Senja di pinggiran kota Bandar Lampung itu turun perlahan, membawa serta angin lembap yang merayap di balik jaket tebal Arham. Di sebuah beranda rumah petak yang menghadap langsung ke jalanan berbatu, lampu neon warung kelontong sebelah berkedip lemah, memantulkan cahaya kuning pudar ke wajahnya yang letih. Arham menatap selembar brosur kertas buram di tangannya—brosur kumal berisi lowongan kerja serabutan dengan upah harian yang sebenarnya jauh dari kata cukup untuk menopang rencana besarnya. Di hadapannya, duduk Mai, perempuan yang telah menemaninya merajut asa di tengah keterbatasan ekonomi selama hampir tiga tahun terakhir. Suasana terasa senyap, hanya diselingi suara deru motor yang lewat sesekali dan detak jarum jam dinding dari dalam rumah yang berdetak terlampau lambat, seolah memperberat beban pikiran yang tengah berkecamuk di dada mereka berdua.
"Kamu yakin masih mau bertahan dengan cara seperti ini, Ham? Jalan di tempat, capek, dan hasilnya cuma cukup buat bayar kontrakan bulan depan," suara Humaira memecah keheningan, pelan namun menusuk tepat di ulu hati Arham. Perempuan itu melipat tangannya di dada, matanya yang lelah menatap lurus ke arah brosur di tangan Arham dengan tatapan menyiratkan keputusasaan yang sudah di ujung tanduk.
Arham menarik napas panjang, mencoba menahan gemetar di ujung jarinya. "Aku yakin, Mai. Rezeki itu bukan soal cepat atau lambat, tapi soal berkah atau tidaknya. Kalau kita ambil jalan pintas, apa bedanya kita sama mereka yang menggadaikan harga diri?" jawabnya dengan nada tenang namun menyembunyikan badai kekhawatiran yang luar biasa besar di balik sorot matanya.
"Harga diri enggak bisa buat beli beras, Arham!" Humaira mendengus pelan, nada suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya ia kembali mendesah pasrah. "Tadi pagi paman aku nawarin jalan pintas. Kerjasama proyek pengadaan barang tanpa tender, modal awal dari kenalannya di dinas. Cuma butuh tanda tangan kamu sebagai penanggung jawab lapangan. Keuntungannya? Cukup buat kita langsung sewa ruko dan ngelamar kamu resmi bulan depan."
Arham menggeleng tegas, kepalanya menunduk sejenak untuk menghindari tatapan tajam Humaira yang menuntut kepastian. "Itu bukan kerja sama, Mai. Itu suap terselubung. Aku udah baca drafnya kemarin. Namanya persekongkolan tender. Kalau aku masuk ke sana, sama aja aku bunuh integritas aku sendiri sebelum kita sempat membangun rumah tangga."
"Integritas... kata-kata itu lagi yang kamu pegang," Humaira tertawa sinis, getir. "Aku capek hidup mengandalkan kesabaran yang enggak ada wujudnya. Teman-teman seangkatan kita udah pada mapan, ada yang pakai mobil dinas, ada yang udah beli tanah. Kita? Masih ngitung uang kembalian belanjaan di pasar."
"Bukan berarti kita harus menghalalkan segala cara buat menyusul mereka," Arham balas menatap Humaira lekat-lekat, menyalurkan ketulusan yang teramat sangat lewat sorot matanya yang basah oleh peluh dan kelelahan. "Aku pengin kita mulainya bersih, May. Biar rumah yang kita bangun nanti enggak runtuh karena fondasi yang dibangun di atas kebohongan."
Humaira memalingkan wajahnya ke arah jalanan yang mulai sepi, air mata nyaris menetes di ujung pelupuk matanya namun ia tahan mati-matian. "Aku cuma takut, Ham. Takut kalau kesucian cinta kita ini malah jadi beban yang bikin kita tenggelam bareng-bareng."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham malam ini sebenarnya bukan sekadar berdebat kusir tentang masa depan finansial mereka, melainkan menegaskan kembali sebuah komitmen besar yang sempat goyah akibat tekanan sosial yang begitu masif. Di usianya yang menginjak seperempat abad, tuntutan untuk segera menikah sering kali berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa kantongnya selalu kosong melompong. Namun, bagi Arham, cinta bukanlah komoditas yang bisa dibeli dengan uang hasil curian atau kolusi, melainkan sebuah amanah suci yang harus dijaga kesuciannya sejak sebelum ijab kabul diucapkan. Ia ingin membuktikan kepada keluarga Humaira bahwa niat yang lurus akan selalu menemukan jalannya sendiri, meski harus merangkak dari bawah tanpa harus menggadaikan martabat di hadapan sistem yang korup.
"Tujuan kita menikah itu kan ibadah, Mai, bukan ajang pamer kemapanan instan," ucap Arham lembut, mencoba meraih tangan Humaira yang tergeletak di atas meja kayu kecil di antara mereka.
Humaira menarik tangannya pelan, bukan karena benci, melainkan karena rasa frustrasi yang teramat sangat membuncah di dadanya. "Ibadah kalau perut lapar dan cicilan menumpuk ya tetap aja pusing, Arham. Kamu ngomong begitu karena kamu cowok, kamu enggak ngerasain omongan tetangga setiap kali mereka nanya kapan kita sebar undangan."
"Aku dengerin semua omongan itu, Mai. Aku juga ngerasain malunya," balas Arham, suaranya sedikit bergetar menahan emosi yang bergejolak di dalam rongga dadanya. "Tapi justru karena aku laki-laki, tanggung jawab aku bukan cuma nyari uang, tapi juga mastiin uang yang aku bawa pulang ke kamu itu halal dan berkah untuk anak-anak kita kelak."
"Halal tapi bikin kita basi di kontrakan sempit ini sampai tua?!" sergah Humaira dengan suara tertahan, napasnya memburu, menahan tangis yang sudah mendesak di tenggorokannya. "Paman aku bilang, kesempatan kayak gini enggak datang dua kali. Kalau kamu tolak hari ini, besok lusa posisi itu udah diisi orang lain."
"Biarin aja diisi orang lain," kata Arham mantap, menatap lurus ke dalam bola mata Humaira yang basah. "Aku lebih baik hidup sederhana tapi tidur dengan nyenyak di atas kasur tipis kita, daripada tidur di atas tumpukan uang haram tapi setiap malam dihantui rasa takut ketahuan."
Maya menunduk, bahunya bergetar hebat. "Kamu egois, Arham. Kamu mikirin idealisme kamu sendiri tanpa mikirin perasaanku yang udah lelah nunggu."
"Aku enggak egois, Mai. Justru karena aku mikirin masa depan kita berdua makanya aku nolak jalan itu," Arham bergeser sedikit mendekati Humaira, mencoba menghapus jarak dingin yang tiba-tiba tercipta di antara mereka. "Jalan pintas itu kelihatan gampang di awal, tapi ujungnya jurang. Kamu mau kita hancur gara-gara satu tanda tangan bodoh?"
Humaira mengangkat wajahnya, air matanya kini tumpah membasahi pipinya yang tirus. "Aku cuma mau kita bahagia, Arham. Kenapa rasanya bahagia itu susah banget dicapai dengan cara yang benar?"
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali merayap, menghimpit ruang di antara mereka berdua setelah perdebatan sengit itu mereda. Arham berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju pinggir beranda, memandang langit malam yang kelam tanpa bintang, sementara Humaira masih terpaku di tempat duduknya dengan isak tangis yang mulai reda menjadi helaan napas panjang yang berat. Transisi pergantian malam membawa hawa dingin yang semakin menusuk tulang, seolah alam pun turut menguji keteguhan hati dua insan yang tengah berada di persimpangan jalan paling menentukan dalam hidup mereka. Di saat yang sama, ponsel di saku celana Arham bergetar hebat—sebuah pesan singkat dari paman Humaira yang berisi tawaran ulang nominal komisi yang jauh lebih besar jika Arham bersedia membubuhkan tanda tangannya malam ini juga.
Arham mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menyala terang di dalam kegelapan malam. Jari telunjuknya terdiam tepat di atas tombol balas pesan, sementara godaan untuk mengetik kata 'setiba' atau 'baiklah' bergelayut kuat di kepalanya, menjanjikan solusi instan atas segala keruwetan finansial yang melilit lehernya.
"Siapa yang ngetag malam-malam begini?" tanya Humaira parau, melirik sekilas ke arah layar ponsel Arham yang memantulkan cahaya biru ke wajah pemuda itu.
Arham langsung mematikan layar ponselnya tanpa membuka pesan tersebut, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaketnya dengan gerakan cepat. "Bukan siapa-siapa. Cuman pesan spam dari operator."
"Pesan spam tapi mukanya tegang gitu?" Humaira mendesis sinis, matanya menyipit penuh curiga. "Pasti dari Paman Hendra kan? Dia nawarin apa lagi? Tambahan bonus?"
Arham menghela napas panjang, menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus menutup-nutupi kebenaran dari perempuan yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. "Iya... itu dari Paman kamu. Dia naikin tawarannya. Katanya kalau aku setuju malam ini, uang mukanya langsung ditransfer besok pagi."