Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Istiqomah di Jalan-Nya

Angin malam berembus pelan, menyisipkan hawa dingin yang merayap melalui ventilasi kayu rumah petak Arham dan Humaira. Di bawah temaram cahaya lampu petromaks pualam kuning yang menggantung di sudut ruang tengah, selembar tikar pandan tipis digelar membentang di atas lantai semen plesteran yang dingin. Di atas tikar itu, Arham duduk bersila sambil membolak-balikkan lembaran buku catatan keuangan rumah tangga dengan wajah muram, sementara Humaira duduk bersimpuh di sampingnya, melipat kain jilbab sisa jemuran sore tadi dengan gerakan lambat yang penuh kehati-hatian. Suasana terasa begitu senyap, hanya diiringi suara detak jarum jam dinding tua berbandul besi yang berderik lambat, seolah menghitung setiap detik beban berat yang tengah menghimpit dada pasangan muda tersebut setelah badai pemeriksaan hukum yang melelahkan beberapa waktu lalu tuntas dilewati dengan kepala tegak.

"Tabungan kita bulan ini benar-benar menipis, May," suara Arham memecah keheningan, terdengar begitu berat dan sarat akan kepenatan yang teramat sangat. "Sisa uang di dompet cuma cukup buat beli beras tiga liter dan sedikit minyak sayur untuk minggu depan."

Humaira menghentikan lipatan kain di tangannya, lalu menoleh menatap wajah suaminya yang tampak kian tirus dengan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya. "Alhamdulillah, Mas. Yang penting kita masih diberi kesehatan, dan yang paling utama, dapur kita masih mengepul dari rezeki yang halal dan bersih."

"Aku tahu rezeki itu sudah diatur, tapi sebagai kepala keluarga, rasanya tetap saja sesak melihat kamu tidak bisa menikmati kenyamanan seperti perempuan lain," keluh Arham, jemarinya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

Humaira merayap mendekat, lalu meletakkan tangannya yang lembut di atas punggung tangan Arham yang kasar. "Jangan ngomong begitu, Mas. Dari awal aku menikah denganmu, aku bukan mencari harta kemewahan dunia, tapi mencari ridanya Allah lewat imam yang jujur sepertimu."

Arham mendongak, menatap lekat-lekat bola mata istrinya yang jernih, menemukan ketenangan luar biasa yang selalu berhasil meredakan badai di dalam kepalanya.

"Tapi kita harus tetap realistis, May. Pengeluaran makin banyak, sedangkan cicilan kontrakan bulan depan sudah di ambang pintu," lanjut Arham dengan nada suara yang masih menyisakan keraguan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari perbincangan malam ini sebenarnya bukan sekadar meratapi angka-angka minus di buku catatan keuangan, melainkan menetapkan sebuah keputusan besar yang sangat mendasar: memperbanyak sedekah di tengah himpitan ekonomi yang kian menyempit. Arham dan Humaira ingin membuktikan bahwa janji Allah tentang pelipatgandaan harta bagi orang yang gemar berinfak bukanlah sekadar teori di atas kitab suci, malainkan sebuah kepastian iman yang harus diuji langsung dalam kehidupan nyata mereka. Di tengah keterbatasan yang mendera, mereka bertekad untuk menyisihkan sebagian kecil dari sisa uang belanja harian guna membantu para tetangga lansia di sekitar lorong kontrakan yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Arham ingin memastikan bahwa rumah tangga mereka tidak dibangun di atas sifat kikir, melainkan dihidupkan dengan semangat berbagi yang tulus karena mengharap rida Sang Pencipta.

"Bagaimana kalau sisa uang beras itu kita bagi dua, Mas?" usul Humaira dengan suara lembut namun penuh keteguhan yang mengejutkan Arham. "Sebagian kita belikan beras untuk kita, dan sebagian kecilnya kita bungkus untuk Mak Jannah di ujung gang yang kemarin sakit."

Arham tertegun sejenak, menatap istrinya dengan kening berkerut ragu. "Dibagi dua, May? Kalau kita kasih ke Mak Jannah, jatah beras kita minggu depan bagaimana? Nanti kita makan apa?"

"Allah yang Maha Pemberi Rezeki, Mas," jawab Humaira tersenyum tulus, menyalurkan energi keyakinan spiritual yang begitu kuat ke dalam dada suaminya. "Sedekah itu tidak pernah mengurangi harta, justru akan membuka pintu-pintu keberkahan yang tidak kita sangka-sangka dari arah mana pun."

Arham menarik napas dalam-dalam, merasakan pergulatan batin antara akal sehat manusia yang penuh perhitungan matematika dan keimanan mutlak yang diajarkan oleh agamanya.

"Kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini, May? Kita sendiri sedang megap-megap lho," tanya Arham memastikan sekali lagi.

"Justru di saat sempit inilah ujian sedekah itu menjadi paling bernilai di sisi Allah, Mas," balas Humaira mantap, menggenggam jemari suaminya semakin erat.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya