Dengan mahkota baru di kepalanya, Ratu Farihah Nashiha menyampaikan pidato pelantikannya. Ia mengenang hari-harinya saat memegang sapu dan kain pel di lorong-lorong dingin istana, mengingatkan bahwa setiap tetes keringat pelayan adalah pondasi dari berdirinya dinding pualam negeri. Ia melantik Dewan Menteri Tiga Lembah yang terdiri dari perwakilan buruh, sarjana, mantan perwira militer, dan petani desa.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Bagian I: Gema di Bawah Kubah Nurul Iman
Lokasi: Kubah Dalam Istana Nurul Iman, Sayap Bawah Tanah | Waktu: Fajar Berkabut, Sebelum Upacara Pelantikan.
༻❖༺
Dingin menyergap ruang, mengubah sisa napas menjadi embun yang membekukan harapan dan kejujuran. Di bawah kubah raksasa Istana Nurul Iman yang menjulang pongah ke cakrawala Antah Berantah, hawa dingin itu bukan sekadar hembusan angin fajar Mahameru; ia adalah gigilan purba yang merembes keluar dari pori-pori dinding pualam putih susu. Pualam yang menurut kabar burung terlarang, direkatkan dengan adonan kapur dan abu tulang para kuli paksa yang meregang nyawa berabad-abad silam. Setiap langkah yang menapak di atas ubin berkilau itu tidak memantulkan keagungan, melainkan gema hampa yang menyiksa gendang telinga—seperti jeritan ribuan arwah yang tertahan di balik lapisan semen beku.
Farihah Nashiha berdiri terpaku di depan cermin perak bertatahkan obsidian kelam di bilik rias sayap barat. Di kepalanya telah bertengger Mahkota Mahameru: lingkar emas mentah yang ditempa tanpa sebiji pun intan permata berkilau, melainkan berhiaskan guratan lambang bulir gandum dan gerigi roda pabrik. Berat mahkota itu sesungguhnya tidak seberapa, namun di leher Farihah, beban itu terasa bagai batu gilingan gandum yang siap mematahkan tulang belakangnya. Jemarinya yang ramping, dengan kulit yang masih menyisakan kekasaran menahun akibat cairan belerang dan soda pembersih lantai, gemetar tanpa kendali saat menyentuh tepi jubah beledu hijau lumut yang menyelimuti tubuhnya.
"Yang Mulia... upacara pelantikan kabinet rakyat akan dimulai saat genta ketiga berdentang di menara Mahkota Agung," bisik Nashira Salma, seorang dayang tua yang dahulu pernah menjadi rekannya meringkuk di bilik pelayan bawah tanah. Suara Salma serak, bergetar di antara ketakjuban dan rasa ngeri yang belum reda. Pandangannya terpaku ke lantai marmer, tak sanggup menatap langsung bayangan Farihah di cermin.
Farihah menoleh perlahan. Sudut bibirnya berkedut, menahan kepedihan yang tiba-tiba meluap bagai empedu ke rongga dadanya. Pandangannya tidak terarah pada sulaman benang perak di kerah Salma, melainkan turun ke lantai pualam di sudut ruangan yang temaram. Di sana, di dekat ceruk perapian yang apinya enggan berkobar hangat, tampak bayang-bayang samar sebuah ember timah berkarat dan sebatang gagang sapu kayu yang ujung seratnya telah tanggal. Bayang-bayang semu yang hanya hidup dalam benak Farihah, namun terasa lebih nyata daripada perhiasan emas yang kini melingkari pundaknya.
"Tujuh tahun yang lalu, Salma," suara Farihah lirih, serak seperti daun kering yang digilas roda pedati. "Di lorong inilah punggungku dicambuk dua belas kali oleh Pengawas Istana karena aku tak sengaja menumpahkan air cucian ke atas sepatu bot sutra Pangeran Azam. Darahku merembes ke dalam celah ubin pualam ini. Aku ingat betul bagaimana aku harus menjilati sisa air sabun berlumur darah itu dengan lidahku sendiri agar cambukan itu berhenti. Dan kini... mereka menyuruhku melangkah di atas ubin yang sama dengan menyebutku Ratu Dirgantara." Farihah tertawa getir, tawa singkat yang langsung tercekik di kerongkongannya. "Apakah pualam ini sungguh telah bersih dari darah kawan-kawan kita, Salma? Ataukah kemegahan Nurul Iman ini sesungguhnya kuburan massal yang sengaja dicat putih berkilauan untuk membutakan mata dunia?"
Salma tersentak mundur selangkah. Ketakutan purba kembali membayang di matanya yang keriput dan layu. "Jangan bicara begitu, Farihah... demi langit dan bumi. Dinding Nurul Iman memiliki telinga dan mata yang merayap di sela ukiran batunya. Bangsawan-bangsawan tua itu masih mengintai di setiap ceruk tiang. Mereka menunggu sedetik saja Yang Mulia goyah, agar mereka bisa melemparkan kita kembali ke dalam comberan perbudakan." Farihah menarik napas panjang. Udara dingin membekukan paru-parunya, namun di balik rongga dadanya, bara dendam dan kegetiran berpadu dengan detak jantung yang beradu dengan sunyi, mengungkap luka lama yang terkubur abadi.
Misteri yang menyelimuti Istana Nurul Iman seakan memadat di sudut-sudut langit-langit yang melengkung runcing. Setiap sudut lorong berbau minyak balsam kuno, minyak yang dipakai membaluri jenazah para raja tiran sebelum diletakkan di ruang bawah tanah. Farihah tahu bahwa di bawah ubin tempat ia berdiri, ratusan lorong labirin menyimpan rantai-rantai besi yang belum sempat dilepas. Keagungan yang kini dinobatkan kepadanya terasa bagai racun manis: sebuah mahkota yang harus ia bayar dengan kewaspadaan tanpa henti, sebab selangkah saja ia tersandung, masa lalu yang kelam siap menariknya kembali ke liang kegelapan.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian II: Napas yang Membeku di Lorong Pualam
Lokasi: Koridor Selasar Sayap Utara, Istana Nurul Iman | Waktu: Fajar Remang-Remang Menuju Pagi.
༻❖༺
Di balik bayang yang merayap, setiap detik adalah saksi bisu dari pengkhianatan yang membusuk. Koridor sayap utara Istana Nurul Iman menyerupai liang kubur raksasa yang dibentang dengan pilar-pilar batu marmer setinggi tiga puluh depa. Kabut tipis merayap rendah setinggi lutut, menyusup dari celah jendela-jendela busur tanpa kaca yang menghadap ke jurang Mahameru. Setiap tarikan napas terasa perih di tenggorokan, seolah udara pagi itu dianyam dari serbuk kaca dan kristal es. Di ujung selasar yang temaram oleh nyala pelita minyak jarak, siluet tubuh tegap berzirah baja hitam berdiri tak bergerak laksana patung ksatria kutukan.
Ghalib Al Fathan. Nama itu saja sudah cukup membuat para tetua dewan feodal kencing di celana dalam peraduan sutra mereka. Panglima yang hari ini akan menerima selempang tertinggi sebagai Pelindung Perdamaian itu melangkah maju begitu derap langkah Ratu Farihah Nashiha terdengar mendekat. Logam pelindung kakinya beradu dengan pualam, menghasilkan dentang dingin berirama lambat yang menggetarkan kesunyian lorong, mengusir keheningan beku yang menggantung di udara.
"Kau belum memakai sarung tangan kebesaranmu, Farihah," tegur Ghalib tanpa membungkuk hormat formal. Suaranya berat, bariton yang sarat dengan keletihan ribuan malam tanpa tidur di tenda-tenda perang lembah belerang. Matanya yang tajam bak elang pegunungan langsung menatap pergelangan tangan kanan sang Ratu.
Farihah tersentak. Refleks tangannya ditarik masuk ke dalam lipatan kain jubahnya, namun terlambat. Ghalib telah melihatnya: cincin giok agung peninggalan wangsa lama gagal menutupi bekas luka bakar segitiga di punggung tangannya—stempel kepemilikan budak tingkat terendah yang dicapkan besi membara saat ia berusia dua belas tahun. Luka parut kemerahan itu berdenyut di bawah terpaan hawa dingin, seakan-akan besi panas sang majikan baru saja diangkat beberapa detik lalu dari kulitnya yang merintih.
"Aku tidak ingin menutupinya dengan sutra, Ghalib," jawab Farihah dengan nada dingin yang dipaksakan teguh, meski kerongkongannya tercekat. "Biarkan jutaan mata rakyat melihatnya. Biarkan para utusan dari seberang samudra tahu bahwa penguasa yang berdiri di hadapan mereka bukan keturunan dewa berdarah biru, melainkan perempuan yang pernah dijual seharga dua karung beras di pasar ternak ibu kota."
Ghalib mendekat selangkah lagi. Jarak di antara mereka terkikis hingga hanya tersisa sejengkal. Uap napas hangat mereka beradu di udara beku, lalu mengembun menjadi kabut putih tipis yang melayang sesaat sebelum sirna ditelan dinginnya lorong. Di balik zirah bajanya yang dingin, dada Ghalib naik turun dengan ritme tertahan. Rahangnya mengeras; otot-otot di pipinya menegang memperlihatkan garis luka sayatan pedang yang membentang dari bawah telinga kirinya hingga ke batas dagu.
"Bukan rakyat jelata yang kukhawatirkan, Farihah," bisik Ghalib dengan nada yang nyaris tenggelam oleh desau angin gunung. Matanya menyipit, berkilat dengan api kegelisahan yang ia sembunyikan dari seluruh dunia. "Rakyat memujamu bagai fajar keselamatan. Namun mereka yang duduk di barisan depan... Konsul Arkhais, Syeikh Munzir, dan para lintah darat klan utara. Mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi di bilik peraduan raja tiran pada malam badai salju tiga purnama lalu. Mereka tahu bahwa cawan anggur beracun itu tidak dituangkan oleh takdir, melainkan oleh tanganku... atas perintahmu."
Kata-kata itu menghantam Farihah bagai gada godam. Bola matanya melebar seketika; pupilnya menyusut dilanda teror yang membeku di dasar jiwanya. Nafasnya tertahan di ujung bibir yang memucat pasi. Rahasia terkelam yang menjadi fondasi berdirinya Era Isyraqiyya Baru: sebuah pembunuhan raja di malam buta yang disamarkan sebagai kutukan jantung lemah. Ghalib menatapnya lurus tanpa berkedip, sorot matanya mengunci mata Farihah dalam pusaran rasa bersalah yang tak berdasar. Di lorong Nurul Iman yang sunyi itu, detak jantung mereka berdua beradu dengan senyap yang mencekam, seolah ubin pualam di bawah kaki mereka siap merekah dan menelan mereka ke dalam api pengadilan abadi.
"Jika rahasia itu terbongkar," lanjut Farihah dengan suara bergetar yang hampir tak terdengar, "semua yang kita bangun hari ini... deklarasi rakyat, kebebasan kaum buruh... semuanya akan runtuh menjadi abu fitnah. Mereka akan menyebut revolusi ini hanyalah kudeta pembunuh bayaran." Ghalib memandang tangan kanannya sendiri, tangan berbalut sarung kulit hitam yang pernah memegang cawan hemlock maut itu. "Itulah sebabnya aku bersumpah, Farihah. Sebelum seorang pun di antara mereka menyentuh mahkotamu, pedang bayanganku akan terlebih dahulu memenggal kerongkongan mereka di lorong-lorong gelap ini."