Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Syukur yang Membuncah

Malam semakin larut merayap di atas atap rumah kontrakan kecil Arham, membawa serta keheningan kota yang kian pekat setelah diguyur hujan rintik sepanjang petang. Di dalam kamar utama yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram, udara terasa begitu sejuk dan menenangkan. Di atas lantai kayu yang bersih, sehelai sajadah panjang berbahan beludru hijau tua terbentang rapi, bersanding dengan sajadah kecil di sampingnya. Aroma lembut minyak wangi gaharu menguar tipis, berpadu dengan wangi khas kamar bayi dari arah sudut ruangan tempat boks kecil kayu bercat putih berdiri tenang. Di atas tempat tidur, Humaira duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, mengenakan gamis rumahan berwarna ungu muda dengan jilbab instan putih longgar yang membingkai wajah teduhnya. Perut buncitnya kini telah tiada; tangisan kecil nan merdu dari buah hati mereka—seorang bayi perempuan salihah yang lahir sehat dua pekan lalu—baru saja mereda setelah disusui dan tertidur lelap di dalam boksnya. Arham berdiri di dekat jendela kaca, melipat mukena sisa salat malam mereka, lalu menoleh menatap sang istri dengan sorot mata yang dipenuhi pendar kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Bayi kita sudah tidur kembali dengan sangat pulas, Arham," bisik Humaira lembut, memecah kesunyian malam sambil tersenyum simpul menatap ke arah boks bayi di sudut kamar.

Arham melangkah pelan mendekati tempat tidur, lalu duduk bersimpuh di tepi ranjang tepat di hadapan istrinya. "Alhamdulillah... setelah tadi sempat rewel karena gigitan nyamuk atau sekadar ingin digendong, sekarang malaikat kecil kita itu tidur nyenyak sekali. Kau tidak lelah kan, Humaira?" tanya Arham penuh perhatian, mengulurkan tangan untuk merapikan sehelai rambut halus yang keluar dari jilbab istrinya.

"Sedikit lelah fisik tentu saja, Arham. Tapi rasa lelah itu langsung lenyap seketika setiap kali aku melihat wajah tenang anak kita di dalam boks sana," jawab Humaira tulus, menyambut sentuhan tangan suaminya dengan senyuman hangat yang merekah di bibirnya. "Rasanya semua perjuangan sembilan bulan kehamilan dan proses persalinan kemarin terbayar lunas tanpa sisa."

"Aku benar-benar takjub melihat ketabahanmu selama ini, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bergetar halus karena rasa haru. "Kau melewati masa-masa sulit kehamilan hingga persalinan kemarin dengan senyuman dan kesabaran yang luar biasa. Aku merasa menjadi suami yang paling beruntung di dunia ini."

"Jangan memujiku berlebihan, Arham," balas Humaira lembut, menunduk sejenak sebelum kembali mengangkat pandangannya menatap lekat mata suaminya. "Kekuatan itu datang karena kita saling menguatkan. Dan malam ini, di sepertiga malam yang sunyi ini, ada satu hal penting yang harus kita lakukan bersama sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya."

❖ ❖ ❖

"Maksudmu, kita melakukan sujud syukur bersama di atas sajadah?" tanya Arham menerka, menangkap kilat binar penuh makna di mata istrinya.

Humaira mengangguk pelan dengan senyuman yang semakin mengembang. "Iya, Arham. Tujuan utamaku terjaga malam ini bukan sekadar mengecek bayi kita, melainkan mengajakmu bersujud bersama. Segala kemudahan yang Allah turunkan kepada kita belakangan ini sungguh luar biasa—mulai dari kelancaran usaha tokomu di pasar, rezeki halal yang terus mengalir tanpa putus, hingga keselamatan proses persalinan dan kesehatan anak kita. Kita harus menutup malam ini dengan sujud syukur yang tulus."

Arham tertegun sejenak, lalu merasakan aliran kehangatan yang luar biasa menjalar sekujur tubuhnya. "Kau benar, Humaira. Aku sering kali merasa nikmat yang Allah berikan kepada kita sudah begitu banyak, hingga kadang aku takut lupa diri dan menjadi hamba yang kufur nikmat. Sujud syukur adalah cara terbaik bagi kita untuk mengakui bahwa segalanya berasal dari rahmat-Nya, bukan semata-mata karena kepintaran atau kerja keras kita."

"Tujuan kita malam ini adalah membersihkan hati dari segala rasa ujub atau sombong, Arham," tambah Humaira dengan nada suara yang semakin serius namun menyejukkan. "Kita ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Sang Pencipta, memohon agar Dia senantiasa menjaga keberkahan atas rezeki dan keluarga kecil yang telah Dia amanahkan kepada kita."

"Kalau begitu, mari kita laksanakan sekarang," ajak Arham dengan mantap, bangkit berdiri dari tepi ranjang lalu merapikan letak sajadah beludru hijau di lantai agar terbentang semakin sempurna berdampingan.

Humaira ikut beranjak perlahan dari tempat tidur, merapikan gamis dan jilbabnya, lalu berdiri tepat di samping suaminya di atas permadani sajadah yang harum. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, niat suci itu mereka bulatkan di dalam dada masing-masing, siap bersujud merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Zat yang Maha Kaya.

❖ ❖ ❖

Suasana kamar mendadak terasa semakin senyap dan khusyuk begitu Arham dan Humaira berdiri berdampingan di atas sajadah. Suara deru angin malam di luar jendela berangsur mereda, meninggalkan keheningan total yang seolah merestui ibadah malam mereka. Transisi dari perbincangan penuh haru menuju gerakan fisik sujud syukur membawa gelombang ketenangan batin yang teramat dalam bagi keduanya.

Arham mengangkat kedua tangannya sejajar telinga, melafalkan takbiratul ihram dengan suara pelan namun jelas, yang langsung diikuti oleh Humaira di sampingnya. Mereka menunaikan dua rakaat salat sunnah mutlak terlebih dahulu sebagai pengantar sebelum memanjatkan sujud syukur yang sesungguhnya.

Gerakan salat mereka berlangsung lambat, khusyuk, dan teratur. Setiap bacaan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan Arham dengan suara lirih menggema lembut di dalam kamar kecil itu, meresap ke dalam relung jiwa dan menenangkan setiap debar kecemasan duniawi yang sempat singgah di kepala mereka.

"Sami'allahu liman hamidah..." bisik Arham saat bangkit dari rukuk, mengakhiri rangkaian rakaat kedua dengan salam penutup yang damai.

Begitu salam diucapkan ke kanan dan ke kiri, keduanya tidak langsung bangkit. Mereka tetap duduk bersimpuh sejenak, menengadahkan kedua tangan dalam doa singkat, lalu secara bersamaan merebahkan diri bersujud di atas lantai sajadah. Transisi spiritual ini menandai penyerahan total jiwa raga mereka kepada Sang Pemilik Semesta, mengakui kelemahan diri di hadapan kebesaran Ilahi yang telah melimpahkan begitu banyak karunia tak terhingga.

Dada Arham bergemuruh hebat saat keningnya menyentuh lantai dingin. Di dalam sujud yang panjang itu, bayangan perjalanan hidup mereka—dari masa taaruf yang penuh teka-teki, rintangan bisnis di pasar, hingga tangisan bayi mungil yang kini tidur pulas—berkelebat cepat bagaikan film dokumenter pendek yang penuh mukjizat kasih sayang Allah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya