Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Mahar Sepucuk Surah Ar Rahman

Malam beranjak semakin larut, menyisakan keheningan yang pekat di dalam kamar kecil Arham yang diterangi cahaya lampu meja berwarna kuning temaram. Di atas meja kayu jati yang mulai usang termakan usia, sebuah Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul hijau tua terbuka lebar tepat di halaman Surah Ar-Rahman. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar pelan, mengeluarkan bunyi derit monoton yang beradu dengan suara ketukan jarum jam dinding. Udara malam kota yang dingin meresap melalui celah jendela kaca yang sedikit terbuka, membawa aroma embun malam dan kelembapan tanah halaman luar. Di hadapan meja tersebut, Arham duduk bersila di atas sajadah tipis berwarna abu-abu. Sorot matanya tampak lelah namun memancarkan keteguhan yang luar biasa. Wajahnya diterangi cahaya lampu meja, memperlihatkan butiran keringat tipis di pelipisnya akibat berjam-jam berkonsentrasi penuh tanpa henti.

"Sudah pukul dua malam, Arham. Kalau kau terus memaksa otak dan pita suaramu bekerja keras tanpa jeda, kesehatanmu bisa tumbang sebelum hari akad tiba," suara serak bernada khawatir terdengar dari balik pintu kamar yang setengah terbuka. Ibu Arham, wanita paruh baya berkerudung instan biru muda, berdiri di ambang pintu sambil membawa secangkir teh jahe hangat di atas nampan kecil.

Arham mengangkat kepalanya perlahan, mengusap wajahnya yang terasa kaku dengan kedua telapak tangan sebelum menatap sang ibu dengan senyuman tipis. "Sebentar lagi, Bu. Ayat-ayat ini sudah mulai melekat di kepala, tapi ada beberapa bagian makhraj dan tajwid di pertengahan surah yang masih sering terpeleset di lidahku. Aku ingin memastikan bacaan ini sempurna sebelum matahari terbit."

Ibu melangkah masuk mendekati meja, meletakkan cangkir teh hangat tersebut tepat di samping Al-Qur'an, lalu menatap lembaran suci yang sedang dipelajari putranya dengan tatapan penuh kelembutan seorang ibu. "Ibu bangga padamu, Nak. Memilih hafalan Surah Ar-Rahman sebagai mahar utama untuk Humaira adalah keputusan yang sangat mulia. Tapi ingat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berlaku adil pada diri sendiri. Tubuhmu juga punya hak untuk beristirahat."

"Aku tahu, Bu. Tapi bayangkan betapa bermaknanya mahar ini nanti di hadapan Humaira dan keluarganya," ucap Arham lirih, jemarinya meraba pelan pinggiran mushaf Al-Qur'an. "Mahar bukan sekadar formalitas materi atau syarat administratif pernikahan dalam hukum Islam. Ini adalah ikrar jiwa, lembaran pertama dari lembaran panjang kisah hidup kami yang dibangun di atas ayat-ayat suci-Nya. Aku ingin ketika aku melantunkannya di hari pernikahan nanti, setiap hurufnya keluar dari hati yang benar-benar memahami maknanya, bukan sekadar hafalan kosong demi menggugurkan kewajiban."

"Ibu paham ketulusan niatmu, Arham. Hanya saja, jangan jadikan beban itu sebagai siksaan fisik. Istirahatlah barang dua jam, nanti selepas tahajud kau bisa melanjutkan kembali hafalan ini dengan pikiran yang lebih segar," bujuk Ibu lembut seraya menepuk pundak Arham pelan, memberikan kehangatan yang meresap hingga ke lubuk hati pemuda itu.

Arham mengangguk pelan, menyeruput sedikit teh jahe hangat yang disiapkan ibunya untuk meredakan tenggorokannya yang terasa kering. "Baiklah, Bu. Aku akan berhenti sejenak setelah merampungkan ayat ketigapuluh. Terima kasih sudah selalu menemani dan mengingatkanku di sepertiga malam ini."

❖ ❖ ❖

Semenjak perdebatan hangat mereka di kafe beberapa waktu lalu yang berujung pada kesepakatan damai, hubungan Arham dan Humaira kini telah memasuki fase final sebelum menuju jenjang pernikahan, yakni penentuan mahar. Dalam pertemuan tertutup yang dihadiri oleh keluarga inti dan Ustaz Farhan pekan lalu, Humaira sempat menyampaikan sebuah kalimat yang terus berputar-putar di kepala Arham siang dan malam: “Aku tidak meminta hiasan emas yang berkilau atau harta benda yang melenakan dunia, Arham. Mahar terbaik bagiku adalah sesuatu yang mendekatkan kita pada surga-Nya.”

Kalimat itu bukan sekadar ucapan pemanis bibir, melainkan cerminan dari prinsip hidup Humaira yang zuhud dan lurus. Sebagai wanita yang mendalami ilmu agama, ia paham betul bahwa sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan namun memiliki bobot ukhrawi yang kekal abadi. Dari situlah tekad Arham membulat. Ia menetapkan satu tujuan mutlak: menghafalkan secara sempurna Surah Ar-Rahman beserta pemahaman maknanya yang mendalam, untuk kemudian dipersembahkan dan dilantunkannya secara langsung di hadapan Humaira sebagai mahar pernikahan mereka.

"Kau benar-benar serius ingin menjadikan hafalan Al-Qur'an sebagai satu-satunya mahar tanpa tambahan harta duniawi, Arham?" tanya Rian, sahabat karib Arham yang sore itu sengaja datang berkunjung ke kontrakan untuk membicarakan persiapan acara pernikahan.

Arham yang tengah merapikan lembar catatan terjemahan Al-Qur'an mendongak, menatap Rian dengan tatapan mantap tanpa ada secercah keraguan pun di matanya. "Sangat serius, Rian. Apa lagi yang lebih berharga untuk diberikan kepada seorang wanita salihah selain kalam Allah? Harta bisa habis, perhiasan emas bisa hilang atau dijual saat kesulitan mendera, tetapi hafalan Al-Qur'an yang melekat di dalam dada akan menjadi cahaya abadi yang menuntun rumah tangga kami dunia dan akhirat."

"Bukannya aku meragukan niatmu, Arham. Tapi keluarga besar terkadang memiliki pandangan adat yang berbeda. Apakah orang tua Humaira tidak keberatan dengan keputusan ini?" kejar Rian, mencoba bersikap realistis demi kebaikan sahabatnya.

"Ayah Humaira adalah seorang ulama pengasuh pesantren lokal. Beliau justru orang pertama yang tersenyum lebar dan merestui keputusan ini ketika Humaira menyampaikannya," jawab Arham dengan nada bangga yang sulit disembunyikan. "Beliau berpesan kepadaku bahwa mahar berupa hafalan surah bukan sekadar simbol kesederhanaan, melainkan ujian kesiapan seorang laki-laki untuk menjadi pemimpin spiritual yang benar-benar membimbing istrinya dengan ilmu agama."

"Kalau keluarga pihak wanita saja sudah mendukung penuh, lalu apa lagi yang kau khawatirkan?" tanya Rian tersenyum maklum, menepuk meja di hadapannya.

"Kekhawatiranku bukan pada restu keluarga, Rian, melainkan pada kemampuanku sendiri," aku Arham jujur, suaranya sedikit menurun. "Surah Ar-Rahman terdiri dari tujuh puluh delapan ayat dengan irama pengulangan kalimat fabi-ayyi alaa'i rabbikuma tukadzdziban yang begitu ritmis. Jika salah sedikit saja dalam mengingat rangkaian ayatnya saat berdiri di hadapan para saksi nanti, itu bisa menjadi sebuah kesalahan fatal yang memalukan. Aku harus memastikan hafalannya benar-benar menempel di luar kepala, makhraj hurufnya pas, dan tajwidnya tidak bercacat."

"Itulah sebabnya kau rela begadang setiap malam hingga matamu merah seperti itu?" canda Rian setengah menyindir, mencoba mencairkan ketegangan di wajah Arham.

"Tentu saja. Ini bukan perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional di mana kesalahan kecil hanya berakibat pengurangan nilai dari juri. Ini adalah akad suci di hadapan Allah, mahar yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak," tegas Arham dengan sungguh-sungguh, membuat Rian menghentikan candaannya dan mengangguk hormat pada keseriusan sahabatnya itu.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut meninggalkan pukul tiga dini hari, dan suasana di kamar Arham kembali tenggelam dalam kesunyian yang khusyuk. Rian telah pamit pulang sejak beberapa jam lalu, meninggalkan Arham seorang diri dengan lembaran mushaf dan tekad yang kian membaja. Transisi dari perbincangan santai bersama sahabatnya menuju kesendirian malam ini membawa Arham pada dimensi perenungan yang jauh lebih mendalam tentang makna mahar yang sedang ia perjuangkan.

Arham menutup mata sejenak, menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang kerap berdegup lebih cepat setiap kali ia membayangkan hari pernikahan mereka nanti. Di luar jendela, suara rintik hujan gerimis mulai terdengar mengetap pelan pada genting rumah, menciptakan latar suara yang menenangkan bagi jiwanya yang tengah bergelut dengan hafalan ayat-ayat suci.

"Arham," gumamnya pada diri sendiri, "kau harus bisa. Jangan biarkan rasa lelah mengalahkan niat suci ini."

Ia membuka kembali mushaf Al-Qur'an pada halaman Surah Ar-Rahman. Jemarinya menelusuri setiap baris ayat dengan penuh kehati-hatian. Transisi ini bukan sekadar perpindahan waktu dari siang ke malam atau dari perbincangan sosial ke kesendirian spiritual, melainkan peralihan mental dari seorang pemuda biasa yang penuh kekuranguroraan menjadi seorang calon imam yang harus siap menanggung amanah berat membimbing keluarganya kelak.

Setiap kali ia melafalkan ayat demi ayat, bayangan wajah Humaira kerap hadir di benaknya—bukan sebagai sosok asing, melainkan sebagai partner hidup masa depan yang kelak akan mendengarkan lantunan ayat-ayat ini langsung dari bibirnya di hari pernikahan. Pikiran itu memberikan suntikan energi moril yang luar biasa kuat, mengenyahkan kantuk yang sempat menggelayut di kelopak matanya.

"Bismillahir rahmanir rahim..." bisik Arham memulai kembali hafalannya dengan suara pelan namun jelas terdengar di dalam kamarnya yang sempit.

Lihat selengkapnya