Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Dapur Kecil Penuh Cinta

Matahari sore baru saja meluncur turun di ufuk barat, menyisakan bias warna jingga keemasan yang menembus celah-celah ventilasi kaca jendela dapur minimalis sebuah rumah kontrakan sederhana. Dapur berukuran tiga kali tiga meter itu dipenuhi aroma harum bawang putih yang ditumis bersama irisan cabai merah dan sedikit terasi, menghasilkan wangi rumahan yang khas dan membangkitkan selera. Di atas kompor dua tungku, sebuah wajan kecil mendesis pelan, mengeluarkan kepulan uap tipis dari tumisan kangkung segar yang baru saja disiram air kaldu. Humaira berdiri di baliknya, mengenakan apron kain bermotif kotak-kotak hijau muda yang menutupi gamis abu-abunya. Rambut hitamnya terikat rapi di balik jilbab instan berwarna senada, sementara butiran keringat halus tampak membasahi pelipisnya akibat suhu ruangan yang hangat dari kompor.

"Kau terlihat sangat serius sekali dengan wajan itu, Humaira, seolah sedang meracik formula kimia rahasia untuk meluncurkan roket ke luar angkasa," suara bariton yang lembut terdengar dari arah pintu masuk dapur. Arham berdiri bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan di dada, mengenakan kaus rumahan biru dongker berlengan pendek. Bibirnya menyunggingkan senyuman geli melihat istrinya yang tampak begitu konsentrasi mengaduk masakan.

Humaira menoleh sekilas, mendengus pelan dengan ekspresi pura-pura kesal yang justru terlihat manis di mata suaminya. "Jangan meledek, Arham. Ini adalah eksperimen pertamaku memasak makan malam untuk suamiku setelah dua pekan kita resmi tinggal di rumah ini. Kalau rasanya keasinan atau kurang bumbu, kau harus tetap memakannya dengan senyuman ikhlas sebagai bentuk ibadah."

"Ah, ancaman yang sangat telak," balas Arham terkekeh pelan, lalu melangkah mendekati meja dapur, menghirup aroma masakan dalam-dalam dengan mata terpejam pura-pura menikmati. "Tapi mencium aromanya saja dari ambang pintu tadi sudah membuatku yakin bahwa keahlian memasakmu tidak kalah hebat dari hafalan Surah Ar-Rahman-mu."

"Bisa saja kau merayuku," cibir Humaira meski pipinya mendadak merona merah jambu, kontras dengan kulit sawo matangnya. Ia mematikan kompor, lalu memindahkan tumisan kangkung panas itu ke atas piring saji keramik putih polos. "Sudah, jangan berdiri di situ menghalangi jalan. Lebih baik ambilkan mangkuk sayur sup di rak atas sebelah kanan kalau tangan panjangmu itu sampai."

Arham menurut dengan patuh, meraih mangkuk kaca yang dimaksud dan menyerahkannya kepada sang istri dengan hati-hati. Udara di dalam dapur kecil itu terasa hangat, bukan hanya karena sisa panas dari kompor, melainkan karena kehangatan interaksi sederhana yang setiap hari kian merajut kedekatan di antara jiwa mereka.

❖ ❖ ❖

"Tujuanmu memasak menu sebanyak ini sebenarnya untuk siapa, Humaira? Kita kan hanya berdua di rumah ini," tanya Arham sambil memperhatikan tiga jenis piring berbeda yang kini berbaris rapi di atas meja makan kecil berkapasitas empat orang di sudut ruang tengah yang menyatu dengan dapur.

Humaira berjalan membawa mangkuk sup ayam hangat, meletakkannya tepat di tengah meja sebelum melepaskan aprons-nya dan merapikan lipatan jilbabnya. "Tujuanku jelas, Arham. Aku sedang belajar menunaikan peran utamaku sebagai istri yang melayani suaminya dengan sepenuh hati. Dalam pandanganku, menyiapkan makanan dengan tangan sendiri bukan sekadar urusan domestik rumah tangga, melainkan bentuk ketaatan ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah."

Arham menarik kursi kayu, duduk berhadapan dengan istrinya, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata penuh kekaguman yang teramat dalam. "Aku tahu kau memiliki dedikasi tinggi dalam setiap hal yang kau kerjakan, Humaira. Tapi kau tidak harus memforsir tenagamu setiap hari hanya demi membuktikan diri sebagai istri yang sempurna. Aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu koki atau pelayan rumah tangga."

"Aku tidak merasa dipaksa atau diforsir, Arham," sanggah Humaira lembut namun tegas, menatap lurus ke mata suaminya. "Melayani suami dengan menyiapkan hidangan terbaik adalah salah satu pintu surga yang dibukakan bagi seorang istri. Selama aku mampu dan sehat, aku ingin melakukannya dengan ikhlas karena Allah, bukan karena tuntutan kewajiban semata."

Mendengar jawaban itu, Arham terdiam sejenak. Ada ketulusan luar biasa yang terpancar dari setiap kata yang diucapkan Humaira. Pemuda itu menyadari bahwa di balik kelembutan fisik istrinya, tersimpan keteguhan prinsip keimanan yang kokoh.

"Baiklah, aku sangat menghargai niat muliamu itu," ucap Arham akhirnya dengan nada melunak, mengulurkan tangan untuk merapikan sehelai rambut halus yang keluar dari ikatan jilbab Humaira. "Tapi ingat juga, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah teladan yang paling sering membantu pekerjaan rumah tangga istrinya. Aku juga ingin berpartisipasi, bukan hanya duduk manis menikmati hasil jerih payahmu."

"Kalau soal mencuci piring setelah makan malam nanti, aku dengan senang hati akan menyerahkan mandat penuh itu kepadamu, Tuan Suami," balas Humaira tersenyum jahil, mencairkan keseriusan obrolan mereka.

"Deal. Tantangan diterima," sahut Arham tertawa renyah, merasa bersyukur atas dinamika komunikasi rumah tangga mereka yang senantiasa diwarnai kelembutan dan canda tawa sehat.

❖ ❖ ❖

Waktu magrib baru saja berlalu selepas mereka menunaikan salat berjemaah di ruang tengah rumah kecil itu. Suara azan isya yang berkumandang dari musala ujung kompleks perumahan perlahan meredam, menyisakan keheningan malam yang menenangkan. Ruang makan kecil tempat mereka tadi berbincang kini telah rapi kembali setelah Arham menepati janjinya membereskan mangkuk dan piring kotor. Transisi dari kesibukan sore hari menuju ketenangan malam membawa suasana batin yang lebih kontemplatif bagi keduanya.

Arham duduk di sofa kain abu-abu tua di ruang tengah, membuka sebuah kitab kuning kecil bertuliskan adab-adab rumah tangga Islami, sementara Humaira keluar dari kamar mandi dengan membawa sebotol minyak angin dan segelas air putih hangat untuk suaminya.

"Wajahmu tampak sedikit lelah, Arham. Apakah pekerjaan di kantor hari ini cukup menguras energi?" tanya Humaira sambil meletakkan gelas air di atas meja kecil di sebelah suaminya, lalu duduk bersimpuh di karpet dekat kaki Arham.

Arham menutup kitab yang dibacanya, meletakkan benda itu di atas pangkuan, lalu menunduk menatap istrinya dengan senyumen lelah namun sarat kasih sayang. "Lumayan melelahkan, Humaira. Ada revisi besar dari klien utama yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan. Tapi begitu melangkah masuk rumah dan mencium aroma masakanmu tadi, separuh rasa lelahku rasanya langsung menguap begitu saja."

"Bisa saja merayunya kalau sedang butuh perhatian," goda Humaira sambil membuka tutup botol minyak angin, lalu meneteskan sedikit cairannya ke telapak tangannya sendiri sebelum mulai memijat perlahan tengkuk dan bahu Arham yang terasa kaku.

Sentuhan lembut tangan Humaira di pundaknya mengirimkan kehangatan instan yang merilekskan otot-otot Arham yang tegang. Transisi dari suasana kerja yang kompetitif di luar sana menuju kehangatan domestik di dalam rumah mungil ini adalah bentuk kenikmatan duniawi paling nyata yang disyukuri Arham setiap detik.

"Terima kasih, Humaira," bisik Arham tulus, menutup matanya sejenak menikmati pijatan lembut sang istri. "Kehadiranmu di sini mengubah rumah kontrakan sederhana ini benar-benar terasa seperti surga kecil kami."

"Surga kecil itu harus kita rawat bersama dengan sabar dan komunikasi yang jujur, Arham," balas Humaira lembut, tangannya terus bergerak teratur memijat pundak suaminya dengan penuh ketulusan ibadah.

Lihat selengkapnya