Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Doa di Ujung Sajadah

Malam melingkupi sudut kota dengan keheningan yang tebal, menyisakan deru angin pelan yang mengetuk-ngetuk daun jendela kaca kamar utama. Di dalam ruangan berukuran sedang yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram, sebuah sajadah panjang berbahan beludru hijau terbentang rapi di atas lantai kayu. Udara malam membawa kesejukan sisa hujan sore tadi, berpadu dengan aroma lembut minyak wangi non-alkohol beraroma gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham duduk bersila di atas tepi tempat tidur, mengenakan kemeja koko putih polos yang sedikit longgar, sementara matanya menatap lurus ke arah sajadah tempat Humaira baru saja melipat mukena putihnya. Kehamilan Humaira kini telah memasuki usia enam bulan, membuat perutnya tampak membuncit indah di balik balutan gamis rumah berwarna merah muda lembut. Suasana terasa begitu khusyuk, seolah dunia luar dengan segala kebisingannya berhenti berputar demi menyisakan ruang bagi ketenteraman batin yang terjalin di antara mereka berdua.

"Udara malam ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, Humaira. Kau tidak merasa kedinginan kan?" tanya Arham dengan suara berat yang bernada lembut, bangkit dari tepi tempat tidur lalu melangkah mendekati istrinya.

Humaira menoleh, menyambut uluran tangan suaminya dengan senyuman tipis yang menyungging di bibirnya. "Alhamdulillah tidak, Arham. Justru hangat setelah kita selesai melaksanakan salat malam berjemaah tadi. Dinginnya malam ini malah membuat suasana terasa semakin syahdu untuk sekadar duduk merenung."

"Kau benar," sahut Arham, ikut duduk bersila di atas sajadah tepat di samping istrinya, merapikan lipatan sarungnya dengan gerakan tenang. "Ada ketenangan yang luar biasa setiap kali kita menutup hari dengan bersujud bersama di atas sajadah ini. Rasanya segala penat dan beban urusan dunia di luar sana luruh begitu saja."

"Itu karena kita memulainya dengan niat yang benar, Arham. Seperti kebiasaan baru kita yang selalu menyempatkan waktu berdoa bersama sebelum tidur," balas Humaira, jemarinya bergerak mengelus pelan permukaan sajadah beludru di hadapan mereka.

"Kebiasaan yang insya Allah akan terus kita rawat sampai kapan pun," tambah Arham mantap, meraih tangan kanan Humaira dan menggenggamnya erat, merasakan kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka di tengah keheningan malam yang kian larut.

❖ ❖ ❖

"Humaira, apa yang paling sering kaudoakan ketika kita bersujud panjang di sepertiga malam tadi?" bisik Arham pelan, memecah jeda tenang di antara mereka sambil menatap lekat mata istrinya yang berbinar lembut di bawah temaram cahaya lampu tidur.

Humaira menunduk sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum kembali mengangkat pandangannya menatap sang suami dengan kesungguhan yang terpancar jelas di wajahnya. "Aku selalu memohon kepada Allah agar meluaskan pintu rezeki kita dengan rezeki yang halal dan barokah, Arham. Bukan sekadar cukup untuk makan sehari-hari, melainkan rezeki yang bersih dari unsur syubhat, agar setiap suapan yang masuk ke tubuh kita dan janin ini benar-benar menjadi darah daging yang menumbuhkan kebaikan."

Mendengar jawaban itu, Arham merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang mendalam. Ia mengangguk pelan, mempererat genggaman tangannya. "Tujuan kita sangat sejalan, Humaira. Itulah mengapa aku selalu menegaskan pada diriku sendiri di tempat kerja agar tidak pernah berkompromi dengan prinsip kejujuran. Aku ingin setiap rupiah yang kubawa pulang ke rumah ini adalah hasil dari keringat yang bersih dan diridai-Nya."

"Selain itu," lanjut Humaira dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa harap yang begitu besar, "doa terbesarku di ujung sajadah ini adalah memohon agar Allah mengaruniai kita keturunan yang saleh dan salihah. Anak yang tidak hanya menjadi penyejuk mata di dunia, tetapi juga menjadiinvestasi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala ketika kita sudah tiada nanti."

"Aamiin, ya Rabbal 'alamin," ucap Arham penuh takzim, mengusap lembut puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab harian. "Itu adalah tujuan utama hidup kita berumah tangga, Humaira. Kehadiran buah hati yang tinggal menghitung bulan ini adalah amanah besar. Kita tidak hanya ingin melahirkan anak yang sehat secara fisik, melainkan generasi penerus yang tegak akidahnya di atas Al-Qur'an dan Sunnah, yang kelak mendoakan kedua orang tuanya dengan tulus."

"Dan untuk mencapai tujuan mulia itu, ikhtiar kita di atas sajadah ini adalah fondasi utamanya," pungkas Humaira dengan senyuman penuh keyakinan, membuat Arham semakin mengagumi kedalaman iman wanita yang mendampingi hidupnya.

❖ ❖ ❖

Waktu merayap perlahan melewati pukul dua belas malam. Suara detak jam dinding kayu di ruang keluarga terdengar berdetak teratur, mengisi kekosongan udara kamar yang kian sunyi. Transisi dari perbincangan mendalam mengenai tujuan hidup menuju keheningan malam membawa gelombang perenungan baru bagi Arham. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Humaira, lalu merentangkan kedua kakinya ke depan sambil bersandar ringan pada tepi ranjang tidur.

"Mari kita buat semacam komitmen kecil, Humaira," ucap Arham memecah keheningan malam, menoleh ke arah istrinya yang masih duduk bersimpuh anggun di atas sajadah.

Humaira mengangkat alisnya sebelah, tersenyum kecil menanggapi perkataan suaminya. "Komitmen seperti apa lagi yang ingin kau buat di tengah malam begini, Arham?"

"Bukan komitmen yang rumit," jawab Arham tersenyum hangat. "Mulai malam ini, mari kita jadikan doa di ujung sajadah ini sebagai rutinitas yang tidak boleh terlewatkan, apa pun kesibukan kita esok hari. Baik saat aku harus lembur di kantor maupun saat kau merasa lelah dengan aktivitas rumah tangga."

Humaira mengangguk setuju dengan gerakan kepala yang lembut. "Aku sangat mendukung usul itu, Arham. Kadang kala, kesibukan dunia membuat kita lupa bahwa kekuatan terbesar rumah tangga kita bukanlah terletak pada tabungan di bank atau kenyamanan rumah ini, melainkan pada keistiqamahan kita mengetuk pintu langit setiap malam."

Transisi batin ini membawa kesadaran baru bahwa perjalanan membina rumah tangga di atas prinsip agama bukanlah proses yang statis, melainkan sebuah ikhtiar dinamis yang membutuhkan perawatan spiritual secara kontinu. Udara malam yang dingin di luar jendela seakan melebur bersama kehangatan niat suci yang mereka ikrarkan di atas sajadah tersebut.

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan dengan melantunkan beberapa ayat suci Al-Qur'an sebelum kita benar-benar beranjak tidur," ajak Arham, meraih mushaf Al-Qur'an kecil yang terletak di atas nakas sebelah tempat tidur.

"Ide yang sangat bagus," sambut Humaira antusias, merapikan duduknya dan merapatkan posisi di sebelah suaminya, bersiap mendengarkan lantunan ayat-ayat suci yang akan dibacakan oleh imam dalam hidupnya.

Lihat selengkapnya