Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Titik Temu Pertama

Kabut tipis sisa hujan sore masih merayap pelan di halaman Masjid Al-Ikhsan Bandar Lampung, membasahi undakan tangga marmer yang mengkilap di bawah pantulan lampu pualam kuning hangat. Udara malam berembus membawa aroma basah tanah dan sisa dupa gaharu dari serambi utama. Di dalam ruangan berkarpet merah marun dengan motif saf yang lurus, puluhan pasang mata pemuda dan pemudi tampak tertuju ke depan, menyimak bait-bait ayat suci yang baru saja dilantunkan dengan suara bariton lembut oleh pemateri muda di mimbar. Di antara barisan jemaah ikhwan, Arham duduk bersila dengan punggung tegak, jemarinya memegang tasbih kayu sawo matang yang berputar pelan tanpa suara. Pikirannya sempat melayang pada tumpukan laporan desain grafis agensi yang terbengkalai di meja kerjanya, namun sekuat tenaga ia tarik kembali kesadarannya untuk hadir sepenuhnya di majelis ilmu tersebut.

Di sisi lain pembatas kain beludru hijau tua yang menjuntai di tengah ruangan, Humaira merapikan ujung jilbab lebar berwarna abu-abu gelap menutupi dadanya. Buku catatan kecil bersampul kulit sintetis cokelat terselip di atas pangkuannya, penuh dengan coretan tinta hitam berisi rangkuman materi tentang ketulusan niat. Suasana masjid yang tenang malam itu seolah meredam riuh rendah kota besar di luar sana, menyisakan keheningan yang menyejukkan. Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah deheman kecil dari seorang gadis di sebelah Humaira yang menyenggol sikunya lembut, mengingatkan bahwa sesi tanya jawab akan segera dimulai dan pemateri mempersilakan jemaah untuk berpartisipasi aktif menyampaikan gagasan atau uneg-uneg mereka seputar tema pemuda akhir zaman.

"Bagaimana, Rai? Kamu mau coba bertanya soal dilema karir versus prinsip hijrah yang tadi dibahas?" bisik Nadia, teman sebangku Humaira, dengan nada setengah berbisik agar tidak mengganggu kekhidmatan majelis.

Humaira menggeleng pelan, jemarinya meremas penutup buku catatan. "Belum, Nad. Rasanya pertanyaannya sudah cukup diwakili materi tadi. Aku masih mencerna bagian ikhlas dalam menerima takdir penolakan pekerjaan kemarin."

"Justru itu momennya, biar kamu dapat pencerahan langsung dari ustadznya. Tapi ya sudahlah, kalau belum siap, jangan dipaksa," balas Nadia sambil kembali menegakkan duduknya menghadap ke depan.

❖ ❖ ❖

Selesai doa penutup majelis dipanjatkan, para jemaah mulai bergerak perlahan merapikan sandal dan berpamitan satu sama lain. Arham ikut berdiri, merapikan lipatan peci hitamnya lalu berjalan menuju rak sepatu di teras samping masjid. Langkahnya terhenti sejenak ketika ia menyadari bahwa tas jinjing kanvas miliknya tertukar dengan tas milik orang lain yang bentuk dan warnanya sangat mirip. Ia berbalik, berniat mencari pemilik tas tersebut di antara kerumunan jemaah yang mulai menuruni tangga pualam. Matanya menyapu pelan setiap sudut teras yang diterangi lampu taman, hingga tanpa sengaja tatapannya berbenturan dengan sesosok bayangan berjilbab abu-abu yang sedang kebingungan memeriksa isi tas di dekat tiang penyangga utama.

Jarak mereka terpaut sekitar tiga meter. Humaira yang merasakan ada sepasang mata menatap ke arahnya seketika mengangkat wajah. Untuk sepersekian detik, waktu seolah melambat. Pandangan mata yang secara refleks dijaga sesuai syariat—menunduk namun tetap tertangkap dalam radar pandangan perifer—justru menumbuhkan getar tak biasa di dalam dada keduanya. Ada kejutan senyap yang menjalar cepat, bukan karena ketidaksengajaan yang vulgar, melainkan karena kesadaran sunyi bahwa mereka sama-sama tengah memelihara batas, namun diuji oleh sebuah situasi yang menuntut interaksi langsung demi menyelesaikan kekeliruan kecil tersebut.

"Maaf, Ukhti... sepertinya tas kita tertukar," ujar Arham dengan suara rendah yang tenang, berusaha menjaga jarak pandang tetap tertunduk ke arah lantai keramik yang basah.

Humaira tersentak kecil, segera merapikan letak buku catatannya sebelum mengangkat wajah sekilas untuk memastikan. "Astaghfirullah, iya benar, Akhi. Pantari tadi waktu saya buka resletingnya, isinya kok sketsa desain arsitektur, padahal tas saya isinya buku catatan kajian dan Al-Qur'an terjemah saku."

"Ah, pantas saja di dalam tas ini ada kotak pensil warna pastel dan beberapa sticky notes berwarna cerah. Milik saya memang penuh dengan sketsa rancangan masjid komunitas yang baru mau saya serahkan besok," balas Arham sambil mengangkat tas kanvas tersebut setinggi dada, menyerahkannya dengan gestur hati-hati agar tangan mereka sama sekali tidak bersentuhan.

Humaira maju setengah langkah, menyodorkan tas milik Arham yang ia dekap di dadanya. "Ini punya Akhi, silakan diperiksa dulu isinya, takutnya ada yang tertinggal atau lecet terkena air hujan di luar tadi."

Arham menerima tasnya dengan tangan kanan, mengangguk singkat. "Sudah pas, insya Allah. Terima kasih banyak, Ukhti. Maaf jika kelalaian saya tadi sempat membuat kebingungan."

"Sama-sama, Akhi. Saya juga kurang teliti tadi waktu mengambilnya di rak samping," jawab Humaira dengan suara yang terdengar lembut namun tegas, menunjukkan ketenangan di balik sisa-sisa debar yang masih merayap di dadanya.

❖ ❖ ❖

Selepas kejadian malam itu, bayangan pertemuan singkat di teras masjid terus berkelebat di kepala Arham setiap kali ia menatap layar komputer tempat ia merancang tata letak visual. Niat awalnya sederhana: datang ke kajian untuk mencari ketenangan batin dari kejenuhan dunia kerja agensi iklan yang penuh tekanan materialistis. Namun, perjumpaan dengan gadis berbalut jilbab abu-abu yang memancarkan keteduhan itu mendadak mengubah orientasi pikirannya. Ia menyadari bahwa ada dimensi kehidupan lain yang jauh lebih bermakna, di mana keteguhan prinsip beragama bisa berjalan seiring dengan pencarian pendamping hidup yang sefrekuensi dalam visi akhirat. Tujuan barunya kini bukan sekadar menyelesaikan proyek desain tepat waktu, melainkan memantaskan diri secara spiritual dan finansial agar layak mendekati pintu gerbang pernikahan yang berkah, dimulai dari kesiapan mental untuk melangkah lebih serius dalam jalur taaruf yang terhormat.

Di belahan kota yang berbeda, Humaira duduk di meja belajar kecil kamarnya yang diterangi lampu tidur berpendar kuning temaram. Buku catatan bersampul cokelat itu terbuka lebar di hadapannya, namun alih-alih merangkum ilmu tauhid, pikirannya justru melayang pada suara bariton rendah milik pemuda berpeci hitam di teras masjid beberapa malam lalu. Ada rasa asing yang menyusup di relung hatinya—sebuah rasa penasaran yang dibalut rasa bersalah karena terlalu lama memikirkan sosok yang bukan mahramnya. Humaira menarik napas dalam-dalam, lalu menghempasnya perlahan melalui bibir, mencoba melenyapkan bayangan itu dengan membaca istighfar berulang kali.

"Rai, kamu dipanggil Ibu di bawah. Ada titipan dokumen dari percetakan langganan bapak," panggil suara adiknya dari balik pintu kamar yang tertutup rapat.

"Iya, sebentar lagi, Fatih!" sahut Humaira setengah berteriak, lalu menutup buku catatannya dengan agak tergesa.

Humaira menuruni anak tangga kayu rumahnya satu persatu dengan langkah gontai. Ia tahu betul bahwa dirinya sedang berada di persimpangan fase hidup yang krusial. Usianya menginjak pertengahan dua puluhan, masa di mana tekanan dari lingkungan sosial dan keluarga mulai mengarah pada pertanyaan klasik seputar kesiapan menikah. Namun, bagi Humaira, pernikahan bukanlah ajang perlombaan gengsi sosial, melainkan sebuah ikatan suci yang menuntut kesiapan mental, emosional, dan spiritual yang matang. Pertemuan tak sengaja dengan Arham kemarin seolah menjadi pengingat tak kasat mata bahwa jodoh adalah rahasia Allah yang bergerak dengan cara-cara yang tak pernah bisa diskenario oleh manusia.

Di lantai bawah, ibunya sedang merapikan beberapa toples kue kering di atas meja makan kayu jati tua. Sang ibu mengangkat wajah ketika mendengar derap langkah kaki putrinya mendekat. "Kamu ini kenapa beberapa hari belakangan kelihatan lebih sering melamun, Rai? Ada masalah di tempat bimbingan belajar anak-anak kemarin?"

Humaira menarik kursi kayu lalu duduk di hadapan ibunya, merapikan lipatan jilbabnya yang sedikit longgar. "Enggak ada apa-apa kok, Bu. Cuma lagi mikirin materi kajian kemarin tentang pentingnya meluruskan niat dalam setiap langkah ikhtiar hidup."

Ibunya tersenyum tipis, mengulurkan tangan untuk mengusap lembut punggung tangan anaknya. "Bagus kalau kamu merenungkan itu. Tapi ingat, ikhtiar itu bukan cuma soal ibadah personal, tapi juga soal membuka hati pada takdir baik yang mungkin sedang Allah siapkan lewat perantara yang tidak disangka-sangka."

Humaira tertegun sejenak mendengarkan kalimat sang ibu. Ada debar halus yang kembali bergemuruh di dadanya, seolah sang ibu bisa membaca isi kepala dan hatinya yang sedang bergejolak dalam diam.

Lihat selengkapnya