Farihah Nashiha mengundang perwakilan seluruh lapisan masyarakat ke Ruang Meja Bundar: pelayan istana, buruh tambang, petani gandum, tabib desa, pedagang pasar, serta mantan sarjana istana. Mereka duduk sejajar merumuskan Konstitusi Daun Lontar Baru yang membatasi wewenang monarki dan menjamin hak hidup layak bagi setiap warga. Farihah Nashiha menegaskan bahwa takhta tidak boleh lagi menjadi alat penindasan.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
Bagian I: Embun Dingin di Rongga Nurul Iman
Ketika dinding pualam bernapas hawa kuburan dan detak jantung beradu sunyi
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun tipis yang membekukan harapan dan kejujuran di ujung lidah. Di Ruang Meja Bundar sayap Mahameru, kemegahan Istana Nurul Iman terasa bukan seperti tempat bernaungnya kemuliaan para raja, melainkan liang lahat raksasa yang dilapisi lembaran emas dan pualam obsidian. Setiap embusan angin yang menyelinap lewat kisi-kisi jendela tembaga terdengar bagai tarikan napas terakhir orang-orang sekarat yang pernah diseret melintasi koridor tak berujung itu.
Nama "Nurul Iman"—Cahaya Keyakinan—terpahat megah di gerbang agung dengan huruf kawi bersepuh perak. Namun bagi siapa pun yang pernah menghirup udara di balik tembok setebal tiga depa ini, nama itu adalah ejekan paling kejam yang pernah diciptakan manusia. Cahaya di istana ini tidak pernah bersumber dari keimanan ataupun welas asih, melainkan dari ribuan lilin lemak paus yang menyala redup di tempat lilin bercabang tujuh, menjilat dinding batu yang senantiasa berkeringat air garam bercampur noda karat.
Farihah berdiri mematung di sisi meja bundar yang dipahat dari batu basal Mahameru. Tangannya yang ramping menempel pada permukaan batu yang dingin bagai es gletser. Di bawah telapak tangannya, ia dapat merasakan getaran halus yang tak kasat mata—dengung magis dari pondasi istana yang konon dipasak dengan mantra pengikat jiwa para budak pendiri kerajaan. Detak jantung Farihah beradu dengan sunyi yang menindih, seirama dengan tetesan air lambat dari langit-langit kubah yang menjatuhkan titik-titik beku ke lantai pualam.
Ia tidak mengenakan mahkota pusaka bertatahkan zamrud yang biasa membebani kepalanya. Mahkota itu telah ia letakkan di atas bantal beludru hitam di sudut ruangan—seonggok logam dingin yang bagi Farihah berbau anyir darah kering. Pagi buta ini, sebelum fajar menyapu kabut beracun yang menggelayut di atas lembah, Farihah tahu bahwa setiap detik yang merayap adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang telah membusuk selama tiga generasi.
Di luar jendela tinggi, siluet menara penjaga tampak bagai tombak raksasa yang menikam langit kelabu. Tidak ada kicau burung murai. Hanya desau angin pegunungan yang membawa aroma belerang dari arah kawah, mengingatkan Farihah bahwa kerajaan yang ia warisi sedang berdiri di tepi jurang kehancuran batin yang tak terperikan.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian II: Tapak-Tapak Kasar di Atas Pualam Terkutuk
Pertemuan para kasta yang terbuang dan beban tatapan masa lalu
༻❖༺
Pintu ganda setinggi empat depa yang terbuat dari kayu ulin berlapis pelat besi berderit berat saat didorong terbuka. Suara engsel tuanya membelah kesunyian bagai pekikan gagak bangkai. Satu per satu, sosok-sosok yang selama ratusan tahun diharamkan melintasi ambang pintu Mahameru mulai melangkah masuk. Mereka berjalan dengan langkah yang ragu, tersendat oleh rasa ngeri purba yang telah ditanamkan ke dalam sumsum tulang leluhur mereka sejak lahir.
Di masa lampau, orang-orang berkasta rendah yang berani menatap mata seorang bangsawan di ruangan ini akan dicungkil matanya dengan sendok tembaga panas sebelum tubuhnya dilemparkan ke selokan bawah tanah. Kini, mereka berdiri di hadapan sang ratu, menghirup aroma cendana bercampur hawa dingin yang menusuk tulang rusuk.
Kirana melangkah paling depan di antara barisan pelayan. Perempuan berumur tiga puluh tahunan itu tampak begitu rapuh dalam balutan kebaya kain belacu pudar yang bertambal sulam. Kedua tangannya yang pecah-pecah dan menebal oleh rendaman air soda abu terus meremas ujung selendangnya. Matanya liar menatap lantai marmer pualam di bawah telapak kakinya yang telanjang. Ia tahu persis di sudut pualam mana noda darah temannya, seorang dayang muda yang dicambuk hingga tewas karena menumpahkan kuah sup rusa di depan mendiang baginda, pernah disikat berhari-hari hingga marmer itu kehilangan warna aslinya.
Di belakang Kirana, Barja melangkah dengan langkah kaki berat yang membuat lantai bergetar. Bau belerang pekat dan jelaga batu bara menguar dari mantel kulit domba kasarnya, langsung bertabrakan dengan wewangian musk istana yang mahal. Wajah pria penambang itu separuh hangus oleh semburan uap kawah; kulitnya menyerupai kerak bumi yang mengering di musim kemarau panjang. Matanya yang merah menyala menatap meja bundar itu bukan dengan ketakjuban, melainkan dengan dendam yang tertahan di balik gigi yang bergemeretak.
Menyusul di belakang mereka adalah Danu, petani gandum dari Lembah Merana yang punggungnya melengkung bagai busur panah patah; Nyai Sulasmi, tabib rimba yang membawa kantong anyaman berisi ramuan akar penawar racun; Karta, pedagang pasar loak yang mengenakan jubah tambalan; dan Mpu Randu, mantan juru tulis agung kekaisaran yang janggut putihnya menyapu dada, memegang tabung lontar kuno dengan tangan yang bergetar hebat.
Di sisi lain meja, Panglima Ghalib berdiri tegak laksana dinding benteng batu. Jubah ksatria tanpa lencana kebangsawanan membalut pundak lebarnya. Sepasang matanya yang gelap mengamati setiap gerak-gerik tamu-tamu yang tak lazim ini, namun di balik ketegaran wajah prajuritnya, ada kepedihan yang menyayat—kenangan tentang ribuan pemuda tani yang pernah ia pimpin menuju ladang pembantaian atas perintah para bangsawan yang kini meringkuk ketakutan di kastil masing-masing.
°˖✧༺♕༻✧˖°
Bagian III: Retakan Meja Mahameru dan Jeritan yang Dihapus dari Babad
Bilik tersembunyi sayap utara terkuak, memecah kepalsuan pualam megah
༻❖༺
"Silakan duduk," suara Farihah memecah kebekuan. Nada suaranya tidak memiliki kecongkakan titah raja; suaranya tenang, namun bergetar oleh kesedihan yang dalam. "Di ruangan ini, tidak ada lagi yang berlutut. Meja ini bundar karena tidak memiliki ujung terhormat maupun pangkal yang hina. Kita semua duduk di ketinggian yang sama."
Kirana tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan, menghasilkan bunyi mendesah yang menyedihkan. Ia memandang kursi kayu mahoni berukir sulur bunga teratai emas di hadapannya seolah kursi itu terbuat dari bara api yang menyala. "Gusti Ratu..." bisiknya lirih, suaranya parau karena bertahun-tahun hanya diperbolehkan menjawab dengan anggukan bisu. "Hamba... hamba tidak pantas meletakkan tubuh kotor hamba di atas kayu para Dewa."
"Dewa tidak pernah mendiami kayu ini, Kirana," potong Farihah pelan sembari melangkah mendekat. Tatapan sang ratu menembus keremangan fajar yang mulai merayap di kaca jendela. "Hanya manusia-manusia congkak yang menamakan diri mereka dewa, sembari membiarkan kalian memungut remah roti di bawah kaki mereka. Duduklah. Ini adalah perintah pertamaku yang tidak boleh kalian tolak."
Ketika Kirana perlahan menyentuhkan pinggulnya ke bantalan kursi, air matanya tak lagi mampu dibendung. Ia terisak tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Namun isak tangis itu justru memicu ledakan amarah di dada Barja. Pria penambang belerang itu tidak duduk. Ia justru menghempaskan tinjunya yang sekeras batu kapur ke atas meja bundar. Brak! Dentuman itu bergema di seluruh kubah Mahameru, membuat lilin-lilin bergetar.