Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Mahkota yang Ditempa Kembali

Darma Setya memimpin upacara peleburan Mahkota Emas Permata peninggalan era penindasan di tungku api raksasa bengkel istana. Farihah menyaksikan emas dan permata berlumur darah itu mencair menjadi cairan pijar. Dari leburan itu, sebagian besar emas dicetak menjadi koin beasiswa dan pembangunan jembatan rakyat, sementara sisanya dipadukan dengan besi tempa tambang dan batu obsidian hitam untuk membentuk sebuah mahkota baru yang ramping, anggun, dan kokoh.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

## Bagian I: Gema Dingin di Rahim Nurul Iman

Ringkasan: Darma Setya menapaki lorong batu kelam menuju perut istana, dihantui kecemasan batin dan kemunafikan nama 'Nurul Iman'. Suasana: Dingin menyengat, marmer pucat berurat darah, bisikan sejarah kelam.

༻❖༺

Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di istana yang dinamai Nurul Iman—Cahaya Iman—tidak pernah ada kehangatan yang benar-benar suci. Nama agung itu hanyalah topeng kemegahan yang dipahat di atas derita berdarah berjuta jiwa yang tertindas. Dinding-dindingnya dibangun dari balok marmer putih pualam yang diangkut paksa dari lereng terjal Pegunungan Karang Kematian. Balok-balok raksasa itu direkatkan bukan semata dengan adukan kapur dan getah damar, melainkan dibasahi peluh, air mata keputusasaan, dan darah para budak belian yang mati membusuk tanpa pernah diberi nisan penanda kubur.

Malam merangkak lambat bagai ular berbisa yang menyusuri celah-celah dingin lantai istana. Dari celah dinding marmer yang tampak berkilau di bawah temaram obor minyak jelantah, tercium bau samar kapur basah bercampur karat purba—sebuah aroma kematian yang tak pernah mampu disamarkan oleh wewangian cendana termahal milik para selir. Setiap sudut Istana Nurul Iman bernapas dengan kegetiran yang membeku.

Darma Setya melangkah menuruni tiga puluh tiga undakan granit kasar menuju perut terdalam istana, tempat Bengkel Agung Pandai Besi bersemayam di kedalaman bumi. Setiap derap sepatunya yang beralas kulit banteng memantul berat di lorong panjang berkubah lengkung, memecah kesunyian yang terlampau pekat. Sunyi di Nurul Iman bukanlah ketiadaan suara, melainkan jeritan jutaan manusia yang tertahan di kerongkongan zaman, bisikan kutuk yang terperangkap di pori-pori batu pualam sejak ratusan warsa silam.

Darma merapatkan jubah wol kasarnya yang sewarna abu arang. Di balik dada bidangnya yang berhias bekas luka sabetan pedang, detak jantungnya berdegup kencang, beradu dengan sunyi yang mencekam bagai martil yang tergesa menghantam lempeng tembaga. Ada kecemasan batin yang merayap bagai lumut basah di relung nuraninya yang paling sunyi. Tiga purnama telah lewat semenjak Syah Mahandaka sang tiran digulingkan dari singgasana gading berlumur dosa. Namun, kepemimpinan baru yang kini terpikul di pundak Darma tidak serta-merta melenyapkan bayang-bayang kutukan yang membayangi takhta.

Darma kerap terbangun di tengah malam, tercekik oleh mimpi buruk yang sama: ia melihat dirinya sendiri duduk di atas singgasana yang sama, mengenakan jubah emas yang sama, menatap rakyat jelata yang kelaparan dengan sepasang mata kosong tanpa belas kasihan. Apakah dirinya sungguh seorang pembebas yang diridai semesta, ataukah hanya pion berikutnya yang perlahan akan ditelan oleh kegelapan yang sama yang menelan para pendahulunya? Pertanyaan itu menikam dadanya lebih perih daripada mata lembing baja.

Setiap pilar batu kelabu yang dilewatinya tampak mengawasinya dengan mata tak kasatmata. Pilar-pilar itu menjulang bagai pohon-pohon batu di hutan kematian, dingin dan angkuh. Di balik bayang yang merayap di sela ceruk lilin yang meremang, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Darma menyentuh gagang martil tempa pusakanya yang terselip di sabuk kulitnya. Logam martil itu dingin membeku, seolah mengingatkannya pada hukum alam semesta yang tak terbantahkan: besi tidak pernah mengenal belas kasihan; besi hanya mengenal tangan yang memukulnya, panas api yang melumat kelemahannya, dan bentuk baru yang dipaksakan kepadanya.

Ketika undakan terakhir terpijak, hawa panas dari perapian raksasa mulai menjilat ujung wajahnya yang terpapar angin malam. Namun anehnya, rasa dingin yang menusuk di dadanya tak kunjung surut. Bengkel Agung itu telah menanti di hadapannya bagai mulut raksasa mitologi yang menganga, siap menelan dan menguji apakah nuraninya masih murni atau telah tercemar oleh ambisi kekuasaan.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian II: Tungku Rakus dan Emas Berlumur Dosa

Ringkasan: Mahkota emas permata peninggalan era tiran dipersiapkan di atas landasan tempa di hadapan perwakilan rakyat dan tatapan sinis bangsawan. Suasana: Bara api menyala merah menyengat, ketegangan kelas sosial, aroma belerang.

༻❖༺

Bengkel Agung Pandai Besi Istana bukanlah ruangan tempa biasa bagi perajin tapal kuda atau pembikin sabit. Ruangan itu menyerupai katedral bawah tanah yang suram dan mencekam, ditopang delapan pilar basal hitam berpahat wajah-wajah leluhur wangsa tiran yang kuyu dan bengis. Di tengah-tengah aula batu yang luas itu berdiri tungku perapian raksasa setinggi dua depa, menyerupai rahang binatang purba berbahan besi cor tebal. Lidah api berbahan bakar batubara sulfur dan serpihan kayu jati hitam menjilat-jilat lubang perapian, menyemburkan percik pijar ke udara yang berkabut asap perak pekat.

Hawa panas yang menyesakkan berpusar di udara, bertarung sengit dengan hawa dingin bawah tanah yang merembes dari rekahan lantai batu. Di sekeliling ruangan melingkar, kerumunan saksi telah berkumpul membentuk barisan rapat. Suasana sunyi mencekam, hanya dipecahkan oleh desis napas perapian raksasa yang rakus menelan oksigen.

Di sisi barat, berdiri belasan perwakilan rakyat jelata berpakaian compang-camping dari kain rami kasar. Di barisan terdepan berdiri Wak Gendro, seorang pandai tambang tua renta yang punggungnya bungkuk permanen termakan kerja paksa puluhan tahun di dasar tambang batu bara beracun; jemari tangannya tak lagi memiliki kuku yang utuh. Di sampingnya berdiri Ranti, penenun kurus kering dengan sepasang mata cekung yang kehilangan ketiga putranya di ladang pembantaian perbatasan utara demi membiayai pesta kebun sang tiran. Di belakang mereka, para petani berwajah legam menatap hampa ke arah tengah ruangan, di mana sebuah bejana batu tahan api berukuran besar telah dipersiapkan.

Namun di balkon melengkung di sisi timur, terpisah oleh bayangan pilar dan kawat jeruji besi tempa bermotif duri, berdiri para bangsawan trah lama. Mereka mengenakan jubah beludru kirmizi berkilau bersulam benang perak, memegang saputangan sutra wangi beraroma mawar kasturi untuk menutupi hidung mereka dari bau jelaga rakyat jelata. Senyum di bibir para elit itu tipis, dingin, dan sarat racun kesombongan. Bagi mereka, apa yang akan berlangsung malam ini adalah sandiwara hina—sebuah lelucon memalukan di mana martabat darah biru yang telah ratusan warsa bertahta diinjak-injak oleh seorang pandai besi jelata yang kebetulan memegang senjata.

Di atas landasan tempa utama, Mahkota Emas Permata peninggalan Syah Mahandaka diletakkan di atas bantal beludru usang yang warnanya telah memudar. Mahkota itu menjeritkan keangkuhan yang memuakkan bagi siapa pun yang memiliki hati nurani: terbuat dari emas murni seberat lima kati, berhiaskan tujuh puluh dua butir berlian sebesar biji buah delima yang dipotong sempurna, diselingi deretan safir biru malam dan rubi merah darah. Setiap lekuk ukirannya melambangkan cengkeraman naga tiran yang sedang mencabik-cabik sayap burung pipit yang sekarat.

Demi membeli berlian-berlian sombong pada mahkota itu, tujuh kadipaten di wilayah selatan pernah diperas upetinya hingga lumbung padi mereka kering kerontang. Ibu-ibu di pedesaan terpaksa menumbuk jerami dan merebus akar tanaman berduri untuk mengganjal perut bayi mereka yang menangis kelaparan, sementara di ruang takhta Nurul Iman, Mahandaka berpesta pora di bawah kilau permata yang membutakan.

Darma melangkah mendekati mahkota tersebut. Suara gemeretak bara api di tungku mendadak seolah hening saat jemari kasarnya yang kapalan menjamah dinginnya logam mulia itu. Darma bisa merasakan getaran metafisis yang meremangkan kuduk dari balik kemilau emasnya—bukan dinginnya logam biasa, melainkan dinginnya ribuan kutukan orang mati yang jeritannya pernah diabaikan di lantai marmer Nurul Iman. Emas ini telah menelan begitu banyak air mata dan nyawa manusia hingga tak ada lagi sebutir pun debu kemuliaan yang tersisa darinya.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian III: Percakapan di Antara Bara dan Abu

Ringkasan: Farihah muncul membawa rahasia kelam masa lalu, memancing perdebatan emosional dan luka lama yang tersembunyi antara dirinya dan Darma.Suasana: Konflik batin meruncing, rahasia keluarga terkuak, tatapan mata penuh kepedihan.

༻❖༺

Langkah kaki seringan kabut malam terdengar dari arah bayangan pilar ketiga di sisi kiri landasan. Darma tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma dupa arang dingin, embun pinus liar, dan bau abu tempa selalu mendahului sosok Farihah. Perempuan itu mengenakan tunik kelabu gelap tanpa hiasan apa pun, rambut hitam legamnya terikat sederhana dengan jalinan tali kulit rusa. Wajahnya pualam dan tirus, membingkai sepasang bola mata kelabu gelap yang menyimpan pusaran rahasia yang tak pernah terjamah siapa pun.

Lihat selengkapnya