Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Fitnah di Tempat Usaha

Langit sore di atas kawasan Pasar Sentral meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik yang melintang semrawut. Udara terasa lembap, membawa aroma khas kayu manis, beras curah, dan peluh manusia yang berlalu-lalang menyelesaikan transaksi terakhir hari itu. Di sudut lorong blok B, los sembako milik Arham tampak lebih lengang dibanding biasanya. Karung-karung beras berjejer rapi, tertulis label harga dengan kapur putih di atas karton bekas. Di balik meja timbangan kuningan yang mengkilap karena sering diseka, Arham berdiri sambil melipat kertas pembungkus dengan gerakan tangan yang cekatan dan teratur.

Humaira keluar dari bilik kecil di bagian belakang toko, membawa nampan berisi dua cangkir teh poci hangat yang mengepulkan uap tipis. Perempuan itu mengenakan jilbab abu-abu gelap yang senada dengan gamis kerjanya, wajahnya menyiratkan kelelahan fisik setelah seharian menghitung catatan keuangan di buku besar. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil dekat kursi plastik tempat biasa mereka beristirahat sejenak sebelum toko benar-benar ditutup.

"Minum dulu, Kang. Udara rasanya pengap sekali hari ini, seperti mau turun hujan tapi anginnya tertahan," ujar Humaira pelan sambil merapikan ujung jilbabnya yang sedikit bergeser.

Arham menghentikan gerakannya, menatap cangkir teh yang menyebarkan aroma melati lembut. Ia tersenyum tipis, garis-garis di sudut matanya terlihat jelas di bawah temaram lampu bohlam 15 watt yang baru saja dinyalakan. "Terima kasih, Mai. Memang gerah sekali. Tadi siang pembeli juga agak sepi di blok depan, tapi alhamdulillah menjelang Ashar tadi ada beberapa pelanggan langganan yang datang mengambil pesanan beras organik."

Humaira duduk di kursi plastik, menarik napas panjang untuk mengusir rasa penat di punggungnya. "Iya, aku tadi sempat dengar ibu-ibu dari kompleks perumahan sebelah memuji kualitas beras kita. Katanya, tidak seperti di toko sebelah yang sering dicampur butiran patah atau beras kualitas rendah, beras di sini selalu murni sesuai timbangan. Mereka bilang kejujuran Kang Arham itu langka sekarang."

Mendengar itu, Arham menggelengkan kepala pelan, merendah. "Bukan karena aku hebat, Mai. Itu sudah kewajiban kita sebagai pedagang. Mencari keuntungan boleh, tapi kalau sampai menipu takaran atau kualitas, rezekinya tidak akan berkah untuk dibawa pulang ke rumah. Kita cari yang halal saja, meski sedikit, yang penting tenang."

Humaira mengangguk setuju, namun ada bayang-bayang kecil di matanya yang tidak luput dari pengamatan suaminya. "Aku tahu, Kang. Tapi kejujuran kita ini kadang-kadang membuat orang lain merasa tersaingi dengan cara yang tidak sehat. Aku tadi sempat berpapasan dengan Pak Jafar di dekat tangga parkir. Tatapannya, duh... rasanya tidak enak dilihat."

Arham menyesap tehnya yang masih panas, mengerutkan kening sejenak. "Pak Jafar? Pemilik toko sembako besar di ujung lorong itu? Memangnya kenapa dia?"

"Dia tidak bilang apa-apa, tapi cara dia melihat ke arah toko kita tadi siang rasanya penuh selidik. Seperti sedang mencari-cari celah kesalahan kita," jawab Humaira dengan nada cemas yang tertahan.

"Sudahlah, Mai. Jangan berburuk sangka dulu pada orang lain. Mungkin beliau hanya sedang lelah mengurus usahanya yang besar itu. Rezeki masing-masing sudah diatur, tidak mungkin tertukar," balas Arham menenangkan, meski di dalam hatinya sendiri ia tahu persaingan di pasar itu terkadang melibatkan cara-cara yang berada di luar batas kewajaran.

❖ ❖ ❖

Suasana malam semakin larut, deru kendaraan dari jalan raya utama mulai mereda, menyisakan suara geritan pintu rolling door toko-toko tetangga yang mulai ditutup rapat. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini adalah merapikan pembukuan mingguan serta memastikan stok barang untuk keesokan hari sudah tercatat dengan akurat. Di atas meja kayu, buku catatan bersampul tebal terbuka lebar di bawah sorotan lampu belajar portabel.

Humaira memegang pulpen, jemarinya menari di atas baris-baris angka. "Kang, kalau dihitung dari selisih pemasukan minggu ini, keuntungan kita memang sedikit menurun dibanding bulan lalu karena harga kulakan dari distributor naik, tapi kita sepakat tidak menaikkan harga jual ke pelanggan kecil, kan?"

Arham mengangguk tegas, matanya menatap lurus ke lembaran buku besar. "Betul, Mai. Jangan naikkan harga dulu. Kasihan para tetangga yang langganan di sini, ekonomi sedang sulit bagi kebanyakan orang. Biar untung kita tipis, yang penting perputaran barang tetap lancar dan toko kita tetap dipercaya."

"Tapi bagaimana kalau nanti modal kita pas-pasan untuk belanja stok baru minggu depan?" tanya Humaira, menyuarakan kekhawatiran logis yang kerap menghantui pikiran seorang istri pedagang kecil.

"Allah pasti beri jalan, Mai. Niat kita lurus berniaga secara jujur. Tujuan kita bukan sekadar menumpuk harta, tapi membangun keberkahan di tempat mencari nafkah ini. Kalau niatnya sudah benar, insya Allah urusan rezeki ada saja celahnya," tutur Arham dengan suara tenang yang selalu berhasil meredakan gelisah di dada istrinya.

Humaira tersenyum tipis, menatap suaminya dengan rasa hormat yang mendalam. Keteguhan prinsip Arham adalah jangkar yang membuat biduk rumah tangga mereka tetap stabil di tengah ombak kecil ekonomi pasar. "Iya, Kang. Aku pegang kata-kata itu. Semoga toko ini selalu dijaga dari segala hal yang tidak baik."

"Aamiin. Mari kita selesaikan catatan ini, lalu kita bersiap pulang. Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah di sini sebelum pasar ramai," ajak Arham sambil merapikan beberapa lembar nota pembelian distributor yang berserakan di sisi meja.

❖ ❖ ❖

Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik deretan ruko bertingkat, memantulkan kilau keemasan pada genangan air sisa gerimis semalam di halaman paving block pasar. Arham sudah membuka separuh rolling door tokonya, membiarkan udara segar pagi hari masuk menghalau bau apak gudang. Ia sedang menyapu lantai semen di depan toko ketika beberapa orang pedagang lewat dengan tatapan yang terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Pak Mardani, pedagang kelontong senior yang lapaknya berada tiga blok dari tempat Arham, berhenti sejenak sambil membawa secangkir kopi plastik. "Pagi, Arham. Wah, tumben tokomu agak sepi pembeli pagi ini, padahal biasanya jam begini sudah antre ibu-ibu."

Arham menghentikan sapunya, tersenyum ramah. "Pagi, Pak Mardani. Iya, mungkin mereka masih pada sibuk di rumah masing-masing. Belum pada turun pasar."

Pak Mardani mendengus pelan, menyeruput kopi hitamnya dengan gestur canggung. "Bukan itu maksudku, Ham. Coba deh kamu ke dekat papan pengumuman dekat pos satpam pusat pasar. Ada sesuatu yang... ah, sebaiknya kamu lihat sendiri."

Sebelum Arham sempat bertanya lebih lanjut, Pak Mardani sudah berlalu begitu saja dengan langkah cepat, meninggalkan rasa penasaran yang bercampur dengan firasat buruk. Arham meletakkan sapunya di sudut pintu, lalu bergegas melangkah menyusuri lorong utama menuju pos satpam tempat papan pengumuman asosiasi pedagang berada. Di sana, sekelompok orang tampak berkerumun sambil berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk selembar kertas yang baru saja ditempel menggunakan selotip kuning.

Ketika Arham mendekat dan mendesak pelan untuk melihat isi kertas tersebut, darahnya mendadak berdesir hebat. Di atas kertas HVS putih itu tertulis sebuah pengumuman resmi palsu yang mengatasnamakan pengurus pasar, menyatakan bahwa toko sembako milik Arham terbukti menjual beras curah yang dicampur dengan bahan pemutih sintetis berbahaya bagi kesehatan. Tidak hanya itu, tertera pula tuduhan bahwa timbangan di toko tersebut telah dimanipulasi menggunakan magnet tersembunyi.

"Astagfirullahaladzim..." gumam Arham tertahan, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Beberapa orang yang berdiri di dekat papan pengumuman langsung melirik ke arah Arham dengan tatapan sinis, penuh curiga, dan bisik-bisik tajam mulai terdengar di antara mereka. Dunia di sekitar Arham seolah berputar lebih lambat, menyisakan denging nyaring di telinganya.

❖ ❖ ❖

Berita bohong itu menyebar di lorong-lorong pasar bagaikan percikan api di atas sekam kering. Menjelang siang hari, suasana di depan toko Arham terasa lengang secara tidak wajar. Tidak ada satu pun pelanggan yang biasanya berbaris rapi di depan meja timbangan. Humaira yang baru saja datang membawa tas belanjaan berisi bahan makanan tambahan langsung merasakan kejanggalan begitu melihat suaminya duduk termenung di kursi plastik dengan tatapan kosong menatap lantai toko.

Humaira meletakkan tasnya di atas meja, lalu mendekati suaminya dengan napas memburu. "Kang Arham! Ada apa ini? Tadi di jalan menuju ke sini, aku dengar ibu-ibu warung nasi bilang kalau toko kita menjual beras beracun! Apa-apaan ini? Siapa yang berani membuat fitnah keji seperti itu?"

Lihat selengkapnya