
Gerimis sisa sore di kawasan Pahoman, Bandar Lampung, masih menyisakan bulir-bulir air yang menempel di daun-daun mangga jepang di halaman samping rumah kecil Arham dan Humaira. Langit sore meredup, berubah menjadi kelabu legam yang berat, menutupi punggung Bukit Randu di kejauhan dengan selimut kabut tipis yang turun perlahan. Udara malam membawa aroma tanah basah seusai hujan dan sisa pembakaran arang dari warung sate di ujung jalan kampung yang mulai mengepulkan asap tipis. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter itu, lampu neon putih berkedip sekali sebelum stabil, menerangi dinding minimalis berwarna krem bersih yang kini tampak dihiasi bingkai kaligrafi sederhana hasil karya tangan Arham sendiri.
Humaira merapikan ujung jilbab rumahannya yang berwarna hijau mint, lalu melangkah pelan menuju pintu depan sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh poci hangat dan piring kecil berisi pisang goreng buatan tangannya. Di teras luar, suara deru motor bebek tua yang sudah sangat ia kenal akhirnya berhenti tepat di depan pagar besi bercat hitam. Arham melangkah turun, melepaskan helm hitamnya dengan gerakan lesu, sementara jas hujan transparan yang ia kenakan tampak basah kuyup di bagian pundaknya karena terjebak hujan mendadak di Jalan Diponegoro. Guratan lelah terpampang nyata di wajah laki-laki itu, menyiratkan beban pekerjaan kantor distribusi tempatnya bekerja yang sedang merampungkan evaluasi tahunan.
"Sudah sampai, Ham? Masuklah, hujannya belum benar-benar reda, anginnya kencang sekali di luar," sapa Humaira lembut, membukakan pintu lebih lebar saat suaminya melangkah masuk ke dalam rumah.
Arham tersenyum tipis, melepaskan sepatu kerjanya dan menatanya rapi di rak kecil dekat pintu. "Iya, Ra. Jalanan tadi licin sekali, banyak genangan di dekat stadion. Kepalaku rasanya pening seharian mengurus selisih data stok gudang yang dikomplain pihak vendor."
Humaira meletakkan nampan di atas meja kayu kecil dekat jendela ruang tamu, lalu mendekati suaminya dengan gerakan penuh perhatian. Ia mengambil handuk kecil yang sudah disiapkannya di sofa untuk mengeringkan cipratan air di lengan kemeja Arham. "Duduklah dulu sebentar. Jangan langsung memikirkan pekerjaan kantor begitu sampai rumah. Minum dulu teh hangatnya biar badannya agak longgar."
Arham mendudukkan dirinya di sofa empuk berwarna abu-abu terang, memijat pelan pangkal hidungnya yang letih. "Terima kasih, Ra. Rasanya seharian tadi di kantor seperti dikejar-kejar tenggat waktu yang tidak ada habisnya. Kalau bukan karena membayangkan rumah ini dan teh buatanmu, entah bagaimana aku bisa bertahan menghadapi omelan kepala cabang tadi."
Humaira mendudukkan diri di samping suaminya, menyerahkan cangkir hangat yang mengepulkan uap tipis. "Makanya, kalau sudah di rumah, tanggalkan semua urusan kantor di luar pagar. Rumah ini tempatnya istirahat, bukan tempat membawa pusing."
"Iya, Tuan Putri. Ampuni hambamu yang baru pulang membawa muka kusut ini," balas Arham tersenyum renyah, mencoba mencairkan suasana letih yang sempat menggelayut di antara mereka berdua.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama mereka sore menjelang malam itu bukanlah sekadar menikmati secangkir teh atau meratapi penatnya pekerjaan harian, melainkan merawat keintiman batin lewat kesederhanaan yang mereka bangun bersama. Humaira ingin memastikan bahwa di balik dinding-dinding kecil rumah kontrakan mereka, ikatan cinta dan rasa syukur senantiasa menjadi poros utama, mengalahkan segala ambisi duniawi yang kerap mendistraksi pikiran Arham sebagai kepala keluarga.
"Tujuan kita membangun rumah tangga ini dari nol kan bukan supaya hidup mewah tanpa masalah, Ham, tapi supaya kita selalu punya tempat pulang yang jujur," ucap Humaira pelan sambil menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang masih menyisakan sisa kelelahan.
Arham mengangguk perlahan, jemarinya memeluk cangkir teh hangat untuk mengalirkan kebasahan sisa hujan ke dalam tubuhnya. "Aku tahu, Ra. Dan setiap kali aku merasa hampir menyerah menghadapi tekanan pekerjaan di luar sana, tujuan itulah yang selalu menarikku kembali pulang dengan semangat baru."
"Kalau tujuan kita lurus karena Allah, insya Allah lelahnya seharian mencari nafkah ini bernilai ibadah," tambah Humaira dengan senyuman tulus yang selalu berhasil merontokkan separuh beban di pundak Arham. "Jangan pernah merasa kecil hanya karena kita belum punya mobil mewah atau rumah besar di kawasan elite. Yang penting rezeki yang kamu bawa ke meja makan ini bersih dan berkah."
Arham meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menggenggam jemari Humaira erat-erat. "Kamu tahu persis bagaimana cara meluluhkan hatiku di saat aku merasa paling penat, Ra. Kehadiranmu adalah bentuk kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun."
"Sudah, jangan merayu terus, nanti teh keburu dingin," ejek Humaira ringan, meski rona merah muda tipis tampak jelas merayap di pipinya. "Ayo nikmati pisang gorengnya masi hangat sebelum keburu lembap kena udara hujan."
❖ ❖ ❖
Transisi dari percakapan serius menuju kehangatan senja di teras belakang rumah mengalir begitu alami seiring rintihan hujan yang mulai mereda menjadi tetesan gerimis kecil. Humaira membawa nampan teh dan camilan ke teras belakang yang beratap kanopi transparan, tempat favorit mereka menikmati udara sore khas Bandar Lampung yang sejuk seusai basah. Transisi waktu dari hiruk-pikuk kota menuju keheningan malam membawa ritme batin yang menenangkan, menghapus sekat-sekat ketegangan antara dunia luar dan kehangatan domestik rumah tangga mereka.
"Wah, anginnya pas sekali sejuknya, Ra. Cocok banget sama teh poci buatan kamu," puji Arham begitu ia duduk di kursi kayu rotan panjang, merentangkan kedua tangannya dengan nyaman.