Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Hikmah di Balik Sempitnya Rezeki

Langit sore di atas Pasar Sentral meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik yang melintang semrawut. Udara terasa lembap, membawa aroma khas kayu manis, beras curah, dan peluh manusia yang berlalu-lalang menyelesaikan transaksi terakhir hari itu. Di sudut lorong blok B, los sembako milik Arham tampak lebih lengang dibanding biasanya, namun sisa-sisa ketenangan masih membingkai dinding kayu tempat karung-karung beras berjejer rapi. Di balik meja timbangan kuningan yang mengkilap karena sering diseka, Arham berdiri sambil melipat kertas pembungkus dengan gerakan tangan yang cekatan dan teratur, menyisakan ruang bagi keheningan yang menenangkan setelah badai fitnah besar yang sempat melanda beberapa waktu lalu.

Humaira keluar dari bilik kecil di bagian belakang toko, membawa nampan berisi dua cangkir teh poci hangat yang mengepulkan uap tipis. Perempuan itu mengenakan jilbab abu-abu gelap yang senada dengan gamis kerjanya, wajahnya menyiratkan kelelahan fisik namun matanya memancarkan ketenangan batin yang luar biasa. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil dekat kursi plastik tempat biasa mereka beristirahat sejenak sebelum toko benar-benar ditutup.

"Minum dulu, Kang. Udara rasanya pengap sekali hari ini, seperti mau turun hujan tapi anginnya tertahan di atas sana," ujar Humaira pelan sambil merapikan ujung jilbabnya yang sedikit bergeser karena angin sore.

Arham menghentikan gerakannya, menatap cangkir teh yang menyebarkan aroma melati lembut. Ia tersenyum tipis, garis-garis di sudut matanya terlihat jelas di bawah temaram lampu bohlam 15 watt yang baru saja dinyalakan. "Terima kasih, Mai. Memang gerah sekali. Tadi siang pembeli juga agak sepi di blok depan, tapi alhamdulillah menjelang Ashar tadi ada beberapa pelanggan langganan yang datang mengambil pesanan beras organik."

Humaira duduk di kursi plastik, menarik napas panjang untuk mengusir rasa penat di punggungnya. "Iya, aku tadi sempat dengar ibu-ibu dari kompleks perumahan sebelah memuji kualitas beras kita. Katanya, tidak seperti di toko sebelah yang sempat tersandung masalah kualitas beberapa waktu lalu, beras di sini selalu murni sesuai timbangan. Mereka bilang kejujuran kita adalah harga mati yang tidak bisa ditawar."

Mendengar itu, Arham menggelengkan kepala pelan, merendah sambil tersenyum hangat. "Bukan karena kita hebat, Mai. Itu sudah kewajiban kita sebagai pedagang. Mencari keuntungan boleh, tapi kalau sampai menipu takaran atau kualitas, rezekinya tidak akan berkah untuk dibawa pulang ke rumah. Kita cari yang halal saja, meski sedikit, yang penting tenang."

Humaira mengangguk setuju, matanya berbinar menatap suaminya dengan rasa cinta yang kian dalam. "Aku tahu, Kang. Pengalaman kemarin mengajarkan kita banyak hal. Bahwa di balik sempitnya rezeki atau beratnya ujian, selalu ada hikmah besar yang Allah titipkan untuk menguji seberapa kuat ikatan kita."

Arham menyesap tehnya yang masih panas, mengerutkan kening sejenak menikmati kehangatan cairan itu. "Betul sekali, Mai. Kalau dulu kita mungkin sering khawatir berlebihan soal omset harian, sekarang aku merasa jauh lebih pasrah dan tawakal. Rezeki itu bukan sekadar angka di buku kas, tapi rasa tenteram di dalam dada saat kita pulang menemui anak-anak di rumah."

"Dan yang paling membuatku bersyukur, badai kemarin justru mendekatkan kita, Kang. Dulu kita mungkin sering sibuk dengan urusan masing-masing di toko, tapi saat diuji fitnah kemarin, genggaman tanganmu di ruang kepala pasar itu rasanya seperti jangkar yang membuatku tidak pernah merasa takut," tutur Humaira jujur, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam.

Arham meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu meraih tangan istrinya yang tergeletak di atas pangkuan, mengusap punggung tangan itu dengan kelembutan yang menenangkan. "Karena kita adalah satu kesatuan, Mai. Apa yang melukai hatimu, pasti terasa dua kali lipat lebih menyakitkan di dadaku. Ujian kemarin bukan untuk memisahkan kita, tapi untuk menyaring mana kaca dan mana permata dalam hubungan kita."

❖ ❖ ❖

Suasana malam semakin larut, deru kendaraan dari jalan raya utama mulai mereda, menyisakan suara geritan pintu rolling door toko-toko tetangga yang mulai ditutup rapat. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini adalah merapikan pembukuan mingguan serta memastikan stok barang untuk keesokan hari sudah tercatat dengan akurat, sebuah rutinitas sederhana yang kini terasa jauh lebih bermakna setelah melewati berbagai ujian hidup yang melelahkan. Di atas meja kayu, buku catatan bersampul tebal terbuka lebar di bawah sorotan lampu belajar portabel.

Humaira memegang pulpen, jemarinya menari di atas baris-baris angka dengan ritme yang stabil. "Kang, kalau dihitung dari selisih pemasukan minggu ini, keuntungan kita memang belum sepenuhnya pulih seperti sebelum fitnah itu terjadi, tapi setidaknya arus kas kita sudah mulai stabil dan tidak ada lagi beban utang di distributor."

Arham mengangguk tegas, matanya menatap lurus ke lembaran buku besar. "Alhamdulillah, Mai. Sedikit demi sedikit butiran pasir akan menjadi bukit. Yang penting kita tidak pernah mengurangi takaran atau mengambil jalan pintas yang dilarang agama. Rezeki yang sedikit tapi berkah akan jauh lebih mengenyangkan dibanding harta melimpah tapi penuh dengan kecemasan."

"Tapi bagaimana kalau nanti ada lagi orang-orang yang tidak suka melihat toko kita bangkit kembali?" tanya Humaira, menyuarakan sisa-sisa bayangan ketakutan masa lalu yang terkadang masih singgah di benaknya.

"Biarkan saja, Mai. Manusia hanya bisa berencana dan menebar kebencian, tapi ketetapan Allah adalah yang paling mutlak. Selama niat kita lurus mencari ridha-Nya dan bukan sekadar mengejar pujian manusia, kita tidak punya alasan sedikit pun untuk merasa takut," tutur Arham dengan suara tenang yang selalu berhasil meredakan gelisah di dada istrinya.

Humaira tersenyum tipis, menatap suaminya dengan rasa hormat dan kekaguman yang tidak pernah luntur. Keteguhan prinsip Arham adalah jangkar yang membuat biduk rumah tangga mereka tetap stabil di tengah ombak kehidupan pasar yang kejam. "Iya, Kang. Aku pegang kata-kata itu. Sekarang aku tidak lagi merasa cemas berlebihan seperti dulu, karena aku tahu kita menghadapinya bersama-sama."

"Aamiin. Mari kita selesaikan catatan ini, lalu kita bersiap pulang. Besok pagi-pagi sekali kita harus menyambut hari baru dengan semangat yang lebih segar," ajak Arham sambil merapikan beberapa lembar nota pembelian distributor yang berserakan di sisi meja.

Lihat selengkapnya