Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Angin Mulai Menerpa

Matahari pagi di Kota Bandar Lampung memancarkan cahaya menyengat yang membias di balik dinding kaca lantai empat gedung biro arsitektur tempat Arham bekerja. Udara di dalam ruang rapat terasa begitu pengap, berbanding terbalik dengan pendingin ruangan yang berdengung kencang di sudut langit-langit. Arham berdiri tegap di depan layar proyektor besar, merapikan setelan kemeja biru dongker berlengan panjang yang melekat pas di tubuhnya. Di hadapannya, jajaran direksi biro arsitektur dan perwakilan investor utama proyek pengembangan kawasan komersial modern duduk dengan ekspresi kaku dan penuh tuntutan. Di atas meja mahoni panjang itu, berkas-berkas cetak biru rancangan desain berserakan, menampilkan kalkulasi anggaran yang luar biasa besar.

"Arham, revisi yang kami minta untuk penyesuaian tata letak area hiburan malam dan fasilitas komersial terpadu di blok barat itu seharusnya bisa diselesaikan tanpa banyak argumen teknis. Kenapa kamu malah memperumit masalah dengan memasukkan klausul pengecualian fungsi bangunan?" tanya Pak Hartono, direktur utama biro, dengan nada suara dingin dan menekan.

Arham menarik napas perlahan, mencoba menjaga kestabilan detak jantungnya yang bergemuruh di balik dada. Ia menatap lurus ke arah para petinggi perusahaan tanpa menunjukkan gestur gentar. "Maaf, Pak Hartono. Perubahan fungsi pada blok barat yang diajukan investor mencakup zonasi hiburan yang tidak sesuai dengan prinsip dan etika syariat yang saya pegang. Sebagai arsitek penanggung jawab, saya tidak bisa meloloskan desain yang membuka celah pelanggaran prinsip moral mendasar tersebut."

Suasana di dalam ruang rapat mendadak senyap. Beberapa investor saling bertukar pandang dengan alis bertaut, tampak tidak percaya bahwa seorang karyawan muda berani menentang kebijakan yang sudah diputuskan secara korporat demi keuntungan komersial instan.

"Arham, kamu ini bekerja di perusahaan swasta komersial, bukan di lembaga dakwah," tukas salah seorang perwakilan investor dengan senyum sinis. "Investor menanamkan modal miliaran rupiah bukan untuk mendengarkan ceramah moralitas. Kalau kamu tidak bisa mengikuti arahan bisnis perusahaan, posisimu di proyek ini bisa digantikan kapan saja."

Arham terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa kering, namun ada ketenangan ganjil yang meresap ke dalam batinnya. Ia tahu persis risiko dari sikap teguhnya ini. Proyek pengembangan kawasan komersial tersebut adalah proyek terbesar yang memegang andil dalam kenaikan karirnya tahun ini. Menolaknya berarti siap menghadapi konsekuensi terburuk dari perusahaan.

❖ ❖ ❖

Tujuan Tokoh (Goal) — 750–1.150 kata

Tujuan Arham melangkah ke ruang rapat pagi itu sebenarnya sederhana: mempertahankan profesionalismenya sebagai arsitek tanpa harus menggadaikan prinsip akidah dan etika Islam yang selama ini dijaganya bersama Humaira. Sejak menikah, ia dan sang istri telah bersepakat bahwa setiap butir rezeki yang dibawa pulang ke rumah harus bersih dari unsur syubhat, apalagi pelanggaran prinsip yang nyata. Namun, di tengah iklim korporat yang menghalalkan segala cara demi profit, idealisme sering kali dianggap sebagai beban mati yang menghambat laju bisnis.

Selesai rapat yang berakhir tanpa kata sepakat, Arham berjalan gontai menuju ruang kerjanya di kubikal ujung lantai tiga. Langkah kakinya terasa berat, seakan membawa beban berton-ton di pundaknya. Ia merapikan beberapa lembar sketsa di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan batin.

Ponsel di dalam saku celananya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Humaira muncul di layar.

“Mas, gimana rapat proyek besarnya hari ini? Lancar? Nanti siang aku siapkan makan siang kesukaanmu ya kalau pulang.”

Melihat pesan penuh perhatian itu, dada Arham terasa sesak. Ia belum sempat membalas pesan tersebut ketika pintu kubikalnya diketuk pelan dari luar. Pak Rudi, kepala divisi personalia, berdiri di ambang pintu dengan raut wajah serba salah, memegang selembar amplop putih tebal di tangannya.

"Arham, kamu punya waktu sebentar?" tanya Pak Rudi ragu-ragu.

Arham mendongak, menegakkan duduknya lalu mengangguk pelan. "Silakan masuk, Pak. Ada hal penting apa?"

Pak Rudi melangkah masuk, menutup pelan sekat kubikal lalu menyerahkan amplop putih itu di atas meja Arham. "Saya langsung to the point saja, Ham. Pihak direksi baru saja mengadakan rapat darurat terbatas selepas rapatmu tadi. Mengingat sikapmu yang menolak revisi zonasi proyek komersial, manajemen memutuskan untuk mencopotmu dari posisi arsitek utama proyek tersebut... dan per hari ini, kontrak kerja sama profesionalmu dengan biro ini resmi dihentikan."

Meskipun Arham sudah menduga risiko terburuknya, mendengar kalimat pemecatan itu secara langsung tetap memberikan hantaman telak di dadanya. Dunia seakan berputar lebih lambat. Ia kehilangan bukan hanya sebuah proyek besar, tetapi juga sumber mata pencaharian utamanya di kota ini.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan bergerak turun ke ufuk barat ketika Arham memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah mungil mereka. Perjalanan pulang dari kantor terasa begitu panjang dan melelahkan. Udara sore Kota Bandar Lampung berembus membawa sisa-sisa debu jalanan, menyapu wajah Arham yang tampak kusam dan dipenuhi beban pikiran. Ia mematikan mesin motor, mencabut kunci, dan melangkah gontai menuju pintu utama.

Sebelum ia sempat mengetuk atau memutar gagang pintu, daun pintu sudah terbuka dari dalam. Humaira berdiri di sana dengan senyum cerah yang langsung meredup begitu melihat raut wajah suaminya yang pucat pasi dan tatapan mata yang kosong.

"Mas... Kamu sudah pulang? Kenapa wajahmu pucat begitu? Ada masalah besar di kantor?" tanya Humaira cemas, segera mengambil tas kerja dari tangan suaminya dan membimbingnya masuk ke ruang keluarga.

Arham melepaskan sepatu kerjanya dengan gerakan lambat, lalu terduduk lemas di sofa ruang tamu. Ia menundukkan kepala, menyatukan kedua tangan di atas lutut, segan menatap mata istrinya yang memancarkan kekhawatiran mendalam.

"Mai... Aku ingin bicara jujur," ucap Arham dengan suara parau, nyaris berbisik. "Hari ini... aku kehilangan proyek besar itu. Dan... aku juga kehilangan pekerjaanku."

Humaira tertegun di tempatnya. Gelas air putih yang baru saja ia ambil dari dapur hampir terlepas dari pegangannya. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu berlutut di hadapan Arham, merengkuh kedua tangan suaminya yang terasa dingin.

"Kehilangan pekerjaan, Mas? Maksudmu... kamu diberhentikan?" tanya Humaira lembut, mencoba mencari kepastian di tengah debar jantungnya yang mendadak kencang.

Arham mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Humaira. Ada genangan air mata di sudut matanya yang berusaha ia tahan. "Iya, Mai. Aku menolak revisi desain yang melanggar prinsip syariat kita. Pihak direksi menganggapku tidak sejalan dengan visi bisnis mereka, dan akhirnya kontrak kerjaku diputus secara sepihak hari ini."

Mendengar pengakuan itu, alih-alih marah atau panik, Humaira justru tersenyum tipis. Ia mengusap punggung tangan suaminya dengan penuh kelembutan. "Alhamdulillah..." lirih Humaira tulus.

Lihat selengkapnya