Angin dini hari berembus menelusup melalui celah ventilasi kamar, membawa hawa dingin khas perbukitan Bandar Lampung yang menusuk hingga ke pori-pori. Waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Langit di luar masih pekat, diselimuti kegelapan pekat yang hanya sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik dari pekarangan samping rumah. Di atas ranjangnya, Arham membuka mata perlahan. Tidurnya tak begitu lelap malam ini. Ada debar yang terus mengetuk-ngetuk dinding dadanya, sebuah kegelisahan yang tak berwujud namun terasa begitu nyata menguasai pikiran.
Ia menyingkap selimut tebalnya, membiarkan udara dingin menyapa kulit. Langkahnya pelan menyusuri lantai keramik menuju kamar mandi. Bunyi gemercik air keran yang jatuh membentur ember memecah keheningan sepertiga malam. Saat air wudu menyentuh wajahnya, ada sensasi sejuk yang perlahan meredapkan api kegelisahan di kepalanya. Arham membasuh kedua tangannya, mengusap sebagian kepalanya, dan membasuh kakinya dengan saksama. Di setiap tetes air wudu itu, ia melangitkan harap agar hatinya dibersihkan dari segala ragu.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, pintu kamar sebelah terbuka berderit pelan. Ibunya, wanita paruh baya dengan mukena putih yang sudah melekat rapi, menatapnya dengan senyum teduh.
"Sudah bangun, Le? Tumben lebih awal dari biasanya," sapa Ibunya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Iya, Bu. Ada yang rasanya bikin dada ini sesak kalau tidak segera diadukan ke Pemiliknya," jawab Arham seraya tersenyum simpul, meraih handuk kecil di jemuran dalam.
"Perihal pekerjaan di kantor yang baru itu? Atau ada hal lain yang mengganggu pikiran anak bujang Ibu ini?" selidik Ibunya, melangkah mendekati Arham dan menepuk bahunya pelan.
Arham terdiam sejenak, menatap mata ibunya yang mulai dihiasi keriput halus. "Bukan, Bu. Ini bukan soal pekerjaan. Ini... soal hati. Arham sedang mencari jawaban, apakah langkah yang ingin Arham ambil ini sekadar ambisi sesaat atau memang petunjuk dari-Nya."
Ibunya tersenyum lebih lebar, seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan putranya. "Libatkan Allah, Ham. Malam ini, langit sedang sangat dekat. Kalau kamu memintanya dengan sungguh-sungguh, Allah tidak akan membiarkan tanganmu turun dalam keadaan kosong. Menangislah kalau perlu, karena air mata di sepertiga malam itu mengugurkan kesombongan kita sebagai hamba."
"Doakan Arham ya, Bu. Arham takut salah melangkah."
"Doa Ibu tidak pernah putus untukmu. Sana, segera hamparkan sajadahmu. Waktunya mustajab."
Di belahan kota yang lain, di balik dinding rumah bernuansa krem yang sejuk, Humaira juga tengah duduk bersimpuh di atas sajadah beludru merah marun kesayangannya. Matanya sembab. Udara dingin seolah tak mampu menembus kehangatan air mata yang sejak tadi mengalir membasahi pipinya. Tangannya menengadah, bergetar tipis seiring dengan lantunan doa istikharah yang ia ucapkan dengan suara parau.
"Ya Allah... Engkau yang Maha Mengetahui, sedangkan hamba tidak tahu. Engkau yang Maha Menentukan, sedangkan hamba tidak berdaya. Jika memang pemuda itu, Arham, adalah kebaikan bagi agamaku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah dia untukku, mudahkanlah jalannya, dan berkahilah kami di dalamnya," lirih Humaira dengan napas yang tertahan.
"Namun ya Allah... jika dia keburukan bagi duniaku, agamaku, dan akhiratku, jauhkanlah dia dariku, dan jauhkanlah aku darinya. Gantikanlah dengan yang lebih baik, dan ridhaikanlah hatiku atas ketetapan-Mu," lanjutnya, sebelum akhirnya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya yang bertumpu pada lutut.
Pintu kamarnya diketuk pelan. "Mai? Kamu sudah bangun, Nduk?" Suara serak Bapaknya terdengar dari balik pintu kayu jati tersebut.
Humaira buru-buru menyeka air matanya dengan ujung mukena, menarik napas panjang untuk menetralkan suaranya. "Sudah, Pak. Humaira sudah salat."
"Bapak buatkan teh hangat di dapur. Kalau sudah selesai, keluar ya. Kita ngobrol sebentar," ucap Bapaknya lagi sebelum terdengar langkah kakinya menjauh.
"Iya, Pak. Sebentar lagi Mai keluar." Humaira merapikan posisi duduknya, menatap nanar ke arah kaligrafi Ayat Kursi di dinding kamarnya. Malam ini, ia mencari jawaban pasti atas gemuruh yang tak kunjung reda sejak pertemuan tak terduga di majelis ilmu beberapa pekan lalu, dan pesan-pesan singkat tentang program relawan yang perlahan merajut kedekatan tanpa kata cinta di antara mereka berdua.
❖ ❖ ❖
Tujuan mereka malam ini begitu jelas, namun terasa sangat berat untuk direngkuh: kepastian hati. Arham ingin meyakinkan dirinya bahwa niatnya untuk mengirimkan proposal ta'aruf kepada Humaira bukanlah dorongan emosi semata. Di usianya yang menginjak dua puluh empat tahun, dengan pekerjaan yang baru saja stabil di sebuah biro arsitektur lokal, ia merasa sudah saatnya menyempurnakan separuh agama. Namun, sosok Humaira yang begitu anggun, cerdas, dan penuh dedikasi sebagai guru honorer sekaligus aktivis sosial membuatnya merasa kecil. Ia butuh validasi langit bahwa ia pantas mengambil tanggung jawab besar itu.
Di sisi lain, Humaira mencari ketenangan dari ketakutan terbesarnya: penolakan keluarga dan kegagalan masa lalu. Pernah suatu ketika, seorang pemuda datang melamar, namun mundur di tengah jalan karena tak sanggup menyanggupi permintaan keluarga besar Humaira yang menjunjung tinggi adat. Kini, dengan hadirnya Arham di ruang pikirannya, Humaira berjuang keras menyelaraskan antara logika dan rasa, memohon agar Allah menuntunnya pada keputusan yang tidak akan membawa luka baru.
Selesai berdoa, Arham melipat sajadahnya. Ia melangkah menuju meja kerjanya, membuka laptop yang sedari tadi menyala dalam mode redup. Di layar itu, tertampang sebuah dokumen Curriculum Vitae Ta'aruf miliknya yang sudah ia susun sejak tiga hari lalu. Matanya menelusuri setiap baris kalimat di sana—mulai dari data pribadi, riwayat pendidikan, visi dan misi pernikahan, hingga kekurangan dirinya.
"Apakah aku sudah jujur menuliskannya?" gumam Arham pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ponselnya, menatap layar yang menampilkan obrolan terakhirnya dengan Farhan.
Arham: Han, besok pagi kita ketemu di masjid ya. Ada hal penting yang mau aku titipkan ke antum.
Farhan: Hal penting apa nih? Jangan bikin penasaran subuh-subuh begini. CV ta'aruf?
Arham tersenyum tipis membaca balasan Farhan yang seolah bisa membaca pikirannya. Ia tidak membalas pesan itu, membiarkannya menjadi misteri hingga matahari terbit nanti. Fokusnya kini utuh, ia siap melangkah, apa pun hasil akhirnya nanti.
Sementara itu, Humaira melangkah keluar kamar, menghampiri bapaknya yang sedang duduk di meja makan sederhana mereka. Dua cangkir teh kental dengan uap yang mengepul telah tersaji. Bapaknya sedang membaca buku terjemahan Riyadush Shalihin, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung.