Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Senyum yang Bernilai Sedekah

Gerimis sisa sore masih menyisakan bulir-bulir air yang menempel di daun-daun mangga jepang di halaman samping rumah kecil mereka di kawasan Pahoman, Bandar Lampung. Langit sore meredup, berubah menjadi kelabu legam yang berat, menutupi punggung Bukit Randu di kejauhan dengan selimut kabut tipis yang turun perlahan. Udara malam membawa aroma tanah basah seusai hujan dan sisa pembakaran arang dari warung sate di ujung jalan kampung yang mulai mengepulkan asap tipis. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu, lampu neon putih berkedip sekali sebelum stabil, menerangi dinding minimalis berwarna krem bersih yang kini terasa jauh lebih hidup dibandingkan beberapa bulan lalu.

Humaira merapikan ujung jilbab rumahannya yang berwarna hijau mint, lalu melangkah pelan menuju pintu depan sambil membawa segelas air hangat di atas nampan kecil. Di teras luar, suara deru motor bebek tua yang sudah sangat ia kenal akhirnya berhenti tepat di depan pagar besi bercat hitam. Arham melangkah turun, melepaskan helm hitamnya dengan gerakan lesu, sementara jas hujan transparan yang ia kenakan tampak basah kuyup di bagian pundaknya. Guratan lelah terpampang nyata di wajah laki-laki itu, menyiratkan beban pekerjaan kantor distribusi tempatnya bekerja yang sedang berada di ujung target triwulanan.

"Sudah sampai, Ham? Masuklah, hujannya belum benar-benar reda," sapa Humaira lembut, membukakan pintu lebih lebar saat suaminya melangkah masuk ke dalam rumah.

Arham tersenyum tipis, melepaskan sepatu kerjanya dan menatanya rapi di rak kecil dekat pintu. "Iya, Ra. Jalanan tadi macet parah di dekat Stadion Pahoman karena ada truk muatan yang mogok. Kepalaku rasanya mau pecah seharian mengurus selisih data stok gudang yang tidak sinkron."

Humaira meletakkan nampan di atas meja kayu ruang tamu, lalu mendekati suaminya dengan gerakan penuh perhatian. Ia mengambil handuk kecil yang sudah disiapkannya di sofa untuk mengeringkan cipratan air di lengan kemeja Arham. "Duduklah dulu sebentar. Jangan langsung memikirkan pekerjaan kantor begitu sampai rumah. Minum dulu air hangatnya biar badannya agak longgar."

Arham mendudukkan dirinya di sofa empuk berwarna abu-abu terang, memijat pelan pangkal hidungnya yang letih. "Terima kasih, Ra. Rasanya seharian tadi di kantor seperti dikejar-kejar tenggat waktu yang tidak ada habisnya. Kalau bukan karena membayangkan rumah ini dan senyumanmu, entah bagaimana aku bisa bertahan menghadapi omelan manajer tadi."

"Pekerjaan memang tidak akan ada habisnya kalau terus dituruti, Ham. Yang penting kamu sudah berusaha maksimal dengan jujur," balas Humaira sambil duduk di samping suaminya, memberikan ruang sandaran yang nyaman bagi pundak laki-laki itu.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama mereka dalam dinamika rumah tangga yang kini telah memasuki bulan keenam bukanlah sekadar mencari materi berlimpah, melainkan bagaimana menjaga agar rumah mereka senantiasa menjadi tempat pelarian yang paling menenangkan dari kerasnya dunia luar. Humaira tahu persis bahwa Arham adalah tipe suami yang jarang mengeluh di depan orang lain, sehingga rumah harus menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa melepas seluruh topeng ketabahannya.

"Tujuan kita menikah dulu bukan supaya hidup tanpa masalah, kan, Ham?" ucap Humaira pelan, menatap manik mata suaminya yang masih menyisakan kelelahan. "Tapi supaya kita punya tempat untuk saling menguatkan saat dunia luar sedang tidak bersahabat dengan kita."

Arham menoleh, menatap wajah istrinya dengan pandangan penuh rasa syukur yang mendalam. Jemarnya meraih tangan Humaira, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya. "Kamu benar, Ra. Kadang aku merasa bersalah karena sering pulang dengan wajah muram. Padahal kamu juga lelah mengurus rumah dan menyelesaikan pekerjaan freelance desainmu seharian."

"Pekerjaanku bisa dikerjakan kapan saja, Ham. Tapi lelahmu karena mencari nafkah yang halal adalah bagian dari jihad," balas Humaira dengan senyuman tulus yang selalu berhasil merontokkan separuh beban di dada Arham. "Rasulullah saja mengajarkan bahwa senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah. Apalagi senyum seorang istri untuk suaminya yang pulang mencari nafkah."

Arham tertawa kecil, suara baritonnya memecah keheningan sore yang basah. "Wah, kalau begitu tabungan sedekahmu sudah banyak sekali setiap kali aku pulang kantor dengan muka kusut, ya?"

"Makanya, jangan cemberut terus. Kalau kamu terus cemberut, nanti rezekinya ikutan kabur karena takut melihat muka marahnya suamiku," goda Humaira ringan, mencubit pelan ujung hidung Arham dengan penuh kejenakaan.

Arham pura-pura mendengus kesal sebelum akhirnya senyum lebar merekah di wajahnya, mengubah total aura wajah yang tadinya tegang menjadi hangat dan jenaka. "Baiklah, Baginda Ratu. Mulai sekarang aku akan pasang senyum paling manis begitu menginjakkan kaki di teras rumah."

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana canda tawa ringan itu menuju realitas kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya berjalan begitu alami. Humaira beranjak ke dapur untuk menyiapkan air hangat buat Arham mandi, sementara Arham merapikan berkas-berkas kantor yang masih terbawa di dalam tas kerjanya. Transisi waktu dari sore menuju malam di kota Bandar Lampung selalu membawa ritme tersendiri; suara azan maghrib yang berkumandang bersahut-sahutan dari surau-surau kecil di sekitar Jalan Diponegoro mengingatkan mereka untuk sejenak menghentikan urusan duniawi dan menghadap kepada Sang Pencipta.

"Ham, air mandinya sudah siap. Jangan lupa handuknya dipakai ya," seru Humaira dari arah kamar mandi belakang.

"Iya, Ra! Sebentar lagi aku susul ke belakang," sahut Arham dari ruang tamu sambil menutup laptop kerjanya.

Suasana transisi maghrib itu membawa ketenangan batin yang luar biasa setelah seharian disibukkan oleh kebisingan kota dan tekanan pekerjaan. Di atas sajadah yang dibentangkan berdampingan di kamar tidur utama, Arham bertindak sebagai imam bagi Humaira. Suara bacaan surah pendek Arham yang merdu dan tartil mengalir lembut menembus dinding kamar, membawa kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Selepas salam, keduanya duduk sejenak untuk berdzikir dan berdoa, mensyukuri nikmat kebersamaan dalam ikatan halal yang dulu sempat diragukan oleh banyak pihak.

Lihat selengkapnya