda," ucapnya dengan tekad yang lahir dari keputusasaan. "Jika kita gagal menyatukan mereka di atas lumpur barak, istana terkutuk ini akan menelan kita semua dalam perang saudara kedua."
°˖✧༺♕༻✧˖°
### Bagian II: Lumpur, Besi, dan Desis Dendam di Barak Garuda
Penyatuan Dua Kekuatan Berseberangan di Lapangan Latihan. **Lokasi:** Barak Agung Garuda & Lapangan Latihan Gabungan
༻❖༺
Turun dari punggung bukit terjal menuju pelataran Barak Agung Garuda terasa seperti melangkah dari liang makam yang dingin langsung ke dalam mulut tungku yang membara. Bau lumpur basah yang diinjak ribuan pasang sepatu bot beradu tajam dengan jelaga batu bara, minyak pelumas baja, dan bau apak keringat ratusan lelaki yang tubuhnya terbiasa dengan kekerasan. Lapangan latihan gabungan yang luasnya membentang seluas tiga kali lapangan upacara kerajaan itu terbelah menjadi dua warna mencolok yang saling bertentangan secara naluriah.
Di sisi utara, berbaris rapi kompi-kompi mantan prajurit Garnisun Utara Rajanegara. Mereka berdiri tegak dalam balutan zirah lempeng baja kelabu kusam, helm tempur terbuka menampakkan wajah-wajah dingin berbekas luka perang, dengan perisai oval bersepuh perunggu yang ditancapkan sejajar ke dalam tanah berlumpur. Sikap mereka kaku, gerak-gerik mereka terkunci oleh doktrin militer feodal selama puluhan tahun yang memandang kepatuhan buta sebagai kebajikan tertinggi.
Sementara di sisi selatan, berkumpul ratusan anggota Serikat Bara Jelata. Kebanyakan dari mereka bertelanjang dada di balik rompi kulit kasar bertambal paku besi, lengan-lengan berotot liat legam oleh asap tempaan bengkel dan debu tambang. Mereka tidak memegang pedang standar kerajaan; senjata mereka adalah perkakas kerja yang diubah menjadi instrumen maut: palu godam pemecah batu karang, parang panjang penebas rotan, dan gancu pengait berujung gerigi. Mereka tidak berbaris lurus layaknya pion catur ningrat; mereka jongkok, berdiri melingkar, dengan mata liar yang waspada bagaikan kawanan serigala gunung yang mencium aroma musuh bebuyutan.
Di tengah lapangan itulah Ghalib berdiri, didampingi oleh Darma Setya. Jika Ghalib adalah sosok pohon beringin tua yang kokoh menahan badai, maka Darma Setya adalah batu karang hitam yang ditempa ombak berapi. Kulit wajah Darma kasar bagaikan kulit kayu jati, alisnya lebat menaungi sepasang mata cokelat gelap yang tak pernah berkedip lama. Celemek kulit pandai besinya masih tergantung di tubuhnya, penuh bercak arang yang telah menyatu dengan serat kulit.
"Kurikulum barumu ini adalah lelucon berbahaya, Ghalib," geram Kapten Seno, perwira veteran Garnisun Utara yang melangkah maju dengan langkah tegap berdentang. Tangannya tak pernah beranjak jauh dari gagang pedang panjangnya. Bekas luka tebasan pedang di pipi kirinya berkerut saat ia meludah ke tanah becek. "Kau menyuruh kami—prajurit zirah kehormatan mahkota—untuk merangkak di dalam comberan dan belajar memasang jerat tali pohon dari sekumpulan buruh tambang yang bahkan tidak tahu cara membedakan salam komando dengan teriakan pasar malam? Ini penghinaan bagi tradisi militer berabad-abad!"
Sebelum Ghalib sempat membuka suara, tawa mengejek meledak dari barisan buruh. Keling si penempa muda melangkah keluar dari kerumunan, memutar-mutar linggis pendek bergerigi di tangannya dengan ketangkasan yang mengerikan. "Tradisi kehormatan pantatmu, Prajurit Zirah!" sembur pemuda itu, matanya berkilat liar penuh kebencian yang mendidih. "Kehormatanmu itu terkencing-kencing di Lembah Kelabu ketika formasi perisai megahmu terjerumus ke dalam lubang jerat belerang kami! Zirah lempengmu yang berkilau itu hanyalah peti mati berjalan seharga seratus koin emas jika kau terjebak di rawa-rawa tanpa budak-budak pelayanmu!"
Suasana lapangan seketika membeku. Kata 'Lembah Kelabu' bagaikan pemantik api yang dilemparkan ke tumpukan bubuk mesiu kering. Lusinan prajurit garnisun langsung mencabut belati mereka separuh jalan dari sarungnya; benturan logam berdenting memekakkan telinga. Di seberang, kaum jelata serentak mengacungkan palu godam dan rantai besi, otot-otot lengan mereka mengeras, siap menerjang maju untuk merobek tenggorokan mereka yang pernah membantai sanak saudara mereka.