Terik matahari siang di kawasan pemukiman padat penduduk Kota Bandar Lampung memantulkan kilau menyilaukan dari atap-atap seng rumah tetangga yang berdempetan. Angin kemarau berhembus membawa debu jalanan, menyelinap lewat celah-celah jendela rumah mungil Arham dan Humaira. Di dalam ruang tamu yang sederhana, tirai kain katun berwarna krem bergerak pelan mengikuti arus udara. Suasana siang itu terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk di luar, di mana suara deru kendaraan bercampur dengan obrolan para ibu tetangga yang kebetulan sedang berkumpul di teras rumah Bu RT di sebelah. Arham duduk bersila di atas karpet tipis, memegang pensil mekanik dan selembar kertas kalkir, merampungkan sketsa pesanan renovasi teras rumah warga secara independen, sementara Humaira sibuk melipat pakaian bersih di sudut ruangan.
"Mas, kipas angin di ruang tengah sepertinya sudah mulai berisik lagi baling-balingnya," ujar Humaira pelan sambil merapikan tumpukan baju koko milik suaminya ke dalam lemari kayu jati berukuran sedang.
Arham mengangkat wajahnya sejenak, menghentikan goresan pensif di atas kertas, lalu tersenyum simpul menatap istrinya. "Oh, iya? Nanti sore sepulang dari toko material dekat simpang, aku coba bongkar dan beri pelumas di bagian porosnya. Biar tidak berisik lagi kalau dipakai siang hari."
"Tidak usah terburu-buru, Mas. Kalau capek, istirahat dulu saja. Sedari pagi kamu sudah bolak-balik mengantar hasil rancangan ke rumah Pak Lurah," balas Humaira lembut, berjalan mendekat sambil membawa segelas air putih hangat untuk suaminya.
Kehidupan rumah tangga Arham dan Humaira memang tengah berada di fase penyesuaian yang cukup menantang setelah Arham memilih keluar dari biro arsitektur besar beberapa waktu lalu demi menjaga prinsip syariat dalam pekerjaannya. Meskipun kini ia membangun karier mandiri sebagai arsitek lepas dengan proyek-proyek skala kecil, pendapatan bulanan mereka menjadi tidak menentu. Perubahan drastis dari segi finansial ini bukan rahasia lagi di lingkungan tetangga sekitar, yang kerap mengamati gerak-gerik keluarga muda tersebut dengan standar kesuksesan material yang diukur dari merek kendaraan atau kemegahan perabotan rumah.
"Minum dulu, Mas, biar tenggorokannya tidak kering," kata Humaira sambil meletakkan gelas kaca itu di atas meja kecil dekat suaminya.
Arham menyambut gelas tersebut dengan senyuman hangat, sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam kepada sang istri. "Terima kasih, Sayang. Kamu selalu tahu kapan suamimu butuh jeda di tengah hari yang panas ini."
"Sama-sama, Mas. Aku cuma ingin memastikan suamiku tetap sehat di tengah semua ikhtiar kita," jawab Humaira manis, lalu kembali duduk di kursi rajutnya untuk melanjutkan pekerjaannya merapikan buku catatan keuangan rumah tangga pekan ini.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham dan Humaira menjalani hari-hari penuh kesederhanaan ini sangatlah mulia: menjaga keharmonisan batin dan membentengi rumah tangga dari rasa iri serta kecemasan sosial akibat standar materi orang lain. Mereka menyadari bahwa cibiran atau bisikan miring dari lingkungan sekitar adalah ujian mental yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan hati yang bersih. Ketika standar kemapanan diukur dari seberapa mewah kendaraan di garasi, Arham dan Humaira sepakat memilih kekayaan hati, keberkahan rezeki, serta ketenteraman jiwa sebagai mata uang utama dalam rumah tangga mereka.
Menjelang pukul tiga sore, suara bising dari teras rumah Bu RT di sebelah mulai terdengar semakin jelas hingga menembus dinding papan rumah mereka. Jendela ruang tamu yang sedikit terbuka membuat percakapan para tetangga wanita yang sedang berkumpul sore itu terdengar sampai ke telinga Arham dan Humaira.
"Eh, kalian perhatikan tidak? Keluarga Arham itu sekarang kelihatan sekali turunnya. Motor matic yang biasa dipakai Arham sekarang sering terlihat kotor, dan istrinya juga sudah jarang kelihatan beli belanjaan sayur yang banyak seperti dulu waktu Arham masih kerja di biro besar," suara nyaring Bu Heni, salah satu tetangga yang dikenal hobi bergosip, terdengar tanpa filter.
Timpal suara tetangga lainnya, Bu RT, dengan nada setengah berbisik namun masih bisa ditangkap indra pendengaran. "Makanya, kalau suami itu jangan terlalu idealis menolak pekerjaan di perusahaan mapan. Katanya lulusan arsitek ternama, tapi sekarang malah jadi tukang gambar bangunan kampung. Sayang sekali paras cantik Humaira kalau harus hidup pas-pasan begitu."
Di dalam ruang tamu, Arham yang sedang merapikan kertas sketsanya mendadak menghentikan gerakan tangannya. Rahangnya mengeras seketika, dan kepalan tangannya meremas ujung meja kayu. Ada rasa panas yang merambat di dadanya mendengar kalimat-kalimat meremehkan yang dilontarkan tetangga tepat di sebelah rumah mereka.
Humaira, yang juga mendengar jelas percakapan tersebut, langsung meletakkan tumpukan pakaian di tangannya. Ia bangkit dari kursi rajut, lalu berjalan mendekati Arham dengan langkah tenang. Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkan telapak tangan lembutnya di atas kepalan tangan suaminya yang masih menegang.
"Mas..." panggil Humaira dengan suara yang sangat lembut, menenangkan gejolak emosi di dada suaminya.
Arham mendongak, menatap mata istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan kekesalan tertahan. "Kamu dengar apa kata mereka, Mai? Mereka merendahkan perjuangan kita, meremehkan apa yang sedang kita bangun dengan susah payah."
"Iya, aku dengar, Mas," jawab Humaira tenang, tersenyum tulus meski matanya memancarkan keteguhan batin yang luar biasa. "Tapi buat apa kita membuang energi untuk mendengarkan penilaian manusia yang tidak tahu isi hati kita? Yang tahu perjuangan kita dan rida Allah itu bukan mereka, Mas."
❖ ❖ ❖
Percakapan singkat di ruang tamu itu berhasil meredam amarah yang sempat membakar dada Arham. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk membuang jauh-jauh rasa gengsi dan ego lelaki yang sempat tersulut oleh cibiran tetangga. Hubungan pernikahan mereka selama ini memang ditempa oleh kejujuran dan komunikasi yang terbuka, di mana setiap kali ada duri di luar yang mencoba merangsek masuk, mereka selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin dan zikir kepada Sang Pencipta.
Matahari perlahan bergeser ke barat, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di kaca jendela. Suara bising di teras sebelah berangsur-angsur reda seiring dengan bubarnya kumpulan para tetangga menjelang waktu Ashar. Arham bangkit dari karpet, merapikan lembaran sketsanya ke dalam tas kerja, lalu bersiap mengambil air wudu untuk menunaikan salat Ashar berjemaah bersama sang istri di musala rumah kecil mereka.
"Mari, Mas, kita ambil wudu dulu. Sebentar lagi azan Ashar berkumandang," ajak Humaira sambil melipat sajadah kecil dan merapikan mukenanya.
"Iya, Mai. Mari," balas Arham dengan suara yang kini jauh lebih tenang dan stabil.
Selepas menunaikan salat Ashar, mereka tidak langsung beranjak dari sajadah. Arham duduk bersila menghadap istrinya, sementara Humaira merapikan ujung mukenanya dengan anggun. Suasana sore itu terasa begitu khusyuk dan menenangkan, seolah menghapus segala kepenatan duniawi dan bisikan-bisikan sumbang yang sempat mampir di telinga mereka beberapa waktu lalu.
"Mai, jujur... kadang sebagai suami aku merasa berat melihatmu harus ikut hidup sederhana dan mendengar omongan tetangga seperti tadi," aku Arham jujur, menundukkan pandangannya ke lantai keramik. "Aku merasa belum sepenuhnya membahagiakanmu secara materi."
Humaira tersenyum hangat, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat-erat. "Mas, kebahagiaan itu bukan terletak pada seberapa banyak orang memuji kekayaan kita, tapi pada seberapa damai hati kita saat bersujud bersama di hadapan Allah. Aku tidak pernah menyesal mendampingimu. Hidup sederhana dengan suami yang menjaga kehormatan agama jauh lebih mulia bagiku daripada hidup bergelimang harta dari hasil melanggar aturan-Nya."
Ketulusan yang terpancar dari setiap kalimat Humaira bagaikan embun sejuk yang menyiram gersang di hati Arham. Ia menyadari betapa beruntungnya memiliki seorang istri yang tidak hanya cantik rupa, tetapi juga kaya akan kebijaksanaan jiwa. Komunikasi di antara mereka terbukti menjadi benteng pertahanan paling kokoh yang membuat rumah tangga mereka kebal dari racun materialisme dunia luar.
❖ ❖ ❖