Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Ujian Kecil Keuangan

Udara subuh Bandar Lampung berembus dingin, menyelusup di balik jendela kaca kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter yang menjadi saksi bisu hari-hari pertama Arham dan Humaira sebagai pasangan suami istri. Cahaya kuning kekuningan dari lampu jalan merembes masuk, bercampur dengan bias kelabu pagi yang perlahan mengusir pekat malam. Suara azan dari surau terdekat baru saja mereda, menyisakan keheningan tipis yang mendamaikan.

Arham duduk bersila di atas sajadah tipis berwarna hijau pudar, telapak tangannya menengadah sementara bibirnya melafalkan doa-doa penutup wirid. Di hadapannya, Humaira baru saja melipat mukena putih berenda yang ia kenakan. Aroma wangi sisa air wudu masih menguar lembut dari tubuh mereka.

"Dingin banget ya, Mas? Tadi subuh rasanya angin dari luar menembus selimut," ucap Humaira pelan sambil merapatkan cardigan rajut berwarna krem ke tubuhnya, berjalan mendekati sudut ruangan tempat meja kecil berlapis taplak plastik kusam berada.

"Iya, Humaira. Mungkin karena semalam hujan deras sampai lewat tengah malam. Tapi alhamdulillah, atap kontrakan kita aman, tidak ada yang bocor," balas Arham sambil melipat sajadahnya dengan rapi. Ia menatap istrinya yang kini sedang menuangkan air hangat dari termos kecil ke dalam dua cangkir seng antik bergambar bunga.

Humaira tersenyum, meski seulas garis kelelahan tampak tipis di sudut matanya. "Iya, itu sudah nikmat yang besar. Oh ya, tehnya sudah matang. Tapi gulanya tinggal sedikit banget, Mas. Cukup buat satu cangkir setengah kalau kita mau bagi."

Arham bangkit, lalu berjalan mendekati Humaira dan menerima cangkir yang disodorkan. Jemgung mereka bersentuhan sekilas, menghadirkan kehangatan kecil di tengah kesederhanaan pagi itu. "Tidak apa-apa, buat kamu saja yang manis. Aku minum yang tawar tidak masalah, yang penting ada kehangatan di perut."

"Jangan gitu. Kita minum manis bareng-bareng saja, gulanya kita bagi dua. Nanti kalau manisnya kurang di lidah, kita ganti sama senyuman," canda Humaira, mencoba mencairkan udara dingin yang mencengkeram.

Arham tertawa kecil, suara baritonnya meredam sunyi kamar kos yang menjadi istana mini mereka. "Senyuman istriku memang selalu manis, bahkan melebihi gula jawa sekalipun."

❖ ❖ ❖

Matahari kini telah meninggi, memantulkan cahaya teriknya pada aspal jalanan di luar kompleks perumahan sederhana tempat mereka tinggal. Di atas meja kayu kecil yang beralaskan buku-buku catatan tebal, Arham membuka dompet kulit hitamnya yang sudah terlihat kusam di bagian lipatannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas rupiah—satu lembar berwarna merah bergambar Soekarno-Hatta dan beberapa lembar biru berukuran lebih kecil.

Humaira duduk di sisi seberang, memperhatikan jemari suaminya yang telaten menghitung sisa lembaran uang tersebut satu per satu. Suasana di dalam ruangan mendadak senyap, hanya terdengar suara dengungan kipas angin plastik yang berputar pelan di sudut ruangan.

"Bagaimana, Mas? Sisa uang kita untuk minggu depan masih cukup buat beli beras sama sayur di tukang sayur keliling?" tanya Humaira dengan nada hati-hati, suaranya terdengar lembut namun menyimpan kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik senyum tipisnya.

Arham menghentikan gerakannya. Ia menatap lembaran uang di tangannya, lalu mendongak menatap mata istrinya yang jernih. Ada kejujuran yang terpancar di sana, tanpa tuntutan yang berlebihan. "Alhamdulillah, uang belanja kita untuk seminggu ke depan masih ada sisa sekitar seratus lima puluh ribu rupiah, Humaira. Itu setelah dipotong buat token listrik yang kemarin sudah bunyi bip-bip tanda mau habis."

"Seratus lima puluh ribu untuk tujuh hari ke depan ya..." Humaira mendesah pelan, jemarinya meremas ujung jilbab instan yang ia kenakan. "Berarti kita harus benar-benar pintar ngatur menu. Tidak boleh beli lauk yang mahal-mahal. Tempe, tahu, sama kangkung sepertinya bakal jadi menu wajib kita selama sebulan pertama ini."

"Kamu keberatan kalau kita harus makan menu sederhana seperti itu terus?" tanya Arham menatap lekat, ingin memastikan tidak ada rasa menyesal di hati perempuan yang baru dinikikannya tiga minggu lalu itu.

Humaira menggeleng mantap. Ia merapikan letak lembaran uang di atas meja agar terlihat lebih rapi. "Kenapa harus keberatan, Mas? Waktu akad nikah dulu, aku sudah siap dengan segala kemungkinan. Menikah itu kan bukan soal seberapa mewah hidangan di atas meja, tapi bagaimana kita bisa duduk bersama menikmati apa pun yang ada di hadapan kita dengan rasa syukur."

"Aku bersyukur sekali punya istri sepertimu, Humaira. Kamu tidak pernah menuntut hal-hal yang di luar kemampuan kantorku saat ini," ucap Arham tulus, dadanya terasa lapang mendengar ketulusan sang istri.

"Tuntutan itu hanya akan menjadi beban kalau kita turuti, Mas. Yang penting kita jalani semuanya dengan ikhlas. Rezeki itu kan sudah diatur, kita tinggal berusaha dan menjalaninya saja."

❖ ❖ ❖

Siang hari menjelang lohor, kesunyian kontrakan mendadak terusik oleh bunyi ketukan pintu yang cukup keras dari luar. Arham yang sedang merapikan tumpukan dokumen pekerjaan kantor di atas lantai segera berdiri dan membukanya.

Di depan pintu berdiri Pak RT setempat, seorang pria paruh baya berbadan gempal dengan kopiah hitam yang sedikit miring ke kiri. Di tangannya terselip sebuah selembar kertas putih berlipat.

"Eh, Pak RT. Silakan masuk, Pak," sambut Arham ramah sambil merapikan letak bajunya.

"Tidak usah, Arham, saya berdiri di sini saja sebentar. Mau menyampaikan iuran bulanan warga, sama ada tambahan dana untuk perbaikan saluran air di dekat pos ronda yang kemarin sempat jebol pas hujan deras," ujar Pak RT dengan suara tegas namun bersahabat.

Humaira yang mendengar percakapan itu dari dalam segera berjalan mendekat, membawa secangkir air putih hangat untuk sang tamu. "Silakan diminum dulu, Pak RT. Maaf airnya cuma air hangat biasa."

"Ah, terima kasih banyak, Bu Arham. Repot-repot saja," jawab Pak RT sambil tersenyum ramah menerima cangkir tersebut. "Begini, untuk iuran bulan ini totalnya ada lima puluh ribu rupiah. Memang ada sedikit kenaikan dari bulan lalu karena material bangunan sedang naik harganya."

Arham tertegun sejenak. Angka lima puluh ribu rupiah mendadak berputar di dalam kepalanya, membandingkannya dengan sisa uang seratus lima puluh ribu rupiah yang baru saja mereka hitung tadi pagi. Uang itu berarti sepertiga dari total kekayaan tunai mereka saat ini.

Humaira melirik sekilas ke arah suaminya. Ia menangkap keraguan yang melintas di wajah Arham, meski suaminya itu berusaha menutupinya dengan senyum sopan. Humaira tahu betul apa yang sedang berkecamuk di dalam benak suaminya.

"Baik, Pak RT. Nanti kami siapkan uangnya. Kira-kira batas pembayarannya sampai kapan ya, Pak?" tanya Arham dengan nada tenang, meski di dalam dadanya ia mulai menghitung ulang rencana pengeluaran mingguan mereka.

"Paling lambat akhir minggu ini ya, Nak Arham. Biar langsung bisa dibelikan semen sama pasir sama tukangnya," jawab Pak RT sambil meneguk air hangat di cangkirnya. "Ya sudah, saya permisi dulu mau keliling ke rumah warga sebelah. Mari."

Setelah Pak RT berlalu dan pintu kembali ditutup rapat, suasana di dalam ruangan terasa sedikit berbeda. Keheningan yang tadinya tenang kini berubah menjadi keheningan yang dipenuhi oleh pertimbangan pikiran.

❖ ❖ ❖

Arham kembali duduk di dekat meja kerja daruratnya, menatap lembaran uang yang kini terasa jauh lebih sedikit dari sebelumnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang untuk meredakan rasa sesak yang tiba-tiba mendera dadanya sebagai kepala rumah tangga baru.

Humaira mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping kursi yang diduduki Arham. Ia meletakkan tangannya yang lembut di atas punggung tangan suaminya yang masih mengepal di atas meja.

"Mas... kamu sedang mikirin iuran Pak RT tadi, ya?" tanya Humaira lembut, suaranya bagai angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.

Arham menoleh, menatap mata Humaira dengan sorot penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, Humaira. Baru sebulan kita menikah, tapi aku sudah bikin kamu pusing sama urusan keuangan begini. Harusnya sebagai suami, aku bisa memberikan kehidupan yang lebih mapan tanpa harus membuat kita bingung memilih antara bayar iuran warga atau beli bahan makanan."

Lihat selengkapnya