Gerimis sisa sore masih menyisakan bulir-bulir air yang menempel di daun-daun mangga jepang di halaman samping rumah. Langit Bandar Lampung meredup, berubah menjadi kelabu legam yang berat, menutupi punggung Bukit Randu di kejauhan dengan selimut kabut tipis. Udara malam membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran arang dari warung sate di ujung jalan kampung. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu, lampu neon putih berkedip sekali sebelum stabil, menerangi dinding kusam berwana hijau lumut yang mulai mengelupas di sudut dekat jendela.
Humaira merapikan ujung jilbab marunnya yang sedikit miring, lalu menarik napas panjang untuk meredam debar jantung yang terasa mendesak rongga dadanya. Di hadapannya, di balik meja kayu jati tua yang permukaannya sudah tergores-gores waktu, duduklah Arham. Laki-laki itu mengenakan kemeja koko putih polos yang lengannya dilipat hingga siku, menampakkan urat-urat nadi di pergelangan tangannya yang kokoh. Wajah Arham tampak tenang, namun guratan lelah di bawah matanya menyiratkan beban pikiran yang tidak ringan selama beberapa hari terakhir.
"Kamu yakin mau melanjutkan pembicaraan ini sekarang, Ra? Kita bisa menunggu sampai keluargamu benar-benar siap menerima keputusanku," suara Arham memecah keheningan, rendah namun jelas terdengar di antara deru angin malam yang mulai menderu pelan.
Humaira menatap cangkir teh hangat di depannya, mengepulkan uap tipis yang perlahan buyar di udara. "Kalau ditunggu sampai benar-benar siap, Ham, mungkin kita tidak akan pernah punya keberanian untuk bicara. Abi dan Umi masih dengan pendirian mereka. Kamu tahu sendiri bagaimana pandangan keluarga tentang masa depan."
"Aku tahu, Ra. Dan aku tidak menyalahkan mereka," jawab Arham cepat, nada suaranya menyuarakan kepedihan yang ditekan dalam-dalam. "Status sosial, pekerjaan yang belum mapan secara permanen di mata mereka... itu semua adalah kenyataan pahit yang harus aku telan. Tapi rasanya tidak adil kalau kita menyerah begitu saja tanpa mencoba menjelaskan isi hati kita yang sebenarnya."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama mereka malam ini bukanlah sekadar meratapi nasib atau mempertanyakan restu yang terasa kian menjauh. Humaira ingin menegaskan bahwa hubungan yang mereka bangun selama dua tahun terakhir bukanlah permainan singgah, melainkan sebuah ikhtiar menuju gerbang pernikahan yang diridhai. Namun, bayang-bayang ucapan sang abi kemarin sore masih berdenging keras di telinga Humaira—bahwa cinta saja tidak cukup untuk mengisi piring makan dan menyekolahkan anak-anak di masa depan.
"Tujuan kita sederhana, Arham," kata Humaira sambil mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam bola mata laki-laki itu. "Kita ingin menyempurnakan separuh agama. Kita ingin membangun rumah tangga yang dibangun di atas fondasi takwa, bukan sekadar gengsi materi atau deretan gelar kehormatan."
Arham mengangguk perlahan, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu. "Tapi kesederhanaan itu yang sering kali dianggap remeh oleh dunia luar, Ra. Abi-mu melihatku sebagai seseorang yang masih merangkak menata hidup. Beliau tidak salah. Aku memang belum punya rumah sendiri, kendaraanku masih cicilan, dan tabunganku pas-pasan untuk biaya akad sederhana."
"Aku tidak pernah menuntut kemewahan, Ham. Kamu tahu itu sejak awal kita dekat," ucap Humaira dengan suara yang mulai bergetar, pertahanan emosionalnya nyaris runtuh. "Yang aku takutkan bukan hidup pas-pasan denganmu. Yang aku takutkan adalah kita terpaksa berpisah bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena kita menyerah pada tekanan dunia."
"Justru karena aku sangat menghargai perasaanmu, aku tidak ingin egois, Ra," balas Arham, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga dalam koridor kesopanan. "Kalau aku memaksa meminangmu di tengah penolakan keras keluargamu, yang ada kamu akan terasing di rumahmu sendiri. Aku tidak sanggup melihatmu menjadi anak yang dianggap durhaka hanya karena memilihku."
"Lalu kita harus bagaimana? Menyerah begitu saja?" Humaira mendesak, air mata yang sejak tadi ditahannya kini menggenang di pelupuk mata.
"Belum saatnya menyerah. Tapi kita butuh petunjuk yang jauh lebih pasti daripada sekadar ambisi pribadi kita," bisik Arham lirih, menundukkan pandangannya ke atas meja.
❖ ❖ ❖
Suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa semakin sempit. Udara malam yang lembap seolah merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi, membawa serta rasa gamang yang kian mengental di antara mereka berdua. Perjalanan dari sekadar rasa kagum masa kuliah hingga sampai pada titik krusial penentuan masa depan ini menuntut lebih dari sekadar keberanian verbal. Ada dinding-dinding tak kasat mata yang menjulang tinggi—restu orang tua, standar sosial masyarakat, ketakutan finansial, dan keraguan internal yang menggerogoti keyakinan diri masing-masing.
"Kamu ingat apa yang sering kita bahas tentang pentingnya kepasrahan total?" Arham memecah keheningan panjang yang sempat merayap, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut, nyaris seperti bisikan pada diri sendiri.
Humaira mengusap sudut matanya dengan ujung jilbab. "Istikharah... maksudmu kita harus benar-benar menyerahkan ini semua lewat shalat malam?"
"Bukan sekadar rutinitas ritual biasa, Ra. Tapi benar-benar mengosongkan ego kita, melepaskan keinginan pribadi kita, dan memohon kepada Sang Pemilik Hati untuk memilihkan yang terbaik, meskipun pilihan itu terasa menyakitkan bagi kita saat ini," terang Arham, tatapannya kembali mengangkat dan menembus manik mata Humaira.
Humaira terdiam. Batinku bergolak hebat. Di satu sisi, ia ingin Arham yang menjadi pendamping hidupnya, imam bagi anak-anaknya kelak. Namun di sisi lain, ketakutan akan melangkah tanpa restu orang tua bagaikan duri tajam yang menusuk nuraninya setiap kali ia mengingat wajah lelah sang ibu yang memintanya realistis.
"Aku takut, Ham," aku Humaira jujur, suaranya nyaris tak terdengar. "Bagaimana kalau hasil dari istikharah kita justru menunjukkan bahwa kita memang harus berpisah? Bagaimana kalau petunjuk itu menyuruhku melepaskanmu?"
Arham menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun perlahan. "Kalau itu takdir terbaik yang ditunjukkan oleh Allah, maka kita harus siap menerimanya, Ra. Berat memang. Sangat berat. Tapi bukankah cinta yang hakiki adalah cinta yang tunduk pada keputusan-Nya?"
Humaira menunduk, meratapi jemarinya sendiri yang saling bertautan erat. Rasa sakit merayap di dadanya, sebuah nyeri tumpul yang menyiksa namun sekaligus memurnikan niat mereka.
❖ ❖ ❖
Malam semakin larut, namun ketegangan di antara mereka belum juga menemukan titik temu yang melegakan. Arham memutuskan untuk pamit pulang sebelum jam malam kampung berbunyi, meninggalkan Humaira dalam pusaran pikiran yang semakin rumit. Langkah kaki Arham di teras rumah terdengar berat, mencerminkan beban batin yang sama-sama mereka pikul. Humaira mengunci pintu kayu, lalu berjalan lambat menuju kamarnya di bagian belakang rumah.