Angin sore berhembus pelan melintasi deretan atip seng kontrakan petak, membawa serta aroma basah sisa hujan gerimis yang baru saja mengguyur kawasan pemukiman padat di ujung kota. Di dalam kamar yang sempit namun tertata rapi, Arham tampak berdiri di depan cermin kecil sambil merapikan peci hitam rajutannya yang mulai berbulu di bagian tepi. Di atas ranjang lipat di dekatnya, Humaira melipat rapi sebuah gamis hitam sederhana dan sehelai jilbab lebar berwarna senada, bersiap untuk menghadiri majelis taklim pekanan ba'da maghrib di masjid Al-Ikhlas yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Suasana di dalam rumah terasa begitu hangat dan menenangkan, kontras dengan hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya luar gang yang menderu tanpa henti. Selepas badai cobaan hidup dan ujian keimanan bertubi-tubi yang mereka lalui beberapa waktu lalu, menghadiri kajian rutin bersama telah menjelma menjadi sebuah oase penyejuk jiwa yang paling dinanti-nantikan oleh pasangan suami istri tersebut.
"Sudah siap, May? Takutnya nanti kita kebagian tempat duduk di teras luar kalau jalannya kemalaman," sapa Arham sambil membalikkan badan, menatap istrinya yang tengah merapikan tas kain kecil tempat Al-Qur'an saku dan buku catatan.
Humaira mendongak lalu tersenyum simpul, menunjukkan raut wajah yang tampak begitu berseri-seri di bawah temaram lampu neon ruangan. "Sudah, Mas. Ini tinggal pakai kaus kaki saja. Tadi Umi Rahma sempat kirim pesan lewat ponsel, katanya kajian malam ini temanya tentang indahnya bersahabat karena Allah."
Arham mengangguk pelan, meraih jaket kainnya yang tersampir di kursi kayu sudut ruangan. "Tema yang pas banget buat kondisi kita sekarang. Bertemu dengan orang-orang saleh itu ibarat ketiban cipratan minyak wangi; kalaupun kita enggak ketularan harumnya, minimal kita enggak kena bau busuknya."
"Betul sekali, Mas. Makanya aku senang sekali kalau diajak ikut kajian pekanan ini, hati rasanya seperti di-charge ulang setelah seminggu penuh lelah menghadapi urusan dunia," timpal Humaira sambil melangkah mendekati suaminya, lalu mencium takzim punggung tangan Arham dengan penuh kelembutan.
Arham balas mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih sayang, merasakan gelombang rasa syukur yang teramat besar karena dikaruniai pendamping hidup yang senantiasa sefrekuensi dalam merajut ketaatan kepada Sang Pencipta.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham dan Humaira melangkah keluar rumah di senja yang mulai temaram ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau mendengarkan ceramah agama biasa, melainkan untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah bersama lingkaran sahabat-sahabat yang saleh dan salehah. Di tengah kerasnya tekanan hidup perkotaan yang sering kali membuat manusia berlomba-lomba dalam materialisme, keberadaan majelis ilmu dan komunitas sahabat yang sepemikiran adalah benteng pertahanan mental yang sangat krusial bagi Arham dan Humaira. Mereka ingin menimba energi positif, mempererat tali silaturahim dengan ikhwah dan akhwat fillah yang selama ini tulus mendukung perjuangan hidup mereka tanpa pamrih. Arham bertekad untuk menyerap setiap nasihat kebaikan yang disampaikan oleh penceramah malam nanti guna diterapkan dalam membina bahtera rumah tangganya agar senantiasa berada dalam ridanya Allah Swt.
"Mas, nanti kalau ketemu Mbak Siti dan suaminya, tolong ingatkan ya soal titipan buku tadarus kemarin," ujar Humaira mengingatkan suaminya sembari mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak paving blok yang basah oleh genangan air hujan.
Arham tersenyum sambil mengangguk patuh. "Siap, Bu Ustazah. Nanti selepas kajian selesai pasti aku temui Mas Joko buat bahas itu sekalian."
Suasana lorong pemukiman malam itu terasa cukup semarak dengan langkah kaki para tetangga dan remaja masjid yang berbondong-bondong menuju kubah hijau masjid Al-Ikhlas yang memancarkan cahaya lampu terang benderang. Langkah kaki Arham dan Humaira bergesekan pelan dengan kerikil jalan, diiringi suara serangga malam yang mulai bernyanyi di balik semak-semak pekarangan rumah warga. Bagi mereka, perjalanan singkat menuju masjid ini adalah sebuah ritual penyucian niat, meninggalkan sejenak beban kantor, urusan cicilan, hingga bayang-bayang ketegangan masa lalu di ambang pintu gerbang tempat suci tersebut.
❖ ❖ ❖
Transisi menuju atmosfer majelis ilmu itu terasa begitu syahdu tatkala kumandang adzan maghrib berkumandang bersahut-sahutan dari berbagai penjuru menara masjid, menggetarkan relung hati siapa saja yang mendengarnya. Arham dan Humaira mempercepat langkah kaki mereka begitu tiba di halaman masjid, langsung memisahkan diri menuju tempat wudu masing-masing jamaah putra dan putri. Air wudu yang membasuh wajah Arham malam itu seolah melunturkan seluruh sisa debu kepenatan duniawi yang menempel di pori-pori kulitnya sepanjang hari. Usai menunaikan shalat fardhu maghrib berjamaah dengan khusyuk di shaf depan, para jamaah perlahan merapikan shaf dan membentuk melingkar di dalam ruang utama masjid, bersiap menyambut kehadiran guru pengampu kajian pekanan yang malam itu dijadwalkan hadir memberikan pencerahan rohani.
"Alhamdulillah, kita masih sempat kebagian tempat di shaf tengah dekat pilar, May,"bisik Arham ketika ia melihat istrinya baru saja keluar dari pintu pembatas jamaah wanita dan bergabung duduk di deretan belakang area khusus akhwat.
Humaira mengangguk sambil merapikan letak jilbab lebarnya, lalu tersenyum manis ke arah suaminya. "Iya, Mas. Suasananya adem banget malam ini, jamaahnya juga lumayan ramai yang datang."