Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Langkah-Langkah Menuju Singgasana

Hari penobatan tiba. Bukan di dalam aula tertutup yang hanya dihadiri segelintir bangsawan, upacara diadakan di pelataran terbuka luar istana agar dapat disaksikan oleh ratusan ribu rakyat Antah Berantah. Farihah Nashiha menaiki 108 anak tangga pualam dengan langkah anggun dan tenang. Di sampingnya, Ghalib Al Fathan mengawalnya dengan zirah ksatria pelindung sumpah, menghunus pedang yang kini menjadi lambang perisai keadilan.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

### Kabut Pagi di Lembah Tiga Ratapan

Ketika Pualam Dingin Bersaksi Atas Ratusan Ribu Napas yang Tertahan

༻❖༺

Dingin menyergap ruang terbuka itu tanpa ampun, mengubah sisa napas ratusan ribu jiwa menjadi kepulan embun pucat yang melayang lambat, seolah membekukan harapan dan kejujuran di udara tipis Mahameru. Di kaki tangga pualam raksasa, lautan manusia dari Tiga Lembah berdiri merapat dalam kebisuan yang ganjil. Tidak ada sorak sorai riang yang lazim menyertai pesta raja-raja terdahulu. Yang ada hanyalah dengung sunyi—sebuah keheningan pekat yang begitu rapat, hingga desau angin yang mengikis lumut di tebing batu terdengar seperti desah ratapan leluhur yang tak tenang.

Istana Nurul Iman menjulang di puncak undakan laksana monster purba yang membatu. Kubah-kubah tembaga hitamnya membelah halimun kelabu, sementara dinding-dinding pualam putihnya yang termasyhur justru memantulkan cahaya pucat yang mengerikan. Bagi rakyat jelata yang berkerumun di pelataran bawah, nama 'Nurul Iman'—Cahaya Keyakinan—bukanlah lambang kesucian, melainkan ironi yang diukir dengan darah. Semua orang tahu, di balik pualam berkilau itu terhampar ruang-ruang bawah tanah tempat jerit kesakitan pernah disekap selama tiga dekade kekuasaan tiran lama.

Farihah Nashiha berdiri di anak tangga pertama.

Kakinya yang beralas sutra bersulam perak terasa dingin seketika, seakan beku dari batu marmer itu merembes menembus sol sepatu dan menjalar ke sumsum tulang belakangnya. Jubah upacaranya terbuat dari kain beledu hitam kelam tanpa sebutir pun permata gemerlap, melambai berat tersapu angin pegunungan. Di dadanya, detak jantung beradu dengan sunyi yang mencekam; ketukan liar yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik dagunya yang terangkat anggun dan pandangan matanya yang lurus ke depan.

"Bernapaslah, Tuan Putri," bisik sebuah suara berat di sisi kirinya.

Suara itu milik Ghalib Al Fathi. Sang panglima berdiri satu langkah di belakang Farihah, terbungkus zirah baja hitam berpelitur perak kusam yang memantulkan bayang-bayang kabut. Tangannya yang berbalut sarung kulit keras bertengger kokoh pada hulu pedang pusaka yang terhunus setengah jengkal dari sarungnya. Pedang itu kini diproklamasikan sebagai 'Perisai Keadilan', namun Farihah tahu persis betapa banyak nyawa yang telah direnggut oleh bilah baja tempaan utara tersebut.

"Aku bernapas, Ghalib," sahut Farihah, suaranya teramat lirih, nyaris teredam desau jubahnya sendiri. "Namun setiap kali udara lembah ini memenuhi paru-paruku, aku mencium bau abu. Apakah kau menciumnya juga?"

Ghalib tidak menoleh. Matanya yang tajam bagai elang pemburu terus menyapu lautan manusia di bawah mereka. Namun di balik pelindung pipi zirahnya, rahang ksatria itu mengencang. "Itu hanya bau belerang dari kawah puncak, Nashiha. Fokuskan pandanganmu pada altar. Seratus delapan anak tangga. Hari ini takhta tidak boleh melihat keraguanmu."

"Seratus delapan dosa yang harus kita injak," tukas Farihah getir. Sudut bibirnya bergetar sesaat sebelum ia kembali memasang topeng ketenangannya yang dingin.

Di barisan paling depan di samping mereka, ada pemandangan yang belum pernah tercatat dalam sejarah Antah Berantah. Dua belas pelayan istana—mereka yang dahulu dianggap budak tak berkasta dan dilarang menatap wajah raja—kini melangkah tegap membawa panji-panji keadilan bersulam benang perak. Mereka tidak lagi menundukkan kepala dalam ketakutan. Meski tangan mereka yang kasar dan berbalut perban gemetar memegang tiang kayu jati, langkah mereka mantap. Kehadiran mereka di garis depan adalah deklarasi sunyi bahwa dunia lama sedang meregang nyawa di bawah telapak kaki sang calon ratu.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Tangga Ketakutan dan Bisikan Masa Lalu

Dosa-Dosa yang Terkubur di Bawah Marmer Putih

༻❖༺

Langkah demi langkah dipijak. Anak tangga ke-19 hingga ke-36 terasa semakin curam, bukan karena sudut kemiringan batu pualam, melainkan beban tak kasat mata yang menghimpit pundak mereka berdua. Angin Mahameru berhembus makin kencang, menyibakkan cadar tipis Farihah dan memperlihatkan kulit wajahnya yang sepucat pualam di bawah kakinya.

Di balik bayang yang merayap di sela pilar-pilar batu penjaga tangga, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Farihah merasakan pandangan ribuan pasang mata menancap ke punggungnya bagai ribuan anak panah yang siap dilepaskan. Ada mata-mata penuh asa dari kaum jelata, namun ada pula tatapan berbisa dari sisa-sisa bangsawan klan darah murni yang dipaksa berdiri berjejer di pinggiran tangga. Para bangsawan itu mengenakan pakaian kebesaran mereka yang berlebihan, namun wajah mereka pucat pasi, dipenuhi paranoia bahwa giliran leher mereka yang akan digantung di alun-alun setelah upacara ini usai.

"Ghalib," Farihah berbisik lagi saat kakinya menjejak anak tangga ke-27. Tepat di titik ini, dua puluh tahun silam, kakek buyutnya memerintahkan pemenggalan seratus penyair yang berani menulis ode tentang kelaparan rakyat. "Apakah kau masih mendengar jeritan mereka saat malam tiba di barak utara?"

Gemerincing pelat zirah Ghalib beradu pelan. Langkah sang ksatria tidak melambat barang seperseratus detik pun, namun pegangannya pada hulu pedang semakin memutih hingga buku-buku jarinya menonjol.

"Jeritan yang mana, Tuanku?" nada suara Ghalib datar, namun ada getar luka yang teramat dalam terselip di sana. "Jeritan para penyair di tangga ini, atau jeritan para prajurit garda depan yang kubiarkan dibantai di ngarai barat agar kudeta kita tampak suci di hadapan rakyat?"

Farihah menghentikan napasnya seketika. Sebuah sengatan dingin menusuk dadanya. Ia melirik sekilas ke arah ksatria pengawalnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga purnama persekutuan mereka, Ghalib berani melontarkan fakta berdarah itu tanpa peredam kata. Rahasia kelam yang mengikat mereka dalam pakta terkutuk: kemenangan mereka tidak murni lahir dari kehendak rakyat, melainkan hasil kalkulasi dingin dan pengorbanan rekan-rekan seperjuangan yang dijadikan umpan demi memancing sang tiran keluar dari bentengnya.

"Kau membenciku karena itu, bukan?" desis Farihah, matanya tetap terpaku ke arah anak tangga di atasnya.

"Jika aku membencimu, Nashiha, aku sudah membiarkan panah pembunuh bayaran menembus tenggorokanmu di Lembah Sunyi tiga pekan lalu," jawab Ghalib dingin. "Aku tidak membencimu. Aku membenci kenyataan bahwa untuk meruntuhkan sebuah monster, kita harus membiarkan taring kita sendiri tumbuh sama tajamnya. Lihat ke atas. Para tetua istana sudah menunggumu dengan lutut yang gemetar. Mereka mencium aroma kuburan mereka sendiri di udara pagi ini."

Di anak tangga ke-36, sebuah prasasti marmer kuno terukir dengan aksara paku emas: 'Kemuliaan Hanya Milik Mereka yang Berdarah Suci'. Tanpa ragu, ujung sepatu Farihah menginjak tepat di atas pahatan aksara emas itu. Suara gesekan sol sepatunya di atas batu pualam terdengar renyah di tengah hening, memicu desah terkejut yang tertahan dari para tetua istana yang berbaris di undakan yang lebih tinggi.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Di Bawah Bayang-Bayang Nurul Iman

Ketika Dupa Pengampunan Tak Mampu Menghapus Amis Darah

༻❖༺

Ketika Farihah melintasi anak tangga ke-45, aroma kemenyan dan dupa gaharu mulai mendominasi udara, berebut tempat dengan hawa dingin pegunungan. Asap putih tipis membubung dari cawan-cawan tembaga raksasa yang dipasang di setiap sudut teras tengah. Namun bagi Farihah, asap harum itu justru terasa memuakkan; aroma manis dupa itu terlalu dipaksakan, seolah sengaja ditebarkan untuk menyamarkan bau bangkai keadilan yang telah lama membusuk di celah-celah batu Nurul Iman.

Detak jantung yang beradu dengan sunyi mengungkap luka lama yang terkubur abadi. Setiap ketukan di rongga dada Farihah terasa seperti palu godam yang memukul dinding ingatannya. Ia teringat masa kecilnya di paviliun selatan istana ini—bagaimana ia sering dilarang mendekati sumur tengah karena para kasim berbisik bahwa dari dasar sumur itu sering terdengar erangan perempuan-perempuan simpanan raja yang dibuang setelah melahirkan anak-anak yang tak dikehendaki.

Di anak tangga ke-50, barisan Dewan Tetua Istana berdiri membungkuk. Jubah-jubah sutra kencana mereka yang dahulu berkibar pongah kini tampak lusuh dan berkerut oleh ketakutan. Di antara mereka, sosok Mahapatih Saladin berdiri paling depan. Wajahnya yang keriput dipenuhi bintik-bintik usia renta, janggut putihnya menjuntai hingga ke dada, namun matanya yang cekung bergerak liar penuh kegelisahan.

Saat Farihah dan Ghalib melintas di hadapannya, Saladin berlutut dengan lutut tuanya yang berderak di atas pualam dingin. Tangannya yang memegang dupa gemetar hebat, menumpahkan abu panas ke atas lantai batu.

"Tuanku... Ratu yang dijanjikan fajar," bisik Saladin parau, suaranya tercekat di kerongkongan. "Kami... dewan istana... memohon ampunan di bawah bayang-bayang keagunganmu. Kami membawa sumpah pertobatan atas nama leluhur..."

Lihat selengkapnya