Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Chapter tanpa judul #40

[partImg:[0]]

Menjelang hari penobatan, Farihah Nashihah dan Ghalib Al Fathan meninggalkan kemegahan istana untuk berziarah ke makam Dayang Kidung dan ribuan rakyat jelata yang gugur dalam konflik. Di tepi sungai yang mengalir tenang di bawah pohon beringin tua, Farihah meletakkan sebuket bunga melati putih dan liontin obsidian yang telah dimurnikan. Di tempat ini, Ghalib dan Farihah berbicara dari hati ke hati mengenai masa depan dan janji mereka untuk saling menjaga.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

BAGIAN I: Bayang-Bayang Nurul Iman & Jalan Kabut Mahasutra

Ketika kemegahan pualam menyimpan kebusukan yang tak pernah termaafkan. Lokasi: Lorong Bawah Tanah Gerbang Air Istana Nurul Iman menuju Hutan Kabut

༻❖༺

Kabut tebal merayap dari lembah Mahasutra, merayap perlahan melintasi pelataran luar Istana Nurul Iman seperti kawanan ular putih tak bersuara. Menara-menara pualam yang menjulang angkuh ke angkasa malam tampak kian samar, tertelan kegelapan pekat yang menggigit dingin. Dari kejauhan, istana itu menyerupai benteng suci para dewa dengan kubah-kubah tembaga yang memantulkan sisa cahaya bulan sabit; namun bagi mereka yang pernah mencium bau anyir di ruang bawah tanahnya, Nurul Iman hanyalah sebuah makam raksasa yang dilapisi kebohongan emas berkilau.

Malam itu, hembusan angin tenggara membawa aroma lumpur basah, lapuknya dedaunan rawa, serta jejak dupa murahan yang dinyalakan para pengemis di balik tembok benteng luar. Suhu merosot tajam. Udara yang terhirup terasa menusuk hingga ke pangkal paru-paru, mengubah helaan napas menjadi kepulan embun putih yang melayang sesaat sebelum sirna. Di ambang Gerbang Air yang tersembunyi di balik rerimbun pohon jarak, dua sosok melangkah menembus kabut tanpa dikawal satu pun prajurit bertombak istana.

Farihah menarik kain tudung hitamnya lebih rapat ke dada. Jubah wol kelabu yang ia kenakan sengaja disamarkan agar tak menonjolkan sulaman benang perak khas keluarga ningrat. Langkah kakinya yang beralas sepatu kulit rusa nyaris tak menimbulkan riak suara di atas tanah berbatu. Di sampingnya, Ghalib berjalan dengan langkah mantap namun penuh kesiagaan, tangan kanannya tak pernah bergeser terlalu jauh dari hulu pedang berbilah melengkung yang tersampir di balik jubah kasarnya.

"Kau yakin tidak ingin membawa setidaknya satu regu pengawal pribadi, Farihah?" bisik Ghalib, suaranya berat dan serak, beradu dengan gemerisik ranting kering yang terinjak. Matanya yang tajam terus menyapu bayang-bayang pepohonan di sisi barat jalan setapak. "Bangsawan faksi barat masih mengintai di setiap celah pilar. Hari penobatan tinggal menghitung malam, dan mereka tidak akan segan menumpahkan darah calon ratu mereka di tanah berlumpur ini."

Farihah menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah benteng Nurul Iman yang kini tampak kerdil di kejauhan, terasing di balik tabir kabut. Sepasang matanya yang cokelat gelap memancarkan keteguhan yang getir—sebuah tatapan yang telah kehilangan masa remajanya dalam kurun waktu tiga tahun perang saudara yang menghancurkan negeri.

"Pengawal istana hanya akan mengotori kesucian tanah yang hendak kita tuju, Ghalib," jawab Farihah lirih, namun ada ketajaman tersembunyi dalam intonasinya. "Mereka berbaris dengan zirah berkilau, memuji kedamaian baru di hadapan rakyat jelata, padahal jari-jemari para jenderal itu belum sepenuhnya dicuci dari darah mereka yang terkubur di tepi sungai ini. Jika aku harus mati malam ini karena berziarah ke makam Dayang Kidung, biarlah aku mati sebagai manusia bebas, bukan boneka yang bersembunyi di balik perisai besi."

Ghalib menatap profil wajah wanita itu dalam temaram rembulan. Guratan lelah tampak nyata di bawah kantung matanya, namun tekad yang terpancar di sana selalu sanggup meruntuhkan segala keraguan di hatinya. Ghalib tahu persis beban yang dipanggul gadis itu. Dinasti Nurul Iman didirikan di atas mitos kemakmuran abadi, namun ruang-ruang bawah tanahnya menyimpan ratusan sel tanpa jendela tempat suara-suara sumbang dibungkam selamanya. Setiap lekuk ukiran dinding istana telah menyerap jeritan derita para pelayan dan perajin yang tewas tertimpa balok marmer demi ambisi para raja terdahulu.

Jalan setapak semakin menyempit, menurun tajam mengikuti kelokan tebing tanah liat yang licin. Pepohonan hutan jati tua di kanan kiri mereka berdiri kaku seperti barisan raksasa bisu yang membungkuk di bawah selubung kabut. Di bawah sana, suara gemercik Sungai Mahasutra mulai terdengar—aliran air yang dalam dan lambat, seolah memuat kelelahan berabad-abad dari jiwa-jiwa malang yang jasadnya dilarung tanpa doa pemakaman yang layak.

Dingin menyergap ruang hampa di antara langkah-langkah mereka. Setiap tarikan napas terasa seperti meneguk serpihan kristal es yang mengikis tenggorokan. Bagi Farihah, setiap meter perjalanan menjauh dari Nurul Iman terasa seperti pelepasan beban sekaligus masuk ke dalam wilayah pengadilan batin. Selama berminggu-minggu di istana, ia harus membalut senyum diplomatik di depan para wazir bermata musang, menandatangani dekrit pemulihan pajak, dan menerima sembah sujud para bangsawan yang tangannya berlumur emas rampasan. Namun di sini, di bawah hembusan angin lembah Mahasutra, topeng kemegahan itu luruh tak bersisa.

°˖✧༺♕༻✧˖°

BAGIAN II: Lembah Ratapan & Nisan Rakyat Tanpa Nama

Menghadap ribuan gundukan tanah di bawah bayangan beringin purba. Lokasi: Kompleks Pemakaman Jelata Mahasutra & Pohon Beringin Seribu Akar

༻❖༺

Setelah menuruni ceruk tebing yang terjal, pemandangan lembah terbuka di hadapan mereka. Di hadapan mereka membentang sebuah padang sunyi yang dipagari kabut tebal laksana tirai pemakaman tak berujung. Ratusan gundukan tanah berjejer tak beraturan di bawah naungan pohon beringin raksasa yang akar gantungnya menjulur laksana cakar raksasa kelabu dari langit hitam. Tiada nisan pualam berukir kaligrafi emas layaknya makam para wazir di pelataran istana. Hanya tonggak-tonggak kayu lapuk, batu kali berlumut, dan pecahan tembikar tua yang menandai tempat peristirahatan ribuan rakyat jelata, petani pembangkang, pelayan dapur, serta prajurit bawahan yang gugur selama masa prahara tahta.

Udara di tempat ini luar biasa dingin, bukan sekadar dingin hawa malam biasa, melainkan hawa dingin yang merasuk ke dalam tulang sumsum—seperti hawa kubur yang telah terkunci selama ratusan tahun. Sunyi begitu mencekam hingga deru napas mereka sendiri terdengar laksana desau angin di lorong gua kosong. Detak jantung Farihah berdentang kencang di rongga dadanya, beradu dengan keheningan pekat yang menuntut pertanggungjawaban moral dari setiap keturunan penguasa Nurul Iman.

Farihah melangkah perlahan menuju sebuah gundukan tanah di dekat akar tunggang beringin yang paling besar. Di sana tertancap sebuah bilah kayu ulin sederhana yang nyaris patah diterpa musim hujan beruntun. Di sanalah terbaring Dayang Kidung—wanita tua yang dahulu merawat Farihah sejak bayi, mengajarinya menyulam rahasia di balik benang sutra, dan membisikkan dongeng-dongeng perlawanan ketika penguasa tiran memerintahkan pembantaian kaum buruh tani di gerbang timur.

Kedua lutut Farihah menyentuh tanah basah yang dingin. Gaun wolnya kotor terkena rembesan lumpur pekat, namun ia sama sekali tak peduli. Jemarinya yang bergetar membuka bungkusan kain beludru hitam yang dibawanya sedari tadi. Di dalamnya terdapat sebuket bunga melati putih segar yang aromanya merebak manis dan menyengat, bersitegang dengan bau lembab tanah kuburan dan lumut rawa. Di samping bunga itu, tergeletak sebuah liontin batu obsidian hitam legam yang permukaannya berkilau mistis di bawah pantulan rembulan.

"Bibi Kidung..." suara Farihah pecah, tercekat oleh gumpalan rasa sakit yang telah ia tahan berbulan-bulan di hadapan para menteri culas. Air mata pertama menitik di atas kelopak bunga melati yang putih suci. "Aku datang. Aku tidak melupakanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan nama-nama kalian terhapus dari lembaran negeri ini, meski para pencatat riwayat istana telah membakar buku-buku catatan harianmu di alun-alun barat."

Ghalib berdiri dua langkah di belakangnya, menundukkan kepalanya dalam rasa takzim yang sunyi. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Ia ingat betul malam kelam ketika Dayang Kidung diseret dari kamarnya di paviliun dayang istana. Wanita tua itu tidak berteriak histeris, tidak pula memohon ampun kepada para algojo bertopeng besi. Ia hanya menatap Ghalib yang saat itu masih bersembunyi di balik pilar bayangan dengan tatapan tajam yang memerintahkan: 'Jaga dia. Jangan biarkan anak itu berubah menjadi serigala seperti mereka.' Tiga hari kemudian, jasad Dayang Kidung ditemukan mengapung di muara sungai Mahasutra dengan leher terjerat tali rami kasar.

Farihah mengangkat liontin obsidian itu ke depan dadanya. Liontin tersebut dulunya adalah jimat pelindung Dayang Kidung yang pernah tercemar oleh mantra darah gelap para algojo kerajaan saat upacara penyerahan nyawa paksa. Selama berminggu-minggu dalam kesendiriannya di kamar menara istana, Farihah telah memurnikannya dengan air sendang suci dan kidung permohonan ampunan, mencuci noda kutukan masa lalu dengan air matanya sendiri.

Ketika liontin obsidian itu diletakkan dengan hati-hati di atas gundukan tanah Dayang Kidung, sebuah denyut cahaya ungu keperakan berdenyar samar dari urat-urat batu hitam tersebut. Udara di sekitar makam mendadak bergetar halus, seolah tanah liat itu sendiri menghela napas panjang dan melepaskan jeritan kutukan yang selama ini terkunci di perut bumi. Keheningan yang tercipta terasa khusyuk, sakral, sekaligus sarat dengan kehadiran arwah-arwah penasaran yang mengamati setiap gerak-gerik mereka dari balik tirai kabut.

°˖✧༺♕༻✧˖°

BAGIAN III: Cincin Kayu Zaitun & Pengakuan Luka yang Abadi

Lihat selengkapnya