Udara dini hari di Bandar Lampung merayap pelan menembus celah ventilasi kontrakan petak tiga kali tiga meter yang menjadi istana sederhana bagi Arham dan Humaira. Lampu neon jalanan di luar memantulkan bias kekuningan yang menerobos tirai kain kusam, menciptakan bayangan samar di dinding kamar. Suara jangkrik bersahutan dari kebun kosong sebelah, menyatu dengan deru angin malam yang membawa hawa dingin sisa hujan sore kemarin. Di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai, Arham terjaga dalam diam. Pikirannya berkecamuk, menimbang-nimbang lembaran keuangan keluarga kecil mereka yang kian menipis menjelang minggu ketiga bulan pertama pernikahan. Matanya menatap langit-langit eternit yang bernoda kecoklatan akibat rembesan air hujan musim lalu. Di sampingnya, Humaira tertidur pulas dalam balutan selimut rajut berwarna krem, napasnya teratur membawa ketenangan yang kontras dengan badai kecemasan di dada suaminya. Arham perlahan bangkit dari pembaringan, berhati-hati agar tidak membangunkan sang istri yang tampak begitu lelah setelah seharian membereskan rumah kontrakan dan memasak menu seadanya. Ia berjalan mengendap-endap ke sudut ruangan, tempat tas kerja dan dompet kulitnya tergeletak di atas meja kayu kecil berdebu. Jemarinya yang dingin meraba isi dompet tersebut, merasakan tekstur lembaran uang kertas yang semakin tipis di bagian lipatannya. Suara derit lantai kayu yang pelan memecah kesunyian, membuat Humaira tiba-tiba bergerak kecil dalam tidurnya.
"Mas... belum tidur?" suara Humaira terdengar serak khas orang baru bangun tidur, mengalun lembut membelah sunyi ruangan. Ia mengubah posisi tidurnya, lalu menatap punggung Arham yang membungkuk di dekat meja.
Arham menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke belakang dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Belum, Humaira. Ada sedikit yang ganggu pikiran, jadi terbangun. Maaf ya kalau gerakannya bikin kamu kebangun."
Humaira bangkit dari posisinya, menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menarik selimut rajutnya menutupi bahu. "Kenapa, Mas? Cerita sama aku. Dari kemarin aku lihat kamu sering termenung sendiri waktu pegang dompet itu. Ada masalah di kantor atau soal uang belanja kita?"
Arham kembali berjalan mendekati tempat tidur, lalu duduk bersila di tepi kasur busa. Ia menatap mata istrinya yang jernih dalam temaram lampu tidur berwarna merah redup. "Bukan soal kantor, Humaira. Ini soal kita. Aku tadi baru hitung sisa uang di dompet. Ternyata tinggal segelintir pecahan sepuluh ribuan. Kalau dihitung-hitung buat sepuluh hari ke depan sebelum gajian bulan depan turun, rasanya berat banget."
Humaira terdiam sejenak, menangkap kerutan di dahi suaminya. Ia tersenyum menenangkan, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Arham yang terasa dingin. "Itu toh yang bikin suamiku termenung tengah malam begini? Mas, kita kan sudah sering ngobrol soal ini. Namanya juga awal pernikahan, wajar kalau keuangan masih pas-pasan."
"Tapi rasanya sebagai suami aku gagal, Humaira. Baru sebulan menikah, tapi aku sudah buat kamu hidup dalam keterbatasan, bahkan untuk beli kebutuhan pokok saja harus hitung koin," keluh Arham, nada suaranya menyiratkan beban batin yang teramat dalam.
"Jangan ngomong begitu, Mas," balas Humaira lembut, suaranya bagai embun penyejuk di tengah gurun kekeringan. "Aku tidak pernah merasa hidup dalam kekurangan selama aku bersamamu. Harta memang penting, tapi ketulusan cinta dan kebersamaan kita jauh lebih berharga dari sekadar tumpukan uang."
❖ ❖ ❖
Cahaya matahari pagi mulai merangsek masuk melalui celah jendela kontrakan, membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dingin subuh. Di atas meja kayu kecil, secangkir teh tawar dan sepiring kecil ubi rebus mengepulkan asap tipis. Arham duduk termenung sambil memandangi ubi rebus tersebut, sementara Humaira sibuk merapikan sapu ijuk di sudut ruangan. Tujuan utama mereka hari ini sederhana namun krusial: bertahan hidup dengan sisa uang lima puluh ribu rupiah di dompet tanpa harus berhutang pada tetangga atau kerabat dekat. Arham bertekad untuk mencari tambahan penghasilan kecil-kecilan di akhir pekan ini, entah dengan membantu tetangga memperbaiki instalasi listrik atau menawarkan jasa desain grafis lepas secara daring jika ada waktu luang sepulang kantor.
"Humaira, hari ini aku mau coba tawarkan jasa servis komputer ke ruko depan kompleks habis zuhur. Siapa tahu ada yang butuh instal ulang laptop atau perbaikan ringan, lumrahnya kan dapat tambahan uang saku," ucap Arham sambil menyesap teh tawar hangatnya.
Humaira meletakkan sapu ijuk, lalu berjalan mendekati meja makan sederhana itu dan duduk di hadapan suaminya. "Bagus itu, Mas. Daripada diam di rumah meratapi dompet tipis, ikhtiar kecil seperti itu justru berpahala besar. Tapi ingat, jangan terlalu diforsir tenagamu. Kesehatanmu juga modal utama kita."
"Aku tidak apa-apa, Humaira. Justru aku merasa tidak tenang kalau hanya duduk diam menunggu keajaiban datang tanpa berusaha menjemputnya," jawab Arham dengan sorot mata yang menyiratkan tekad kuat.
"Aku tahu suamiku pekerja keras. Makanya aku tidak pernah meragukan pundak yang jadi tempatku bersandar ini," puji Humaira tulus, membuat sudut bibir Arham terangkat membentuk senyuman hangat. "Oh ya, untuk makan siang nanti, aku sudah siapkan siasat. Kita masak nasi agak banyak, lalu buat sambal terasi sisa kemarin sama rebusan daun singkong dari halaman belakang Pak RT yang sudah diizinkan dipetik."
Arham tertawa kecil, ketegangannya sedikit mencair. "Wah, menu sultan versi kontrakan petak ya. Daun singkong petik sendiri."
"Betul sekali! Nikmat mana lagi yang mau kita dustakan, Mas? Daun singkong segar kaya vitamin, sambal terasi membakar semangat," canda Humaira riang, mencoba menepis mendung kecemasan yang sempat menggelayuti pagi mereka.
"Kamu selalu tahu cara bikin hatiku lapang, Humaira. Padahal harusnya aku yang menghiburmu karena kondisi keuangan kita yang sedang diuji begini," ujar Arham penuh rasa kagum.
Humaira menggeleng pelan, jemarinya merapikan lipatan kain serbet di atas meja. "Rumah tangga itu bukan tentang siapa yang paling kuat menanggung beban sendirian, Mas. Tapi bagaimana kita memikulnya berdua dengan senyuman."
❖ ❖ ❖
Menjelang siang hari, aktivitas di luar kompleks perumahan mulai meningkat. Suara bising kendaraan bermotor dan teriakan pedagang keliling bersahutan di jalanan aspal yang memantulkan terik matahari pukul sebelas siang. Transisi dari suasana pagi yang tenang menuju kesibukan siang hari dirasakan betul oleh Arham yang bersiap-siap mengenakan kemeja kerjanya yang mulai tampak pudar di bagian kerah. Ia berdiri di depan cermin kecil berbingkai plastik merah, merapikan rambutnya yang ikal sambil sesekali melirik ke arah Humaira yang sedang melipat pakaian bersih di atas kasur.
"Mas, nanti kalau pulang jangan kemalaman ya. Di luar udaranya lagi tidak menentu, kadang siang panas menyengat, sorenya langsung hujan badai," pesan Humaira tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan baju kaos milik suaminya.
"Iya, Humaira. Aku usahakan selesai sebelum zuhur, jadi sempat mampir sebentar ke toko elektronik langganan buat tanya-tanya soal komponen kabel yang kemarin rusak," balas Arham sambil meraba saku celananya, memastikan dompet tipisnya aman di sana.
"Jangan lupa bawa payung lipat yang di pojok pintu itu, Mas. Ramalan cuaca tadi pagi bilang Bandar Lampung bakal diguyur hujan deras sore nanti," tambah Humaira sambil bangkit berdiri dan mengambil payung berwarna biru tua yang dimaksud, lalu menyerahkannya kepada Arham.
Arham menerima payung tersebut, lalu menatap lekat mata istrinya yang memancarkan perhatian begitu tulus. "Kamu memang istri paling teliti sedunia, Humaira. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah lupa jalan pulang."
"Gombal. Sudah sana berangkat, nanti keburu siang dan panas mataharinya makin terik," goda Humaira sambil mendorong pelan bahu suaminya ke arah pintu keluar.
"Iya, aku berangkat ya. Assalamu'alaikum," pamit Arham sambil mencium punggung tangan istrinya penuh takzim.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Hati-hati di jalan, Mas. Semoga ikhtiarmu hari ini berkah dan dimudahkan jalannya," jawab Humaira lembut sambil melambaikan tangan saat Arham mulai melangkah keluar menyusuri jalan setapak kompleks.