[partImg:[0]]
Satu tahun telah berlalu sejak perang mereda. Gerbang istana Mahameru kini tidak lagi dijaga oleh serdadu ketus, melainkan terbuka sebagai taman umum tempat anak-anak bermain dan para tetua bercengkerama. Farihah Nashiha dan Ghalib Al Fathan menikmati sore di tepi jendela kamar kerja mereka yang dipenuhi berkas rencana pembangunan saluran irigasi. Di kejauhan, burung-burung camar terbang melintasi ladang gandum yang menguning subur, membuktikan bahwa kerajaan Antah Berantah telah sembuh dari luka kelamnya.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Bagian I: Kabut Pucat di Atas Mahameru dan Sunyi yang Menghunus
Pualam Putih Nurul Iman, Tawa Palsu di Luar Gerbang, dan Hawa Kematian. Lokasi: Ruang Kerja Sayap Barat, Istana Nurul Iman Kerajaan Antah Berantah
༻❖༺
Satu tahun telah berlalu sejak perang mereda. Gerbang istana Mahameru kini tidak lagi dijaga oleh serdadu ketus, melainkan terbuka sebagai taman umum tempat anak-anak bermain dan para tetua bercengkerama. Farihah Nashiha dan Ghalib Al Fathan menikmati sore di tepi jendela kamar kerja mereka yang dipenuhi berkas rencana pembangunan saluran irigasi. Di kejauhan, burung-burung camar terbang melintasi ladang gandum yang menguning subur, membuktikan bahwa kerajaan Antah Berantah telah sembuh dari luka kelamnya.
Namun di balik keelokan semesta yang tampak sempurna bagai lukisan cat minyak di atas kanvas istana, bau anyir tembaga itu sesungguhnya tak pernah benar-benar tanggal dari pori-pori dinding Istana Nurul Iman. Dari luar, istana megah berpilar pualam putih susu itu menyerupai kahyangan dewata yang turun ke bumi Antah Berantah: gerbang tempa setinggi sepuluh depa yang dahulu dijaga ketat oleh barisan serdadu bermuka bengis berzirah duri runcing kini terkuak lebar siang dan malam. Di pelataran rumput hijau zamrud yang dipangkas rapi, langkah kaki para petani bertelanjang kaki meninggalkan jejak lumpur sawah yang kini dihormati bagai jejak pahlawan. Tawa riang kanak-kanak melambung tinggi mengejar layang-layang jerami kering, dan obrolan para tetua desa yang bersila dengan nyaman di bawah naungan pohon beringin kembar terdengar riuh bersahutan membicarakan prakiraan musim panen raya yang berlimpah.
Di kejauhan, burung-burung camar terbang melintasi bentangan ladang gandum yang menguning subur tanpa batas, berayun anggun di bawah semburat lembayung sore yang hangat dan keemasan. Setiap helai tangkai bulir padi yang menunduk sarat isi seolah membisikkan kidung syukur kepada langit yang telah lama mendung oleh asap mesiu. Segalanya menyuarakan kesembuhan yang gilang-gemilang. Segalanya merayakan pemulihan sebuah benua yang koyak setelah tiga dasawarsa diperas keringat dan darahnya oleh kezaliman wangsa lama Mahameru yang lalim tanpa tanding.
Namun di dalam ruang kerja sayap barat, di balik tirai beledu kelabu yang separuh tertutup dari hembusan angin luar, udara bergerak laksana cairan timah cair yang mendingin dan mengental pekat. Farihah berdiri mematung di ambang jendela kayu jati kuno peninggalan abad pertengahan. Jemarinya yang ramping dan pucat menyentuh kusen berukir sulur bunga teratai, merasakan dingin yang teramat ganjil merambat dari pori-pori serat kayu yang lapuk. Dingin yang bukan berasal dari embusan angin senja perbatasan selatan yang sepoi-sepoi basah, melainkan dingin purba yang terbit dari perut bumi—tempat ribuan tulang belulang wangsa penguasa Mahameru dan pengawal setianya terkubur secara massal tanpa nisan bertuliskan nama, tanpa upacara pemakaman terhormat, dan tanpa sebutir pun doa penenang arwah dari para pendeta kuil agung.
Di atas meja kayu jati kasar di samping jendela tempat Farihah berdiri, tertumpuk puluhan lembar perkamen tebal yang mulai kusam tepiannya: peta kontur elevasi lembah sungai Brantas purba, cetak biru saluran irigasi lembah Mahameru yang dirancang menghubungkan lima bendungan primer dengan ratusan kanal tersier, serta daftar distribusi bibit padi unggul dan gandum giling untuk lima puluh distrik pedesaan yang dahulu kelaparan menahun. Semuanya adalah manifestasi kebajikan yang nyata dan tak terbantahkan. Semuanya adalah bukti tertulis yang disahkan dengan cap stempel rakyat jelata bahwa mahkota pemerintahan baru kini mengabdi seutuhnya pada cangkul, caping, lumbung beras, dan perut kaum miskin.
Namun tepat di sudut meja kerja yang sama, sekuntum bunga melati putih tergeletak layu tanpa tangkai air. Kelopaknya yang pucat mulai berubah kecokelatan di tepiannya yang kering mengerut, mengeluarkan aroma manis yang terlalu pekat dan menyengat rongga hidung—aroma wangi yang di tanah Antah Berantah selalu diasosiasikan dengan kain kafan mori putih yang dibasahi air mawar kuburan dan upacara pemandian jenazah para martir yang gugur dalam pembantaian tanpa kepala. Aroma itu seakan mengabarkan bahwa kematian tidak pernah pergi jauh; ia hanya berganti busana menjadi bunga di atas meja kerja para penguasa baru.
Farihah menarik napasnya perlahan, berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen senja, tetapi dadanya terasa sesak terhimpit seolah ditindih batu gilingan gandum seberat seratus kati. Hawa dingin menyergap sudut-sudut ruangan dengan kejam, mengubah sisa embusan napasnya menjadi uap putih pekat yang membekukan harapan dan kejujuran nuraninya. Kabut uap tipis mengepul dari bibirnya yang pucat pasi, melayang sekejap di udara remang sebelum menghilang ditelan bayang-bayang kelam senja yang kian mendekap istana.
Di balik kemegahan arsitektur Nurul Iman—yang dinamai demikian sebagai lambang suci 'Cahaya Keyakinan' oleh dewan reformasi rakyat pada hari pertama proklamasi kemerdekaan—Farihah merasakan rongga-rongga kosong di balik dinding tebal istana itu terus berbisik tanpa henti. Setiap inci marmer putih susu di pilar-pilar penyangga itu memang telah dipoles berkali-kali dengan cairan gamping tohor dan minyak mawar wangi oleh para pekerja, namun jika seseorang menempelkan telinganya pada sudut sambungan pilar di keheningan tengah malam buta, ia bersumpah akan mendengar gesekan kuku-kuku jari yang patah mencakar dinding batu dan rintihan pelayan-pelayan perawan yang dicekik di lorong buntu agar tak sempat membocorkan jalur pelarian rahasia para pangeran muda.
Mata Farihah menatap bayang-bayang pepohonan cemara di halaman istana yang kian memanjang laksana jari-jari raksasa bertaring yang hendak meremas cakrawala. Betapa mudahnya mata manusia tertipu oleh kemilau permukaan yang dihias madu. Rakyat jelata berduyun-duyun datang ke pelataran istana ini dengan mata berbinar penuh haru, membasuh wajah mereka yang legam terbakar matahari di pancuran marmer yang kini memancurkan air jernih pegunungan, tanpa pernah menyadari bahwa tepat di bawah pipa saluran air itu terhampar ruang-ruang bawah tanah tempat para tawanan politik digantung terbalik hingga darah menetes dari ubun-ubun kepala mereka.
Dan Farihah tahu persis di mana saluran itu bermuara, sebab dialah sang arsitek yang menyalin denah rahasia itu dari brankas bendahara istana seminggu sebelum malam penyerbuan akbar dilancarkan oleh legiun pemberontak rakyat. Tangannya gemetar saat menyentuh lembar perkamen rencana irigasi distrik ketujuh. Ada noda tinta hitam pekat yang merembes di sana, menyerupai tetesan racun mematikan yang larut di dasar mangkuk tembaga. Di benak Farihah, gema denting lonceng penyerbuan kembali membahana di gendang telinganya: suara pintu besi yang didobrak, jerit keputusasaan para selir muda di balik tirai emas, dan bau asap belerang yang menusuk ulu hati.
“Kau menatap mereka seolah mereka adalah sepasukan hantu yang menunggu waktu tepat untuk membalas dendam berdarah, Farihah.”
Suara itu datang tanpa didahului derak papan lantai kayu. Rendah, berat, bergetar tenang, dan dipenuhi resonansi dingin logam baja yang baru saja dipadamkan di dalam bak air es. Farihah tidak tersentak kaget, sebab bayang-bayang hitam pekat di dinding sebelah kiri telah lebih dahulu memanjang sebelum sosok perkasa itu melangkah keluar dari kegelapan koridor sayap dalam. Sosok itu melangkah dengan keheningan mutlak seorang pemburu malam yang terbiasa mengintai mangsa di rimba belantara.
Detak jantung yang beradu dengan sunyi yang mencekam, mengungkap luka lama yang terkubur abadi di relung sanubari terdalam. Di ambang pintu ruangan kerja itu, dengan siluet tubuh tegap berbalut linen hitam pekat, berdirilah Ghalib Al Fathan.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Bagian II: Napas yang Membeku dan Cangkir Tembaga Dingin
Kekasih, Panglima, dan Belenggu Kedamaian Berdarah. Lokasi: Meja Kerja Irigasi, Istana Nurul Iman Kerajaan Antah Berantah
༻❖༺
Ghalib telah melepaskan zirah pelat baja beratnya yang berlapis kuningan tempa sejak pertempuran akbar usai, namun gestur tubuhnya tak pernah benar-benar mampu menanggalkan aura seorang algojo medan tempur. Kemeja linen hitam longgar berpotongan sederhana yang ia kenakan sore itu sama sekali tak mampu menyembunyikan bidang pundaknya yang kokoh dan kaku bagai tebing karang di tubir samudra selatan. Di bawah kerah baju yang sedikit terbuka pada pangkal lehernya, sebuah bekas luka parut akibat tebasan belati melintang keji dan bergerigi hingga ke pangkal tulang selangka kirinya—tanda mata abadi dari pertempuran berdarah di Gerbang Besi, malam petaka ketika dinasti tiran lama ditumbangkan dalam lautan kobaran api yang membakar langit malam.
Lelaki itu melangkah mendekat ke meja kerja dengan ayunan kaki yang teratur dan penuh perhitungan taktis. Setiap jengkal langkahnya di atas hamparan karpet tenun sutra tipis terasa laksana dentum genderang perang yang sengaja diredam oleh tumpukan pasir basah di parit pertahanan. Di tangan kanannya yang kekar, dipenuhi kapalan tebal dan urat-urat hijau menonjol akibat dua dekade menggenggam gagang pedang bermata ganda, ia membawa sebuah cawan tembaga bundar berisi seduhan daun teh seroja hutan yang dipetik dari lereng bukit Mahameru.
Namun tidak ada uap panas yang mengepul dari cawan itu. Alih-alih mengeluarkan kehangatan menenangkan, cairan berwarna kuning keemasan di dalam cawan tembaga itu justru mulai membeku perlahan di depan mata mereka. Di sekeliling bibir cawan, butir-butir kristal es putih merayap ke arah tengah, membentuk lapisan selaput es tipis yang mematikan aroma herbal seduhan tersebut. Anomali suhu yang mengerikan ini bukanlah mantra sihir hitam kiriman musuh dari negeri seberang, melainkan kutukan tak kasat mata yang melekat abadi pada istana Nurul Iman: tanah dan bangunan ini menolak menerima kehangatan cinta maupun belas kasih manusia yang hidup di atasnya.
“Anak-anak di taman umum itu tertawa terlalu keras dan riang, Ghalib,” bisik Farihah tanpa sedikit pun membalikkan badannya. Tatapannya tetap terkunci rapat pada bentangan padang gandum di balik kaca jendela yang mulai berembun dingin. “Mereka bersorak memperebutkan layang-layang tanpa pernah tahu bahwa rumput hijau yang mereka injak itu tumbuh begitu subur dan lebat karena abu pembakaran tulang belulang para leluhur mereka dijadikan pupuk dasar tanah setahun yang lalu. Katakan padaku, Ghalib... apakah kebahagiaan yang dibangun di atas pilar kebohongan berdarah berhak disebut sebagai kedamaian sejati?”
Ghalib meletakkan cawan tembaga itu tepat di atas tumpukan cetak biru saluran irigasi dengan sebuah denting pelan yang menyengat gendang telinga. Suara logam dingin beradu dengan permukaan kayu jati itu terdengar seumpama ketukan palu hakim di pengadilan akhirat. Matanya—sepasang mata elang kelabu yang telah menyaksikan ribuan nyawa melayang dan ratusan mayat prajurit hangus terbakar di parit-parit benteng—menatap punggung Farihah dengan perpaduan rasa kasih sayang yang putus asa dan kepedihan mendalam yang terkunci rapat di balik dadanya.
“Kebohongan adalah benteng pertahanan terakhir yang menjaga mereka dari saling menggorok leher sesama saudara, Farihah,” sahut Ghalib, suaranya parau dan bergetar berat laksana gesekan batu asah kasar pada mata kapak perang. “Pikirkan baik-baik dengan akal warasmu! Jika kita membuka gerbang ruang bawah tanah Mahameru besok pagi di hadapan rakyat jelata, lalu memamerkan kebusukan serta kebenaran telanjang tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada malam perebutan tahta itu, apakah mereka akan berterima kasih kepadamu? Apakah mereka akan bersujud memuji kejujuranmu? Demi langit dan bumi, tidak! Saudara sekandung akan saling mencurigai. Klan bangsawan utara akan menuntut balas darah pada kaum tani selatan. Seluruh benua Antah Berantah akan kembali terseret ke dalam kancah neraka pertumpahan darah yang tak berujung, dan ladang gandum ini akan kembali dipupuki mayat-mayat busuk!”
Ghalib mengangkat tangan kanannya perlahan, berniat membelai lembut jemari Farihah yang masih mencengkeram erat kusen jendela jati. Gerakan tangan sang panglima yang biasa menebas leher jenderal musuh dalam sekejap mata itu kini tampak begitu rapuh, bergetar memohon sedikit kehangatan jiwa. Namun tepat sebelum kulit telapak tangannya bersentuhan dengan jemari Farihah, wanita itu menyentakkan tangannya mundur dengan gerakan refleks yang tajam, seolah kulit tangan Ghalib dibalut lelehan tembaga pijar yang siap membakar hangus seluruh rasa bersalahnya.
Perubahan di paras wajah Ghalib seketika itu juga terbit dengan getir yang menghunjam sanubari. Garis rahangnya yang kokoh mengeras kaku seketika; sudut bibirnya berkedut menahan rasa sakit penolakan dingin yang teramat sunyi. Selama beberapa detik yang menyiksa batin, sepasang mata kelabu sang komandan yang tak pernah berkedip di bawah hujan seribu anak panah tampak goyah, hampa, dan telanjang dalam kerapuhan yang menyedihkan.
“Kau masih menolak sentuhan tanganku,” gumam Ghalib dengan suara yang nyaris tenggelam dihembus angin senja. “Apakah telapak tangan ini masih tercium aroma darah segar para pangeran kecil itu bagimu? Apakah setiap kali kulit kita bersentuhan, kau hanya teringat pada lolongan anak-anak yang meregang nyawa di ranjang sutra?”