Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Pertolongan yang Tak Terduga

Fajar menyingsing di atas langit Bandar Lampung dengan sapuan warna jingga keemasan yang menembus celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter. Udara pagi membawa kesejukan sisa embun malam, menyelinap di balik tirai kain kusam yang menutupi jendela kecil. Di ruangan sempit itu, Arham duduk bersila di atas sajadah tipis berwarna hijau pudar, telapak tangannya menengadah dalam sisa doa setelah menunaikan salat Subuh berjemaah. Di sampingnya, Humaira melipat mukena putih berenda dengan gerakan tenang, sementara aroma wangi sisa air wudu masih menguar lembut di antara mereka. Hari itu menandai minggu-minggu penuh perjuangan di bulan pertama pernikahan mereka, di mana dompet tipis dan tabungan pas-pasan sering kali menjadi ujian batin yang menguji keteguhan iman dan kesabaran keduanya.

"Dingin banget ya, Mas? Angin subuh kali ini rasanya tembus sampai ke tulang," ucap Humaira pelan sambil merapatkan cardigan rajut berwarna krem ke tubuhnya, lalu melangkah menuju sudut ruangan tempat meja kecil berlapis taplak plastik kusam berada.

Arham mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menoleh ke arah sang istri dengan senyuman tipis. "Iya, Humaira. Mungkin karena semalam hujan turun cukup deras sampai menjelang pagi. Tapi alhamdulillah, atap kontrakan kita aman dan tidak ada yang bocor."

Humaira menuangkan air hangat dari termos kecil ke dalam dua cangkir seng antik bergambar bunga. Ia membawa salah satu cangkir tersebut dan menyerahkannya kepada Arham. "Ini teh hangatnya, Mas. Gulanya memang tinggal sedikit banget, jadi tadi sengaja tidak aku maniskan terlalu pekat supaya kita bisa berbagi rasa hangatnya sama rata."

Arham menerima cangkir seng itu, jemari mereka bersentuhan sekilas dan menghadirkan kehangatan kecil di tengah kesederhanaan pagi. "Tidak apa-apa, Humaira. Teh tawar buatanmu selalu terasa manis kalau diminum sambil melihat senyumanmu di pagi hari."

"Gombal lagi, Mas Arham ini," balas Humaira tertawa renyah, menciptakan melodi indah yang meredam kesunyian kontrakan petak mereka. "Tapi serius, kita harus benar-benar cermat atur pengeluaran minggu ini. Sisa uang di dompet tinggal beberapa lembar saja sebelum nanti ada pemasukan dari proyek desain lepas yang sedang kamu garap."

"Aku paham, Humaira. Aku juga terus berdoa semoga ikhtiar kita dipermudah, terutama buat nutup kebutuhan sehari-hari tanpa harus bikin kamu pusing," jawab Arham penuh kesungguhan.

❖ ❖ ❖

Matahari kini telah bergeser naik, memancarkan terik hangat yang menyinari jalanan aspal di depan kompleks perumahan sederhana tempat mereka tinggal. Di atas meja kayu kecil yang beralaskan tumpukan buku catatan kantor, Arham membuka dompet kulit hitamnya yang sudah terlihat kusam di bagian lipatannya. Ia mengeluarkan sisa uang tunai yang tersisa—beberapa lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu dan dua puluh ribuan. Di sisi seberang meja, Humaira duduk memperhatikan dengan saksama, menatap lembaran uang tersebut tanpa ada secercahpun kerutan kekecewaan di dahinya. Tujuan utama mereka hari ini sangat jelas namun penuh tantangan: bertahan hidup dan mengelola sisa uang belanja seminimal mungkin, sambil berharap ada keajaiban rezeki halal yang datang mengetuk pintu lewat jasa desain grafis dan pekerjaan serabutan yang ditekuni Arham di luar jam kantor.

"Bagaimana, Mas? Sisa uang kita masih cukup buat beli beras sama sayur di tukang sayur keliling siang nanti?" tanya Humaira dengan nada lembut, berusaha menjaga agar suasananya tetap tenang.

Arham menghela napas pelan, lalu mendongak menatap mata istrinya yang jernih. "Alhamdulillah, kalau hanya untuk beras dan sayur bayam, masih cukup buat beberapa hari ke depan, Humaira. Tapi buat kebutuhan mendadak lainnya, dompet ini benar-benar sedang menipis."

Humaira mengangguk pelan, jemarinya merapikan letak lembaran uang di atas meja agar terlihat lebih rapi. "Tidak apa-apa, Mas. Kita syukuri saja apa yang ada sekarang. Rezeki itu tidak akan tertukar, yang penting kita sudah berusaha dengan jujur dan ikhlas."

"Aku kagum sama keteguhan hatimu, Humaira. Baru sebulan kita menikah, tapi kamu tidak pernah mengeluh hidup pas-pasan begini denganku," puji Arham tulus, dadanya terasa lapang mendengar kalimat penenang dari sang istri.

"Buat apa mengeluh, Mas? Keluhan tidak akan menambah isi dompet kita, malah bikin hati jadi sempit. Yang penting kita jalani semuanya bareng-bareng," balas Humaira sambil tersenyum manis.

"Kalau begitu, hari ini aku mau fokus selesaikan revisi desain pesanan klien dari percetakan sebelah. Kalau hasilnya beres, sore nanti aku bisa langsung ambil upahnya," kata Arham penuh semangat.

❖ ❖ ❖

Transisi siang menjelang sore diwarnai oleh deru kendaraan bermotor yang lalu-lalang di jalan raya utama dekat kompleks perumahan. Arham duduk terpaku di depan layar laptop usang miliknya, jemarinya menari di atas papan ketik memperbaiki detail warna desain poster promosi untuk sebuah toko kelontong baru milik warga sekitar. Suasana di dalam kontrakan terasa hangat oleh terik matahari yang menembus kaca jendela. Humaira sibuk menyapu lantai sambil bersenandung kecil, menciptakan ritme ketenangan di tengah tekanan finansial yang tengah mereka hadapi. Perubahan suasana dari ketegangan pagi hari menuju kesibukan produktif siang itu memberikan energi positif bagi Arham untuk terus merampungkan pekerjaannya dengan teliti dan penuh kejujuran, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengambil jalan pintas dalam mencari rezeki.

"Mas, sudah hampir jam dua siang. Mau disiapkan makan siang sekarang atau nanti setelah desainnya selesai?" tawar Humaira sambil meletakkan sapu ijuk di sudut ruangan.

Arham menghentikan ketikannya sejenak, lalu meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. "Boleh, Humaira. Sebentar lagi bagian akhirnya beres kok. Tinggal finishing warna sedikit lagi."

"Alhamdulillah. Hari ini kita masak tumis kangkung sama tempe goreng tepung sisa kemarin. Walau sederhana, baunya harum banget lho," kata Humaira riang sambil melangkah menuju dapur mungil mereka.

"Apapun masakan buatanmu pasti enak, Humaira. Apalagi dinikmati berdua begini," puji Arham tersenyum lebar, menatap punggung istrinya yang sedang menyiapkan piring di atas lantai.

Lihat selengkapnya