Matahari sore baru saja meredup di balik menara masjid agung kota, menyisakan bias cahaya jingga pucat yang menyusup malas melalui jendela kaca berjeruji besi di ruang kerja Arham. Di atas meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas audit anggaran proyek akhir tahun, sebatang lampu meja berpijar kuning redup, menyoroti wajah Arham yang tampak kian tirus dan lelah. Garis-garis keletihan tercetak jelas di bawah kelopak matanya, menyimpan beban pikiran yang telah berbulan-bulan menggerogoti ketenangan batinnya. Sebagai kepala keluarga yang kini harus menanggung biaya pengobatan rutin ibunda Humaira di kampung serta cicilan kontrakan kecil mereka, Arham terhimpit dalam dinding-dinding kenyataan finansial yang kian hari kian menyesakkan dada. Di luar sana, deru kendaraan malam mulai menderu, berpadu dengan suara ketukan tombol papan tik komputer dari kubikel sebelah yang semakin menambah keheningan muram di ruangan tersebut.
"Masih lembur lagi, Ham? Kelihatan banget mukanya udah pucat kayak mayat hidup," sapa Prasetyo, rekan sekantor senior yang muncul dari balik partisi kaca sambil membawa segelas kopi hitam hangat beruap tipis.
Arham mengangkat kepalanya perlahan, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal sebelum memaksakan sebuah senyuman tipis. "Iya, Mas Pras. Ini laporan audit proyek renovasi pasar induk harus selesai malam ini juga sebelum diserahin ke meja direktur utama besok pagi."
Prasetyo meletakkan gelas kopi di atas tepi meja Arham, lalu menarik kursi plastik kecil untuk duduk di sampingnya sambil melirik sekilas tumpukan berkas tebal di hadapan pemuda itu. "Kamu terlalu idealis, Ham. Hidup di kota besar kalau cuma mengandalkan gaji pokok dan prinsip lurus tanpa mau melirik celah sedikit pun, sampai kapan pun kamu bakal terus ngontrak rumah sempit."
Arham menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam cangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma pahit. "Prinsip itu bukan barang dagangan yang bisa ditawar, Mas. Kalau aku main-main sama angka di laporan ini, sama aja aku menggadai harga diri dan keberkahan rezeki buat anak istri di rumah."
"Harga diri enggak bisa buat bayar rumah sakit, Arham!" sergah Prasetyo dengan nada suara sedikit ditekan, setengah berbisik namun tajam menusuk telinga. "Tadi siang aku dengar bagian keuangan nyariin kamu. Penandatangan proyek fiktif kemarin masih kosong posisinya, dan penawaran komisi tiga puluh persen itu masih berlaku buat siapa saja yang mau nutup mata sebelah."
Arham terdiam kaku, jemarinya yang memegang pulpen mendadak gemetar hebat. Tawaran suap yang sama, yang dulu pernah coba disorongkan oleh paman mertuanya, kini datang kembali dengan wujud yang jauh lebih licik dan menggoda di tengah himpitan ekonomi keluarganya yang sedang kritis.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham malam ini sebenarnya bukan untuk meladeni bisikan sesat Prasetyo, melainkan merampungkan tugas kantor secara jujur demi menjaga dapur rumah tangganya tetap mengepul dengan rezeki yang halal dan diridai Allah. Namun, badai konflik batin yang menghantam kepalanya mendadak jauh lebih dahsyat daripada tumpukan angka-angka di atas kertas laporan audit tersebut. Ia teringat wajah Humaira tadi pagi sebelum ia berangkat kerja—wajah perempuan salihah itu tersenyum manis sambil menyerahkan secangkir teh, sama sekali tidak tahu bahwa suaminya sedang berdiri di bibir jurang kebinasaan moral akibat desakan tagihan rumah sakit dan kebutuhan hidup yang kian melangit. Arham ingin membuktikan kepada dunia bahwa menjadi orang jujur di tengah sistem yang korup bukanlah sebuah kebodohan, melainkan sebuah bentuk ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta yang telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya.
"Sudahlah, Mas Pras, jangan teruskan bicara soal itu," ucap Arham lirih namun penuh ketegasan, membuang muka dari tatapan menggoda seniornya. "Aku capek. Tolong hargai keputusanku untuk tetap berjalan di jalur yang benar."
Prasetyo mendengus pelan, berdiri sambil menepuk-nepuk bahu Arham dengan gestur meremehkan. "Terserah kamu, Ham. Tapi ingat, kesempatan emas enggak datang dua kali. Kalau besok pagi kamu berubah pikiran, meja direktur masih terbuka sebelum berkas itu kamu serahkan secara resmi."
Sepeninggal Prasetyo, keheningan kembali merayap pekat di dalam kubikel kerja Arham. Pemuda itu menatap lembaran kertas berisi rincian angka kerugian negara yang bisa ia manipulasi dengan mudah hanya lewat satu goresan tanda tangan di ujung halaman bawah. Bayangan segepok uang tunai yang bisa melunasi seluruh utang rumah sakit seketika berkelebat di kepalanya, menjanjikan kelegaan instan yang sangat menggiurkan di tengah malam yang dingin ini.
"Ya Allah... kuatkanlah hatiku," bisik Arham tertahan, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang kasar, merasakan air mata penyesalan dan keputusasaan meleleh perlahan di balik jari-jarinya.
Pertarungan batin itu berkecamuk hebat di dalam rongga dadanya, menguji sejauh mana keimanan dan ketulusan niat yang selama ini ia bangun bersama Humaira dalam ikatan suci pernikahan mereka.
❖ ❖ ❖
Transisi menuju puncak kebimbangan itu terasa kian mencekam tatkala jarum jam dinding kantor menunjuk pukul sepuluh malam, menandakan bahwa waktu bagi Arham untuk menyerahkan laporan akhir semakin mendekat. Ia bangkit dari kursi kerjanya, merapikan berkas-berkas audit tersebut ke dalam tas kerjanya dengan gerakan lambat dan ragu-ragu. Di satu sisi, ia adalah seorang suami yang tertekan oleh kewajiban menafkahi istri dan merawat mertua yang sakit; di sisi lain, ia adalah seorang hamba yang takut akan murka Allah apabila menyentuh harta yang bukan haknya. Langkah kakinya terasa sangat berat saat ia berjalan keluar dari ruangan menuju lift kantor, membawa serta perang batin yang luar biasa hebat di dalam kepalanya yang berdengung hebat. Saat ia tiba di lantai dasar gedung, ponsel di dalam saku jaketnya tiba-tiba berdering nyaring, menampilkan nama Humaira di layar sentuh yang berpijar terang.
Arham menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar normal sebelum ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan istrinya. "Halo, May? Belum tidur kamu? Ini aku baru mau beres-beres pulang ke rumah."
"Belum, Mas, aku masih nungguin kamu sambil setrika baju," suara Humaira terdengar lembut dan menenangkan di ujung sambungan, kontras dengan kekalutan batin yang sedang melanda jiwa suaminya. "Tadi ibu di kampung nelpon, nanyain kabar kita. Katanya beliau doain semoga urusan kerjaan Mas di kantor dilancarkan dan berkah."